FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
CAMPING (1) : BENGGALA



Diharap like,komen,dan masukkan ke rak buku kalian


____________________________________________


"Anak-anak. Sesuai jadwal. Sekarang sudah jam 8,waktunya kita menjelajah hutan. Semua rute sudah diberi tanda dengan pita berwarna emas. Jangan lupa tentang perburuan harta karunnya okke",ucap Mrs.Elly,dosen cantik dari fakultas ekonomi.


"OKKEEE MISS",jawab para siswa serentak.


Setelah garis start dibuka,para siswa-siswi berhamburan memasuki hutan bersama kelompok mereka. 1 kelompok berisi 5 orang. Pembagian kelompok sudah dilakukan sehari sebelum rombongan kampus berangkat ke lokasi.


Rachel dan Alora yang berasal dari jurusan bahasa dan sastra Inggris mendapat jatah satu kelompok dengan Elions Moon dari kelas sejarah,Ahmad Al-Reza dari kelas ekonomi,dan Farhan Malik dari jurusan bahasa Indonesia.


Mereka memasuki hutan rimbun itu sesuai rute yang diberikan di awal. Ada 10 pos yang ada di dalam peta. Di pos pertama,mereka diminta untuk memecahkan teka-teki sebagai jalan menuju harta karun pertama. Pos itu berjarak 100 meter dari lokasi start.


___________


Rumah nomor 55


Jln. Wijaya Kusuma


Sebuah rumah besar berdesain Eropa dibangun megah dibalik gerbang tinggi berukiran rumit berwarna hitam diujung jalan itu.


"Nggak. Aku nggak terima kalo Mas Reno sampe bawa anak Mira kesini,aku nggak rela",ucap seorang wanita dengan rambut dicat merah menyala. Wajahnya tampak sangat marah.


"Selama ini dia udah ngalah demi kebahagiaan kamu dan Mila,kalo sampe aku mati tanpa dia disisiku,aku juga nggak terima Da!',bentak pria yang tampaknya suaminya.


"Pokoknya aku nggak rela kalo dia sampe masuk ke rumah ini!",sentak istrinya.


"Diana!. Cukup!",bentak seorang wanita tua yang duduk di kursi roda.


Wanita dan pria tadi berbalik dan menunduk meski masih saling melirik dengan tajam satu sama lain.


_______________


Di hutan...


"Akh!",Rachel memegangi kaki kanannya yang tergores ranting pohon yang berduri.


"Lo nggak papa Chel?. Mana yang sakit?",tanya Farhan pada Rachel.


Elions hanya melirik sekilas dan berjalan mendahului Rachel dan Farhan.


"Tadi Rachel ter-",baru saja Alora berhenti karena mendengar suara Rachel,Elions menggenggam tangannya agar terus berjalan.


"Kegores ranting berduri,nggak berdarah",jawab Elions tanpa menoleh.


"Tapi",


"Udah gue bilang. Rachel nggak berdarah. Dia lagi dibantu sama Farhan dibelakang. Lo nggak perlu ikut ke belakang cuma karena denger dia bilang aw doang. Lo mau kita kalah dan dapet hukuman?. Nggak kan. Yaudah,jalan terus",sela Elions.


Alora berhenti dan melepaskan tangan Elions dengan sedikit kasar.


"Gue tau tugas gue,tapi Rachel itu temen gue El. Lo nggak berhak ngelarang gue buat check keadaan Rachel",ujar Alora dengan wajah kesal.


"Oh. Orang buta kayak lo bisa check keadaan Rachel pake apa?. Mata?",tanya Elions sambil menatap Alora.


Refleks Alora melayangkan telapak tangan kanannya dan tepat mengenai pipi kiri Elions dengan keras. Sadar tangannya melukai orang lain,Alora merasa bersalah dan berlari hingga menabrak beberapa orang didepannya.


Elions terdiam. Dia memang salah,namun akan lebih baik jika Alora memakinya,bukan diam dan lari.


"Al!. Al berhenti Al!",teriak Elions sambil berlari membelah barisan.


Rachel,Farhan,dan Reza yang tertinggal agak jauh dibelakang tampak bingung dengan teriakan Elions. Mata Rachel melotot ketika melihat sekelilingnya namun tak menemukan sahabatnya,Alora. Betis Rachel yang tergores ranting berduri mengalami lecet dan mengeluarkan darah,namun hanya sedikit. Karena terasa perih,dia harus berjalan pelan. Namun ketika dia tidak melihat Alora dimanapun,Rachel kalap dan berlari menyusul Elions meski tidak tau kemana,Reza dan Farhan pun mau tidak mau mengikutinya.


Hutan semakin gelap saat Alora memasuki area hutan yang ada diluar peta. Dia tidak tau ada dimana sekarang. Alora hanya berjongkok dan menangis. Dia tidak mendengar suara apapun di sekitarnya kecuali kicau burung-burung liar yang jauh diatasnya. Alora menangis bukan karena takut,namun dia merasa bersalah sudah memukuk Elions. Seharusnya dia bisa menahan emosinya,apa yang dikatakan Elions benar. Alora buta,dia tidak bisa mengecek keadaan Rachel dengan semestinya.


"Tapi nggak harus bilang kayak gitu kan hiks hiks",ucapnya ditengah isak tangisnya.


Di sisi lain hutan,Elions kehilangan jejak Alora. Dia melihat ke segala arah namun tidak melihat pergerakan apapun. Rachel,Farhan,dan Reza yang menyusulnya langsung ngos-ngosan karena kewalahan dengan kecepatan Elions.


"Haahh haahh. Dimana. Dimana Alora hah?!. Dimana dia Ell?!!",tanya Rachel sambil menarik lengan jaket Elions.


"Gue. Gue nggak tau . Gue udah coba kejar,tapi nggak ketemu",jawab Elions dengan mata yang masih melihat kesana-kemari.


"Lo bilang apa sama Alora ?",tanya Farhan yang baru menghela nafas.


"Gue cuma bilang orang buta kayak dia bisa check keadaan Rachel pake apa. It-"


"PLAKK!!",sebuah tamparan keras dari Rachel mendarat di pipi kiri Elions. Cap 5 jari milik Alora belum hilang dan diperjelas dengan cap 5 jari dari Rachel.


"BANGSAT LO EL !!",bentak Rachel dengan penuh amarah.


Rachel tidak mengatakan apapun lagi dan berlari kedalam hutan,berusaha mencari Alora meski betis kanannya terasa perih.


"Gue tau lo temperamental El. Tapi otak lo dipake dong. Tega-teganya lo ngomong kayak gitu ke Alora. Gue kecewa sama lo El",ucap Reza dengan wajah sendu. Dia juga berjalan cepat ke dalam hutan dan ikut mencari Alora bersama Rachel.


"Kalo sampe kelompok kita kalah dan kehilangan Alora. Gue laporin lo ke dosen pengawas. Kalo perlu ke polisi",ancam Farhan sebelum dia menyusul Rachel dan Farhan.


Elions mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Dia memutar badannya. Mencoba mencari sosok Alora. Setelah berdiri ditempat selama beberapa menit. Elions melihat sesuatu berkerlip di ranting pohon kecil yang berjarak 10 meter dari tempatnya berdiri. Dengan sedikit harapan jika itu salah satu hal yang ditinggalkan Alora sebagai petunjuk,Elions berlari.


Sesampainya disana,dia menemukan sebuah jepit rambut seukuran jari kelingking bayi berbentuk kupu-kupu berwarna perak. Dia teringat dengan jepit yang dilihatnya bertengger manis di rambut Alora saat mereka berjalan bersama. Elions melihat ke sekelilingnya dan mencari celah atau bagian pohon yang miring atau rusak. Benar saja,5 meter didepannya,sebuah pohon kecil lainnya tampak patah dengan ujung lancip menghadap keatas,ada bercak darah di bagian pohon yang runcing itu. Elions menyentuh darah itu dan mencium baunya.


"Masih segar. Alora mungkin lewat sini",gumamnya sambil berlari kearah hutan yang diberi tanda peringatan. Elions melihatnya sekilas namun tak begitu peduli. Dia menerobos rimbunnya semak belukar yang ada didepannya. Semak yang tampak baru saja dilewati manusia itu membuat Elions semakin yakin jika Alora melewatinya.


Alora mengusap kedua matanya yang sembab karena sudah lelah menangis. Dia mencoba berdiri namun perih di betis kirinya terasa menggigit. Alora memegang bagian yang sakit itu.


"Kok basah. Apa ini?",tanyanya pada diri sendiri saat ujung jemarinya menyentuh sesuatu yang membasahi betis kirinya. Saat Alora mencium baunya,kedua matanya membulat.


"Bau besi berkarat ini....bau darah",ucapnya.


Tak lama kemudian dia mendengar suara berisik dari kumpulan semak yang tak jauh di depannya. Alora mundur meski kepalanya terasa sakit karena sudah setengah jam lamanya menangis. Betisnya yang semakin terasa perih dan kedua kakinya yang kebas karena terlalu lama berjongkok tak ayal membuat Alora kesulitan berdiri.


"Grrr...",suara geraman yang tertahan itu terdengar bersama suara langkah yang keluar dari semak tinggi didepan Alora.


Alora hanya bisa menajamkan indra pendengarannya dan berusaha terus mundur meski kesulitan berdiri. Suara nafas berat dan geraman yang dalam terdengar di telinga Alora. Suara itu familiar karena Alora pernah mendengarnya.


"Nggak mungkin",batinnya dengan wajah pucat pasi.


Harimau benggala yang tampak terganggu wilayah teritorinya itu menatap Alora dengan sikap waspada dengan kedua mata tajamnya. Dia berjalan perlahan mendekati Alora yang berjalan mundur dengan perlahan pula.


Dengan seluruh tenaga,Alora akhirnya berhasil berdiri meski betis kirinya terasa sangat perih. Harimau itu menatapnya dengan siaga dan mulai menunjukkan taring-taring tajamnya. Darah segar Alora yang terus mengalir perlahan dan membasahi kaus kaki putihnya membuat indra penciuman harimau itu mengira Alora adalah mangsanya.


Alora hanya memiliki 2 pilihan dengan resiko yang kurang lebih sama.


Opsi pertama,dia hanya akan diam mematung. Dengan begitu hewan itu akan menjaga jarak darinya untuk beberapa saat.


Opsi kedua,dia berlari dengan betis terluka dan pandangan nol. Kemungkinan dia akan dikejar 100%. Kecepatannya tidak akan bisa mengalahkan kecepatan hewan buas ini.


"Ya Allah,tolong hamba. Hamba mohon...",batin Alora dengan air mata mulai kembali membasahi kedua matanya.


Elions akhirnya berhasil melihat Alora yang berdiri 20 meter darinya. Namun kedua mata Elions terbelalak ketika melihat seekor harimau benggala berdiri 10 meter di depan Alora yang sedang berdiri mematung.


Nafasnya tercekat. Elions melihat ke sekelilingnya,tidak ada orang yang bisa dia mintai pertolongan. Harusnya dia membawa orang lain saat melihat papan peringatan yang dipasang di wilayah ini.


Papan peringatan tadi bertuliskan 'DILARANG MASUK !!!. ANDA MEMASUKI KAWASAN KONSERVASI HARIMAU BENGGALA !!!".


"Sialan",decak Elions.


Jika Elions berteriak,maka harimau itu akan berlari kearahnya,namun Alora tidak mungkin bisa keluar dari. kawasan itu dengan kedua matanya yang buta. Namun jika Elions membiarkannya,maka Alora bisa-bisa dimangsa oleh harimau itu. Elions sudah memikirkan kemungkinan terburuknya,yaitu jika kawanan harimau benggala lainnya sampai ke tempat Alora. Maka dia tidak tau lagi bagaimana nasib Alora.


Elions mengirim pesan pada Rachel dan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Dia berjalan dengan hati-hati dan meminimalisir suara agar tidak memecah konsentrasi harimau itu. Elions harus bisa menggapai Alora sebelum harimau itu.


"Stop woi",ucap seseorang dari kejauhan agar Elions berhenti.


Elions menoleh kearah suara,2 pemuda sedang berdiri disana dengan ransel bertengger di punggung mereka. Elions pernah melihat mereka bersama Alora. Salah satunya pernah mengucapkan terimakasih padanya. Ya,mereka adalah Nathan dan Julian.


Julian memberi kode agar Elions mendekat,Nathan sudah membawa beberapa batu kerikil di kedua telapak tangannya. Julian pun begitu.


"Kalian mau ngapain??",tanya Elions dengan suara lirih


"Ngalihin perhatian macan itu pake ini",jawab Nathan sambil menunjuk ke batu-batu kerikil yang dibawanya.


"Tapi Alora bakal lari entah kemana lagi nanti kalo nggak dibawa",ucap Elions lagi.


"Makanya dengerin dulu",sahut Julian


"Gue sama Nathan bakal lempar batu-batu ini kearah sana sejauh-jauhnya. Kalo macan itu udah lari ke arah batu,lo langsung kesana terus bawa Alora lari. Kita nyusul",sambung Julian.


Elions mengangguk,Nathan dan Julian memasang kuda-kuda lalu melempar batu-batu kerikil itu dengan tempo yang berdekatan namun tidak bersamaan. Mereka membuat suara gaduh dan gerakan di semak-semak yang berjarak 15 meter di samping harimau itu agar harimau itu mengira ada hewan lain yang sedang berada dalam wilayahnya.


Setelah beberapa detik melempar batu-batu kerikil itu,mereka akhirnya berhasil mengalihkan perhatiannya. Saat harimau itu berlari kearah bebatuan itu jatuh,Elions berlari secepat-cepatnya menuju Alora dan menggendongnya di pundak kirinya seperti karung beras.


"Siapa ini!!. Turunkan saya!!",teriak Alora namun dengan suara lirih dan serak.


"Ssst. Ini gue Elions. Kita harus pergi sebelum harimau itu kembali",sahut Elions sambil terus berlari keluar dari hutan


Nathan dan Julian berlari pula dibelakangnya. Harimau itu masih sibuk mencari sumber suara di semak-semak.


Mereka berhenti saat sudah berada di dekat pos pertama Emperor University. Beberapa pawang harimau tampak bersiaga di sekitar plang yang bertuliskan peringatan itu setelah mendapat laporan harimau keluar dari area aman. Rachel yang mendapat pesan dari Elions langsung melaporkannya pada pihak panitia acara dan mereka langsung menghubungi pihak konservasi.


"Alll",Rachel langsung berlari dan memeluk Alora yang baru saja tiba dan diturunkan oleh Elions.


Alora merasa pusing dan mual karena posisinya tadi sangatlah tidak epic. Untunglah Rachel memeluknya,dia bisa bersender sebentar pada sahabatnya itu.


Nathan,Julian,dan Elions selonjoran di tanah dengan wajah penuh dengan peluh dan nafas yang memburu. Farhan dan Reza membantu mereka dengan memberikan sebotol air mineral. Setelah mereka bertiga meminumnya,mereka akhirnya bisa bernafas lega.


"Kalau tertangkap,bunuh saja harimau itu!",teriak seorang penjaga pos.


Alora terbatuk-batuk sebentar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Jangan. Dia cuma merasa wilayahnya diganggu. Dia nggak ngejar kita",sahut Alora dengan wajah merah karena berkeringat.


"Benar. Mereka hanya ingin melindungi daerah teritorinya saja. Tim harimau kami sudah memasuki hutan untuk memastikan tidak ada harimau lain yang datang. Kalian bisa melanjutkan perjalanan",ucap seorang pria tinggi dengan baju cokelat seperti seragam seorang zoo keeper.


"Baik Pak. Maafkan kami sudah melewati batasan. Teman kami tersesat di dalam sendirian,jadi kami terpaksa memasukinya",ujar Elions pada pria itu.


"Baik. Lain kali kalian harus berhati-hati karena ini adalah wilayah hutan konservasi dan observasi binatang langka dan buas. Meski kami sudah memberikan jarak antara jalur pengunjung dengan daerah para hewan sejauh 500 meter. Tetap saja,insting binatang terkadang tidak bisa ditebak. Jadi tolong kalian lebih berhati-hati lagi",sambung seorang zoo keeper lainnya.


"Baik Pak",jawab anak-anak remaja itu bersamaan.


Setelah memastikan semuanya beres. Nathan dan Julian berpamitan untuk kembali ke rombongannya. Sedangkan Rachel,Elions,Reza,Farhan,dan Alora menyelesaikan tugas mereka di pos 1 terlebih dahulu.


Tugas mereka adalah memecahkan teka-teki yang diberikan oleh penjaga pos sebagai petunjuk menemukan harta karun yang tersebar di dalam peta.


Isi teka-teki pertama


Ada kotak tanpa engsel, tanpa kunci atau penutup,


Tapi didalamnya berisi emas yang hidup.


Semua terdiam melihatnya,mereka melihat sekitar. Para siswa-siswi sudah berpencar ke segala arah untuk mencari apa yang mereka tebak.


Beberapa menit kemudian Alora bergerak.


"Apa ada kelompok lain di belakang kita?",tanya Alora.


"Tidak",jawab Rachel,Farhan,dan Reza bersamaan


Elions mendekat.


"Apa di sekitar sini ada peternakan ayam atau bebek?",tanya Alora.


"Ti-eh ada. Satu-satunya peternakan ayam disini. Jaraknya mungkin 300 meter dari sini. Kita harus keluar dari hutan kalo mau sampes kesana",jawab Reza.


"Kita kesana sekarang",ucap Alora.


Teman-temannya sontak terperangah dengan ucapan Alora.


"Tapi kenapa?",tanya Rachel yang masih merasa bingung.


"Nanti gue jawab pertanyaan kalian disana. Sekarang nggak usah kelamaan disini. Kita harus kesana",sahut Alora.


"Kayaknya apa yang Alora omongin bener deh. Soalnya nggak jauh dari peternakan,ada pos kedua",sambung Farhan yang sedang melihat peta di tangannya.


"Yaudah ayok",ujar Elions yang langsung berdiri.


Alora berdiri dibantu oleh Rachel.


Elions berjongkok didepan Alora.


"Naik ke punggung gue. Kita udah tertinggal cukup jauh", ujarnya.


"Nggak usah khawatir. Gue nggak akan jatohin lo",sambungnya.


Rachel menatap Alora dan Elions bergantian lalu menaruh kedua tangan Alora di pundak Elions.


"Nggak papa Al. Kita harus buru-buru",ucap Rachel.


Alora mengangguk dan menurut. Dia mengeratkan pegangannya pada bahu Elions. Elions menahan lalu mengangkat paha Alora dan berdiri. Alora mengalungkan kedua tangannya di sekitar bahu dan leher Elions agar tidak terjatuh. Reza juga melakukan hal sama karena betis Rachel yang masih terasa perih,Rachel setuju karena dia tidak mau mengulur waktu lagi. Farhan cemberut karena tidak mendapat jatah cewek dan hanya membawa peta dan tongkat milik Alora. Meski begitu,dia tetap mengikuti ke-4 temannya keluar dari hutan.


Mereka menuju ke peternakan yang dimaksud Reza bersama-sama. Para panitia,dosen pengawas yang berjaga di sekitar tenda melongo saat melihat ke-5 orang ini begitu kompak berlari keluar dari hutan. Beberapa panitia acara tampak tersenyum dan saling berpandangan.


"Sepertinya mereka satu-satunya tim yang berhasil memecahkan teka-teki pertama",ucap salah satu dari mereka.


Bersambung...