
JAM 10.30,
AREA PERKEMAHAN EMPEROR UNIVERSITY
Semua orang tampak sibuk dengan kompor,wajan,dan bahan-bahan masakan lainnya. EU & PU sama-sama sedang mengadakan acara lomba memasak. Peraih ranking 1 akan mendapatkan sertifikat,trophy,pin,dan uang tunai serta beasiswa selama 4 semester.
Kedua universitas ini tidak terlalu memikirkan tentang beasiswa karena mereka adalah anak-anak beban orangtua yang kaya raya hingga tak perlu mendaftar beasiswa kecuali Alora. Alora adalah satu-satunya penerima beasiswa di Emperor University hingga dia tamat S2.
Ketika para siswa-siswi sibuk memasak dengan kelompoknya masing-masing. Alora hanya duduk diam di bangku yang ada di pinggir danau. Hanya Alora sendirian disana. Rachel dan teman-temannya sedang memasak. Alora dilarang ikut memasak oleh panitia,hingga dia memilih pergi dari area perkemahan dan duduk di tempat tenang itu sendirian.
Rachel sebenarnya tidak ingin Alora pergi. Namun dia tau jika Alora kuat. Alora hanya butuh waktu sendiri setelah merasa tersinggung dengan larangan panitia acara.
"Sendiri saja Nona?",tanya suara seorang pria yang terdengar familiar di telinga Alora.
"Hm?",gumam Alora yang tidak mau GR. Dia tidak tau siapa yang ditanyai oleh pria itu.
"Nona Alora kan?. Saya Zian,florist dari toko bunga yang pernah anda kunjungi",ucap Zian sambil duduk disamping Alora. Alora menggeser posisi duduknya hingga memojok
"Ohh Pak Zian",sahut Alora sambil tersenyum ramah.
"Jangan panggil Pak. Umur saya baru 27 tahun. Umurmu berapa?",tanya Zian
"Eh 27 toh. Emm...umur saya 21 tahun",jawab Alora sedikit gugup.
"Nggak terlalu jauh. Panggil aja Zian. Aku boleh kan pake aku kamu?. Soalnya agak terlalu formal kalau pake Saya anda",tanya Zian dengan sopan.
"Bo-boleh kok. Tenang",sahut Alora.
Mereka berdua mengobrol dengan akrab satu sama lain hingga acara memasak itu selesai.
"Wah acaranya udah selesai tuh. Kamu mau kesana nggak?",tanya Zian.
"Em kamu mau pergi kah?. Kalo kam-",
"Enggak gitu. Aku nggak mau nanti kamu dikira ngambek sama temen-temen kamu terus",sela Zian dengan cepat.
Alora berfikir jika Zian akan pergi karena merasa bosan dengannya. Meski sedikit sedih,dia hanya tersenyum hangat dan menganggukkan kepala.
"Pergilah duluan. Aku bisa pergi nanti",ujar Alora sambil tersenyum.
Zian tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Gadis ini masih sama seperti dulu. Selalu mengira orang lain akan pergi meninggalkannya",batin Zian.
Zian tidak mengatakan apapun dan tetap duduk disamping Alora.
"Kenapa masih disini?",tanya Alora.
"Suka-suka aku dong",sahut Zian
"Em oke. Aku pergi dulu",pamit Alora seraya berdiri dan berpegangan pada pinggiran bangku dan tongkatnya.
Saat Alora berdiri,tanpa sengaja tangan kanannya tergores pinggiran bangku kayu itu dan membuatnya berdarah.
"Ssshh",Zian mengambil sapu tangan di saku celananya dan hendak membantu Alora,namun Alora segera menepis tangan Zian
"Hanya luka kecil. Tidak perlu dibantu",ujar Alora seraya berjalan cepat dengan telapak tangan terluka.
Alora mengikuti suara ramai sambil menghitung langkahnya seperti sebelum dia pergi ke bangku yang ada di danau. Zian menatap punggung Alora yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Beberapa menit kemudian Alora menabrak pohon kecil yang ada didepan gapura masuk area kemahnya.
"Weh",Elions menangkap bahu Alora yang hampir terjatuh karena pusing.
Alora segera berdiri.
"Apa hah?!",tanya Alora dengan nada marah.
Elions hanya tersenyum dan membalikkan badan Alora agar menghadap dirinya,bukannya pohon.
"Gue disini Al. Kenapa Lo marah-marah ke pohon Hm?",tanya Elions dengan nada bercanda.
Alora kesal dan hanya bersungut-sungut. Karena bibirnya mengerucut dan kedua pipinya menggembung,Elions mengganggap Alora sangat menggemaskan. Hampir saja dia memakan pipi Alora saking imutnya jika tidak menyadari dirinya adalah seorang pria cool dengan segudang pesona.
"Jangan cemberut. Lo jelek kalo cemberut", dusta Elions sambil melipat bibirnya,menahan senyum.
Alora semakin cemberut mendengarnya.
"Eh anjink. Apaan ini?. Kok berdarah? Lo habis main dimana hah?!. Aish bebannya",Elions melihat kondisi luka di tangan kanan Alora.
Alora menarik kembali tangannya yang terasa perih,namun Elions menahannya. Entah kenapa,Elions menatap darah di luka Alora dengan wajah aneh. Matanya tampak berubah menjadi dingin. Dia menekan tangan Alora hingga darahnya keluar lebih banyak. Alora meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangannya,namun Elions justru mencengkeram tangannya lebih erat.
"El aw. Sakit El. Lepasinn",pinta Alora yang tak kuasa menahan tangis karena rasa perih di lukanya semakin menggigit.
"LEPASIN ALORA,BEGO !!!",bentak Nathan yang langsung melepaskan tangan Elions dengan sekali hentakan.
Sebelum Nathan tiba di tempat itu,dia tak sengaja lewat di depan gapura setelah berjalan-jalan di sekitar area perkemahan Emperor University untuk melihat-lihat acara lomba memasak disana.
Namun,ketika dia akan kembali ke tendanya. Nathan dibuat terkejut ketika melihat Elions sedang memegang tangan kanan Alora di depan gapura,sedangkan Alora tampak mati-matian mencoba melepaskan tangannya dari Elions.
Melihat sahabatnya tersiksa,Nathan segera berlari dan menghampiri mereka berdua untuk melepaskan cengkeraman Elions dari tangan Alora yang sudah meneteskan darah ke tanah.
Saat tangannya sudah lepas,Elions berkedip beberapa kali seolah baru sadar dari hipnotis.
"LO MAU APAIN ALORA HAH ?!!. CARI MATI ?!!",tanya Nathan dengan nada tinggi sambil menarik lengan Alora agar menjauh dari Elions dan menempatkan Alora di belakang Nathan.
"Apa?. Kenapa lo teriak-teriak ke gue Nat?",tanya Elions yang bingung.
"NGGAK USAH SOK POLOS BANGSAT !!!. LO PIKIR GUE BUTA HAH ?!!. GUE LIAT PAKE MATA KEPALA GUE SENDIRI KALO LO UDAH LUKAIN TANGAN ALORA SAMPE DARAHNYA NETES KE TANAH !!. GUE NGGAK SEGAN KASIH LO PELAJARAN KALO LO NYAKITIN ALORA DI DEPAN GUE LAGI !!!",pungkas Nathan yang segera menggandeng tangan Alora dan membawanya kembali ke tenda.
Mereka meninggalkan Elions yang masih kebingungan dengan alasan Nathan marah padanya dan tangan Alora yang semakin berdarah,padahal Elions hanya ingat jika Elions dan Alora tadi mengobrol seperti biasa dan Elions mengecek luka di tangan Alora.
"Ada apa sebenarnya?. Emangnya gue ngapain?. Kok Nathan bisa bentak-bentak gue tadi?. Terus kenapa Alora malah makin parah lukanya ya?. Arghhh,pusing!",gerutu Elions yang tampak frustasi dengan pikirannya sendiri.
Bersambung...