
Hari berganti,musim kemarau berubah menjadi musim penghujan. Rumah Nathan yang dulunya sepi seperti kuburan,berubah menjadi rumah yang hangat dan ramai. Rachel sudah harus berkuliah di Emperor University (EU) mulai besok karena kepindahannya kesana sudah selesai. Alora sudah belajar banyak hal termasuk memakai tongkat khususnya untuk berjalan tanpa pendamping. Nathan dan Julian juga harus kembali berkuliah di Phoenix University (PU). Jarak EU dan PU tidak terlalu jauh,jadi mereka berempat bisa berangkat bersama jika mendapat jam kuliah yang sama.
"Semua buku dan bolpoin lo sudah siap Al. Besok lo berangkat jam 7 sesuai jadwal kuliah lo. Gue sebenernya jam 8 baru mulai,tapi sekalian jalan-jalan di sekitar kampus bolehlah",ucap Rachel saat baru selesai mempersiapkan alat-alat kuliah Alora di meja belajar.
Rintik hujan deras terdengar di luar jendela kamar Alora,membuat suasana menjadi menenangkan.
"Makasih Chel. Kalo gue bisa liat,pasti gue jadi tour guide gratis deh buat lo hehe",sahut Alora yang duduk di kasurnya.
"Hezz no problem my sist,soalnya kan jam kita juga beda 1 jam. Nggak bisa juga buat jadi tour guide gue. Tenang aja,kalo lo bisa liat lagi,kita jalan-jalan ke banyak tempat oke", hibur Rachel sambil memegang tangan Alora dengan hangat.
Alora tersenyum. Dia bersyukur memiliki Rachel,Nathan,dan Julian sebagai temannya. Kedua orangtuanya yang meninggal karena pembunuhan saat usianya baru 18 tahun,membuat hidup Alora kelam dan selalu menjadi bahan gunjingan.
Meski mengetahui tentang kasus orangtuanya,Nathan dan Julian masih mau berteman dengannya seperti biasa. Rachel juga selalu memberinya semangat sejak mereka masih kecil. Namun karena kedua orangtua Rachel pergi dan tinggal di Medan saat usia Alora 8 tahun dan usia Rachel 10 tahun,Alora dan Rachel terpisah dan hanya berhubungan lewat Wattsapp hingga Rachel berusia 23 tahun. Rachel mengunjungi Alora saat kedua orangtua Alora meninggal,dan hanya bersamanya selama 5 hari lalu harus kembali pulang ke Medan. Jarak Yogyakarta-Medan yang jauh,membuat Rachel tidak bisa tinggal terlalu lama dengan Alora.
_________________
"Eh lo masih melek Yan?",tanya Rachel saat dia menemukan Julian sedang duduk di depan TV yang mati dengan laptop menyala di pangkuannya.
"Yoi. Lo ngapain jam segini melek njir?",tanya Julian.
"Ambil minum,minum di kamar gue habis cok",jawab Rachel yang berjalan ke dapur yang berada tepat di samping ruang tengah.
Rachel mengisi botol air minumnya sampai penuh.
"Bikin novel Yan?",tanya Rachel saat dia selesai mengisi botol minumnya.
"Ho o. Lagi gabut",jawab Julian yang masih sibuk mengetik di laptopnya.
"O yaudah moga lekas selesai. Mending kalo udah selesai,lo tidur Yan. Gue mau molor duluan ye",pamit Rachel seraya menaiki tangga ke kamarnya.
"Iye santuy,dikit lagi selesai",sahut Julian sambil mengibaskan tangannya.
"Yo",jawab Rachel yang masih menaiki tangga.
Rachel berjalan kembali ke kamarnya dan meminum air yang dibawanya tadi sebelum dia menaruhnya di meja kecil di samping tempat tidurnya dan kembali tidur.
"Oy",ucap Nathan yang muncul di belakang Julian.
"Astaga Nat. Kebangetan lo bangsat,hampir aja jantung gue copot. Apasi lo malah muncul tiba-tiba kayak hantu",maki Julian sambil mengelus dada.
"Hooo",gumam Nathan tidak jelas. Dia berjalan gontai ke sofa yang ada di samping Julian dan duduk
"Ditanya malah ho doang",gerutu Julian sambil membenarkan posisi duduknya dan kembali fokus mengetik novel online-nya.
Tak lama kemudian Julian mendengar Nathan mendengkur pelan dan bernafas dengan normal lagi tanpa mendengkur.
"Hadeh. Punya kamar bagus tapi tidur kayak gembel. Sembarangan",gumam Julian sambil menggelengkan kepalanya.
Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 1 dini hari. Kedua mata Julian sudah berair dan lelah. Akhirnya dia menyimpan file-nya dan menutup laptopnya. Julian merebahkan dirinya di sofa dan tertidur lelap beberapa menit kemudian.
Di kamar,Alora terbangun karena baru saja bermimpi buruk. Setelah buang air da mencuci wajah di kamar mandi. Alora kembali ke kasurnya dan tidur.
____________
Mentari pagi menembus celah-celah rumah Nathan dan membuatnya menjadi lebih terang. Julian sudah selesai bersih-bersih dan sedang membangunkan Nathan yang masih tertidur di sofa. Semua lampu du rumah itu sudah dia matikan.
"Bangun Nat. Lo nggak mau kuliah ha?. Bangun woi",ucap Julian sambil membereskan buku-bukunya yang tercecer di lantai dan menumpuknya di atas meja dengan rapi.
"Hooo",gumam Nathan dengan mata masih tertutup.
Rachel turun sambil mengikat rambut panjangnya dengan model kuncir kuda. Melihat kekesalan Julian pada Nathan dari atas tangga membuat Rachel tertawa. Dia berjalan ke ruang tengah dan menaruh tasnya di sofa.
Dengan sekuat tenaga,dia menarik Nathan hingga pria itu terjatuh dan mencium lantai. Karena dingin,Nathan akhirnya terbangun meski dengan kedua mata yang masih setengah terbuka dan rambut yang kacau.
"Kok bibirnya dingin?",gumamnya yang masih merasa di alam mimpi.
"Bangun Than. Julian dah capek bangunin lo. Jangan sampe kita tinggal. Alora udah siap-siap mau turun noh. Masa lo mau tidur selamanya",ujar Rachel sambil menahan tawanya karena melihat betapa kacau wajah Nathan yang baru bangun tidur sambil mengigau.
"Uhh ganggu aja sih Chel",gerutu Nathan sambil melempar Rachel dengan bantal sofa-nya.
Rachel menangkap bantal itu dan balik memukul kepala Nathan dengan bantal itu agar dia segera bangun.
"Aw aw iya iya Chel gue bangun nih",ucap Nathan sambil memegangi kepalanya.
"Yaudah bangun",sahut Rachel yang menaruh bantal tadi ke sofa.
"Tarik",pinta Nathan sambil mengulurkan dua tangannya pada Rachel.
"Hadeh",Rachel menarik tangan Nathan hingga temannya yang masih setengah sadar itu berhasil berdiri. Dengan langkah gontai karena masih loading,Nathan menaiki tangga satu per satu menuju kamarnya.
Alora datang ke lantai dasar sambil berpegangan dengan pegangan tangga. Setelah sampai bawah,dia menyusul Rachel dan Julian yang sudah berada di dapur sekaligus ruang makan. Rachel sibuk menata nasi kedalam launch box-nya,Nathan,Julian,dan Alora,sedangkan Julian baru selesai menaruh lauk pauk yang baru saja dia masak.
"Wanginya enakk. Jamur kah?",tanya Alora saat sampai di dapur.
"Eh dah siap toh. Iya Al,gue masak tumis jamur original sama salad buah buat sarapan. Bentar gue ambil dari kulkas dulu",jawab Julian yang berjalan dan mengambil sebaskom salad buah dengan campuran keju,mayonaise,dan susu kental manis.
Julian menaruhnya di mangkuk-mangkuk yang disiapkan Rachel di meja makan dan memberikan salah satunya pada Alora. Julian menaruh sendok di tangan kanan Alora sebelum dia duduk di kursinya. Rachel menutup semua launch box mereka setelah menaruh lauk diatasnya dan duduk di samping Alora. Alora makan dengan tenang bersama Julian dan Rachel sembari menunggu Nathan turun. Beberapa menit kemudian Nathan turun sambil menenteng tas ranselnya dan segera duduk di kursinya lalu meletakkan tasnya di lantai begitu saja dan menyantap salad buah buatan Julian.
Salad itu terbuat dari beberapa potong buah anggur,stroberi,apel,kiwi,mangga,dan nata de coco yang dicampur dengan mayonaise,krim keju putih,susu kental manis,dan diberi parutan keju cheddar. Rasa manis,gurih,dan asam berpadu epic dalam 1 suapan.
Setelah selesai sarapan dan memasukkan semua lunch box ke tas masing-masing. Alora,Rachel,Nathan,dan Julian berangkat ke kampus menggunakan mobil Rachel. Julian menyetir disamping Nathan,sedangkan Rachel dan Alora duduk manis di kursi penumpang.
30 menit kemudian mereka memasuki gerbang Emperor University. Sesampainya di depan tangga menuju jejeran gedung-gedung di kampus Rachel dan Alora,Julian menghentikan laju mobilnya. Saat sudah berhenti,Alora turun dibantu Rachel dan menutup kembali pintu mobilnya.
"Ati-ati. Gue sama Julian berangkat.",ucap Nathan sambil melambaikan tangannya sebentar pada Rachel dan Alora.
"Duluan",sambung Julian yang menekan klakson sekali dan dibalas dengan anggukan Rachel dan Alora.
Mobil melaju di jalanan,meninggalkan Alora dan Rachel yang menaiki tangga menuju fakultas mereka. Selama perjalanan,beberapa orang menatap mereka dengan aneh. Terutama Alora.
"Rasanya mau gue colok mata mereka tuh",ujar Rachel ketus.
"Sabar Chel. Biarin aja. Mungkin mereka baru pertama kali liat orang buta masuk kampus",sahut Alora sambil terus berjalan menuju gedung fakultas Alora,jurusan bahasa dan sastra Inggris.
Setelah masuk ke kelas Alora dan Alora duduk di kursinya,Rachel berpamitan pada Alora dan keluar kelasnya menuju ke gedung fakultasnya sendiri,Rachel mengambil jurusan animasi dan teknologi. Gedungnya berjarak agak jauh dari gedung Alora. Membutuhkan waktu 15 menit dari gedung Alora ke gedung Rachel,begitu juga sebaliknya.
Karena jam mata kuliahnya baru dimulai jam 08.00 WIB dan arlojinya baru menunjukkan pukul 07.15 WIB,Rachel menyempatkan dirinya berjalan-jalan di sekitar kampus dan mencari perpustakaan pusat di Emperor University serta tempat epic lainnya.
Namun tak lama kemudian hujan turun dengan lebat. Rachel akhirnya memilih masuk ke kelasnya meski masih tersisa 10 menit lagi sebelum mata kuliah pertamanya dimulai.
Setelah menunggu 10 menit. Dosen yang ditunggu para siswa-siswi di kelasnya muncul. Dia adalah seorang pria bertubuh tinggi sekitar 189 cm,dengan badan ramping,dan kulit eksotis yang berpadu sempurna dengan rambut lurus yang berwarna pirang.
Saat dosen itu melepaskan masker dan kacamata hitamnya lalu menaruhnya diatas meja guru,barulah Rachel dibuat tersenyum dengan wajah dosennya. Sepasang mata berwarna emas serasi dengan warna rambutnya yang terang. Dagu lancip dan rahang tegas dengan hidung mancung dan bibir berwarna kemerahan membuat dosennya tampak seperti seorang super model.
"Wah. Keren juga dosen gue",gumam Rachel sambil mengeluarkan buku serta bolpoin-nya dari dalam tas dan bersiap untuk belajar.
Rachel memang menyukai laki-laki tampan,tapi hanya menganggap mereka benda indah yang hanya perlu ditatap dari jauh saja.