FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
DARK



"Iya,gue otw ke kampus nih. Dah dulu ya,bye",Alora menutup panggilannya dan membenarkan posisi duduknya.


Belum sempat Alora selesai menghela nafas,sebuah truk kontainer menghantam sisi kiri bus dengan sangat kencang. Bus terbalik,semua kaca berhamburan ke segala arah,Alora terlempar dari dalam bus keatas aspal yang terasa sangat panas saat menyentuh kulitnya.


Alora menggigit bibirnya karena merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Beberapa penumpang bus itu tampak ada yang tersangkut di jendela yang kacanya sudah hancur dengan tubuh lunglai,sedangkan yang lainnya terkapar di dalam bus.


Alora merangkak menjauhi bus dan truk kontainer yang sudah terbalik dan ringsek itu untuk mencari tempat aman. Saat Alora menoleh ke belakang,ledakan besar terjadi. Ratusan serpihan kaca yang tajam menyebar ke segala arah termasuk Alora.


Alora menutup matanya dengan cepat namun ada serpihan kaca yang melukai kedua bola matanya hingga kedua mata Alora mengeluarkan darah. Alora menutup matanya meski perih luar biasa dirasakannya. Alora tidak mau jika serpihan kaca itu semakin melukai kedua matanya.


"TOLOONGG !!!",teriaknya dengan suara parau.


Alora terus merangkak menjauhi kebakaran hebat di belakangnya. Meski kedua tangan dan kakinya tegores aspal dan serpihan-serpihan kaca yang panas dan tajam,dia tidak peduli.


Beberapa menit kemudian,beberapa orang datang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Alora kehilangan kesadaran saat dia didalam ambulans.


Samar-samar dia mendengar suara sirine ambulans terdengar jelas di kedua telinganya sebelum dia jatuh pingsan.


_________


Meski perih dan panas terasa di kedua bagian matanya. Alora tetap mencoba membuka kedua matanya. Namun saat dia membuka kedua matanya,hanya warna hitam yang dia lihat. Sebanyak apapun dia berkedip,dia tidak bisa merubah pemandangan di kedua matanya.


Cairan bening mengalir dari kedua matanya dan membasahi kedua pipi Alora yang sedikit lecet di beberapa bagian. Alora mendengar suara langkah kaki yang ramai masuk dan berjalan mendekatinya. Alora menarik selimutnya lebih erat karena takut.


"Siapa kalian?!",tanya Alora sambil mencoba turun dari atas kasurnya.


Namun Alora kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kedua lututnya beradu dengan lantai yang dingin. Beberapa tangan membantunya berdiri namun Alora segera menepisnya dan menangis.


"Jangan dipegang",ucap sebuah suara yang familiar di telinga Alora.


Suara Nathan,sahabatnya.


Tangan-tangan itu akhirnya menjauh darinya. Alora duduk diam di lantai dan mengusap kedua matanya yang sembab.


"Masih perih nggak mata lo?",tanya suara lain yang terdengar sedikit serak namun Alora masih bisa mengenalinya. Suara Julian, sahabatnya dan Nathan.


"Masih",jawab Alora dengan suara tercekat dan menangis lagi.


"Mau bangun sendiri apa dibantu?",tanya suara seorang perempuan,Alora juga mengenalnya. Itu adalah suara Racheline,sepupunya.


"Sendiri",jawab Alora seraya meraba lantai dan sekitarnya hingga dia berhasil menemukan pinggiran kasur sebagai pegangan dan kembali duduk di kasurnya meski kepalanya terasa sakit.


"Berapa...berapa lama gue dirawat disini Than,Yan?",tanyanya saat dia sudah duduk.


"3 bulan lo koma Al. Benturan keras di kepala hampir bikin lo gegar otak,ada serpihan kaca yang ngrusak mata lo dan bikin lo buta,but nggak permanen karena masih bisa ditolong dengan donor mata",jawab Julian.


"Tangan kanan lo patah, lecet-lecet di banyak bagian badan. Paket komplit. Lo persis kayak mumi selama 2 bulan dirawat",sambung Nathan.


"Tapi 3 bulan itu waktu yang lama buat dirawat di RS. Sekarang gue dimana?",tanyanya lagi.


"Dirumah",jawab Julian,Nathan,dan Rachel bersamaan.


"What?. Dirumah siapa?",tanya Alora lagi.


"Dirumah Nathan. Biaya rumah sakit kan lumayan mahal tapi nggak terlalu sih. Gue,Nathan,sama Rachel patungan buat bayar biaya rumah sakit lo Al. Tapi karena dokter bilang bisa dirawat dirumah tapi dengan perawatan yang mirip sama rumah sakit,akhirnya ya kita bawa lo kesini. Lagipula banyak kamar nganggur dirumah ini. Rachel sama gue juga sekarang nginep disini Al",jawab Julian.


"Lah,bukannya makin mahal?. Kalian nih aish",keluh Alora seraya menarik selimutnya.


"Emang napa sih,mahal dikit doang. Daripada lo di rumah sakit terus,gue,Julian,sama Rachel susah rawatnya,mending lo dirawat di rumah. Kita kan sibuk mondar-mandir kampus,rumah sakit. Kadang juga kita tidur di rumah sakit karena udah kecapekan",sahut Nathan.


Sebuah pelukan hangat menghangatkannya.


"Itu udah tugas kami Al. Cuma kami yang lo punya",hibur Rachel.


"Ho. Dah tau nyusahin makanya cepet sembuh. Semangatlah. Biar urusan donor mata,kita cari lagi. Karena sampai sekarang belom ada yang cocok buat lo Al",sambung Nathan.


"Udah-udah. Al,mending lo minum air putih dulu. Kesian dari tadi belom minum",ucap Julian.


Kaca dingin pinggiran gelas menyentuh bibir Alora. Rachel membantunya minum dengan hati-hati. Setelah selesai minum,Rachel membawa Alora ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Alora meminta agar tidak perlu dimandikan,cukup didekatkan saja dengan alat-alat mandinya. Rachel mengiyakan dan menunggu Alora di luar kamar mandi. Nathan dan Julian turun ke lantai 1 untuk mempersiapkan makan malam karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Setelah mandi dan memakai handuk,Alora keluar kamar mandi. Rachel membantunya berjalan dan sudah menyiapkan baju gantinya. Alora juga memilih berganti baju sendiri meski membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama. Rachel masih menunggunya dengan sabar hingga gadis itu keluar dari bilik ganti. Rachel dan Alora berjalan berdampingan menuju lantai dasar.


Mereka langsung ke ruang makan. Di meja makan,Nathan dan Julian sedang duduk sambil bermain ponsel. Rachel membantu Alora duduk dan dia pun duduk di samping kanan Alora, sedangkan Julian dan Nathan duduk di seberang mereka.


"Kalian nggak laper?. Main hape mulu",tanya Rachel.


"Laper lah. Tapi karena nunggu tu anak satu biar makan bareng",jawab Nathan.


"Maaf lama. Masih butuh penyesuaian",sahut Alora.


"Iya paham  Al. Gue masak tumis kangkung pedas manis sama udang krispi. Lo suka itu kan?",tanya Julian seraya mengambil nasi beserta lauknya yang kemudian dia berikan pada Alora.


Dia memberikan 2× ukuran makan Alora karena Rachel pasti akan sepiring berdua dengan Alora.


Wangi masakannya selalu enak seperti biasanya.


"Gue sama lo sepiring aja Al,soalnya sekalian nyuapin",ucap Rachel.


"Iya Chel. Makasih ya. Kamu makan dulu aja",jawab Alora.


"Iya sans. Nih gue mau makan. Tapi lo minum dulu. Biar nggak seret. Yan,Than,makan",ucap Rachel.


"Yok",jawab Nathan dan Julian singkat.


Denting sendok dan piring terkadang terdengar samar saat mereka ber-4 makan. Rachel dan Alora makan bergantian,1 suap Alora,1 suap Rachel. Setelah selesai makan. Rachel membantu mencuci semua piring dan gelas yang baru saja mereka pakai. Nathan dan Julian membawa Alora ke ruang tengah dan menonton TV.


"Mas mas",ucap suara perempuan di TV.


Julian langsung memindahnya ke channel kartun karena tadi adalah channel khusus untuk orang dewasa.


"Pfft. Apa tadi?",tanya Alora yang menahan tawanya.


"Nathan nggak bener kalo nonton TV",jawab Julian yang duduk tak jauh dari Alora.


"Mana ada. Itu tuh TV nya yang otomatis tayangin. Gue polos",sahut Nathan yang duduk di lantai,tepatya diatas karpet lembut. Alora duduk di sofa seperti Julian.


"Hahaha. Berdoca",canda Alora.


"Nah gitu dong Al. Senyum,ketawa. Lo tuh keliatan lebih baik kalo sedih,tapi lo juga bagus kalo seneng",celetuk Nathan.


"Hilih",cibir Alora .


"2 in saja Nathan",sahut Julian.


"Sesekali dukung gue kek",keluh Alora sambil merengut.


"No. Ayem dukung Nathan",jawab Julian.