
*AWAL MULA CERITA_
Pagi ini cuacanya masih ditutupi oleh kabut dan embun, memang dingin jika kalian berada diantara pegunungan, aku yang masih mengikuti langkah nana yang terus menuntunku entah kemana, mataku ditutupi kain putih sehingga aku tak tau nana akan membawa diriku kemana,
Sayup-sayup kudengar suara beberapa teman-teman pacar nana tertawa,
"Bukalah matamu sipa", ucap nana sembari berjalan menjauh dari pandanganku
Aku yang masih diam saja entah mungkin karena bingung atau karena aneh berdiri ditengah-tengah lapangan basket dan tak jauh dariku, aku dapat melihat vio yang berdiri sambil membawa sebuah bola basket,
"Bodoh", ucapku pelan
Sambil saling memandang aku dan vio sejujurnya sama-sama merasa malu,nana yang paling semangat diantara teman-teman yang lain,
"Ayo vio jika kamu bisa memasukkan bola itu kedalam ring sampai tiga kali sipa akan menerima cintamu", ucap nana
Vio memang sudah menyatakan cintanya kepadaku tapi aku tak mampu menjawabnya mungkin karena masih banyak pertimbangan,
Vio berusahan memasukkan bola basketnya namun sampai tiga kali tetap saja gagal,
"Bodoh, berhentilah vio walaupun kamu tak berhasil aku akan tetap menerima cintamu", ucapku kepadanya
Vio berhenti dan memandang lurus diriku,sambil memasang tampang herannya dia menanyakan apakah yang dia dengar benar atau tidak, jadi aku mengulang ucappanku kembali sambil memandang dirinya muka vio mulai memerah begitupun dengan mukaku seperti sehabis makan makanan pedas,
Semua teman vio termasuk nana memberi ucapan selamat karena kami telah resmi berpacaran hari ini, hari yang sangat special karena itu aku akan selalu mengingat tanggal 1 januari 2009, tahun baru hari baru tanggal baru dan pacar baru setelah drama tentang bola basket itu,
"Vio maukah kamu menggantarku pulang, aku lelah setelah begadang malam ini", ucapku sambil menepuk-nepuk bahuku
"Ya, aku antar sampai dirumah ya neng", ucap vio sambil terseyum dihadapanku
"Ngak usah, antar kerumah nana saja barang-barangku ada dirumah nana", ucap ku kmbali
"Okelah", ucap vio sambil berjalan menuju teman-temannya
Aku memanggil nana karena dia juga harus pulang agar aku bisa mengambil barang-barang yang tertinggal dirumanya,
Vio menungguku diparkiran motor, motor honda yang dia kendari, aku hanya belum terbiasa dengan situasi ini aku masih canggung dan malu kepada vio,
"Naik neng,mau mamang antar kemana", ucap vio mengangguku
"Pokoknya mah mang anter aja nyak, nanti kalo saya suruh belok ya belok nyak mang jangan lurus atuh, nanti kita nabrak, brabe entar", ucapku sambil tertawa lepas
Aku tertawa melihat tingkah kami berdua yang kekanak-kanakan, untungnya itu mampu memecahkan tembok kecanggungan kami berdua, nana dan kiki menyusul kami dari belakang,
Udaranya masih begitu dingin walaupun matahari sudah mulai menyinari alam semesta ini,
"Kalo dingin boleh peluk kok,kakak ngak akan marah sama adek", ucap vio
"Apaan sih kak, makasih ya kak udah mau sama aku yang biasa ini", ucapku sambil tertawa lebar
"Biasa gimana dek, orang semanis itu kok biasa, luar biasa itu dek", ucap vio
Jarak antara tempat kami bergadang dengan rumah nana lumayan lah, membutuhkan waktu setengah jam, jadi kami bisa banyak berbincang-bincang entah mengapa rasanya nyaman sekali berada didekat vio,
Vio meraih tanganku lalu dilingkarkan dipinggangnya aku malu namun itu membuat nyaman saat berda diatas motor,
Aku melihat nana dan kiki jarak mereka masih begitu jauh dari kami jadi vio mulai melambatkan laju motornya,
Tak lama kemudian aku sampai dirumah nana walaupun masih ingin selalu berdua tapi apalah daya aku harus pulang karena ada mbak yani yang menungguku dirumah,
Setelah nana sampai juga vio berpamitan pulang dan kiki pulang kerumahnya, aku masuk duluan sambil membersihkan badan dan membereskan barang-barangku,
"Aku langsung pulang ya na, tungguinlah angkotku", ucapku kepada nana yang masih duduk diruang tamu
"Ngak mau mandi dan makan dulu nih", ucap nana
"Ngak ah, tadi mbak yani nelvon dia udah nyiapin makanan, kan sayang kalo ngak dimakan", ucapku
Kami berdua berjalan keluar rumah sambil menunggu angkot yang menuju rumahku, kami duduk dibangku dibawah pohon jambu air depan rumah nana,
Nana terus menggodaku dengan banyak pertanyaan usil, itu membuat mukaku benar-benar merah karena malu, karen masih pagi jadi angkot yang menuju rumahku lumayan sepi, apalagi ini hari minggu tak ada anak sekolah yang berangkat menuju sekola kecuali mereka memiliki kegiatan estra disekolah,
Badanku rasanya benar-benar pegal sesekali aku memukul-mukul bahuku sendiri, nana yang melihat itu hanya tersenyum dan membantu memijatnya sedikit,
"Emang ngak ditawarin apa sama vio pulang bareng", ucap nana sambil sedikit memijat bahuku
"Ditawarin, tapi males ah takut ngeganggu", ucapku
"Ih bodoh amat, aturannya mah kamu mau aja biar ngak capek-capek amat", ucap nana
Aku yang mendengar celotehan dari mulut nana hanya bisa tersenyum, tak lama kemudian angkot yang aku tunggu-tunggu tiba, aku memeluk nana sambil bilang terimakasih dan berpamitan,