
“Noora, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku Noora,” Baekhyun tertidur.
Tuan muda Kyungsoo membulatkan matanya dengan sempurna, apakah yang di ucapkan oleh Baekhyun adalah Noora yang kini tinggal di rumahnya atau bukan. Ia memegang ponsel untuk mengantar Baekhyun dan Sehun ke rumahnya masing-masing sedangkan dirinya ingin melanjutkan jalan-jalannya sendirian walaupun sekarang sudah menjelang malam. Untung saja ia tidak banyak minum seperti Baekhyun dan Sehun, jadi ia bisa berjalan dengan tenang.
Ponselnya bergetar di saku jaket tebalnya, ada satu panggilan telepon dari rumahnya. Ia pun mengangkatnya siapa tahu penting, pikirnya.
“Halo, ada apa?” tanyanya sembari memakai kacamata hitamnya.
“Halo, tuan muda Kyungsoo?” tanya Noora hati-hati.
Tuan muda Kyungsoo menyerngitkan dahinya, “Iya, siapa?”
Noora terdiam sejenak, “Saya Noora.”
Kyungsoo berdecih, “Sudahlah, ada apa kau menelpon melalui telepon rumahku, apa kau tidak punya ponsel?” ia duduk di halte bus.
“Maaf tuan, apakah saya bisa ikut berbelanja bahan makanan bersama Ibu Neun?” sembari menatap ibu Neun.
“Keluarlah! pasti kau muak diam di rumah teruskan dari kemarin.”
Noora membulatkan matanya lalu menatap ibu Neun, ia tersenyum lebar. “Dia mengizinkannya?” berbicara pelan pada Noora dan dijawab dengan anggukkannya, ibu Neun ikut senang juga.
Tuan muda Kyungsoo mematikan sambungan teleponnya, ia memasukkan kembali ponsel pada saku jaket tebalnya. Tak di duga ternyata mobil Irene terhenti tepat di depannya, Irene membuka kaca mobilnya dan menyapa Kyungsoo.
“Sayang, kok kamu ada disini duduk sendirian? Apa paparazzi tidak mengikutimu? tidak ada yang mengenalmu kan?” tanya Irene tanpa henti yang membuat tuan muda Kyungsoo membuang napasnya.
Tuan muda Kyungsoo berdiri dari duduknya, ia menghampiri mobil Irene lalu masuk kedalamnya. Ia menatap Irene, ia menyentuh bibir pink peach-nya Irene, jari jempolnya mengusap lembut. Irene terdiam dan menikmati sentuhan tangan Kyungsoo, ia menutup matanya pelan. Ia mulai merasakan hembusan napas Kyungsoo pada wajahnya. Saat Kyungsoo ingin mencium Irene, Kyungsoo sadar bahwa ini tidak benar, ia menjauhkan wajahnya pada wajah Irene.
Irene membuka matanya, ia sedikit kecewa pada tuan muda Kyungsoo namun apalah dia dimata Kyungsoo.
“Maaf, aku tidak akan melanggar prinsipku, Irene,” Tuan muda Kyungsoo menatap Irene.
Irene tersenyum paksa dan nada bicaranya seperti kecewa, “Iya aku tahu itu, makanya kau berhenti.”
“Kau mau kemana malam-malam keluar sendirian?” tanya Irene yang mengalihkan pembicaraan.
“Tadi sebenarnya aku tidak sendirian, ada Sehun dan Baekhyun. Saat kami makan dan minum soju, mereka banyak minum dan mabuk berat, lalu aku lebih memilih jalan sendiri saja,” jelasnya pada Irene, dan Irene mengangguk.
Irene sesekali melihat tuan muda Kyungsoo yang sibuk memainkan ponselnya, ia tahu Kyungsoo bos terbesar dan sangat terkenal di Korea, Seoul namun Irene ingin sekali dianggap keberadaannya oleh tunangannya itu. Irene menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia keluar dari mobilnya dan mengetuk kaca mobilnya. Ia menyuruh Kyungsoo keluar dari mobilnya juga, tuan muda Kyungsoo keluar dari mobilnya dan melihat Irene yang sedang tersenyum padanya.
“Ada apa kau menyuruhku turun?” tanyanya dengan wajah biasanya.
Irene menyuruh Kyungsoo duduk di sebelahnya, ya mereka berada di pinggir jalan dan duduk menatap kendaraan yang berlalu lalang di tengah musim dingin Kota Seoul. Tuan muda Kyungsoo bingung dengan tingkah kekanakan Irene saat ini, ia lebih memilih diam dan menatap layar ponselnya. Irene mengambil ponsel yang dipegang Kyungsoo, ia tahu tingkahnya agak menyebalkan tapi ia ingin dianggap oleh Kyungsoo. tuan muda Kyungsoo menatap Irene kesal, sungguh membuatnya tidak nyaman.
“Kau, beraninya!!” Marah tuan muda Kyungsoo saat ponselnya di ambil oleh Irene. Irene sedikit menundukkan kepalanya, “Maaf, aku hanya ingin kau, kau menganggapku saja.”
Tuan muda Kyungsoo terdiam, apakah iya ia mengacuhkan Irene dari tadi. Saat ini proyek barunyalah yang selalu ia pentingkan dan fokuskan, ia tidak berpikir mengacuhkan Irene. Irene menatapnya penuh harapan, namun Kyungsoo menatapnya biasa. Ponsel yang dipegang Irene bergetar, ada satu panggilan yang harus ia jawab, lalu ia mengambil ponselnya paksa.
“Halo, ada apa hyung?” tanyanya saat kakaknya menelponnya. Terdengar hembusan napas yang kasar disana, “Dimana kau?” tanyanya dengan nada kesal.
“Bersama Irene, kenapa?” tanyanya bingung. “Ayah sakit, bisakah kau kemari?” tanya kakaknya.
“Baiklah, aku akan kesana” ia menutup teleponnya dan menghampiri Irene.
“Maaf Irene, bisakah kau mengantarkanku ke rumah ayahku?” tanyanya dengan wajah panik.
Irene langsung terbangun dan langsung menuju mobil lalu menggaskan mobilnya dengan cepat. Irene sudah menganggap ayah Kyungsoo ayahnya juga, ia juga sudah sangat dekat dengan keluarga besarnya Kyungsoo, tunangannya. Sesampainya mereka di kediaman Yeon yang tak kalah rumahnya seperti Kyungsoo, Tuan muda pertama, Jongsuk kakaknya Kyungsoo langsung menyuruh Kyungsoo dan Irene masuk kamar sang ayah. Kyungsoo menghampiri sang ayah dan mengecup tangan ayahnya, tuan Yeon membuka matanya, ia tersenyum pada anaknya lalu melihat Irene yang tersenyum padanya.
“Irene, bisa kau mendekat dengan Kyungsoo?” tanyanya dengan nada yang agak lemah.
Irene mendekat dengan Kyungsoo, sang ayah tersenyum melihat pasangan yang cocok sekali menurutnya. Tuan Yeon memegang kedua tangan mereka lalu menyatukannya, Irene dan Kyungsoo saling menatap. Jongsuk dan sang ibu melihat ketentraman saat ini, mereka berharap Kyungsoo segera mengakhiri masa kesendiriannya. Kyungsoo sudah tahu apa yang diinginkan sang ayah, kakak dan ibunya, Kyungsoo melepaskan pautan tangan mereka lalu berdiri. Ia malah keluar dari kamar sang ayah dan meninggalkan Irene yang kelihatan sedih, tuan Yeon mengelus tangan Irene lembut.
“Tenang saja, aku akan meyakinkannya,” terdengar halus dan tenang yang membuat Irene tersenyum pada calon mertuanya itu.
Tuan muda Kyungsoo sudah sampai di kediamannya sekarang, ia langsung menuju kamarnya dan membersihkan tubuhnya. Pikiran ia saat ini sedang kacau, ia tidak suka dengan keinginan keluarganya itu, saat ini ia ingin menyendiri. Noora terlihat sangat senang dengan Ibu Neun, ia merapihkan belanjaan tadi ke dalam kulkas. Ibu Neun sangat baik dan seru baginya, ia terkejut saat mendengar ada benda yang jatuh dari ruangan atas. Ia ingin melihat benda apa yang terjatuh di atas sana, tetapi ibu Neun melarangnya.
Ingin sekali ia berjalan kesana namun ia lebih memilih mengikuti perkataan ibu Neun. Kyungsoo melempar benda pemberian sang ayah ke sembarang arah sampai benda itu hancur dan rusak, ia kini membenci ayahnya. Ponsel kembali bergetar menampilkan nama Yeon Jongsuk hyung, ia acuhkan, ia tidak mau meladeni telepon dari keluarganya saat ini. Yang hanya ia fokuskan hanyalah bekerja, mengurus bisnis dan menghasilkan banyak uang. Kyungsoo memejamkan kedua matanya, ia ingin dirinya tenang tanpa meminum minuman apapun.
Noora terbangun saat tengah malam, hatinya selalu ingin melihat apa yang terjadi di ruangan atas. Ia berjalan mengikuti hatinya, saat ia berada di lantai dua, hanya ada satu pintu yang ada disana. Ia membuka pelan pintu itu, ia membesarkan matanya karena kaget melihat benda-benda yang tergeletak di lantai dan ada sebagian yang rusak dan hancur. Ia masuk kedalam kamar Kyungsoo dengan pelan-pelan agar Kyungsoo tidak terbangun, ia membersihkan benda-benda yang hancur dan menyimpan kembali yang masih bagus. Saat ia mengambil pecahan beling tiba-tiba Kyungsoo memegang tangannya erat, ia menatap Noora geram.
“Apa pembantu disini tidak memberitahukan kepadamu, tidak boleh ada yang masuk kedalam kamarku?!” tanyanya dengan amarah.
Noora terdiam, ia menatap mata Kyungsoo yang memerah karena marah. Kyungsoo sangat marah, sangat.
“Berani sekali kau menatapku seperti ini!!” geram Kyungsoo.
Noora menundukkan kepalanya, pecahan beling masih digenggaman tangannya yang di pegang erat oleh Kyungsoo. Ia ingin menjerit namun ia mulai melemah, Kyungsoo masih menatap Noora geram. Noora mulai merasakan telapak tangannya perih, sangat perih. Ia menatap Kyungsoo kembali tetapi dengan mata yang sudah dipenuhi dengan cairan bening yang sudah mengalir di pipi Noora. Kyungsoo mengalihkan pandangannya kepada tangan Noora yang ia pegang sangat erat dan kasar, darah segar mengalir dari telapak tangan Noora yang mengenai tangannya juga.
Ia melihat Noora kembali, kini mata Noora mulai terpejam dengan air mata yang mengalir. Miyeon pingsan ketika tubuh Noora akan terjatuh, Kyungsoo langsung sigap menahan kepala dan punggung Noora.
Ia melihat wajah Noora yang pucat, ia merapihkan rambut Noora yang menghalangi wajah cantik Noora. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, ia merasa bersalah kepada satu perempuan ini. Ia menggendong tubuh Noora dan membaringkannya di ranjang king size nya, ia memperhatikan pahatan wajah Noora. Ia baru sadar jika perempuan ini sangat cantik, tapi ia menyadarkan pikirannya, ia bangun dari duduknya untuk mengambil kotak P3K dekat lemarinya. Ia mengobati luka di telapak tangan Noora, lukanya lumayan dalam, Kyungsoo sangat berhati – hati mengobatinya dan sesekali Noora merasakan sakitnya walaupun sedang pingsan.
Setelah beres mengobati luka Miyeon ia menyimpan kembali kotak P3K nya lalu pergi menuju kamar tamu yang tadi ditempati Noora.
Ibu Neun membuka pintu kamar Noora, “Noora sayangku, bang-“
Omongannya terhenti saat melihat orang yang tidur di kamar ini ternyata bukan Noora melainkan tuan mudanya, Kyungsoo. Ia menutup pintu kamarnya kembali pelan, untung saja tuan mudanya tidak bangun batinnya, tuan muda Kyungsoo tidur pun gantengnya masih terlihat batinnya lagi. Noora membuka matanya perlahan, ia terbangun dari tidurnya dan duduk dengan merasakan perih ditelapak tangannya. Kepalanya sakit pusing, tubuhnya masih lemas akibat luka itu. Ia bangun perlahan dari ranjang itu, ia melihat isi kamar yang masih berantakan.
Ibu Neun menghampiri Miyeon saat ia sudah di tangga, ibu Neun bingung dengan keduanya mengapa tuan muda bisa tidur di kamar Noora dan sebaliknya. Tapi ia acuhkan, ia lebih memilih fokus dengan Noora. Kyungsoo sudah rapih, ia langsung pergi ke kantornya untuk bekerja. Saat ia keluar dari kamarnya, ia melihat Noora yang sedang meminum segelas susu putih di dapur. Ia langsung melihat keadaan tangan Noora yang diperban tebal, sepertinya bibi Neun sudah mengobatinya lebih baik, iapun langsung pergi menuju mobilnya.
Baekhyun sudah lama menunggu Kyungsoo di ruangannya Kyungsoo, ada beberapa yang ingin ia bahas dengannya tentang proyek barunya dengan Negara Turki. Tak lama kemudian Kyungsoo datang dengan sangat rapih, sekretarisnya bilang bahwa hari ini ada meeting penting, seluruh mitra kerjanya berkumpul. Baekhyun yang duduk disofa ruangannya diacuhkan olehnya, Kyungsoo langsung duduk di kursinya dan membuka laptopnya. Baekhyun berjalan menghampiri meja Kyungsoo, ia berdiri di depan Kyungsoo dengan melipat kedua tangannya di dadanya.
“Permisi tuan muda Yeon Kyungsoo, saya sedari tadi menunggu anda untuk membahas proyek baru anda dengan Negara Turki” jelasnya dengan bahasa baku.
“Ya bicaralah” jari Kyungsoo sibuk mengetik dan pandangannyapun sibuk menatap layar laptop.
Baekhyun sudah biasa dengan sifat Kyungsoo yang suka mengacuhkan orang maupun karyawannya. Ia duduk di sofa kembali sembari memainkan bola bekel Kyungsoo.
“Perusahaan Turki Digital Company menginginkan lebih banyak dana dari perusahaan ini, sedangkan kita sudah mengirim dana lebih dari keinginan mereka. Bagaimana jika kita hanya dipermainkan saja oleh mereka?”, tanya Baekhyun dengan sangat khawatir.
Kyungsoo menghentikan kegiatannya, ia memijat kepalanya sembari memikirkan jalan keluarnya. Ia berdiri, berjalan kearah kaca besar yang menampakkan kota Seoul di pagi hari.
“Perusahaan TDC itu perusahaan yang cukup berkualitas, kini yang harus kita lakukan hanyalah menyusun semua anggaran dana mereka dalam kegitan marketingnya. Sebab dari anggaran yang telah dibuat tersebut dapat menentukan berapa dana yang dibutuhkan untuk melakukan pemasaran.” jelasnya dengan serius.
Baekhyun melihat Kyungsoo dengan menganggukkan kepalanya mengerti, Kyungsoo membalikkan tubuhnya kearah Baekhyun.
“Dan kau harus berhati-hati dalam pengecekan dana perusahaan itu, jika kita ketahuan menyelidikinya kita akan dijatuhkan oleh mereka dengan mudah.” Lanjutnya.
“Baik, akan saya periksa sekarang juga.” Baekhyun meninggalkan ruangan Kyungsoo dengan terburu-buru.
Tuan muda Kyungsoo duduk kembali pada tempatnya sembari memijat-mijat dahinya. Kini perusahaan Yeon Group Company (YGC) sedang sibuk dengan proyek barunya yang sepertinya hanya memanfaatkan perusahaannya dan ditambah dengan berita hoax tentang Kyungsoo yang menghamili wanita lain. Sudah biasa bagi Kyungsoo tentang berita hoax tentangnya yang seperti itu, sudah tiga kali dalam setahun berita seperti itu muncul. Baginya mereka hanya ingin mengambil kepopularitasannya saja, tapi pada akhirnya orang itu kalah, tak ada yang bisa mengalahkan seorang Yeon Kyungsoo. Semua orang sudah mengenal dirinya, Yeon Kyungsoo yang dingin, jutek, dan gila akan bisnis.
Tok tok.
“Masuk!” jawab Kyungsoo dari dalam.
Sehun membuka pintu dengan pelan, ia menghampiri Kyungsoo yang sedang duduk sembari memijat dahinya. Ia mendekatkan mulutnya pada telinga Kyungsoo dan membisikkan sesuatu pada Kyungsoo, kedua matanya membulat sempurna, entah apa yang dibisikkan Sehun sehingga Kyungsoo terkejut seperti itu. Setelah itu Kyungsoo langsung keluar dari ruangannya menuju lantai dasar dengan tergesa-gesa.
“Hai, tuan muda Yeon Kyungsoo.” sapa seorang perempuan.
Kyungsoo geram dengan kedatangan orang itu, ia menarik lengan perempuan itu dan pergi ketempat yang sepi. Kyungsoo melepaskan tangannya dari lengan perempuan menjijikan itu.
Perempuan itu tersenyum, “Ternyata kau masih ingin menyentuhku rupanya.” Tuan muda Kyungsoo menatapnya tajam, “Ha, ternyata kau masih gila ya.”
“Tuan muda Kyungsoo, mau sampai kapan kita menyembunyikan fakta bahwa bayi yang ada didalam rahimku adalah bayimu?” tanya perempuan itu.
“Hei, Na Gayoung, bangunlah dari mimpimu itu. Hanya menginginkanku kau sampai melakukan hal menjijikan seperti ini?!” Kyungsoo berdecih.
Gayoung yang sudah beberapa bulan ini selalu mengganggu kehidupan Kyungsoo, bahkan Irene hamper kehilangan nyawa karena ulahnya yang menginginkan hidup bersama tuan muda Kyungsoo. Ia yang melaporkan bahwa ia hamil anaknya tuan muda Kyungsoo kepada media, keluarga Yeon juga angkat bicara tentang hal ini bahkan keluarga Bae pun ikut dalam masalah ini. Kyungsoo sudah mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali ia memukul orang ini tapi ia perempuan, ia tidak ingin menyakiti perempuan secara fisik.
“Nikahi aku baru aku akan menghentikan ini semua, hiduplah bersamaku dan, tinggalkan Irene si bodoh itu” ia menekankan kalimatnya.
Kyungsoo berdecih, ia tersenyum iblis, “Kau menginginkan itu?” tanyanya dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Gayoung.
Gayoung tersenyum, “Iya, hanya kau yang aku inginkan.”
Gayoung menutup matanya ketika wajah Kyungsoo lebih dekat dengan wajahnya.
Bugh.
Gayoung jatuh ke lantai karena Irene mendorongnya keras, napas Irene sudah naik turun. Kyungsoo terdiam menatap Irene yang matanya sudah penuh dengan cairan bening yang siap untuk jatuh.
“Dasar kau jalang!!!”, teriak Irene dengan amarahnya yang tinggi.
“Irene!!” tuan muda Kyungsoo berteriak pada Irene.
Irene kini beralih menatap Kyungsoo yang lebih marah darinya, ia tak percaya bahwa Kyungsoo malah membantu Gayoung berdiri. Bahkan Kyungsoo lebih perhatian pada Gayoung, ia ingin sekali menjenggut rambut perempuan itu tapi Kyungsoo, ah sudahlah.
“Sayang, kau, ha?!” Irene merasakan nyeri pada dada kirinya.
Kyungsoo melihat Irene yang memegangi dada kirinya, ia tahu Irene kini sangat marah. Ia meninggalkan Irene yang kini menangis kencang di lorong sepi, Sehun yang melihat itu langsung menghampiri Irene dan memegangi kedua bahu Irene.
“Mau saya bantu?” tanya Sehun pada Irene khawatir.
Irene memegangi lengan Sehun erat, ia tidak kuat berjalan sendiri setelah melihat apa yang terjadi tadi. Sehun sungguh tidak tahu apa yang kini sedang dilakukan oleh Kyungsoo sendirian
Brak.
“Apa-apaan kau ini Yeon Kyungsoo?!!” teriak sang ayah kepada Kyungsoo.
Kyungsoo hanya diam, omongan ayahnya seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ia hanya ingin mengikuti kata hati dan otaknya bekerja, Jongsuk sang kakak kesal melihat tingkah adiknya yang setengah waras ini. Mengapa ia harus dilahirka menjadi kakak seorang Yeon Kyungsoo, dan bahkan mengapa ia tidak menjadi pewaris dari Yeon saja mengapa harus Kyungsoo, begitulah batinnya.
“Kyungsoo, dengarkan ayahmu nak,” kini ibunya yang berbicara pelan sembari mengusap bahu anaknya itu.
“Aku ada meeting sekarang, aku pergi.” pamitnya membungkukkan badannya lalu pergi.
Tuan Yeon yang melihat tingkah anak bungsunya ini kesal, kini ia lebih memikirkan keadaan calon menantunya, Bae Irene yang sedang sakit. Kyungsoo menelpon orang kepercayaannya.
“Tolong, carikan aku datanya!” ia menutup teleponnya lalu bergegas mengendarai mobilnya.