
*MEMBUATKU MENCINTAINYA 2_
Diluar dugaan kami pergi menjauh dari kota Tempat orang tuaku tinggal dan menuju kota dimana aku kuliah dan bersekolah, kota tempat tinggal vio Butuh dua belas jam perjalanan menuju kota itu,
Kota kelahiran vio kota dimana pertama kali aku meihat vio, kota seribu kenangan, aku bertanya apakah orang tuaku mengizinkan aku pergi ternyata dia sudah pamit mengajakku pergi satu minggu lamanya,
Setelah itu aku hanya diam seribu bahasa, aku hanya terpaku akan kenangan-kenangan masa kecil hingga masa mudaku,
Vio cukup berisik dia banyak bercerita tentang hidupnya selama aku pergi meningalkannya,
Dari dia frustasi hingga keluar kerja lalu sibuk mencariku kesana kesini dan lainnya hingga saat dia tau dari mbak yani bahwa aku baik-baik saja dan belum menikah
Setelah itu dia terus menunggu kehadiranku pulang, kami melewati banyak hutan sebelum bertemu sebuah kota,
Aku hanyut akan kenaganku sendiri tanpa menghiraukan omongan vio sedikitpun, aku menelvon orang tuaku karena khawatir akan lia dan lio ternyata mereka anak yang sangat pengertian,
Mereka tidak sama sekali menangis atau mencari keberadaan mamanya,
Ibu mengatakan bahwa aku sedang diajak jalan-jalan oleh papa mereka,
"Mau makan", ucap vio sambil menyetir
"Ngak laper", ucapku singkat
Vio hanya terus menyetir hingga sampai di satu hotel, vio memesan satu kamar untukku sedangkan dia pulang kerumahnya,
"Aku pulang dulu ya sipa,besok aku jemput lagi, istirahatlah jika lapar telvon saja pihak restoran hotel nomernya ada di deket telvon", ucap vio sambil keuar kamar
Aku hanya mengangguk dan mengkunci pintu, aku mencoba membaringkan tubuhku diatas kasur dan mencoba memejamkan mata namun susah sekali rasanya untuk tidur,
Hingga pukul menunjukkan jam lima pagi, aku tersentak mendengar suara kumandang azan subuh dari handpone ku, aku sholat
Lalu kembali berbaring namun kali ini aku bisa tertidur lumayan lama kira-kira pukul 10 pagi vio datang dan membangunkanku,
Aku terkejut karena vio sudah duduk dirajang ternyata dia memegang kunci serepnya,
Aku mandi dan siap-siap setelah itu kita pergi mencari makan, jujur mungkin karena sudah terlalu lama sendiri jadi hatiku acuh tak acuh terhadap vio,
"Mau makan apa", ucap vio sambil memegang tanganku
"Apa aja", ucapku sambil terus berjalan
"Ya udah kita cari tempat makan yang deket dari sini aja, habis itu kita pergi kesuatu tempat", ucap vio
Aku hanya mengangguk, kami makan sambil sedikit mengobrol ringan untuk memecah suasana yang canggung ini, vio hanya terus bertanya dan aku hanya menjawabnya,
Sambil menghabiskan makanan yang aku pesan aku terus melihat handphone, aku terus mengirimi rina sms supaya menjaga lia dan lio dengan baik selagi aku pergi,
Selesai makan vio mengajakku pergi dan aku ingat dengan jalan ini,
Jalan menuju bukit tempat pertama kali vio menyatakan cinta,
Namun aku merasa sedikit sakit ketika mengingat itu aku terbayang akan wanita yang aku temui di apartemen vio dulu,
Akupun merasa heran bukannya aku sudah tak sayang atau cinta lagi dengan vio tapi mengapa jika aku ingat wanita itu hatiku hancur entahlah,
Vio memparkirkan mobilnya sembari kami berjalan menuju bukit itu, vio memegangi tanganku tautnya aku kecapean karena fisik kami tak seperti dulu,
Kini usia kami hampir kepala tiga yang artinya kami harus benar-benar menjaga kesehatan kami demi anak-anak,
Walaupun sudah lama tak kesini tapi suasananya masih seperti dulu, batu tempat kami duduk pun masih sama,
"Sipa masih ingat ngak dulu kita banyak melewati kenangan manis disini", ucap vio sambil menatap indahnya alam nan hijau ini
"Maafkan lah aku sipa, jujur aku tak pernah sedetikpun melupakan mu, lihat aku sipa aku selalu menunggu mu tak pernah ada niatan aku untuk menikah kecuali denganmu", ucap vio sambil menggenggam erat tanganku
"Aku kangen memanggimu dek, aku kangen dipanggil kak atau sayang, ayolah sipa", ucap vio
"Sedang aku fikirkan vio, aku sedang menata hatiku, aku ingin menikah dengan perasaan yang tulus, bukan karena lia atau lio", ucapku sambil memalingkan muka
Jilbab yang aku kenakan bertiup searah dengan arah angin membuatku repot dengan diriku sendiri,
Angin yang bertiup sedikit kencang membuat pohon-pohon dan bungga-bungga seakan menari dengan diiringi musik klasik indahnya,
"Sipa lihat aku, lihat mataku, apakah aku sekarang sedang berbohong aku benar-benar tulus mencintaimu sipa, aku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupku bersama denganmu", ucap vio
"Aku tau vio, berhentilah bersikap kekanakan bukannya masih ada waktu lima bulan lagi untuk mu meyakinkan diriku, aku hanya butuh perhatianmu vio supaya aku bisa mulai mencintaimu kembali", ucapku sambil menatap lurus melihat pemandangan yang ada didepan mataku
Kami menghabiskan sore ini hanya duduk dan saling mengenang moment indah masing-masing,
Vio terlihat sedikit berbeda kini, dia mampu mengontrol nafsu duniawinya tak seperti dulu jika ada kesempatan dia akan melakukan hal-hal yang tidak bermoral,
Hari mulai senja, kami turun dan vio mengajakku makan sebelum kami pindah mencari hotel untuk aku menginap,
Sebenarnya bisa saja aku tidur dirumah vio namun aku masih enggan untuk bergabung dengan keluarga vio padahal aku rindu sekali dengan rena,
Mungkin sekarang dia sudah beranjak dewasa,kami mencari hotel yang lumayan bagus setidaknya bukan seperti malam tadi yang fasilitasnya kurang memadai,
Ketika kami pergi kelobi hotel sekilas aku melihat nando, namun nando tak melihat diriku
"Ya tuhan ini hotel milik keluarga nando", gumamku dalam hati
Aku terkejut ketika vio memanggil nando sontak aku salah tingkah, mau tak mau aku sapa dia
"Hai, lama tak jumpa", ucapku dengan malu-malu
Entah apa nando langsung memelukku vio terdiam dan melepaskan pelukan nando,
"Sipa kemana kamu, kamu tau aku mencarimu sampai kemana-mana, aku khawatir kamu berbuat bodoh", ucap nando dengan nada yang sedikit keras
"Maafkan aku nando, aku hanya mencari ruang untuk diriku sendiri, mencari jawaban atas kesalahanku sendiri", ucap ku dengan sedikit sesal
"Bukannya kamu sudah menikah ndo, kami juga akan segera menikah", ucap vio dengan bangga
"Jadi benar kamu mengandung anak vio, mana anak kalian, iya aku sudah menikah namun istriku sudah tiada setelah melahirkan anak pertamaku", ucap nando
"Inalilahi, turut berduka cita ya, anak kami ada dirumah orang tuaku, aku kesini karena kami ada urusan yang harus kami selesaikan", ucap ku sambil menunduk
"Tolong ambilkan satu kunci kamar vip", ucap nando kepada resepsionis
"Ini sipa, gunakanlah selagi kalian masih disini", ucap nando kepadaku
"Tidak nando, aku akan menginap sendiri sedagkan vio akan pulang kerumahnya", ucapku agar tak da fikiran aneh-aneh tentangku
"Aku capek, aku masuk dulu besok kita baru ngobrol lagi", ucapku sambil meningalakan mereka berdua
Aku berjalan menuju kamar yang tertera dikunci yang aku pegang,
"Ya tuhan sial sekali aku, kenapa kami selalu bertemu secara kebetulan karma apa yang aku miliki", gumamku dalam hati
Aku masuk kamar dan mandi tadi untungnya kami sempat pergi kepusat perbelanjaan untuk membeli pakaian dan barang-barang penting lainnya
Selepas mandi aku membaringkan tubuhku diatas kasur sambil mencoba memejamkan mata ini, tak lama aku tertidur dengan pulas