
Akhirnya Eunbi meninggalkan ruangan yang perlahan sepi. Dia segera menemui Jaehwan di depan gerbang kampus. Gadis itu lupa waktu. Sebab Jaehwan menunggu setengah jam lamanya dalam keadaan langit gerimis. Jaehwan berteduh di sebuah kanopi gerbang, menggigil kedinginan.
“Kau baru selesai latihan?” tanya Jaehwan tersenyum ramah. Disodorkan sebuah payung lipat agar Eunbi tidak kehujanan. Di punggung Jaehwan, tersampir sebuah tas gitar yang selalu dibawa kemana-mana. “Pakai payungnya. Kau tak boleh sakit. Pertandinganmu itu penting,” bujuk Jaehwan. Sikapnya manis sekali saat mengusap rambut Eunbi.
“Eoh.” Eunbi menyahut bak robot. Ujung sikunya masih berdenyut bekas jatuh.
Jaehwan menghentikan langkah. Menyadari ada hal yang sangat berbeda.
“Ada masalah?”
“Aniya.”
“Matamu tak bilang begitu,” sangkal Jaehwan. “Katakan saja.”
“Cepat temukan restoran. Baru kita bicara. Mau buat aku kena flu, hah?” dumel Eunbi kumat sensi-nya. Gerimis kali ini menyentuh sebagian wajah Eunbi saat mendongak ke atas. Langit lumayan gelap sekarang.
Jaehwan terkekeh geli. Dia semakin gemas menggusak rambut adik kembarnya.
“Baiklah. Hari ini kutraktir daging. Aku baru menerima honorku sebagai penyanyi festival.” Jaehwan mengamit lengan Eunbi. Dibiarkan Eunbi memayungi mereka berdua. Menerobos gerimis di musim semi yang indah.
Andaikan sejak awal akur seperti hari ini, tentu saja akan sangat menyenangkan. Jaehwan bisa merasakan betapa kesepiannya Eunbi selama ini. Menjadi pembenci amatlah menyakitkan dibandingkan sebagai orang yang dibenci. Terkukung dalam marah sekian waktu. Terus menyalahkan Jaehwan. Jika saja Jaehwan tutup mulut atas kebenaran masa lalu, tentu saja Eunbi tak akan sedingin ini padanya.
Tak heran, Jaehwan terus menemui Eunbi. Suka tak suka Eunbi pada kemunculannya, Jaehwan ingin Eunbi membutuhkan dirinya sebagai kakak. Sebuah hak yang belum dia terima sampai detik ini. Ini salah Jaehwan, membiarkan Eunbi melakukan apa saja seorang diri. Berjibaku dalam perselisihan terbuka dengan ibu mereka.
“Ayo kita masuk ke kedai ini. Aku ingin Americano sebelum makan besar,” ajak Jaehwan langsung diikuti Eunbi tanpa banyak bicara.
Interior kafe itu sangat manis. Semanis aroma coklat dan kopi berbaur. Suasana jauh lebih hangat dibanding di luar. Mata Eunbi memindai ruangan, bermaksud menemukan tempat duduk kala Jaehwan meninggalkannya di konter untuk memesan minuman.
Mata Eunbi mendadak terkunci. Dia bisa melihat Yoon Seohyun sedang tersedu-sedu di pelukan Seongwoo. Selintas Eunbi merasa bersalah. Kapan pun melihat Seohyun, Eunbi dihantui kebencian yang ditujukan pada dirinya sendiri. Dia merasa merebut kesempatan Seohyun memiliki Park Daniel.
Tapi Eunbi tahu, dia tak bisa mengubah hati Daniel untuk membelot pada Seohyun.
Apalagi mereka berduase karang menjadi teman sekamar.
“Cepatlah. Aku lapar!” sergah Eunbi pada Jaehwan. Sayangnya Jaehwan masih asyik memilih menu. Dia cermat menghitung minuman berdasar nominal won yang pantas dihamburkan.
"Lebih baik kau terbuka saja padanya. Ceritakan soal penyakitmu dan alasan keluargamu lebih memilih untuk memerhatikanmu dengan ekstra. Gadis keras kepala itu tidak akan mau mengerti, jika kau masih saja bungkam!" usul Seongwoo bijak.
Kata-kata Seongwoo tak sengaja masuk ke pendengaran Eunbi. Ditatapnya Seohyun semakin dalam. Tak mengerti.
Seohyun punya penyakit? Bukankah gadis itu baik-baik saja? Mengusung barang-barangnya tadi seorang diri. Siapa yang dimaksud gadis keras kepala itu? Baru kali ini Eunbi melihat sisi lemah Yoon Seohyun. Menangis di depan seorang pria.
Eunbi menggelengkan kepala. Dia tak terlalu dekat dengan Seohyun. Tak mau terlalu peduli meskipun mereka sekamar. Mood-nya sedang buruk, jangan diperkeruh dengan sepupu Sooji yang dingin itu. Dialihkan pandangannya pada Jaehwan.
“Ya, kau ini sebenarnya ingin apa? Makan atau...”
“Kue tiramisu kesukaanmu, kau boleh bawa pulang ke asrama. Nah ayo kita makan nasi sekarang.” Jaehwan memotong ucapan Eunbi. Dia menunjuk-nunjuk sebuah kotak berisi dua porsi kecil tiramisu. Di tangan satunya, Jaehwan menenteng dua cup americano.
“Kau itu aneh, Jaehwan-ah. Sekarang sedang gerimis malah minum es,” sindir Eunbi masih memberengut.
“Eish... Karena aku seniman eksentrik. Aku ingin melakukan hal yang ganjil sekali pun,” tukas Jaehyun terkekeh pelan. “Ayo payungi aku, tasku berat sekali. Kita ke seberang. Budaejigae di sana kelihatan enak,” tunjuk Jaehwan ke arah lain.
Eunbi menghela napas lega. Untunglah. Dia tak harus menyaksikan derai air mata yang menyesakkan dada itu. Selama Yoon Seohyun tak bisa membuka diri, Eunbi tak harus merepotkan diri untuk menghapus air mata Seohyun.
Sebelum benar-benar keluar, Eunbi melirik sekilas untuk terakhir kalinya. Seohyun dan Seongwoo masih berbicara. Sangat aneh. Semestinya mereka bertegur sapa. Toh Seongwoo sempat kontak mata dengan Eunbi. Mungkin saja masalah ini jauh lebih serius daripada yang mereka tampakkan dengan adegan duduk bersebelahan.
Eunbi tersenyum tipis. Betapa manisnya mereka berdua. Seongwoo memang bisa diandalkan untuk Seohyun.
Sudah sering kali Park Daniel melukai hati Seohyun. Kedua insan di belakang Eunbi memang pantas bahagia. Eunbi berharap hati Seohyun lekas terobati secepatnya. Agar beban Eunbi bisa terangkat juga.
NOTE :
Budaejigae : Sup daging kaleng atau ham, biasanya dicampur dengan mi instan.