
“Noora, kalau kamu bertemu dengannya lagi jangan berbicara dengannya!” Ucap Baekhyun sembari menyetir mobilnya.
Noora hanya mengangguk lalu memegang lengan Baekhyun yang kanan, ia tersenyum saat Baekhyun menoleh melihatnya.
“Tolong jangan tersenyum seperti itu, kamu tahukan aku sangat mudah luluh jika kamu senyum seperti itu!” Ucap Baekhyun lalu membuat Noora tertawa.
“Hei, kenapa kamu tertawa?” tanyanya
Noora mengeluh pipi mulusnya Baekhyun, “Karena kau sangat lucu saat kesal.” Jawabnya tetap tertawa.
Baekhyun mencebikkan bibirnya, Noora mengecup bibir mungil nya Baekhyun lalu ia tersenyum malu. Baekhyun mengusap kepala Noora dengan senyuman di wajahnya, ia menepikan mobilnya dipinggir lalu saat ia mendekatkan wajahnya kepada wajah Noora ponselnya berdering. Baekhyun sangat kesal ponselnya berdering disaat yang tidak tepat dan mau tidak mau dia harus mengangkatnya karena itu telpon dari Kyungsoo.
Setelah berbicara dengan Kyungsoo beberapa menit, ia melihat Noora dengan serius lalu menutup sambungan telponnya.
“Duh Noora, maaf banget sekarang kayaknya aku ga bisa antar kamu sampe rumah.” Ucap Baekhyun.
“Apa ada yang lebih penting dikantor?” tanyanya
Baekhyun mengangguk, “Maaf Noora, aku janji aku akan menelponmu setelah urusan kantor kelar.” Noora mengangguk lalu keluar dari mobil Baekhyun.
Noora memperhatikan mobil Baekhyun sampe tak terlihat lalu ia berjalan santai, saat ia mampir ke minimarket Noora melihat Irene yang sedang memakai mie kuah.
“Eonnie.” Panggil Noora riang lalu Irene tersenyum dan menyuruhnya duduk didepannya.
“Hei, ngapain kamu disini sendirian? Biasanya bersama Sehun.” Tanya Irene.
“Hm...aku hanya ingin berjalan-jalan sendirian, eonnie juga tumben makan disini?” tanya nya balik.
Irene tersenyum, “Aku hanya ingin memakan mie semasa SMA aku saja, kangen sekali aku dengan suasana seperti ini.” Jelasnya dengan tersenyum.
Noora tersenyum, “Eonnie, sungguh beruntung nya tuan muda Kyungsoo bisa memiliki calon istri seperti dirimu yang selalu tersenyum dalam keadaan apapun dan kamu juga sangat cantik seperti dewi!” puji Noora tiada hentinya yang membuat Irene tertawa malu.
“Noora, jangan memujiku seperti itu ah, aku jadi malu haha..” Irene tertawa
“Tuan muda Kyungsoo pasti sangat mencintaimu eonnie.” Seketika Irene terdiam dengan sedih.
Noora yang tadinya ikut tertawa setelah ia melihat Irene langsung ikut terdiam, “Eonnie, apakah aku telah salah berbicara?” tanya Noora
Irene memegang dahinya, “Tidak, kamu tidak salah. Kamu beli apa saja yang kamu inginkan dan aku yang akan bayar.” Alih Irene dan Noora terkejut.
“Beneran eonnie?” tanyanya
“Eonnie emang yang terbaik, baiklah aku ambil makanan dulu kita makan bareng disini sembari ngobrol ok eonnie!” riang Noora.
“Iya sayang.” Noora mulai mengambil makanan dan memakannya bersama dengan Irene.
Wendy dan Kyungsoo merayakan ulang tahun Soo Hee dengan meriah disebuah restoran rahasia milik Kyungsoo di daerah yang tidak mudah dijangkau oleh masyarakat dan media.
“Selamat ulang tahun putri ayah yang ke lima tahun.” Kyungsoo mengeluh surai lembut Soo Hee dan mengecupnya.
“Terima kasih ayah, aku sayang ayah.” Soo Hee tersenyum lebar da menyuruh Wendy memeluknya juga.
“Selamat ulang tahun sayang.” Wendy mengecup manis kening Soo Hee.
Soo Hee dan teman-temannya menyanyikan lagu ulang tahun lalu memotong kue ulang tahun berukuran besar yang sengaja dipesan oleh Kyungsoo.
Yu Jin pulang kerumah sejak sekian lamanya setelah kejadian buruk baginya itu, ia melihat ayahnya yang sedang memanjakan Jieun dengan sangat manis dan sedangkan dirinya hanya anak buangan yang sangat di benci ayah nya itu. Yu Jin berdecih didepan ayahnya beserta keluarga barunya itu, ia masuk kedalam kamarnya yang dulu.
“Hah, ternyata ia masih tinggal ditempat ini.” Yu Jin menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kedinginan serta kotor.
Ayahnya Yu Jin memasuki kamar Yu Jin dengan hati-hati, ia melihat sekeliling ruangan tidak ada Yu Jin. Saat Yu Jin keluar dari kamar mandi ayahnya sedang duduk di tempat tidurnya itu, ia membulatkan kedua matanya dengan amarah yang masih tertanam di dirinya.
“Yu Jin, putraku.” Ucap sang ayah dengan nada pelan
“Siapa yang mengizinkanmu memasuki kamarku?!” Yu Jin menutup pintu kamar mandi.
“Ayah hanya ingin-“ Yu Jin mendorong tubuh ayahnya agar keluar dari kamarnya lalu menutup pintu kamarnya.
“Yu Jin, bisakah kita berbicara sebentar?” tanya ayahnya tak berdaya.
Yu Jin tidak menjawabnya, ia langsung membaringkan tubuhnya pada ranjangnya lalu memutarkan lagu dengan volume tinggi lalu menutup matanya seraya tidak mau mendengarkan sang ayah.