FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
GOMBALAN NATHAN



LIKE


VOTE


KOMEN


TAP FAVORIT


THANKS


_________________________________________


Di dalam supermarket Alpomart


"Daritadi saya cari-cari softek buat temen saya yang lagi dapet. Yang paling bagus yang mana ya Mbak?,soalnya saya kan cowok,jadi nggak tau yang mana yang pas buat temen saya itu",tanya Nathan pada seorang sales cantik penjaga stan bertuliskan Laudier.


"Ohh baik. Temen Mas itu orangnya suka yang pakai sayap atau tanpa sayap?",tanya sales bernama Winda itu dengan ramah pada Nathan.


"Hah?. Sayap?. Saya sih sukanya sama paha sama dada Mbak",jawab Nathan dengan polos. Dia pikir sayap yang dimaksud adalah sayap ayam.


"Pfft hahaha. Mas ini bercanda saja. Maksud saya ini pembalutnya ada yang dengan sayap dan tanpa sayap. Yang bersayap itu perekatnya lebih banyak dibandingkan yang tanpa sayap. Begitu maksudnya",jelas Winda dengan pipi merahnya yang terkenal blush on sekaligus nge-blush karena tertawa.


"Ohh gitu. Maaf pikiran saya nge-blank",sahut Nathan dengan wajah tidak bersalah


"Nge-blank?. Emang lagi mikirin apa Mas?",tanya Winda dengan sopan.


"Mikirin kamu",jawab Nathan dengan wajah santai & biasa saja.


Karena wajahnya yang tampak apa adanya itulah,Nathan berhasil membuat Winda salting hingga hampir kayang saking senangnya.


"Ekhem bisa aja Mas ini",ucap Winda dengan senyum malu.


Nathan lalu mengambil 3 pack softek dengan warna dan gambar yang paling lucu menurutnya. Warna biru muda,ungu muda,dan pink bertema hello kitty pun menjadi pilihannya. Semuanya dengan sayap.


"Mbak beli softeknya Mbak",ucap Nathan seraya menaruh ke-3 pack softek itu didepan Winda


"Mau yang mana kak?",tanya Winda seolah buta.


Nathan hanya tersenyum


"Kalau maunya kamu boleh nggak?",tanya Nathan balik dengan senyuman ala Aliando-nya.


"Hahaha Mas-nya bisa aja",gelak Winda yang menutup sebagian bibirnya dengan telapak tangan.


"Mbak tau nggak,tawa mbak itu definisi mukjizat itu nyata dan sangat indah",ucap Nathan sambil menatap kedua mata Winda.


"Ah Masnya bisa aja deh",jawab Winda sembari tersenyum.


Nathan membenarkan jaketnya dan berkata,


"Mbak senyumnya jangan cerah-cerah dong. Nanti matahari minder karena kalah cerah dari Mbaknya",


Wajah Winda semakin bersemu merah karena malu sekaligus senang


"Udah Mas gombalnya. Winda jadi malu",ujar Winda dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.


"Yaudah deh kalo gitu. Em Mbak boleh nanya gak?",tanya Nathan sambil memasukkan tangan kanannya di saku kanan celananya.


"Boleh. Mau nanya apa Mas?",tanya Winda yang berfikir Nathan tidak akan menggombalinya lagi.


"Mbak kenal Aila nggak?",tanya Nathan dengan wajah sedikit serius namun santai.


"Aila siapa Mas?",tanya Winda sedikit bingung.


"Ailafyu Mbak",jawab Nathan sambil tersenyum.


Sontak Winda kembali merona hingga tidak sanggup melihat kearah Nathan lagi karena berjongkok di lantai sambil tertawa dan tersenyum dengan wajah yang memerah.


Nathan hanya tertawa kecil. Winda kembali berdiri dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena dia sibuk mengusap-usapnya saat jongkok tadi.


"Ekhem ekhem . Huftt. Haduh Mas ini mau belanja apa cuma mau gombalin saya sih",ujar Winda masih dengan pipi merona dan senyum yang tidak bisa disembunyikannya.


"Mau beli sekalian gombal",jawab Nathan jujur.


"Btw saya ada kata-kata buat Mbak",ujar Nathan.


"Apa itu?',tanya Winda.


"Dari banyak gadis yang kutemui,cuma kamu yang punya aura yang langsung membuatku ingin menjadikanmu Ratu di kehidupanku selanjutnya",sahut Nathan dengan sajaknya yang lagi-lagi membuat hati perempuan manapun meleleh seperti es krim yang jatuh di aspal panas.


"Ahhh Mas yang gombal udahan dongg. Saya kan jadi maluu",pinta Winda dengan suara manja.


"Bukan gombal,tapi nyata",sahut Nathan tanpa tertawa.


"Satu lagi deh",sambungnya.


"Last deh",ucap Nathan.


"Emm yaudah deh nggak papa",sahut Winda sambil menahan senyumnya.


"Semalam bulan berbisik padaku bahwa ada wanita yang lebih indah dri senja,dan sekarang ku tahu maksud yang bulan katakan itu adalah dirimu",ucap Nathan yang mengakhiri gombalannya.


Winda salting,hingga berbalik badan dan tak sengaja kepalanya terbentur tiang tenda stan.


"Aduhh",keluh Winda sambil menggosok-gosok jidatnya yang terbentur.


"Hati-hati Mbaknya kalo jalan. Sibuk mikirin saya sih wkwk",ujar Nathan meletakkan uang 300 ribu di meja sales itu.


"Masnya sihh",ujar Winda sambil menggosok-gosok jidatnya yang terbentur tiang tenda.


"Hehe. Uangnya saya taroh sini ya Mbak. Kembaliannya ambil aja",ujar Nathan sambil menunjuk kearah 3 lembar uang 100 ribuan di meja sales itu.


Winda segera mengambilnya dan melihat Nathan hanya membawa 3 pack softek yang total harganya dibawah 100 ribu.


"Tapi ini banyak banget kembaliannya",ucap Winda sambil mengejar Nathan yang sudah hampir sampai di kasir untuk membayar belanjaannya sebelumnya.


"Buat Mbak aja,nggak papa",sahut Nathan seraya menatap Winda.


"Makasih ya Mass",ucap Winda sedikit berteriak.


Nathan mengangguk sebentar dan berjalan ke kasir,sedangkan Winda berjalan kembali ke stan-nya.


"Berapa semuanya Mas?",tanya Nathan sambil membayar 5 kaleng cola,1 pack yogurt,dan 1 pack susu kotak stroberi.


'"Totalnya 311 ribu Mas. Softeknya sudah dibayar sama Mbaknya diatas kah?",tanya penjaga kasir pria itu sambil melihat 3 pack softek yang dibawa-bawa oleh Nathan.


"Iya tadi sudah bayar disana",jawab Nathan.


"Baik. Mau pakai plastik kresek berbayar atau pakai tas kain?",tanya kasir pria itu dengan sopan.


"Tas kain aja Mas. Em yang warna pink itu aja deh",sahut Nathan sambil menunjuk tas kain berwarna pink bergambar kuda poni bersurai pink dengan tubuh berwarna kuning yang dipajang di belakang kasir.


Kasir pria itu segera mengambilnya dan memasukkan semua belanjaan Nathan tak terkecuali 3 pack softek yang dibeli Nathan tadi. Setelah struk belanja keluar. Nathan men-scan QR code belanjaannya di alat scanning HP yang ada di depan kasir menggunakan ponselnya. Setelah pembayaran berhasil dilakukan,struk belanja pun keluar . Kasir pria itu mengambil struk belanja Nathan dan memasukkannya ke dalam tas kain yang dibelinya tadi lalu menyerahkannya pada Nathan.


"Terimakasih Mas",ucap kasir pria itu dengan ramah saat Nathan mengambil tas yang diberikannya.


"Sama-sama",jawab Nathan sambil mengangguk sebentar lalu berjalan pergi meninggalkan tempat.


Nathan membuka pintu kaca supermarket dan keluar. Dia mengambil payungnya yang dia taruh di tempat rak payung yang ada didepan supermarket dan membukanya.


Hujan masih deras diluar. Dengan langkah santai,Nathan kembali ke mobil Julian yang masih setia menunggunya di parkiran.


Agak jauh di dalam supermarket,Winda menatap Nathan yang pergi dengan hati berbunga-bunga dibalik pintu kaca supermarket yang sedikit berembun karena hujan. Entah mimpi apa yang dia dapatkan semalam hingga digombali oleh seorang pria tampan saat bekerja.


"Huftt ujan-ujanan",ucap Nathan setibanya dia di mobil Julian lalu membuka pintu mobil.


Setelah masuk,dia menutup payungnya dan meletakkannya di bawah dashboard mobil agar air di payung itu turun lalu menutup kembali pintu mobil Julian dengan rapat.


"Habis gombalin siapa lo?. Lama amat",tanya Julian saat Nathan menaruh belanjaannya di samping Alora yang masih meringkuk.


"Sales soptek",jawab Nathan lugas sembari memakai seat belt-nya dan merapikan rambutnya yang sedikit basah terkena air hujan.


"Hah?. Beli soptek buat apaan jink?!",tanya Julian yang sedikit heran mendengarnya.


"Buat Alora sama Rachel-lah. Kan mereka berdua lagi dapet. Tapi karena gabut juga sih",jawab Nathan santai.


"Ohh",sahut Julian sambil mengangguk.


Julian menghidupkan mobilnya dan menginjak pedal gas. Mobil hitamnya melaju perlahan keluar parkiran dan menuju jalan raya yang sedikit lenggang . Dia menambah kecepatan laju mobilnya setelah berada di jalan raya.


Alora diam karena sudah tertidur karena menunggu Nathan yang terlalu lama di supermarket.


"Udah tidur kah dia?",tanya Nathan sambil melihat ke arah cermin dashboard yang menampilkan Alora.


"Ho o. Kelamaan nungguin lo sampe ketiduran dia",jawab Julian yang masih fokus melihat jalanan di depannya.


"Dah nggak marahan lagi kan sama Al?",tanya Nathan.


"Udah nggak si. Tapi jangan bilang-bilang",jawab Julian sambil berbisik pada Nathan.


Nathan dan Julian melihat jok belakang bersamaan sebentar untuk memastikan Alora tidak mendengarnya.


Benar saja,Alora masih tidur dengan damai di jok belakang. Nafasnya berhembus lembut dan teratur,tanda dia tidur dengan nyenyak.


"Oke-oke",jawab Nathan sambil berbisik juga.


Julian dan Nathan hanya tersenyum dan melihat jalanan di depan mereka yang basah karena diterpa hujan.


Bersambung...