
HUTAN DI SEBELAH AREA CAMPING EMPEROR UNIVERSITY
PUKUL 04.40 WIB
"Sebenernya gue kemaren ngapain sih,kok aneh yak. Gue nggak inget kenapa Nathan bisa marah sama gue. Terutama darah di luka Alora. Apa gue ada kelainan?. Tapi masa sih. Kayaknya nggak deh",gumam Elions sambil berjalan di dalam hutan.
Semalaman,Elions tidak bisa tidur dengan nyenyak dan memutuskan untuk berjalan-jalan di hutan untuk mencari ketenangan.
"Terus bertanya kayak orang nggak waras",sahut sebuah suara di atas pepohonan yang dilewati Elions.
Tak ambil pusing,Elions tetap berjalan.
"Sialan,gue dicuekin",keluh suara seperti seorang laki-laki namun tak berwujud tadi.
Elions hanya tersenyum miring dan tetap berjalan. Terdengar seseorang mendarat di atas tanah yang ada di belakang Elions dan berjalan mengikutinya.
"Mentang-mentang keturunan murni aja sombong",olok suara di belakang Elions.
Elions berbalik dan memiringkan sedikit kepalanya ke kanan seraya menatap laki-laki berjubah hitam yang berdiri di depannya.
"Ada urusan apa sama gue?. Siapa juga yang keturunan murni?. Lagipula kita nggak saling kenal,so jangan sok kenal",,ucap Elions santai.
"Cuih,sombongnya",sahut pria tadi sambil meludah ke tanah.
"Haha,siapa yang gangguin gue dari awal?.Lo kan?. Owh,apa jangan-jangan kejadian di gapura kemaren itu karena lo juga?",tanya Elions penuh curiga.
"Hah?. Gue?. Lah itu salah lo sendiri. Siapa juga yang nyuruh lo liat darah?. Gue?,bukan lah. Lo sendiri yang lupa kalo lo punya 2 kepribadian,malah nyalahin gue",sahut pria berjubah itu seraya menurunkan penutup kepalanya dan menunjukkan wajah aslinya pada Elions.
"Gue?. 2 kepribadian?",tanya Elions sambil mengingat-ingat,namun tak kunjung mengingatnya.
"Hadehh. Malesnya gue harus ngawasin orang bego satu ini",gerutu pria yang tampaknya seumuran dengan Elions itu sambil melepaskan jubahnya yang menutupi bajunya yang sebenarnya sederhana namun tetap cool.
"Siapa yang suruh lo awasi gue?. Emang siapa sih lo?. Sotoy banget soal gue",tanya Elions dengan nada ketus.
Pria tadi mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi biodata dan foto-foto wajah Elions yang tampak dingin pada Elions.
"Baca sendiri. Gue males jelasin",ucap pria tadi.
Elions pun membacanya dan dibuat terheran-heran dengan isi kertas-kertas itu. Disana tertulis;
Nama. : Elions Moon
Umur : 23 tahun
Tinggi : 189 cm
Salah satu foto yang dirasa mirip dengan kesehariannya.
Sedangkan beberapa fotonya yang lain tampak sangat berbeda dengannya. Sedikit sangar dan serba hitam.
Elions sudah mencoba mengingat-ingat,namun tak kunjung ingat. Dia bahkan tidak merasa jika foto-foto selain itu adalah foto dirinya.
"Nggak mungkin gue jadi ketua geng. Orang keluar rumah aja magernya minta ampun. Darimana asalnya gue jadi ketua geng gaje kayak gini?. Kalo mau nipu gue,mending pikir lagi baik-baik",ujar Elions seraya melempar beberapa lembar kertas berisi foto dan biodatanya pada pria tadi.
"Ayolah El. Semuanya kacau sejak kepergian lo. Capek-capek gue temuin lo setelah 1 tahun nyari-nyari lo kesana-kemari,terus lo mau lepas tangan?. C'mon bro,gue udah capek tangani masalah di geng Crimson",sahut pria itu sambil duduk di akar pohon besar yang ada di dekat mereka berdua.
"Gue aja nggak kenal sama geng Crimson bangsyat. Gue juga nggak kenal sama lo. Ini apa-apaan sih anjink",omel Elions.
"Lah. Lo amnesia El?. Gue Indra,Indra Mahardika. Pengawas geng Crimson. Sahabat lo El",sahut pria yang ternyata bernama Indra itu dengan nada sedikit tinggi.
"What?. Akh!",ucap Elions sambil memegangi kepalanya.
"Nah. Ini pasti tanda-tanda ingatan balik kalo di sinetron-sinetron",ucap Indra dengan wajah berseri-seri.
"Siapa bilang. Nih ada semut yang nggigit kepala gue. Ck,dasar. Emang sih,pesona gue tuh meluber sampe-sampe semut pun nempel ke gue. Bismillaah",ucap Elions seraya menggilas semut hitam yang menggigit kepalanya tadi dengan jempol dan kelingkingnya.
"Halahh gue kirain dah inget. Heran sama kepedean lo yang nggak berkurang tapi makin menjadi",gerutu Indra.
"Pfft wkwk ngarep",canda Elions sambil tertawa kecil.
"Ah ga asik. Dislike",cibir Indra.
Mereka berdua berjalan keluar hutan bersamaan dengan terbitnya mentari di ufuk timur. Burung-burung berkicau dengan indahnya di pepohonan,embun menempel ringan di dedaunan dan rumput-rumput yang dilalui Elions dan Indra,kabut tebal tampak masih tebal karena masih pukul 5.30 pagi.
"Romantis yah suasananya. Mentari pagi yang cerah,hawa dingin-dingin enyoy,embun menciprat-ciprat,wangi kayu sama daun yang hmmm....segerr",ucap Indra sambil merentangkan kedua lengannya ke samping.
"Iya romantis",sahut Elions.
"Aw aw kita kayak 2 orang yang lagi anget-angetnya pacaran",sambung Indra.
"Kok kok anjink. Jauh-jauh sono",balas Elions sambil mendorong sedikit bahu Indra agar menjauh darinya.
"Awokawok",gelak Indra tanpa rasa berdosa.
Elions hanya bergidik geli dan berjalan mendahuluinya.
Bersambung...