HE IS MY LOVE

HE IS MY LOVE
BAB 32



*MEMBUATKU MENCINTAINYA LAGI_


Aku menarik tangan vio keluar dengan hati yang tenang aku mulai membahas tentang kita, tentang bagaimana kedepannya dan tentang hati ini,


"Vio aku tak lagi mencintaimu", ucapku dengan nada lantang


"Lalu,aku masih sangat mencintaimu", ucap vio sambil memegang tanganku


"Jika begitu buat aku jatuh cinta denganmu lagi,aku beri kau waktu enam bulan", ucapku sambil menarik tangan


"Aku pasti akan membuat kau mencintaiku seperti dulu", ucapnya


"Jangan terlalu sombong vio, ini hati bukan mainan", ucapku sambil berjalan menjauh


Vio mengikuti dari belakang aku pergi keteras belakang karena air mataku tak mampu kubendung lagi,


Mata ini meneteskan begitu banyak butiran air mata tanpa ada pertahanan sama sekali, aku sibak air yang mengalir jatuh kepipi ini namun sangking banyaknya tangan kupun ikut basah karenanya,


Vio memelukku dari belakang aku tak keberatan karena aku sudah bilang untuk membuatku jatuh cinta kepadanya dengan cara apapun,


Aku duduk disalah satu bangku taman belakang ku lihat begitu banyak bunga yang bermekaran,


Vio mulai bertanya tentang semuanya kepadaku, tentang bagaimana aku mampu menjalani hari-hariku di kota sebrang, tentang bagaimana aku mampu menjaga lia dan lio,


Dia memeluk erat tubuhku hingga suara langkah kecil terdengar dari pintu belakang tempat kami duduk,


"Ma lia laper ma, ma lia seneng loh disini baik banget nenek nya mah", ucap lia dengan nada anak-anak


"Ayo makan, kamu beritahu orang tuamu tentang apa yang aku bicarakan,namun jika aku tak juga mencintaimu dalam enam bulan kepedapan lupakanlah kami vio", ucapku sambil memeluk lia


Vio hanya mengangguk, aku masuk dan hal yang aku lupakan aku lakukan kini, aku memeluk dan mencium pipi kedua orang tua vio, terlihat senyum lebar yang entah menandakan apa,


Setelah kami semua makan vio dan kedua orang tuanya pamit pulang, lio dan lia memeluk erat kedua orang tua vio serta papanya itu,


Seakan ada ikatan batin yang sudah lama terjalin lia dan lio sedikit merengek agar papa mereka jangan pergi,


Aku hanya mampu menjelaskan kepada mereka jika papa mereka memiliki kesibukan yang harus dijalani,


Aku memanggil rina supaya mengajak mereka untuk tidur dulu karena aku ingin membahas banyak masalah dengan keluargaku,


"Ibu ngak marah sama sipa", ucapku sambil menghidangkan teh kepada ibu ayah mbak yani dan suaminya,


"Kamu tau bagaimana rasanya jadi seorang ibu kan, bagaimana ibu bisa marah jika kamu sudah banyak menderita, yang lalu biarlah menjadi jalan hidupmu nak, fiirkanlah untuk sekarang", ucap ibu sambil memelukku


"Ayah maafkan sipa sudah mencoreng nama baik keluarga ini yah, sipa hanya terbawa emosi dan pergi", ucapku dengan menatap mata ayah


"Sudahlah nak, jadi kalian maunya bagaimana", ucap ayah


"Aku tak mencintainya lagi yah, aku ingin dia membuatku menyukainya lagi bukan cuma aku tapi kedua anaknya juga harus mendapatkan hatinya", ucapku sambil mulai meneteskan air mata


Aku mengatakan bahwa banyak hal yang terjadi selama beberapa tahun ini, banyak yang harus aku perbaiki dan banyak yang harus aku selesaikan,


Ibu menatap iba diriku, ibu membayangkan bagaimana rasanya jadi aku, yang hamil sendiri dan melahirkan seoarang diri,


Aku menceritakan bagaimana aku bertemu erika dan maya sampai rina datang, begitu banyak orang yang sayang terhadpaku,


Mungkin karena banyak hal baik yang membuat hidupku lebih bersyukur


Hidup mengajariku supaya lebih dn lebih banyak berfikir  sebelum memutuskan apapun itu,


Karena setiap perbuatan pasti ada kongsekuensinya, ibu memberikan banyak nasihat sore ini, hingga anak mbak yani datang diantar oleh adik suaminya


”aunty ngak pergi-pergi lagi kan kasian tau eyang sedih aunty ngak pulang-pulang", ucap nadia


"Iya ngak kok, aunty kemaren kan kerja", ucapku lagi


Rena pergi untuk istirahat lalu makan, aku hanya bermanja-manja dengan ibuku hari ini seakan anak kecil yang haus akan kasih sayang,


Terdengar suara lia menangis ternyata dia bangun dan bermimpi aku menggendongnya keluar takut rina dan lio bangun,


Nadia yang heran melihat ada lia cukup lama bengong melihat kami,


Lalu mbak yani menjelaskan bila itu anak dari aunty nya diluar dugaan nadia begitu senang karena dia mempunyai adik, yang bikin dia senang lagi adiknya dua bukan satu,


Hari semakin sore rina dan lio pun bangun, aku memandikan liadan lio lalu rina memberikan pakaian kepada mereka,


"Makanlah dulu rin,kok ibu ngak mgeliat kamu makan,anggep aja lagi dirumah rin", ucap ibu sambil membantu memakaikan baju sikembar


"Iya bu, makasih ya nanti aja", ucap rina


Ibu memaksa rina untuk makan, dirumah ada bik tum yang bantu-bantu dan rina pergi kedapur bertemu bik tum,


"Makan dulu nak rina,gimana kerasa ngak tinggal disini”,ucap biktum


"Iya baik semua orang nya, bik tum ngak makan", ucap rina


"Udah tadi", ucap bik tum


Rina dan bik tum banyak berbincang tentang aku, bik tim banyak menanyakan keadaanku disana bagaimana, rina hanya menjawab apa yang dia ketahui selama ini,


✴✴✴


Selang sebulan aku hanya melakukan aktivitas seperti biasanya bedanya aku tak bekerja lagi, aku mengundurkan diri dari smp swasta itu setengah bulan lalu,


Rina masih mengikutiku hingga tahun depan karena dia akan pulang dan menikah, aku tak melarang apapun keputusan rina toh dia sudah cukup membantuku,


Terdengar suara bel berbunyi ternyata vio yang datang setelah sebulan baru datang ucapku dalam hati,


"Masuk aku pangilkan lia dan lio", ucapku sambil berjalan menuju luar ruang tv


Aku memanggil mereka dan mengatakan bahwa papa mereka datang ingin bertemu mereka, mereka berlari layaknya anak kecil yang mendpatkan permen,


Lia dan lio memeluk erat papa mereka seakan takut papa akan pergi, mereka banyak melontarkan pertanyaan seperti kenapa papa ngak tinggal sama mama, kenapa papa ngak pernah ada dan lainnya


Vio hanya tertawa dengan tingkah manja dan manis mereka,


"Kalian mau papa tinggal sama mama", ucap vio


"Bantu papa supaya mama sayang lagi sama papa, bantu papa supaya mama mau diajak pergi sama papa", ucap vio lagi


Mereka hanya mengangguk dan menarik tanganku lalu bilang jika aku harus pergi dengan vio,


"Licik", gumamku masa minta bantuan anak-anak,


Vio berjalan menuju ruang tv menemui ayah dan ibu dia pamit ingin mengakak aku pergi hari ini ayah dan ibu tau akan perjanjian kami jadi mereka mengizinkan,


Aku bersiap-siap untuk pergi sambil bertanya-tanya akan kemana, aku mengintip vio berbicara serius dengan kedua orang tuaku dan sialnya aku tak mampu mendengar apapun,


Aku memakai pakaian yang biasalah ya dengan hijab yang senada dengan sepatu dan tasku,


Aku dan vio pamit, lalu kami pergi etah kemana dia akan mengajakku, intinya dia harus mamapu membuat hatiku yang hancur ini setelah bertahun lamanya kembali menjadi seperti semula,