FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
KUNJUNGAN NATHAN & JULIAN



Apartemen Rachel


7.30 pagi


"Morning Al. Lo ada kuliah nggak hari ini?",tanya Rachel saat memasuki kamar Alora yang super rapi.


"Hmm??. Enggak Chel",jawab Alora yang masih tengkurap dibawah selimutnya yang bergambar hello kitty berwarna biru muda.


"Beneran?. Em yaudah deh. Gue ada kuliah pagi hari ini. Mungkin balik kesini sore. Kalo lo laper,di dapur ada lauk sama nasi. Tinggal lo makan nanti. Oiya jangan buka pintu buat sembarang orang. Jangan pergi keluar terlalu lama. Kabarin gue tiap lo mau keluar oke. Kalo ada apa-apa,buruan telpon gue",ucap Rachel dengan detil.


"He em. Ati-ati ya Chel",sahut Alora sambil mengangkat tangannya sebentar dan menurunkannya lagi,memeluk guling.


"Uhh dasar. Yaudah gue berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum",pamit Rachel.


"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarakatuh",jawab Alora sambil tetap tengkurap di bawah selimutnya.


Rachel segera keluar dari kamar Alora dan menuruni tangga ke lantai bawah. Dia menutup pintu apartemen setelah dia sudah memakai sepatunya. Pintu tersebut akan terkunci otomatis dan hanya bisa dibuka dari dalam/dengan kartu akses yang hanya dimiliki oleh Rachel dan Alora.


Apartemen Rachel


Pukul 9.40


Alora baru saja selesai mandi dan turun ke lantai bawah,menuju dapur.


Setelah selesai makan dan mencuci bekas alat-alat makannya,Alora duduk di sofa yang ada di depan TV besar Rachel.


"Gabut",gumam Alora sambil meregangkan kedua tangannya.


Drrttt Drrrttt


"Helo?",ucap Alora yang dengan cepat mengangkat panggilan.


"Hi Al. Ini gue,Elions",


"Ohh. Ada apa El?",tanya Alora


"Em enggak. Gue cuma kangen sama lo",


"Hadeh",batin Alora.


"Ohh kangen yah. Eh sorry,gue mau cas Hp dulu. Gue matiin yah. Byee",pungkas Alora seraya mematikan panggilan.


Dia meletakkan ponselnya di pangkuannya dan melamun.


Melamun adalah keseharian Alora.


Drrtt drrttt


"Halo?",sapa Alora.


"Hae Al. Gimana kabar lo sama Rachel disana?",tanya sebuah suara yang ditunggu-tunggu Alora dan Rachel sejak sebulan terakhir. Kali ini Nathan yang meneleponnya.


"Nathannn",sorak Alora dengan ekspresi super bahagia.


"Iya iya ini Nathan-mu yang tampan,kece badai. Nggak perlu bersorak kayak cheer leaders gitu juga sih",ucap Nathan yang sedikit menjauhkan ponselnya karena khawatir gendang telinganya pecah karena mendengar sorakan Alora.


"Heheee seneng. Alhamdulilllaah baik semua. Gue mau cerita banyakkkk banget sama lo sama Lian. Tapi nggak bisa,soalnya lo sama Lian lagi sibuk. Sad ",sahut Alora cepat.


"Ssssut. Ini nih yang bikin gue males telpon lo duluan. Cerewetnya Masyaallaah",keluh Nathan.


"Heleh",sahut Alora.


"Canda baby. Yaudah gini aja. Gue ke apartemen Rachel sekarang. Kalian punya cemilan nggak disana?",tanya Nathan yang sedang berjalan ke garasi mobilnya di basement rumahnya.


"Entah. Kan gue buta. Belom nge-cek isi kulkas. Tapi ada keripik pisang,keripik kentang,keripik singkong yang ditaroh di meja deket sofa. Nih gue lagi di depannya",jawab Alora.


"Mantap",ucap Nathan


"Lo sendirian kesini?. Julian kagak ikut?",tanya Alora.


"Kagak. Dia tadi ke bandara buat anterin Riri sama Aayra. Gue alasan mules biar nggak ikut. Soalnya otak gue dah super stress habis serumah sama 2 cewek itu",jelas Nathan.


"Wkwkwk ada-ada aja lo. Yaudah tiati kalo mau kesini",pinta Alora.


"Oke. Gue berangkat dulu. Dahh",ucap Nathan seraya menutup panggilannya dan menyimpan ponselnya di saku jaket hoodie maroon-nya.


Nathan berjalan ke basemen dibawah rumahnya untuk mengambil mobilnya.


"Aish mau heran,tapi....gue emang ganteng banget",gumamnya ketika tak sengaja melihat pantulan wajahnya di kaca film mobilnya.


Nathan membuka pintu Lamborghini Veneno Roadster-nya yang berwarna hitam dan duduk di kursi kemudi dengan santai. Beberapa menit setelah keluar basemen,mobil hitamnya sudah melaju cepat di jalanan.



Di Bandara di jam yang sama


"Iya ayang. Pasti aku kangen bangett sama ayang nanti. Jangan lupa langsung telpon aku pas udah sampe bandara sana yah. I love you Riri my everything",ucap Julian sambil memegang kedua tangan Riri.


"Hiks hiks. Sebenernya aku nggak mau pulang. Tapi karena harus kerja dan banyak urusan disana,ku harus pergi. Ayang jaga diri disini yah. Jangan selingkuh",isak Riri yang kemudian memeluk Julian.


Julian menepuk-nepuk punggung Riri dengan lembut.


"Nggak papa ayang. Demi ayang,aku kuat kok ditinggal. 2 tahun,5 tahun,10 tahun pun aku kuat kok sumpah nggak papa",ucap Julian dengan wajah serius namun sedikit menyiratkan kesedihan.


"Hiks hiks",Riri hanya bisa menangis sambil melambaikan tangannya pada Julian. Riri dan Aayra kemudian memasuki jalur penumpang dan menghilang di keramaian.


"Huft lega. Akhirnya aku bebasss. Yesss",ucap Julian yang ekspresinya berubah 360° setelah kepergian Riri dan Aayra.


Julian berjalan santai dan bibirnya pun tersenyum lebar ketika keluar dari bandara. Pesawat yang ditumpangi Aayra dan Riri terbang di atas langit bandara dan mulai mengecil di angkasa.


Julian melambaikan tangannya dengan ekspresi senang dan lega pada pesawat itu lalu berjalan ke parkiran bandara untuk mengambil mobil yang diparkirkannya disana.


Sebuah sedan putih bersih yang sangat amat kinclong dihampiri oleh Julian dan dia segera membuka pintu mobilnya.


Beberapa menit kemudian,mobil putih Julian melaju di jalanan.


Julian teringat Nathan yang sebelumnya berencana untuk ke apartemen Rachel dan melajukan mobilnya kearah apartemen Rachel.


"Bagusnya gue bawain apa yah?. Ohhh itu aja sih. Bener-bener. Lian emang jenius parah",gumam Julian sambil tetap fokus melihat ke jalanan yang dilaluinya.


1 jam kemudian


"Spada baby. Assalamu'alaikum Al",ucap Nathan sambil memencet bel yang ada di depan pintu masuk apartemen Rachel.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya bentar",sahut Alora yang sudah menunggu daritadi.


Setelah pintu dibuka. Nathan langsung melepaskan sepatunya dan berjalan masuk.


"Cuci tangan dulu baru duduk",pinta Alora.


"Tsk. Iya iya",decak Nathan sambil berjalan ke kamar mandi yang ada di dekat dapur untuk mencuci kedua tangan dan kakinya. Tak lupa,Nathan mencuci wajahnya agar semakin segar.


Setelah selesai bersih-bersih. Nathan mencomot handuk berwarna pink yang digantung dibalik pintu kamar mandi,lalu menggunakannya untuk mengeringkan tangan dan wajahnya yang terkena air.


Yap,Nathan dan Julian bisa membedakan mana handuk mandi dan handuk untuk mengelap tangan dan wajah di setiap sisi apartemen Rachel.


Rachel & Alora adalah maniac kebersihan. Mereka pasti sudah menyiapkan segala fasilitas untuk bersih-bersih.


Julian yang terbiasa bersih,amat sangat nyaman berlama-lama di hunian Rachel dan Alora karena kebersihan di tempat mereka yang melebihi hotel bintang 7.


Sedangkan Nathan yang mageran pun tak kalah nyaman dan lengket di tempat itu karena sifatnya yang suka ngaret. Baginya,semua hal di tempat itu sudah tertata rapi dan sangat bersih,sehingga Nathan tak perlu banyak bergerak untuk bersih-bersih.


"Hufftt akhirnya hari bebas pun datang",ucap Nathan yang duduk di sofa dan menyalakan televisi.


"Bukan gitu maksud gue pintar. Maksudnya,akhirnya setelah sebulan hidup sama Aayra dan Riri,gue sama Lian bisa bebas tugas. Mereka kan harus balik ke Singapura buat sekolah plus kerja",jelas Nathan.


"Ohhh macam tuu. Yaudah tuh makan ja. Ada air mineral botolan juga di meja kalo mau. Rachel biasanya dah siapin itu kalo-kalo ada tamu",ucap Alora.


"Wih mantap. Gue makan deh. Makasih",sahut Nathan yang segera duduk di atas tikar yang ada di depan Alora dan membuka toples-toples berisi cemilan itu satu-persatu dan menikmatinya sambil duduk bersila dan menonton acara TV.


Alora sudah tenang sekarang dan kantuk mulai menyerangnya. Dia merebahkan dirinya di sofa yang ada di belakang punggung Nathan dan tertidur.


Julian datang 30 menit kemudian. Nathan membukakan pintu dan mendapati Julian membawa 2 kresek besar berisi ready meal yang pastinya sehat dan enak.


"Bawain 1 nih. Btw Alora sama Rachel kemana?",tanya Julian seraya memberikan sekantong kresek pada Nathan dan berjalan masuk ke dalam apartemen Rachel.


Nathan berjalan di belakangnya setelah menutup kembali pintu apartemen.


"Alora tidur. Rachel ngampus",ucap Nathan.


"Tidur di kamarnya?",tanya Julian yang langsung menuju dapur dan meletakkan belanjaannya di meja dapur.


"Tuh di sofa",jawab Nathan seraya melirik kearah Alora yang sudah tertidur pulas di sofa.


Julian mengangguk mengerti dan mencuci tangannya di wastafel sebelum menata semua kotak ready meal di kulkas Rachel yang hampir kosong.


Pukul 20.10


Apartemen Rachel


"Assalamu'alaikum",ucap Rachel seraya membuka pintu dan menaruh sepatunya di rak.


Rachel memiringkan kepalanya ketika melihat 2 pasang sepatu yang mirip dengan milik Nathan dan Julian.


"Than,Yan?",sapanya sambil berjalan.


"Wa'alaikumsalam. Kurang malem lo baliknya Chel",sahut Nathan yang sedang duduk di sofa


Julian sedang memegang buku novel di tangan kirinya saat mengangkat wajahnya melihat Rachel dan Nathan bergantian.


"Bersih-bersih sana gih",ucap Julian seraya meneruskan kembali bacaannya.


Rachel diam sejenak lalu berjingkat kecil sambil tersenyum.


"Napa lu?",tanya Nathan dengan wajah datar.


"Seneng",jawab Rachel.


"Iya kita tau kalo lo sama Alora rindu setengah mati sama kita. Udah-udah,jangan diterusin Bagus lo mandi. Bau tanah,matahari,ikan",sambung Nathan sambil mengibaskan tangan kirinya,karena tangan kanannya sedang memegang gelas berisi kopi.


"Iye iye. Hm...nyesel gue harus jujur. Tapi kangen sih. Dah,gue mau ke kamar. Btw kalian nginep apa mau balik bentar lagi?",tanya Rachel sambil menaiki tangga menuju kamarnya.


"Nginep. Kamar bawah tu buat gue. Sofa buat Nathan",jawab Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.


"Njir teganya",sahut Nathan.


"Lebih baik daripada lo tidur di luar",sambung Julian.


"Wkwk udah-udah. Gue di ruang tamu ja. Soalnya bosen di kamar. Than,lo pake kamar gue aja. Santai",ucap Rachel .


"Oke. Nah gitu dong. Sayang kawan",sahut Nathan sambil tersenyum dan meminum kopinya.


Rachel berjalan ke kamarnya dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah selesai berganti baju dan membereskan beberapa barang di kamarnya. Rachel keluar kamar sambil membawa sebuah selimut,bantal,dan guling. Tak lupa,Rachel mengantongi ponselnya dan headset yang sudah terpasang di telinganya.


Sesampainya di ruang tengah. Julian sudah tidak berada disana,sedangkan Nathan masih santuy mengunyah keripik singkong rasa balado di toples yang dipangkunya.


"Mana Lian Than?",tanya Rachel seraya menaruh peralatan tidurnya di sofa,sebagian selimutnya menutupi kaki Nathan yang lurus di sofa.


"Biasa. Berak",jawab Nathan singkat sambil tetap menonton kartun berjudul 'Ejen Ali Season 3' di televisi.


"Ohh oke-oke",sambung Rachel.


Rachel melihat sekeliling dan mendapati botol minumnya kosong. Dia segera mengambilnya dan mengisinya dengan air galon mineral di dapur lalu kembali ke ruang tengah lagi setelah botolnya terisi penuh.


"Pindah kesono Than. Gue mau rebahan",pinta Rachel.


"Nggak mau. Males. Mending lo tidur di lantai",sahut Nathan cuek.


"Teman macam apa kamu ini",ucap Rachel.


"Emm. Teman yang baik,sopan,dan idaman semua orang",jawab Nathan PD.


"Ck. Matamu",decak Rachel seraya duduk di sofa single di sebelah sofa yang di duduki Nathan.


"YAN!. DAH SELESAI BELOM?!",tanya Rachel setengah berteriak.


"BENTAR LAGI. SABAR!",sahut Julian yang masih nongkrong di WC.


Rachel mengangguk dan menyenderkan punggungnya ke senderan sofa yang empuk,kedua matanya melihat kartun,sedangkan kedua tangannya membuka botol minum yang tadi dibawanya dan meminum isinya.


Setelah selesai minum. Rachel meletakkan botolnya ke meja dan menaruh ponsel beserta headset-nya ke meja. Rachel tak jadi mendengar musik karena sudah ada suara dari TV.


Merasa kantuk mulai menghinggapinya,Rachel membaca doa dan menutup matanya. Nathan yang melihat Rachel menggumamkan doa sebelum tidur kemudian mematikan semua lampu di ruang tengah. Rachel selalu tidur di ruangan yang gelap,namun tidak terlalu gelap.


Julian baru keluar dari WC dengan wajah lega. Dia duduk di samping Nathan karena melihat sofa single dipakai Rachel tidur.


"Sampe mana tadi si Ejen Ali?",tanya Julian.


"Sampe si @&+¢£√× .....",


Nathan menceritakan rangkuman kisah yang tadi sempat dilewatkan Julian karena ke WC. Julian mengangguk-angguk mengerti sambil mencomot keripik yang dibawa Nathan.


Pukul 00.34


"Matiin TV-nya Than",ucap Julian saat Nathan beranjak dari sofa dengan buku novel di tangan kirinya.


"Lo aja deh",jawab Nathan.


"Tanggung jawab. Matiin sono. Dah,gue mau rehat",sahut Julian seraya berdiri dan berjalan ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya.


Nathan mencibir dan mematikan televisi lalu berjalan ke kamar Rachel di lantai atas. Rachel sudah tidur di sofa panjang setelah Nathan dan Julian membangunkannya untuk pindah tempat agar punggungnya tidak sakit.


Cklek'


"Buset. Kamar si Rachel selalu kayak toko parfum",ucap Nathan saat memasuki kamar Rachel dan menutup pintu kamarnya.


Ya,itu semua karena Rachel maniac kebersihan dan selalu ingin dirinya berikut lingkungannya selalu wangi. Bahkan tanpa memakai pengharum ruangan selama 1 bulan,kamar Rachel akan tetap wangi. Tentu saja wangi parfumnya yang long lasting,lembut,dan menyegarkan.


Kamar ke-4 sohib ini pun 11-12. Hanya saja,berbeda orang,maka berbeda juga wangi kamarnya. Semua sesuai dengan aroma khas mereka masing-masing.


Meski malas melakukan skin care. Mereka termasuk kaum tidak suka bau-bau aneh menghinggapi mereka. Mereka cukup selektif dalam memilih parfum.


Tema sprei dan selimut Rachel hari ini adalah pink bergambar beruang-beruang putih yang lucu. Nathan mencuci wajah,tangan dan kakinya di kamar mandi sebelum naik ke kasur. Dia hafal Rachel akan mengomelinya jika melihat jejak kaki di kasurnya yang bersih.


Ctik'


Setelah selesai dari kamar mandi. Nathan mematikan lampu kamar Rachel lalu naik ke kasur dan bersiap tidur.


"Gapapa deh pink. Yang penting nggak tidur di sopa",gumam Nathan sambil menutup matanya dan memeluk guling lalu membaca doa sebelum tidur.


Malam semakin larut. Semua penghuni apartemen itu sudah jatuh dalam tidur mereka yang nyenyak. Membiarkan mimpi-mimpi mendatangi mereka,kecuali Rachel.


Bersambung...