Give Me a Chance

Give Me a Chance
Ada Apa?



Di sebuah gereja tua itu ada seorang perempuan berpakaian pengantin sedang duduk di kursi taman depan. Ia menatap tangannya kosong, matanya yang indah mulai meneteskan cairan bening. Ia menghembuskan napasnya seraya mengeluarkan sesak dalam dadanya.


“Seharusnya kau tidak melakukan ini padaku.”



Ia berdiri dan berjalan dalam cuaca yang sangat dingin, kota Seoul saat ini sedang musim dingin. Ia berjalan dengan terhuyung-huyung, tetapi ia menguatkan kakinya untuk terus berjalan hingga ia menabrak seorang pria berparas tampan seperti pangeran dan terjatuh pada pelukannya. Ternyata perempuan itu pingsan, pria itu membulatkan kedua matanya.


“Hei, kau kenapa?”


Pria itu menepuk-nepuk pipi perempuan itu, ia juga menggoyahkan bahu gadis itu.


“Ya ampun, dahimu panas sekali?!”


Pria itu panik, ia mencoba menelpon supirnya untuk menjemputnya di pertigaan jalan.


“Kenapa perempuan ini keluar dengan pakaian pengantin di musim dingin seperti ini?”



Tak lama kemudian mobil berhenti di samping mereka, pria itu menggendong perempuan itu ke dalam mobilnya lalu merekapun pergi ke rumah pria itu.



“Pak bawakan barang belanjaan saya ke dapur!” Perintah tuan muda


“Ya baik tuan muda.” Pembantu itu membawa barang belanjaan tuan muda.



Di sebuah rumah yang besar serta mewah itulah pria berparas tampan seperti pangeran itu tinggal. Pria itu menggendong perempuan itu ke kamar tamu, ia menidurkan perempuan itu dengan sangat hati-hati.



“Bi, bibi!”


Panggil pria itu kepada pembantu rumahnya lalu dua pembantu perempuan datang.



“Ya, ada ap-“


Omongannya terhenti saat melihat seorang perempuan berpakaian pengantin yang terbaring di kamar tamu ini.


“Jangan berpikiran aneh kalian, tugas kalian tolong ganti pakaian dia dengan pakaian yang ada di lemari itu. Di sana ada pakaian wanita.”


Pria itu langsung pergi menuju kamarnya lalu kedua pembantu itu langsung menjalankan perintah tuan mudanya. Dua jam telah berlalu, perempuan itu telah sadarkan diri. Ia berusaha berposisi duduk sembari tangannya memegang kepalanya.



“Dimana aku?”


Perempuan itu melihat sekeliling ruangan itu, ia terkejut saat pakaiannya telah berubah menjadi piama tidur. Suara pintu terbuka terdengar olehnya, ia langsung menengokkan kepalanya dan menampakkan pria tampan yang sedang berjalan kearahnya.



“Jangan takut, aku bukan orang jahat seperti yang ada dipikiranmu!”


Pria itu duduk di sofa dekat ranjang perempuan itu.


“Kenapa kau memakai gaun pernikahan di musim dingin seperti ini?”


Tanyanya langsung yang membuat perempuan itu panik, ia menatap perempuan itu datar.



“Kemana gaunku itu?!”


Pria itu mengerutkan kedua alisnya yang tebal, ia melipat tangannya didadanya.



“Kubuang, sudah tidak akan dipakai olehmu lagi kan?”


Perempuan itu kini mengepalkan kedua tangannya, ia kesal dan marah kepada pria yang sedang duduk dihadapannya.



“Apakah kau tidak tahu seberapa berharganya gaun pernikahanku itu?!”


Pria itu mengangkat kedua bahunya seraya mengatakan tidak tahu dengan wajah datarnya. Perempuan itu membuang napas berat lalu menatap pria itu.



“Itu pemberian dari kekasihku!!” sentak Noora, “Umurmu berapa?” Tanya tuan muda dengan wajah datarnya



Perempuan itu menghela napas panjang, ia bangun dari duduknya di ranjang dan menghampiri pria itu.


“Pertama namaku Yoo Noora, umurku 21 tahun. Aku ditinggal mati oleh kekasihku hari ini tepat saat dia dalam perjalanan menuju tempat pernikahan kami!.”



Noora menjelaskan singkat tentangnya, setelah mendengar penjelasan Noora, pria itu bangun dari duduknya dan menatap Noora datar.



“Namaku Yeon Kyungsoo, penguasa bisnis terbesar di Korea, Seoul, aku anak kedua dan pewaris dari keluarga Yeon. Aku tidak menerima ocehan dan keluhan dari siapapun dan kau!” jari telunjuk diarahkan tepat di wajah Noora.



“Tidak boleh berbicara keras padaku, jika kau berbicara seperti ini lagi pergi kau dari rumahku!!”


Kyungsoo yang berparas tampan dan terlihat seperti lembut itu ternyata pria yang memiliki sikap yang sangat buruk. Noora yang mendengar omongan keras dari Kyungsoo terdiam, dia menundukkan kepalanya. Air matanya mulai menetes, ia sangat menginginkan gaunnya kembali.



“Kau perempuan yang lemah, aku benci perempuan yang lemah sepertimu!”


Kyungsoo pergi keluar dari kamar Noora dengan amarah sedangkan Noora terduduk di sofa memikirkan kehidupannya yang kacau karena kekasihnya meninggal.



“Seharusnya kita sudah menikah sekarang, kau sangat jahat. Kau meninggalkanku sendirian di dunia ini.”


Noora terus menangis, ia tak sanggup dengan keadaan yang jauh dari ekspektasinya selama ini. Kyungsoo mendapatkan sebuah telepon dari kekasihnya yang bernama Bae Irene, mereka sudah lama menjalin kasih namun Kyungsoo masih belum ada niatan untuk menikahi Irene.



“Sayang, besok kita makan berdua ya?” Tanya Irene



“Baiklah.” jawabnya singkat sembari melepas jam tangannya.



“Benarkah, kau kan yang akan menjembutku?” tanyanya hati-hati.



Tuan muda Kyungsoo hanya menjawabnya dengan deheman dengan menarik napasnya lalu ia mendudukkan dirinya di sofa kamarnya.



“Sepertinya kau sangat lelah, baiklah sampai jumpa besok sayang.”


Irene pun menutup sambungan teleponya, tuan muda Kyungsoo menaruh ponsel di nakas samping tempat tidurnya. Ia membaringkan tubuhnya pada ranjang king size nya lalu memejamkan mata.



Prang..



Suara gelas beling pecah dari dapur tuan muda Kyungsoo, Noora panik, ia tidak sengaja memecahkan gelas beling itu. Noora terbangun dari tidurnya karena ia merasa kehausan, lampu seluruh ruangan dimatikan jadi ia tidak bisa melihat dengan benar. Tuan muda Kyungsoo berjalan menuju dapur, ia menyalakan lampu dapur lalu terlihat Noora yang sedang memungut pecahan gelas beling itu.



“Apa yang sedang kau lakukan?!” Tanya tuan muda Kyungsoo kaget



Noora terlihat ketakutan pada tuan muda Kyungsoo, ia takut karena jika pria itu marah sangatlah menakutkan. Ia hanya menundukkan kepalanya, berharap tuan muda Kyungsoo tidak memarahinya. Ia melihat kaki tuan muda Kyungsoo yang berjalan kearahnya, ia sudah memejamkan matanya dengan ketakutan di dirinya. Tuan muda Kyungsoo memegang kedua lengan Noora lalu berusaha membuat Noora berdiri, ia menatap Noora dengan dingin.



“Biar pembantu saja yang membersihkannya, kau kembalilah tidur.” Perintah tuan muda Kyungsoo



Noora membulatkan matanya tak percaya ternyata pria ini masih mempunyai hati yang baik, ia mulai tersenyum kepada tuan muda Kyungsoo. Tuan muda Kyungsoo yang melihat senyumannya itu langsung melepaskan tangannya dari kedua lengan Noora. Ia mendatarkan wajahnya, ia tidak suka senyuman itu karena seperti seorang wanita yang ia benci selama ini. Tuan muda Kyungsoo langsung kembali ke kamarnya begitupun dengan Noora.



Pagi haripun sudah tiba, ia pergi untuk menjemput Irene untuk makan berdua dengannya tetapi sebelum itu ia menyuruh kedua pembantu untuk memantau Noora dalam segala hal.



“Sayang kau datang juga, aku sudah menunggumu sejak jam 8 tadi.”


Tuan muda Kyungsoo tak mau mendengar ocehan Irene, ia langsung membukakan pintu mobil agar Irene masuk dalam mobilnya. Selama perjalanan menuju restorannya Irene yang tak lama ini baru di resmikan, tuan muda Kyungsoo hanya terdiam mendengar cerita dari Irene yang sudah menjadi kebiasaannya selama berpacaran dengan Irene. Irene sebenarnya sangat mencintai Kyungsoo sejak awal berkuliah namun berbeda dengan tuan muda Kyungsoo yang menganggapnya sebagai adik kecilnya.




Sesampainya mereka, ada kedua orang tua Irene yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka. Kyungsoo harus sangat sopan dan ramah di depan kedua orang tuanya Irene saat ini, ia masih sangat menjaga image nya pada semua orang.



“Silakan duduk nak Yeon.” Ayah Irene memberikan senyuman terbaik untuk calon menantunya.



Kyungsoo duduk bersamaan dengan Irene, orang tua Irene sangatlah terkenal di kota Seoul dengan masakannya yang khas dan design restorannya yang elegant. Ayahnya Irene mengkode Irene agar memulai obrolan, tuan muda Kyungsoo yang sudah mengerti dengan suasana seperti ini memulai obrolan yang dimaksud.



“Maaf, seperti yang kalian ketahui aku tidak ingin menikah saat ini.” Kata tuan muda Kyungsoo cepat.



Irene dan kedua orang tuanya terdiam saling menatap satu sama lain, tuan muda Kyungsoo sangatlah to the point jika membicarakan hal yang sensitif untuknya. Irene hanya tersenyum hambar, ia sudah tahu jika membicarakan ini pasti Kyungsoo menjawabnya seperti ini. Irene tidak mau membuat Kyungsoo tidak nyaman dengan ini, ia pun mencoba memesan makanan untuk Kyungsoo.



Ayah dan ibunya Irene sedih melihat anaknya yang sangat mencitai Kyungsoo, bukannya mereka tidak setuju tetapi mereka tahu sifat Kyungsoo terhadap Irene yang biasa-biasa saja tidak seperti pasangan yang lain. Kyungsoo menatap bergantian orang tua Irene yang tampak menyedihkan tapi ia abaikan, ia hanya menuruti apa isi hatinya.



Selesai mereka makan bersama, Kyungsoo pamit kepada orang tua Irene karena ada hal mendadak yang harus ia selesaikan dikantornya sedangkan Irene ia bersikeras ingin ikut dengan Kyungsoo. Kyungsoo tidak bisa menolak Irene yang seperti anak kecil, merekapun pergi dengan mobil mahalnya Kyungsoo.



Noora berjalan menuju kolam renang milik rumah Kyungsoo, ia membayangkan dirinya dengan sang kekasih yang dulu sering pergi berenang dan menghabiskan waktu mereka dengan berjalan-jalan. Noora menghapus air matanya yang mengalir dipipinya, ada satu pembantu yang melihat Noora dengan kasihan, pembantu itu menghampiri Noora yang terduduk di pinggir kolam.



“Nona, ada yang bisa saya bantu?” Tanya pembantu itu.



Noora mengalihkan pandangannya ke pembantu itu, ia tersenyum seraya tak memerlukan bantuan apapun. Pembantu itu merasa adem melihat senyuman Noora tadi, ia duduk disebelah Noora.



“Nona tidak usah sungkan pada saya, karena saya akan selalu membantu nona.”



“Tolong jangan panggil saya nona, panggil saja saya Noora.” Noora menatap pembantu itu.



Pembantu itu terkejut, baru kali ini ada tamu yang tidak mau dipanggil nona oleh pembantu rumah ini.



“Memangnya kenapa saya tidak boleh memanggil nona dengan nona?” Tanyanya



Noora tersenyum, “Karena kita sama, tidak ada perbedaan Antara manusia. Saya boleh cerita tentang saya?”



“Boleh boleh,” jawabnya dengan antusias.



“Orang tua saya telah bercerai empat tahun yang lalu, saya dibawa oleh ibu saya sedangkan kakak laki-laki saya dibawa oleh ayah saya. Saya diajarkan membenci ayah saya namun, saya tidak bisa melakukannya karena kita manusia yang seharusnya saling menyayangi bukan saling membenci. Kakakku masih menghubungiku walaupun hanya dua kali dalam setahun, lalu ibuku meninggal dunia saat umurku 18 tahun.”



Pembantu itu menatap Noora sedih, ceritanya Noora membuat hatinya sedih.



“Lalu kau tinggal dengan siapa?” Tanyanya



Noora tersenyum, “Saat itu aku sedang duduk didepan kuburan ibuku sendirian, kakakku dan ayahku hanya datang sebentar lalu pergi. Ada seorang pria yang menepuk bahuku dan dia adalah kekasihku. Orang tuanya sangat baik kepadaku sampai aku tinggal dengan keluarganya, dan kami akan menikah. Namun,” Noora menundukkan kepalanya.



Pembantu itu mengerti keadaan Noora, ia mengusap pucuk surainya Noora.



“Walaupun saya lebih tua dari kau, saya mengerti keadaanmu sekarang.”


Noora tersenyum, ia sangat bahagia dengan orang itu. Ia memegang tangan pembantu itu.



“Bisakah saya memanggil anda dengan panggilan ibu?” Noora memegang tangan pembantu itu dengan erat.



Pembantu itu tersenyum, “Panggil aku ibu Neun saja ya.”



Noora tersenyum lebar, ia memeluk ibu Neun dengan erat. Doanya kini terkabul, ia ingin mempunyai ibu lagi walaupun bukan ibu kandungnya. Ia sangat rindu memanggil kata ibu sejak ibu kandungnya meninggal dunia, ia juga sebenarnya rindu memanggil kata ayah walaupun ayahnya masih hidup. Sehun kini sedang duduk merenungkan kenangan bahagianya dengan sang adik, Noora. Ayahnya membuat hidupnya sengsara dengan mempunyai banyak hutang.



Sehun berjalan menelusuri jalanan yang lumayan ramai walaupun di musim dingin seperti ini, ia melihat tuan muda Kyungsoo bosnya yang sedang jalan sendirian tidak ada pengawal di belakangnya. Ia berlari untuk menghampiri tuan muda Kyungsoo, iapun menepuk bahu tuan muda Kyungsoo pelan dan tuan muda Kyungsoo menoleh.



“Hei kau rupanya,” Tuan muda Kyungsoo tersenyum melihat Sehun yang sedikit lelah.



“Hyung, tumben sekali kau berjalan di kota Seoul sendirian tanpa pengawal?”, tanya Sehun penasaran.



“Aku pikir akan baik – baik saja jika aku keluar di musim dingin seperti ini, kau?”



Sehun menggaruk tengkuk kepalanya, “Aku tadi sedang menunggu adikku, tapi sepertinya dia tidak akan datang.”



Tuan muda Kyungsoo menatap Sehun, “Apa dia tidak akan kembali lagi padamu sejak meninggalnya ibumu?”



Sehun tersenyum miris, “Ya sepertinya begitu, hyung.”



Tuan muda Kyungsoo sangat kasihan pada Sehun, baru pertama kalinya ia melihat Sehun yang wajahnya sesedih itu. Saat mereka berdua sedang mengobrol sembari berjalan, tiba–tiba ada yang merangkul bahu keduanya.



“Oh ya ampun, Baekhyun!” kaget keduanya saat melihat Baekhyun yang tertawa konyol.



Mereka bertiga berjalan dan mereka masuk kedalam restoran untuk meminum soju dan beberapa makanan.



“Hyung, kau sendirian? kemana Jieun? biasanya kau selalu bersamanya?”, tanya tuan muda Kyungsoo lalu meneguk gelas berisi soju.



Baekhyun tertawa renyah, “Dia selalu membuatku muak.” keluh Baekhyun dengan ekspresi wajah yang lelah



Sehun memegang bahu kanannya Baekhyun, “Hyung, kenapa kau selalu muak dengan semua tingkah Jieun yang manis padamu, diakan tunanganmu hyung ?”



Baekhyun menggelengkan kepalanya, ia tidak mau menjawab pertanyaan Sehun, ia lebih memilih fokus dengan makanan dan sojunya. Sehun menatap Baekhyun aneh, ia menatap tuan muda Kyungsoo lalu tuan muda Kyungsoo hanya tersenyum. Mereka kini terdiam dan menyantap makanan mereka dan meminum soju sampai–sampai Baekhyun mabuk berat.



Tuan muda Kyungsoo melihat Baekhyun dan Sehun yang sama-sama sedang sedih, mungkin itu yang ada dipikirannya saat ini. Baekhyun bergurau aneh tidak jelas, tuan muda Kyungsoo tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Baekhyun.


Tuan muda Kyungsoo terdiam saat nama orang yang ia kenal diucapkan oleh Baekhyun, ia membulatkan matanya saat mendengar kalimat selanjutnya dari mulut Baekhyun.



“Ada apa dengan mereka?”, tanyanya penasaran.