Heart Reflections

Heart Reflections
#29 Kencan Pertama



Pagi akhirnya datang. Seohyun menggeliat resah, saat sinar mentari masuk melalui celah jendela dan mengusik tidurnya. Karena pertengkaran semalam, dia lupa memakai kaus kaki. Hah, dia seperti membeku pagi ini.


Disapukan atensinya ke sekitar. Keberadaan gadis galak namun baik hati itu tak terdeteksi indra penglihatannya. Sepertinya gadis itu sudah pergi pagi-pagi sekali.


"Haah, neomu pigonhae! (Capek sekali!)" keluh Seohyun. Mencoba untuk meregangkan sedikit tubuhnya yang terasa sangat kaku.


Ditendangnya jauh-jauh selimut yang membungkus tubuhnya rapat. Dia buru-buru masuk kamar mandi, begitu melihat jam di dinding. Dia terlambat pemanasan di lapangan. Bisa tamat riwayatnya, kalau sampai Pelatih Shin tahu.


Awal pagi yang kurang baik bagi Seohyun. Setelah kejadian teriak-teriak semalam, dia sampai tak punya nyali untuk keluar kamar. Malu. Dan hebatnya, itu semua karena ulah Seongwoo. Kekasihnya. Keren, bukan?


"Ahhhh, laki-laki itu benar-benar membuat aku naik darah!" geramnya, sambil menyabuni tubuh polosnya yang tersiram pancuran air dari shower.


Dipakainya asal pakaian jogging-nya pagi ini. Sebuah baju spandex ketat berwarna merah muda melilit sempurna tubuhnya yang ramping, serta celana pendek hitam yang sudah dilapisi legging hitam panjang. Seohyun siap berlari pagi ini.


Langkahnya cepat menuju lift asrama. Lorong sudah sepi, karena kebanyakan penghuninya sudah sibuk beraktivitas di luar. Dia semakin kebingungan.


"Kau terlambat ?"


Langkah Seohyun terhenti, saat sebuah suara mengganggunya. Dia menengok ke belakang. Ada Seongwoo yang ternyata sudah menunggunya di depan gerbang asrama. Dia terperangah kaget.


"Ya! Bukankah kau ada latihan hari ini?" omel Seohyun geram. Bagaimana bisa pemuda bodoh namun tampan itu, melewatkan latihan menjelang perlombaan besar. Bisa patah kakinya, jika Pelatih Lee tahu.


Seongwoo hanya memasang cengiran bodoh, sambil menatap gadisnya.


"Pergilah. Aku tidak mau dapat hukuman lagi!" ujar Seohyun ketus. Jujur saja, dia masih malu berada di dekat Seongwoo karena kejadian semalam.


Alih-alih pergi, pemuda itu malah mendekap erat tubuh harum Seohyun. "Shireo! Kau tahu, betapa takutnya aku semalam? Aku kira, aku akan kehilanganmu!" tukas Seongwoo manja. Seperti anak kecil.


"Ya! Lepaskan aku! Kau membuatku malu!" Seohyun berusaha untuk lepas dari kungkungan Seongwoo yang semakin erat mendekapnya.


Seongwoo kembali tersenyum licik. "Aku akan melepaskanmu, tapi dengan satu syarat!" tawarnya.


Perasaan Seohyun mulai tidak enak. Entah apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu. Seohyun mulai penasaran sekaligus khawatir. "Mwonde (Apa?)? Jangan minta macam-macam!"


"Ayo kita kencan. Kita belum pernah melakukannya, kan?!"


"Kalau begitu, aku akan terus memelukmu sampai Pelatih Lee tahu!" ancam Seongwoo, yang membuat Seohyun akhirnya berubah pikiran.


"Arasseo! Cepat lepaskan aku!"


Seongwoo segera melepaskan dekapannya, lalu menarik lengan gadis itu menuju parkiran untuk mengambil kuda besi hitam kebanggaannya.


"Ya! Aku harus ganti baju dulu!" Lagi-lagi Seohyun mengomel. Dia sudah seperti toa rusak. Tidak bisa menahan nada suaranya.


Seongwoo hanya diam. Menarik kedua tangan Seohyun agar memeluk tubuhnya dari belakang, saat motornya sebentar lagi akan meluncur.


"Mwohaneungoya? (Apa yang kamu lakukan?) Lepaskan tanganku!" omelnya dengan nada pelan, namun tegas.


"Tetaplah seperti ini. Aku tidak mau kau jatuh. Kalau kau jatuh, aku yang lebih terluka," ujarnya pelan. Seohyun membeku. Apakah pemuda ini benar-benar Seongwoo yang dia kenal? Kenapa rasanya canggung sekali saat dia berbicara serius?


Senyum tipisnya mengembang. Ditutupnya kaca helm, lalu dipacunya sang kuda besi membelah jalanan. Soal latihan yang ditinggalkan, itu urusan nanti. Yang ada di dalam benaknya saat ini adalah, bagaimana caranya untuk membuat gadisnya kembali ceria.


Sesekali, dia melirik kedua tangan Seohyun yang melilit pinggulnya. Mendekapnya erat, sambil menyandarkan tubuhnya pada punggung Seongwoo. Hanya seperti ini saja, Seongwoo sudah bahagia bukan main. Bahagia untuk Seongwoo itu, sangat sederhana.


"Aku kedinginan. Tubuhku serasa membeku," keluh Seohyun dengan gigi yang gemeletuk. Dia gemetaran.


Sebelum sampai tempat tujuan, Seongwoo menghentikan laju motornya di pinggir jalan. Turun, lalu melepas coat hitam yang melapisi jaket ber-hoodie-nya.


"Kemarilah!" titah Seongwoo, meminta Seohyun untuk lebih mendekat.


Tanpa berkomentar apapun, Seohyun mendekat. Seongwoo memakaikan coat itu pada tubuh mungil Seohyun. Begitu lembut penuh perhatian. Membuat perasaan Seohyun tiba-tiba berdesir hangat.


"Apa sudah sukup hangat? Maaf, aku tidak memikirkan itu sebelumnya. Jangan sakit, Seohyun-ah." Tatapan Seongwoo berubah sendu. Seohyun malah merasa bersalah.


"Gwaencanha. Aku tidak apa-apa. Ini sudah cukup." Seohyun tersenyum menatap Seongwoo.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Entah ke mana Seongwoo menculiknya kali ini. Seohyun hanya bisa diam. Mencoba untuk mencari jawaban atas perasaannya yang kian aneh saat bersama Seongwoo hari ini.