
TENDA NATHAN-JULIAN
PUKUL 8.00 PAGI
"Than",ucap Rachel di ponselnya.
"Apa Chel. Rindu yah sama gue?",sahut Nathan di seberang telepon dengan ke-PD an haqiqi-nya
"Cih ngarep. Kagak. Ini gue tadi telfon ke nomer Julian tapi nggak diangkat. Panggung pertunjukan Emperor University kacau,soalnya EO-nya terlambat dateng. Tadi mereka udah mohon-mohon maaf di telfon karena bakal terlambat dateng. Ada kerusuhan di daerah pusat Jaksel,jadi mereka takut buat kesini",sahut Rachel serius.
"Heh?. Terus peralatan,hiasan,dan lain-lain gimana?",tanya Nathan.
"Ada tapi cuma sebagian. Panggungnya yang nggak ada. Nggak ada papan atau box buat bikin dasaran-nya",jawab Rachel.
"Ohh derita lo berarti",sahut Nathan tidak memberi solusi.
"Iya gue tau respon lu nggak merubah banyak hal. Makanya gue mau telfon Julian. Lian kemana?",tanya Rachel.
"Ada. Tadi lagi siapin panggung pertunjukan",jawab Nathan santai.
"Bilang sama dia,gue mau ngomong",pinta Rachel.
Nathan sebenarnya enggan merepotkan dirinya sendiri dengan urusan Rachel yang tidak ada sangku pautnya dengannya,namun karena tidak tega,akhirnya Nathan rela meninggalkan tendanya yang hangat dan menyusul Julian yang sedang membuat hiasan dari bunga.
"Yan. Rachel mau ngomong penting",ujar Nathan yang tidak menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Julian mengangkat sebelah alisnya dan mengambil ponsel Nathan.
"Halo Chel. Ada apa?",tanya Julian.
"Panggung Emperor University yang harusnya udah bisa dirangkai sekarang belum bisa dirangkai Yan. EO-nya nggak berani anter barang-barangnya kesini karena ada kerusuhan di pusat kota Jaksel. Gue sama temen-gue yang jadi panitia acara ini kewalahan. Lo ada saran nggak Yan?",tanya Rachel penuh harap.
Julian meletakkan pekerjaannya dan melihat sekeliling. Nathan bermain dengan tumpukan pita dan bunga yang ada di samping Julian.
"Bentar ya Chel. Gue diskusiin sama temen-temen gue dulu. Soalnya kalo gue pikir-pikir,jarak kita cuma 100 meteran. Kalo sama-sama pake sound system,bisa-bisa budeg telinga semua orang disini",sahut Julian.
"Ok. Gue tunggu",sahut Rachel.
Julian mematikan panggilan dan menyerahkan kembali ponsel Nathan pada si empunya HP.
"Gimana?",tanya Nathan sambil memegang sekuntum mawar putih.
"Gue diskusi sama tim dulu. Lo disini aja,bantu gue buat hiasan. Kalo nggak,jagain bunga-bunga disini tetep seger", sahut Julian seraya berdiri dan meninggalkan Nathan bersama tumpukan pita dan bunga mawar berwarna-warni itu.
"Guys. Gue mau ngomong bentar",ucap Julian seraya memberi kode pada teman-teman se-timnya.
25 orang berkumpul di depan Julian dengan wajah bertanya-tanya.
"Gini. Gue dapet kabar kalo Emperor University ada masalah di panggung pertunjukan. EO yang harusnya anter barang-barang keperluan bikin panggung dan lain-lain kejebak di tempat mereka karena ada kerusuhan. Kalian dah baca berita kan?",ujar Julian.
"Iya iya bener itu. Gue tadi liat beritanya,sampe perusakan massal juga. Tapi udah ditangani pihak kepolisian,cuma emang belom reda beneran",sahut Zidan
"Nah. Selain itu. Setelah gue pikir-pikir. Kalo kampus kita sama Emperor ngadain pertunjukan bareng dengan sound system yang ga ngotak suaranya,bisa-bisa budeg telinga kita kan. Gimana kalo kita satuin aja. 1 panggung buat 2 kampus sekaligus. Nanti host-nya tetep sama. Cuma di putaran ke-2,host dari Emperor University ambil alih",usul Julian.
"Bentar Yan. Ini kan acara kampus,jadi sebaiknya kita rundingkan sama pihak dosen dan panitia acara juga. Gue sih setuju aja sama saran lo,tapi belum tentu yang lain setuju kan. Apalagi ada beberapa konflik turun-temurun antara EU sama PU dari dulu sampe sekarang",sahut Hilda.
"Lo bener Da. Gue juga boleh-boleh aja kalo ini acara gue. Tapi ini kan acara kampus. Sebaiknya jangan gegabah Yan",sambung Nabila.
"Wait-wait ada masalah apa nih?",tanya Hans yang membelah kerumunan,para gadis banyak yang dibuat terkagum-kagum dengan ketampanannya.
"Nah akhirnya anak kampus dateng. Hans,gue perlu bantuan lo kali ini",ujar Julian.
"Wesss idola kampus butuh bantuan gue?. Yakin Yan?. Lo nggak dendam sama geng gue apa nggak naruh curiga kalo gue bakal nolak permintaan lo?",sahut Hans dengan senyum miring di bibir tipisnya.
"Dahlah jangan bahas itu dulu. Emperor University sekarang agak kacau acaranya,panggung yang harusnya udah mulai dibuat,nggak jadi dibuat karena EO yang nggak bisa dateng. Gimana kalo kita satuin aja panggung pertunjukan EU sama PU?",tanya Julian.
"WTF?. EU-PU mau jadi satu?. Gila lo Yan?. Gue nggak bisa bantu",sahut Hans dengan kibasan tangan di udara.
Ponsel Julian bergetar lalu dia mengangkatnya.
"Iya Chel?",tanya Julian.
"Maaf Yan udah bikin lo repot. Gue buat acara gue sendiri aja. Gue liat lo lagi sibuk jelasin ke temen-temen lo tentang sesuatu. Sebaiknya itu bukan tentang masalah EU",ujar Rachel di seberang telepon.
Saat mendengar nama Rachel disebut,Hans baru ingat jika Julian adalah sahabat Rachel,gadis yang ditemuinya sebelum berangkat camping.
"Gue bantu. Sekarang kalian buat aja panggungnya. Soal persetujuan para dosen,biar gue yang urus",ujar Hans dengan senyuman yang membuat beberapa gadis hampir pingsan.
"Hah?. Lo yakin?. Demi apa?",tanya Julian tak percaya.
"Demi Alek",jawab Hans sambil berjalan pergi, meninggalkan kerumunan.
"Hatcimm",Nathan mengusap-usap hidungnya yang tiba-tiba gatal dan melanjutkan mengelus-elus bunga-bunga di depannya.
"Tunggu ya Chel. Umumin ke temen-temen lo. Panggung pertunjukan EU & PU jadi satu hari ini. Tolong utus beberapa temen lo buat bantu-bantu disini. Semakin banyak orang yang bantu,pasti lebih cepet siapnya",ucap Julian pada Rachel.
"Hah?. Yakin lo Yan?. Oke-oke. Gue kasih tau yang lain dulu. Gue bakal kesana buat bantu-bantu. Makasssiihhh Liannn",ucap Rachel dengan suara riang.
"Sama-sama neng",balas Julian sambil tersenyum dan menutup panggilan.
Bersambung....