HE IS MY LOVE

HE IS MY LOVE
BAB 31



*BERTEMU MEREKA_


Aku berusaha memejamkan mata namun tak kunjung bisa tidur juga, aku menatap langit-langit kamarku seakan melihat bayangan vio, sontak aku tersentak karena tiba-tiba mengingatnya kembali,


"Mungkin karena aku akan pulang", gumamku dalam hati


Aku mencoba menepis semua ingatan tentang dia namun entah mengapa sulit sekali rasanya, aku berjalan menuju dapur dan kubuat segelas susu hangat dan segera kuminum agar bisa cepat tidur,


Pagi ini entah mengapa tingkah kedua bocah itu begitu manis mungkin karena perginya dipercepat menjadi pagi ini, tiket untuk besok hanya ada di jam sepuluh malam,


Aku menelvon mbak yani memberitahu kemungkinan kami sampai dirumah sore ini juga, mbak yani hanya mengiyakan


Untung semua persiapan telah aku dan rina lakukan dengan matang, kami mengecek semua alat elektronik sebelum pergi, aku menghembuskan nafas panjang sekali sewaktu keluar pintu,


Rina melihatku namun tak mengucapkan apa-apa dia hanya menepuk-nepuk pelan tubuhku ini, seakan memberi dorongan dan semangat agar lebih kuat lagi demi lio dan lia,


Kami menyusuri jalanan kota yang tak begitu padat dengan kendaraan namun padat dengan aktivitas orang dijalanan,


banyak ibu-ibu yang akan pergi kepasar atau bapak-bapak yang pergi keladang dan berjualan,


Kota ini masih didominasi dengan desa-desa yang kental akan adat istiadatnya jadi orang-orang di kota ini masih menjalin suku-suku yang harmonis,


Butuh waktu satu jam untuk pergi kebandara akhirnya kami sampai tak lama kami menunggu pesawat tujuan kami,


Hari ini pertama kalinya sikembar naik pesawat begitupun dengan rina jadi mereka sangat antusias kecuali rina dia merasa sedikit takut dicampur was-was,


"Aduh mbak,gimana nih akunya deg degan baru aja naik mbak belum terbang", ucap rina selagi jalan menuju pintu pesawat


"Udah tenang aja banyak-banyak berdoa aja rin", ucapku sambil sedikit tertawa


Anak-anak berjalan dengan sedikit berlari jadi kami sedikit kewalahan, kami naik di class ekonomi,


Selagi pesawat melaju lia dan lio menonton sedangkan rina tertidur aku hanya mengawasi mereka, hingga kami sampai di bandara senang nya,


Kami duduk dibandara meregangkan otot tubuh sekalian istirahat sebentar dari bandara menuju rumah orang tuaku lumayan menempuh waktu tiga jam jadi aku mengajak sikembar dan rina makan dulu,


Aku menelvon mbak yani kalau kami telah sampai dan akan segera berangkat menuju rumah,


Selesai makan aku memaggil taksi untuk kami, lia dan lio terdidur cukup pulas didalam mobil rina duduk didepan dan dia terdidur juga aku menengarkan aerphone ku dulu yang kusimpan bertahun-tahun lagu yang vio berikan khusus untukku,


Entah mengapa kembali kekota ini aku teringat akan vio, padahal yang harusnya aku ingat dan aku rindukan itu keluargaku,


Aku melihat jalanan tak ada yang berubah kecuali orang-orangnya yang mulai berubah, warna cat yang dulunya terang kini semakin banyak yang memudar,


Kami sampai di jalan utama menuju rumah oramg tuaku hatiku semakin tak karuan rasanya,mobil telah berparkir dihalaman rumah orang tuaku,


Aku turun sedikit berlari ketika melihat ibuku keluar dari pintu aku memeluknya sambil terus mengeluarkan air mata, aku memeluk ayahku sambil terus meminta maaf tak lupa mbak yani dan suaminya,


Rina lia dan lio hanya terdiam didepan halaman melihat tingkah manjaku dengan kedua orang tuaku,


"Ma mana kakek sama nenek", ucap lio dengan nada yang lucu layaknya anak-anak


"Sini nak", ucapku


Mbak yani memberi kode kepada orang tuaku supaya sabar karena aku pulang dengan membawa anak bukan hanya satu namun melainkan dua anak,


"Tadi malam mbak udah bilang keibuk sama ayah maaf tapi kamu salah lo dek masalah kayak gini harus dipegang sendiri", ucap mbak yani


Aku hanya mengangguk dan terus menangis dipangkuan orang tuaku, ketika aku akan masuk rumah aku tertegun ketika melihat vio dan kedua orang tuanya,


Mataku terbelanga sedikit melotot, vio berdiri dan memeluk tubuhku,aku tak merespon namun aku terus berjalan menuju kamarku sambil menghapus air mata,


"Maafin aku sipa, maafin atas enam tahun lalu,maafin atas kesalahan dan kebodohanku", ucap vio


Aku hanya diam rina duduk diruang tv dengan lia dan lio, sedangkan ibuku dan ibu vio datang menghampiri rina sambil memeluk kedua cucu mereka dengan berlinang air mata,


Entah banyak pertanyaan yang mereka tanyakan kepada rina namun rina menjawab dengan baik tentangku,


Mbak yani datang kekamarku sambil menenagkan diriku dan menyuruhku keluar dia bilang jika umurku sudah tidak muda lagi,awalnya yang aku bayangkan aku bakalan diusir dengan drama seperti ditv namun salah orang tuaku begitu sabar menghadapiku,


Vio tak lagi memanggil namaku namun kali ini dia datang menghampiri lia dan lio, dia datang dan memeluk mereka,


"Kak rina siapa dia", ucap lio


Sambil memeluk tubuh lia seakan melindungi dari orang jahat,


"Papa kalian", ucap rina karena pernah melihat foto vio


Dengan serentak lia dan lio memeluk vio seakan tak takut dan mungkin karena mereka merindukan sosok seorang ayah dihidup mereka,


Aku keluar kamar dengan ditemani mbak yani, karena mbak yani bilang mereka ingin menikahkan aku dengan vio,


"Vio ikut dengnku", ucapku lantang


"Tunggu sebentar sipa", ucap vio sambil melepaskan pelukan lia dan lio namun sedikit enggan


Lia dan lio anaknya periang sebentar saja dia sudah bisa membuat satu rumah lupa akan masalah yang sedang terjadi,