
05.30 Lapangan Rustige
Jarak 1 KM dari Villa Cherry & Medeline
(Pernah dikunjungi Alora dan Rachel di eps sebelumnya)
Semua siswa & siswi dari Phoenix University & Emperor University sudah berkumpul di lapangan dengan ransel dan tenda-tenda yang sudah dibagikan. Embun dan hawa yang teramat dingin membuat mereka menggigil. Untunglah semua anak memakai jaket kecuali Rachel, dia hanya memakai kaus oblong oversize berwarna putih polos dengan celana jeans selutut warna hitam dan sepatu kets dengan bagian sol sepatu agak tinggi berwarna putih.
Penampilannya agak berbeda dengan Alora yang memakai kaos oblong warna abu-abu dengan tulisan A di bagian ujung bawah sebelah kanan bajunya,dahulu,Julian pernah gabut dan menyulam kaosnya dengan inisial nama Alora. Celana pendek warna abu-abu yang dipakainya,senada dengan kaosnya dibalut jaket hoodie warna putih dengan motif koala abu-abu yang imut dan sepatu kets warna abu-abu putih tampak sempurna d tubuh Alora yang mungil.
Rambut mereka berdua sama-sama dikuncir kuda. Rachel yang menguncir rambut Alora setelah dia menguncir rambutnya sendiri. Mereka berdua berdiri di barisan depan bagian putri Emperor University. Sedangkan Elions duduk santai dibawah pohon kelapa yang jaraknya 2 meter dari lokasi barisan. Dia sedang menikmati sebungkus keripik ketela rasa balado dan tak mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Rachel hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.
"Al,kamu yakin nggak papa kan?",tanya Selfi,teman sekelas Alora yang berdiri di samping kirinya,karena di samping kanannya,berdiri Rachel yang sedang melihat sekitar.
"Yakin 1000%. Soalnya semalem Rachel sama Elions bantu gue ke ruang kesehatan dan langsung ditangani dokter disana. Sekarang udah sehat walafiat deh",jawab Alora dengan wajah ceria.
"Semoga aja ya semua lancar",ucap Selfi.
"Aamiin",jawab Alora dengan senyuman manisnya.
"Jangan senyum terus,nanti saya jatuh cinta loh",goda salah satu dosen pengawas acara yang lewat didepan barisan Alora.
"Siapa pak?",tanya Alora tak mengerti.
"Ya kamu Al",jawab dosen pengawas bergender laki-laki itu pada Alora.
Alora tersenyum dan menunduk.
"Saya kan emang manis dan imut Pak. Hehe",sahut Alora.
"Duh aduhh dari dulu sampe sekarang PD-nya nggak berubah",balas Pak Adam,dosen berusia 68 tahun yang sedang mengobrol dengan Alora.
"Temen saya kan emang cakep Pak. Mwehe",sahut Rachel seraya menyenggol bahu Alora.
"Iya deh iya. Kalian ini ada aja. Ayok anak-anak semuanya baris yang rapi. Apel segera dimulai",ucap Pak Adam pada Alora,Rachel,dan seluruh siswa-siswi Emperor University. Para siswa berjumlah 500 orang itu segera berbaris dengan tertib.
Apel hanya membutuhkan waktu 5 menit dan dilanjutkan dengan persiapan mendirikan tenda dan lain-lain.
_____________
100 M disebelah barisan Emperor University
"Tidak perlu apel karena semua pengumuman dan waktu acara sesuai dengan brosur yang kemarin sudah disebar ya. Let's go dan semangatt anak-anakku tercintah!!",umum Pak Edo,kepala pengawas camping Phoenix University.
Semua anak bersorak dan menuju kotak-kotak tenda yang sudah diberi nomer masing-masing. Nathan dan Julian sudah menduga hal itu dan sudah selesai memasang tenda ketika teman-temannya berhamburan. Dengan santai mereka menata barang-barang di dalam tenda. Mereka ada di tenda nomor 250. Tenda paling belakang dan paling ujung, posisinya dekat dengan hutan dan danau.
"Ambil air Than",ujar Julian yang sedang membuat tungku dari batu-bata yang dia dapat tak jauh dari lokasi tenda mereka berdiri.
"Males",jawab Nathan sambil merebahkan dirinya di depan tenda yang sudah dia pasangi tikar bergambar mobil-mobilan warna-warni yang dibawa Nathan dari rumahnya.
Tak lama kemudian,Julian datang dengan membawa 2 ember ukuran 20 liter. 1 ember berwarna biru dan 1 ember berwarna hitam. Dia menaruhnya didepan Nathan.
"Lu nggak ambil air,kita nggak masak. Titik.",ucap Julian sambil berdecak.
"Nggak mau. Nutnut lelahh",keluh Nathan.
"Palakau lelah. Kayaknya daritadi gue yang paling berjasa pasang ini tenda. Lu nata barang sama gelar tikar ja bilang lelah",sahut Julian .
"Emm....gue...cari kayu sama ranting aja deh",ujar Nathan sambil menatap barisan cewek-cewek yang lewat didepannya menuju arah hutan.
Julian melihat apa yang dilihat Nathan dan menjitak kepalanya.
"Cewek terus dipikiran lu Nat. Ambil sana airnya. Habis ambil air,lo boleh deh cari kayu bakar. Gimana?",tawar Julian.
Nathan tidak terlalu fokus dengan kata-kata Julian dan segera mengambil ember yang diberikan Julian padanya tadi dengan semangat.
"Okelah",jawabnya dengan mantap sambil tetap memperhatikan kemana arah para gadis itu pergi.
Julian menahan tawa dan mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ekhem. Yaudah sana ambil dulu airnya",ujarnya.
Nathan mengangguk dan berlari ke arah sumur timba yang ada di dekat hutan. Jaraknya sekitar 100 meter dari tenda mereka. Dia mengisi kedua ember itu hingga penuh dengan semangat membara. Dia berfikir akan segera bertemu dengan gadis-gadis molek itu. Namun saat dia dalam perjalanan pulang ke tenda dengan menenteng 2 ember berat di kedua tangannya,otak normalnya mulai bekerja.
Julian yang sudah selesai beberes melihat Nathan sepertinya mulai menyadari sesuatu.
"Oy Nat. Sini. Ayo nak bentar lagi sampe. Ayoklah semangat. Cepat sedikit",teriak Julian menyemangati Nathan yang sudah menyadari bahwa dirinya dibodohi.
Dengan amat sangat terpaksa,Nathan membawa kedua ember penuh air itu ke tenda dan meletakkannya dengan kesal di depan Julian yang berdiri di depan tenda.
"Pinternya aduh anak siapa ini wkwk",canda Julian sambil membawa kedua ember itu ke belakang tenda sebagai stok air.
"Kepintaran yang dibuat untuk kesesatan",cibir Nathan.
"Kepintaran demi keringanan",sahut Julian dengan senyum puas di bibirnya.
Nathan memonyongkan bibirnya dan berjalan pergi.
"Eh mau kemana Nat. Belom juga nih dipasang terpalnya biar nggak panas",seru Julian.
"Biarin. Nggak mau bantu. Mau cari cewek aja",sahut Nathan yang masih cemberut.
"Pfft bwahaha",Julian hanya tergelak melihat temannya ngambek.
2 gadis lewat saat Julian tertawa,membuat tawa Julian seketika berubah jadi hening. Mode cool ON.
"Eh Julian. Kok pegang terpal sendirian?. Nathan kemana?",tanya seorang gadis berambut hijau terang seperti daun melinjo yang masih muda.
"Ngambek",jawab Julian singkat.
"Mau kita bantuin nggak?", tanya gadis berambut ungu yang berdiri di sebelah gadis berambut hijau.
"Eh jangan,nanti kalian kecapekan",tolak Julian tarik ulur.
"Nggak kok. Kan kita bertiga yang pasang,jadi pasti nggak capek",sahut si rambut melinjo dengan kedipan mata mautnya.
Julian menahan senyumnya dan memasang wajah pasrah.
"Iya deh kalo kalian maksa. Boleh",jawabnya.
Akhirnya terpal itu berhasil dipasang mereka bertiga dalam waktu singkat. Tenda Nathan dan Julian sudah siap dan lengkap dibandingkan milik anak-anak lain. Setelah berterimakasih,Julian duduk di tenda dan meminum air putih dari botol air yang dibawanya dari rumah.
_________________
Di pinggir danau,Nathan sedang duduk manis di bangku yang ada dibawah pohon akasia ditemani 2 gadis kembar kakak beradik dari kelas keperawatan.
"Tadi kamu keliatannya lemes. Kamu sakit ya??",tanya gadis pertama yang rambutnya dikuncir 1 di sebelah kanan. Namanya Dini
"Iya sakit banget",jawab Nathan dengan raut wajah sok lemah.
"Mana yang sakit??",tanya gadis kedua,rambutnya dikuncir satu di sebelah kiri. Namanya Dina.
"Disini",jawab Nathan sambil memegangi dada kirinya.
"Uhuek ohokk uhuk uhukk",Rachel yang muncul dari belakang Nathan dan pura-pura terbatuk dengan keras berhasil mengagetkan ketiga orang itu.
"Halahh njim hari sial macam apa ini ya Allah...",gerutu Nathan dalam hati.
"Eh kalian sejak kapan disitu?",tanya Dini yang berdiri dan berbalik.
"Sejak nenek moyang lo belom lahir,kita berdua udah berdiri disini",jawab Rachel.
Alora hanya menahan tawanya sambil menutup mulut karena mendengar kata-kata Rachel barusan. Nathan merengut.
"Kita pindah tempat aja yuk Dina-Dini",ajak Nathan seraya berjalan lebih dulu meninggalkan TKP agar tidak terganggu Rachel dan Alora.
"Yeeyy",sorak Dina dan Dini bersamaan. Mereka segera berlari kecil dan menggelayuti kedua lengan Nathan seperti anak monyet.
"Pfft. Mereka nggelayutin tangan Nathan kayak monyet Al",bisik Rachel pada Alora.
"Pfftt hahahahahah amjik monyet awokawok",gelak Alora.
Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal hingga jongkok karena lelah tertawa. Kedua mata mereka berair karena terlalu banyak tertawa.