FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
JULIAN DIAM . NATHAN RAWAT



LIKE


KOMEN


VOTE


TAP FAVORIT


THANKS...


_________________________________________


ALORA POV


"Nit....nit....nit....",terdengar lirih suara detektor jantung di sampingku.


Kubuka perlahan mata yang terasa berat ini dengan pemandangan hitam yang familiar. Aku merasakan sesuatu dipasang di punggung tanganku,mungkin infus,entahlah,aku juga tidak terlalu peduli.


"Hm...",aku bergumam dengan harapan mendengar suara lain yang menyahutku.


"Ham hem. Dah bangun lu ?. Apanya yang sakit?",tanya suara Nathan yang seperti berdiri di sebelah kananku.


"Nggak ada. Cuma badan gue kerasa lemes aja",jawabku.


"Yaiyalah orang lu masuk RS sekarang. Ni lagi di ruang rawat inap",ujar Nathan dengan suara sedikit serak.


Mungkin dia baru bangun tidur,pikirku.


"Baru bangun tidur Than?",tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"He em. Lu nyusahin gue tau nggak. Gegara keras kepala lo itu,tadi siang lo pingsan di depan tenda lo sama Rachel. Untung gue yang tampan dan baik hati ini dateng kesana terus bawa lo ke rumah sakit. 7 jam lo tidur dengan nyamannya dengan inpus di tangan kanan lo",ujar Nathan.


"Hehe maaf yak. Btw Rachel sama Julian kemana?",tanyaku.


"Rachel tadi gue suruh balik ke tenda kalian soalnya ada acara penerimaan hadiah buat pemenang teka-teki. Tim kalian menang",sahut Nathan.


"Julian?",tanyaku lagi.


Sepersekian detik kemudian aku teringat kejadian di depan gapura. Mungkin Julian masih kesal padaku.


"Nggak usah ditanya lo tau sendiri kan. Ssst udah-udah,Lo istirahat aja dulu. Masalah itu bisa diselesaiin besok",ujar Nathan.


Aku hanya diam. Mataku terasa panas dan cairan sepertinya keluar dari kedua mataku lalu mengalir ke pipiku. Jemari hangat menyekanya.


"Jangan nangis weh. Julian aja lo tangisin. Dia cuma lagi kesel ja,nggak kenapa-kenapa",hibur Nathan yang sepertinya menyeka air mataku.


Aku hanya mengangguk karena suaraku pun tercekat saat ingin berkata-kata. Air mataku terus mengalir hingga Nathan mengusapnya dengan sesuatu yang terasa seperti tisu.


"Cup-cup. Nanti dia juga tenang. Lo cengeng amat sih Al. Males ah",omel Nathan di sebelahku.


Setelah sedikit tenang. Baru aku bisa bicara.


"Lian masih kesel karena gue kah?. Lama amat. Gue kalo kesel cuma bentar kok. Gue nggak maksud bikin dia kesel Than. Gue pikir kan tadi gue kuat,jadi gue nekat terusin",ucapku dengan suara sedikit bergetar.


"Iye paham. Tapi kan Lo kan tau Lian kalo ngambek ngalahin cewek. Gue aja pernah diem-dieman sama dia semingguan karena dia males. Gue hafal makanya nggak gimana-gimana. Lo tau dia kayak gitu masih aja lo lakuin,seneng amat lo bikin dia kesel",sahut Nathan.


"Nggak gitu maksudnya. Maksud gue cuma mau selesaiin tugas dulu baru istirahat. Kalo gue istirahat, sedangkan temen-temen gue kesana-kemari tanpa gue kan nanti orang bilang apa. Orang buta emang nggak ada gunanya gitu?. Gue kan nggak mau",sambungku. Nyeri sedikit terasa di pelipisku namun kutahan.


"Yaudah . Mau gimana lagi. Dah kejadian juga. Lo yang berbuat,lo juga harus tanggung sendiri akibatnya",ucap Nathan.


"Iya,gue tau gue salah Than. Tapi semoga Julian nggak akan lama diemnya. Gue nggak tau lagi cara bujuk dia gimana",ucapku dengan ulu hati yang terasa sedikit sakit.


"Dia cuma diem aja Al. Lo nggak usah terlalu mikirin itu. Lo jaga kesehatan aja dulu biar sembuh. Masih 4 hari lagi baru selesai kemahnya. Masa lo mau kemah di rumah sakit. Nih minum dulu. Baru bangun udah nangis aja,belom juga minum. Hadeh",sahut Nathan.


Sepasang tangan membantuku duduk dan menaruh bantal di punggungku. Tentu saja itu tangan Nathan.


Tak lama setelah aku duduk. Pinggiran gelas yang dingin menyentuh bibirku. Ternyata Nathan memberiku minum. Aku minum air yang ada di dalam gelas itu sampai habis.


"Makan dulu baru minum obat terus tidur. Besok gue anter lo balik ke area camping ok",ujarnya lagi.


"Oke",jawabku sambil mengangguk.


___________________________________


AUTHOR POV


Nathan membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur sumsum yang diberi gula cair dan mutiara agar-agar diatasnya. Disampingnya ada segelas air putih dan sebuah sendok makan.


"Makanan rumah sakit kurang enak,jadi gue beliin diluar. Dijamin enak deh",ucapnya saat duduk di kursi pembesuk yang ada di samping kanan tempat tidur Alora.


"Apaan tuh?",tanya Alora yang masih duduk.


"Coba cium wanginya",sahut Nathan yang mendekatkan mangkuk bubur itu ke wajah Alora. Alora menghirup aromanya dan tersenyum.


"Bau santan sama gula. Bubur kah?. Bubur apa?. Sumsum?. Ada mutiaranya nggak?",tanya Alora dengan sedikit bersemangat.


"Iyap bener. Mau gue suapin apa makan sendiri?",tanya Nathan.


"Makan sendiri dong. Mana sendoknya?",sahut Alora


"Nih. Ini sendoknya,kalo yang ini mangkoknya. Gelasnya gue taroh di meja aja deh",Nathan meletakkan sendok di tangan kanan Alora dan menyelipkan gagang sendoknya diantara jari telunjuk dan jempol Alora agar tidak salah posisi. Tak lupa,Nathan menaruh mangkok berisi bubur itu dengan hati-hati di telapak tangan kiri Alora agar dia tahu dimana letak makanannya.


"Pegang erat-erat ya. Jangan sampe tumpah. Awas lo kalo bikin tambah beban gue",ancam Nathan dengan nada setengah serius.


"Iya-iya",jawab Alora sambil memegangi mangkoknya dengan hati-hati agar tidak miring.


"Doa dulu",pinta Nathan.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allohumma Bariklana Fima Rozaqtana Waqinaa 'Adzaabannaar. Aamiin",ucap Alora.


Nathan memberinya minum air putih terlebih dahulu sebelum Alora menyendok makanannya. Setelah minum,barulah Alora menyendok buburnya dan memakannya.


Nathan mengawasinya agar Alora tidak menumpahkan bubur enak itu ke selimut atau baju pasiennya yang berwarna putih dengan motif kelinci-kelinci kecil. Nathan yang memilihnya karena dia pikir itu tampak lebih imut daripada baju pasien biasa yang berwarna putih atau biru muda polos.


Meski buta,Alora mampu memegang mangkok dan makan dengan baik. Sesekali,Nathan mengusap sedikit bubur yang menempel di pinggir bibirnya menggunakan tisu dan kembali duduk dengan tenang.


Setelah makanan dan minumannya habis. Nathan mengambil kembali nampan,mangkok,sendok,dan gelas yang sudah dipakai Alora tadi ke dapur mini yang di dalam ruang rawat Alora. Maklum,ruangan yang disewa Nathan itu ruangan VVIP.


Sebenarnya Nathan hendak membuang bekas makan Alora di tempat sampah karena malas mencucinya. Namun akhirnya dengan terpaksa dia mencucinya di wastafel dapur mini itu lalu menaruhnya di rak piring karena gabut dan tidak mau diomeli Alora karena membuang-buang barang.


10 menit kemudian Nathan keluar dari dapur dan duduk di kursi yang ada di samping Alora lalu membantu gadis itu minum obat yang diberikan dokter pada Nathan sebelum Alora sadar.


"Tidur. Istirahat",ucap Nathan sambil menepuk-nepuk lembut kepala Alora hingga gadis itu menutup kedua matanya karena mengantuk,efek dari obat yang diminumnya.


Setelah memastikan Alora tidur,Nathan kemudian berdiri dan pergi ke toilet untuk buang air. Setelah selesai,dia merebahkan dirinya di sofa yang ada di dekat Alora dan membuka ponselnya lalu bermain game.


Bersambung....