Give Me a Chance

Give Me a Chance
The Fact



Pagi hari sekali Kyungsoo pergi dengan memakai pakaian yang sederhana, ia tidak menggunakan mobil melainkan dengan berjalan kaki. Selama diperjalanan, ia tidak peduli dengan para penggemarnya maupun dengan orang-orang sekitar yang memotret dirinya dengan gratis.



Ia menghentikan langkahnya saat di depan taman bermain, ia melihat seorang anak kecil yang sangat cantik sedang duduk termenung. Kini sudah tidak ada orang yang mengenalnya, karena wilayah taman ini yang jauh dari lingkungan ramai. Ia menghampiri anak kecil cantik itu perlahan.



Kyungsoo duduk disebelah anak kecil cantik itu, “Hai.” Sapa Kyungsoo dingin.



Anak kecil cantik itu menatap kearah Kyungsoo, ia mengerutkan alisnya. Ia berdecih, ia melihat kebawah lagi. Kyungsoo terkejut mendengar anak kecil ini berdecih kepadanya, ia menatap anak kecil itu.



“Hei, apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun terhadap orang yang lebih tua darimu!” kesal Kyungsoo, namun anak kecil itu diam saja.



“Hei, kini kau mengacuhkanku hah?!” kesalnya lagi dan kini anak kecil itu menatap Kyungsoo sedih.



“Paman, aku tidak mempunyai orang tua yang lengkap seperti dirimu. Aku hanya mempunyai ibu, aku diajari sopan santun kok!” jawab anak kecil cantik itu.



Kyungsoo terdiam, “Dimana emang ayahmu?” tanyanya.


“Entahlah, ibuku sedang berusaha mencarinya. Ibu berjanji kepadaku, ia akan membawa ayahku kembali pada kami. Ibuku ingin aku bahagia sama seperti anak lainnya.” Jelas anak kecil cantik itu.



Kyungsoo tersenyum mendengar penjelasan anak itu, ia mengusap surai panjang coklat anak itu. Tiba-tiba ibu anak itu datang dan menarik anak itu kebelakangnya.



“Kau!” Kyungsoo langsung berdiri dan menatap Wendy kesal.



Kyungsoo langsung terdiam lalu ia membulatkan lebarnya dengan sempurna, ia baru saja sadar bahwa anak yang tadi ia ajak bicara ternyata anak yang Wendy katakan itu.



“Jadi, anak itu! Anakku?” tanya Kyungsoo pelan.



Wendy menatap Kyungsoo, ia kini menatap anaknya dengan kesedihan. Ia mengacuhkan pertanyaan Kyungsoo dan membawa anaknya pergi pulang bersamanya. Kyungsoo bingung dengan tingkah Wendy yang tiba-tiba meninggalkannya, ia mengikuti Wendy dan anak kecil itu sampai keapartemen yang ditinggali oleh Wendy.



“Hei, Ryu Wendy!” teriak Kyungsoo dan Wendy terdiam.



Kyungsoo menarik lengan Wendy, “Jika kau ingin berbicara denganku, biarkan Soo Hee masuk ke dalam apartemenku!” jelas Wendy dan Kyungsoo mengangguk.




“Oppa, bagaimana jika kita pergi kepantai?” tanya Noora kepada Sehun.



Sejak tadi pagi Noora dibuat bingung oleh tingkah Kyungsoo yang aneh sejak kemarin wanita itu datang kerumah Kyungsoo. Noora kini meminta sang kakak datang ke rumah Kyungsoo, dan mengobrol dengannya.



“Kenapa kamu ingin pergi kepantai?” tanya Sehun heran.



Noora menunduk, “Ibu, dulu sebelum Ibu meninggal ia ingin sekali kepantai. Namun itu belum terlaksana, oppa.” Sedih Noora.



Sehun mengelus surai Noora lembut, ia tersenyum. Ia kagum pada adiknya yang masih saja ingat keinginan terakhir sang Ibu.


“Baiklah, ayo kita kepantai. Tidak peduli cuaca sedang dingin, yang terpenting adalah kebahagian Ibu! Ok Noora.” Sehun menujukkan senyuman terbaiknya dan Noora pun begitu.




Kyungsoo duduk dengan tegak sembari menatap Wendy, “Wendy,” Kyungsoo buka suara


Wendy menatap Kyungsoo, “Kau masih belum percaya Kyungsoo?!” tanyanya penuh pilu


Kyungsoo terdiam, ia masih ragu.



Kyungsoo memegang bahu Wendy pelan, “Bagaimana jika kita lakukan tes DNA? jika hasil tes menyatakan benar, aku akan mengakui dia anakku.” Jelas Kyungsoo dan Wendy menyetujui nya.




Keesokan harinya, Irene datang kerumah Kyungsoo dengan membawa tas kecil berwarna merah muda. Ia langsung masuk dan langsung menuju dapur, ia tidak tersenyum saat melihat Noora yang berada di depan kulkas.


“Noora,” sapa Irene sembari memeluk singkat Noora.


“Eonni, kemana saja belakangan ini? Aku merindukanmu!” Noora memanyunkan mulutnya.


“Aigoo, kau imut sekali! Oh ya dimana Kyungsoo oppa?” tanya Irene sembari melihat sekeliling sudut.


“Tadi aku melihat tuan Kyungsoo pergi pagi sekali eonnie.” Jawabnya



Irene mengerutkan dahinya, “Pergi kemana dia?” tanyanya penasaran


“Entahlah, mungkin urusan kantornya. Aku juga kurang tau eonni.” Jelasnya singkat.



Perasaan Irene tidak enak, ia terus mengelus dadanya. Noora yang melihat Irene sangat khawatir, ia mencoba melakukan hal lain agar Irene tenang.



“Eonni, ini apa yang kamu bawa?” tanya Noora saat melihat tas kecil berwarna merah muda yang di pegang Irene.



Irene tersenyum lebar, “Ini masakan yang aku buat untuk Kyungsoo, tapi dia malah tidak ada di rumah.” Sedih Irene menatap tas kecil itu.


Noora merasa sedih, “Eonni, jangan sedih, mungkin tuan Kyungsoo segera kembali. Masakanmu pasti ia makan, aku pastikan itu!” Irene yang mendengarnya langsung tersenyum kembali.


“Gomawo Noora.” Irene berjalan menuju ruang tv dan menonton program kecantikan disalah satu stasiun tv.




“Hasilnya nanti akan saya kabari anda tuan muda.” Kata dokter kepada Kyungsoo.


“Apakah bisa dipercepat dok?” tanya Kyungsoo



Dokter menatap Kyungsoo, “Apakah hasil DNA ini ada kaitannya dengan anda tuan?” tanya dokter penasaran



Kyungsoo menatap tajam dokter itu, “Apakah anda suka ikut campur dalam privasi pasien anda?” tanyanya dingin.



“Maafkan saya tuan muda, anda pemilik rumah sakit ini. Saya tau batasan saya, tolong maafkan saya.” Dokter itu menundukkan kepalanya.



Kyungsoo langsung berdiri, “Jika hasil DNA nya sudah keluar, langsung kabari saya!”


“Baik tuan.” Jawab dokter itu.



Kyungsoo berjalan menuju pintu keluar ruangan lalu ia berhenti dan berbalik, “Pertanyaanmu tadi sungguh membuatku tidak nyaman! Dan hasil DNA itu tidak boleh ada yang membacanya kecuali saya sendiri! Kau mengerti pak dokter?!” tanyanya dengan menatap dingin sang dokter.


“Baik tuan.” Jawab dokter itu, “Bagus!” Kyungsoo pun langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.




Baekhyun memarkirkan mobilnya di halaman rumah Kyungsoo, ia melihat Noora berlari kearahnya dengan senyuman.


“Kau, kenapa senyumanmu selalu manis Noora?” heran Baekhyun sembari senyum.


Noora memeluk dirinya dengan erat, ia membalas pelukan sang pujaan hati.


“Aku mencintaimu Gyun Baekhyun!” ia mempererat pelukannya kepada Baekhyun.


“Akupun mencintaimu, lebih dari diriku sendiri Noora.” Jawabnya sembari mengelus surai Noora yang lembut.




“Soo Hee, mau mama belikan es krim sayang?” tanya Wendy dengan mengenggam tangan mungil putrinya itu.


“Bolehkah mama?” tanyanya polos


Wendy tersenyum, “Tentu saja boleh sayang, mau rasa apa? Stroberi? Cokelat? Vanilla? Greentea?” tanyanya


“Vanilla!!” jawabnya antusias.


“Ok, ayo kita beli es krim vanilla!!” Wendy berjalan dengan Soo Hee ke toko es krim pinggir jalan.




“Baekhyunie, aku ingin memakan es krim!” Noora menatap toko es krim sebrangnya.


Baekhyun melihat toko es krim sebrangnya, “Ayo kita makan es krim disana!” ia mengenggam tangan kanan Noora erat.




Irene mampir kerumah Jieun untuk menemui ibu Jieun yang sedang sakit demam, Irene melihat nyonya Ong terbaring lemah di tempat tidurnya. Ia memberikan salam dan tersenyum kepada nyonya Ong.


“Tante, dimana Jieun?” tanya Irene sopan


“Dia selalu saja ke bar hari ini, entah kemana dia.” Jawab nyonya Ong.


“Begitukah? Tante bolehkah aku masuk ke kamar Jieun?” izin Irene


“Boleh nak, masuk saja.” Jawab nyonya Ong.




Irene meninggalkan kamar nyonya Ong lalu berjalan masuk kedalam kamar Jieun. Ia tak menyangka bahwa isi kamar Jieun dipenuhi oleh foto-foto Baekhyun dan Jieun, sebegitu sangat cintanya kah Jieun kepada Baekhyun? Sampai seisi kamar ini hanya dipenuhi oleh foto-foto Baekhyun. Ia melihat sesuatu di dekat lemari kecil Jieun yang menarik perhatiannya, Irene memegang benda itu.



“Box sticker silang dengan warna kemerahan? Apa isi dalam box ini?”



Saat Irene membuka sedikit box itu, Jieun menarik lengan Irene kasar, ia terlihat sangat marah. Ia menatap Irene tajam.


“Mau apa eonnie masuk kedalam kamarku hah?!” tanyanya marah


“Lepaskan dulu cekalan tanganmu pada pergelangan tanganku Jieun!” Jieun melepaskan tangan Irene.


Irene terlihat kesakitan, ia memijit pergelangan tangannya. Ia menatap Jieun kesal, ia merapihkan pakaiannya yang agak kusut.


“Aku hanya ingin melihat isi kamarmu! Kau sangat tertutup padaku!” jawabnya agak kesal.


Jieun membuang napasnya kasar, “Lalu eonnie maunya apa?” Jieun menatap mata Irene.



“Aku tidak mau apa-apa darimu!” jawabnya dengan membalas menatap Jieun.


Irene sangat kesal kepada Jieun hari ini, ia memutuskan untuk langsung pergi dari kamarnya Jieun dan juga dari rumah Jieun.




Noora menatap ponselnya sedih, ia tahu kini Baekhyun yang ia kenal dulu berbeda dengan yang sekarang. Ia tak menduga jika kakaknya menceritakan kisah Baekhyun yang dipaksakan bertunangan dengan keluarga konglomerat yang sangat berpengaruh bagi keluarga Gyun.



Noora tersentak saat Kyungsoo kembali dengan membawa kantung belanjaan yang cukup banyak, tidak seperti biasanya Kyungsoo berbelanja banyak seperti ini. Kyungsoo berjalan kamarnya.


Tak lama ponsel Noora bordering, menampilkan nama pria yang ia nantikan kabarnya.



“Baekhyunnie, aku baik, dirimu?” tanya Noora dalam telepon.


Noora menuju kamarnya sembari melepon kekasihnya, sedangkan Kyungsoo menyimpan kantung belanjaannya di kursi dekat lampu samping pintu kamarnya. Ia melepas pakaiannya dan langsung mandi, setelah beberapa menit ia mandi, ponselnya bordering. Senyum dibibirnya terukir dengan jelas, ia bahagia melihat siapa yang menelponnya, ia pun langsung mengangkatnya.



“Halo,” jawabnya, “Ayah!!!!” teriak anak perempuan diseberang telepon.


Kyungsoo tersenyum lebar, “Soo Hee, putri ayah.” Jawabnya.


“Ayah, kenapa ayah pulang kerumah lain? Ini juga kan rumah kita?!” kata Soo Hee dengan memanyunkan mulutnya yang mungil.



Sebenarnya ingin sekali dirinya membawa anaknya itu. Namun, apa yang akan ia jawab nanti jika keluarganya, Irene, dan bahkan media tanyakan padanya nanti. Ia tersenyum kembali untuk menjawab anaknya.


“Ayah sedang usahakan membuat rumah baru untuk kita tempati nanti sayang.” Jawabnya dengan nyeri di dadanya.



“Ibu, ayah akan membuat rumah baru untuk kita nanti!!” teriak Soo Hee kepada Wendy yang terdengar juga oleh Kyungsoo.


Kyungsoo mendengar Wendy yang mencium anaknya itu, ada rasa senang, bersalah, dan juga kepedihan yang dicampur adukkan di dalam dirinya.



“Soo Hee,” panggil Kyungsoo lembut, “Ya ayah?” tanyanya


“Ayah mau bekerja dulu, nanti ayah telepon putri cantik ayah ok!” jelasnya.


“Ya ayah, I love you dad.” Jawab Soo Hee


“Ayah juga sayang kamu.” Jawabnya dengan senyuman.


Kyungsoo langsung menutup sambungan teleponnya. Ia menuju balkon kamarnya, ia menatap langit hitam. Ia membuang napas dengan keras, ia menjambak rambutnya. Ia membuang napas kasar lagi, tak ia sadari cairan bening menetes begitu saja dari kelopak matanya yang bulat.



“Nek, aku harus bagaimana? Aku sangat butuh nenek hari ini.” Katanya sembari menundukkan kepalanya.