
*SAKIT YANG AKU RASA_
Sambil menatap langit-langit aku berfikir bagaimana jika orang tuaku tau dengan apa yang aku lakukan waktu itu,
Setelah kejadian waktu itu aku selalu takut melihat vio,aku takut dia meninggalkan aku,
Sudah enam bulan berlalu waktu itu tepat waktu aku semester dua dan vio semester empat,
vio sibuk sekali dengan kuliahnya dia mengurus berkas-berkas penelitiannya semakin hari dia semakin sibuk dengan tumpukan dokumen yang dia bawa,siang itu vio datang mencariku dia mengajakku makan,
”kenapa aayang kok jarang minta anter sekarang",ucap vio
"aku takut ganggu kamu kak",ucapku
Lalu kami pergi kekantin untuk makan siang,
”nanti mau main kerumahku ngak ayah sama ibu lagi keluar kota nih, tiga hari"kata vio,
aku menunduk diam tak merespon omongannya,sambil bicara dalam hati "apa vio mengajakku tidur bersama", vio yang melihat itu seakan tau yang sedang aku fikirkan,
”tenang saja dek, jangan berfikir buruk dulu aku hanya rindu kamu dan aku ingin minta tolong ketikkan tugas yang aku punya soalnya sangat menumpuk", ucap vio
aku mengangguk sambil memesan makanan yang akan kami makan,
”bagaimana jika besok saja kita main kerumahmu kak hari ini kelasku sampai jam enam sore", ucapku mencari alasan
"gitu dong jangam diem aja akhir-akhir ini sudah enam bulan berlalu loh jangan fikir aku jahatlah kalo aku jahat udah ku tinggal kamu”, ujar vio sambil mencubit pipiku
"aku hanya belum siap saja kak,jika tiba-tib kamu hilang,Kamu tau ngak setelah ini setiap harinya kamu bakalan sibuk dengan agenda-agenda tugas kuliahmu dan kamu akan kkn dan menulis skripsi aku takut mengganggumu kak", ucapku sambil menahan tangis
"apa setelah kita cukup menjuh karena kuliah ini, kamu akan meninggalkanku kak",ucapku lagi
hari ini kami duduk dibangku paling sudut karena kantin cukup luas dan tidak ada oranng yang duduk dekat dengan kami,
"jangan berfikir sempit dek jika aku sibuk dengan semua itu tetap saja aku akan memikirkan kamu, aku janji setelah wisuda aku akan mencari pekerjaan dan menunggumu wisuda", ucap vio
Tangisku pecah seakan semua omongan vio itu hanya bualan supaya aku tenang saja,Vio mengusap air mataku aku yang akhirnya keluar setelah aku menahan tangis itu,
Aku berdiri dan menyudahi makan siangku vio yang diam dan terus melihatku menarik tanganku,
"mau kemana dek",ucap vio
"aku ingin kekelasku sebentar kelas dimulai", ucapu
"semangat ya sayang untuk kuliahnya tapi kenapa hanya makan sedikit ini", ucap vika
"ku cukup kenyang kak", ucapku
"oia besok pulang jam berapa sayang”, ucap vio
"besok ku telvon ya", jawabku
Aku berjalan kekelas untuk mencari yiya, dimana yiya ya gumamku
Ternyata yiya sedang ketoilet, salah satu teman kami yang mengatakan,aku menyusul yiya dan mengajaknya pulang ya aku berbohong kepada vio padahal siang ini sudah tak ada lagi matakuliah,
"Penting gak, males nih kalo ngak penting", ucap yiya
Aku menatap yiya sambil diam saja yiya tau aku sepertinya aku memiliki masalah, lalu yiya mengiyakan ajakanku tadi,
Kami pulang menggunakan angkot karena yiya tidak membawa motornya, sesampainya dikosan aku duduk dan yiya berbaring,
hampir lima menit kami diam dan kamarku menjadi sunyi dan sepi,
"Sipa kamu mau cerita apa",ucap yiya menyibak sepinya kamarku
"Yiya kamu orang yang palig aku percaya, cuma kamu yang kenal aku bertahun-tahun dikampus kita, kamu mau denger semuanya ngak", ucapku
yiya menatapku heran lalu mataku terasa panas seakan ada sebuah bawang merah yang masuk kemataku,
"Yiya aku telah melakukannya dengan vio, aku tak mampu bilang jika itu hanya khilaf karena akupun menikmati", ucapku
"Maksudmu berhubungan intim, kapan", ucap yiya
"Enam bulan yang lalu", ucap diriku
"Lalu bagaimana dengan vio,apa dia mau bertanggung jawab", ucap yiya
”menangislah jika mau", ujar yiya sambil menggenggam tanganku
Aku menangis sejadi-jadinya,Untung kamar kosanku kedap suara,
Aku menceritakan apa yang vio katakan kepada ku,
”aku yakin sipa vio orang baik jika dia mau bertanggung jawab maka percayalah,itu juga pilihan kalian ", ucap yiya
aku mulai tenang dengan ucapan yiya,
Tak lama yiya menyuruhku mengkompres mataku karena seperti habis ditinju,
Yiya keluar membeli makan di seberang jalan depan kosanku ada pecel lele dia memesan dua bungkus ayam panggang lalu kembali,
"makanlah", ucap yiya
kami hanya membahas masalah lain dan bergosip aku tau yiya hanya ingin mengurangi rasa sesal yang ku punya,
"yiya apa kamu akan menyimpan rahsia milikku", ucapku sambil menyungah makananku
"tentu saja sipa,kamu tu sudah seperti adikku, sebenarnya aku ingin marah tapi nasi sudah menjadi bubur", ucap yiya
"Maafkan ku yiya",ucapku
"minta maaf sama orang tuamu dulu lah, ucap yiya
"apakah aku berdosa yiya", tanyaku
”entahlah yang jelas perbuatan salah itu tidak baik", ucap yiya
selepas makan aku dan yiya duduk sebentar lalu aku mandi karena waktu sudah sore, kemudian yiya berpamitan pulang aku mengantarnya kedepan untuk mencari angkot lalu kembali kekosan,