
PUKUL 23.40
RUANG RAWAT INAP NO.234,BANGSAL LOTUS
RS. LOTUS MEDICAL CENTER
Rachel mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan fokusnya. Dia hanya melihat langit-langit yang berwarna abu-abu,lampu gantung,elektrokardiogram yang berbunyi lemah,kantong dan selang infus yang terhubung pada tangan kanan Rachel. Selimut tebal,bantal,dan kasur yang empuk menjadi temannya berbaring sekarang. Hidung Rachel terasa sedikit gatal dan geli karena memakai ventilator.
Elektrokardiogram
Ilustrasi Kamar Inap Rachel
"Dah sadar hm?",tanya sebuah suara yang baru masuk dari pintu ruangan yang ditempati Rachel itu.
"Lo?. Aish nyeri",desis Rachel yang memegangi pelipisnya yang terasa nyeri.
"Jangan kebanyakan gerak sembarangan dulu deh. Minum dulu",ujar Hans seraya mengambil segelas air putih di meja yang ada disamping ranjang rawat Rachel,lalu membantu gadis itu minum karena tubuh Rachel yan masih sangat lemah.
Sesudah minumannya habis. Hans menaruh gelas kosong itu kembali ke meja lalu duduk di kursi pembesuk yang ada di samping kanan Rachel.
"Gue kenapa bisa disini?. Pingsan?",tanya Rachel.
"Iya lo tadi pingsan. Setelah sholat Maghrib,gue jalan-jalan di sekitar danau dan nggak sengaja ngeliat seonggok manusia dibawah pohon yang tergolek seperti ayam mau meninggoy,jadi gue bawa ke rumah sakit deh. Tenang aja,Alora udah gue kabari. Dia nangis sampe hampir pingsan juga,tapi untung ditenangin sama Elions. Tuh Alora",jelas Hans seraya menunjuk seorang gadis berkulit seputih salju yang tengah berbaring tenang di sofa dengan kedua mata tertutup. Hans memberinya selimut sebelum gadis itu tertidur. Alora kelelahan dan akhirnya tertidur dengan pulas di sofa.
"Elions tadi keluar bentar,katanya cari angin",lanjut Hans.
"Thanks Hans. Gue nggak ta-",
"Laper kan?. Makan dulu ya. Nih tadi gue habis beli bubur kacang hijau campur kacang merah sama ketan hitam. Habis makan ini,lo harus minum obat. Habis minum obat,lo tidur. Biar cepet sembuh. Besok ada acara dansa. Gue nggak mau dansa sendirian",sela Hans panjang lebar seraya mengambil semangkuk bubur kacang hijau campur dari dalam plastik kresek yang dibawanya saat masuk ke kamar rawat Rachel.
Sebenarnya,bubur itu untuknya makan malam,namun melihat Rachel sudah sadar,Hans lebih memilih jika bubur itu dimakan Rachel.
"Gue bisa makan sendiri",ucap Rachel dengan suara serak dan lirih saat Hans menyendokkan bubur untuknya.
"Yakin?. Yaudah nih pegang baik-baik",Hans meletakkan mangkuk bubur di telapak tangan kiri Rachel.
Rachel mencoba memegang sendoknya sekuat tenaga dan mengambil sesuap bubur. Namun sendoknya beberapa kali terjatuh ke dalam mangkok karena jemari dan tangannya yang masih sangat lemah.
Meski suaranya jelas-jelas hampir habis,Rachel tetap saja tak mau terlihat lemah di hadapan Hans.
"Pffft mana ada berat. Lo nya aja yang lagi lemes. Sini",Hans langsung mengambil kembali mangkok berisi sendok itu dari tangan Rachel dan menyendok sesuap bubur untuk Rachel. Rachel mencoba mengambil lagi mangkok itu,namun Hans segera mencegahnya.
"Heh diem. Anteng. Nurut sekali ini aja. Aaa...",pinta Hans.
Rachel yang masih tidak bertenaga untuk membantah Hans akhirnya menurut dan membuka mulutnya. Rachel kemudian mengunyah bubur yang disuapkan Hans ke dalam mulutnya tadi lalu menelannya.
Hans dengan sabar menyuapi Rachel,mengelap bibirnya yang terkena bubur,membantunya minum air putih,hingga minum obat yang diberikan dokter. Setelah semua selesai,Hans membawa bekas makan dan minum Rachel ke dapur mini yang tersedia di dalam ruangan VVIP itu untuk kemudian dicucinya.
Setelah selesai mencuci piring,sendok,dan gelas. Hans menaruhnya di rak piring lalu kembali duduk di kursi pembesuk. Di ranjang pasien,Rachel sudah tertidur pulas. Namun kedua matanya mengalirkan air mata. Hans mengusap air mata Rachel dengan jemarinya agar tidak sampai menetes ke bantal.
"Ssssttt...cup cup. Mimpi buruk kah?. Sssttt.....ssstt...Rachel anak baik. Anak baik",bisik Hans seraya menepuk-nepuk pucuk kepala Rachel dengan lembut.
Beberapa saat kemudian,Rachel berhenti menangis dan nafasnya kembali teratur.
Hans mengelus kepalanya dengan lembut sambil menyanyikan lagu untuk Rachel.
"Selama, jantung ini berdetak, ku akan selalu menjagamu hingga akhir waktu...
Selama, nafas ini berhembus, tak akan ada cinta yang lain hingga tua bersama...
Hmm....",senandung Hans dengan suara yang lembut dan merdu.
Rachel semakin tenang dalam tidurnya karena nyanyian sederhana namun manis dari Hans barusan.
_______________________________________
PUKUL 01.23 DINI HARI
"Cklek",terdengar pintu kamar Rachel dibuka.
Elions masuk sambil melihat Hans yang memberinya kode agar tetap diam. Elions mengangguk dan melipir untuk duduk di sofa yang ada di samping Alora tidur. Karena lelah,akhirnya Elions juga tertidur dengan posisi duduk,namun dengan kepala bersender di senderan sofa yang empuk dan nyaman. Kedua lengannya terlipat di depan dada dan kedua matanya tertutup.
30 menit lamanya Hans mengelus-elus kepala dan rambut Rachel hingga Hans juga merasa mengantuk. Karena tak kuat lagi menahan kantuk dan rasa lelah, akhirnya Hans tertidur dengan kepala yang dia taruh diatas kedua lengannya yang terlipat di pinggir kasur Rachel. Hans masih duduk di kursi pembesuk.
Bersambung...