FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
NATHAN,JULIAN,& MOCHI



Keesokan Harinya...


"Udah selesai belom suss?",tanya Nathan yang pegal menunggu diluar ruangan karena 2 suster sedang memandikan dan mengganti baju Alora.


Seorang suster cantik keluar dan membuka pintu. Nathan segera melek melihat blink-blink semacam itu.


"Udah Dek. Tinggal disisir saja rambutnya",jawab suster yang bernama Venna itu pada Nathan.


"Oke Suster Venna. Makasih ya. Btw,suster cantik deh",puji Nathan yang mulai kumat kebiasaannya.


"Ah biasa saja",sahut suster Venna dengan senyum malu-malu.


Kena perangkap!.


"Biasa saja mungkin bagi orang lain. Tapi buat saya,suster keliatan luar biasa",ucap Nathan dengan ekspresi biasa seolah memang memuji dengan jujur.


"Aduh adek ini bisa aja. Nama kamu siapa?",tanya suster bernama Venna itu dengan pipi merona.


"Oh nama saya Nathan. Suster namanya Venna kan?. Itu di name tag-nya",tanya Nathan sambil melirik name tag Venna.


"Hehe iya dek",jawab Venna.


"Em yaudah,saya masuk dulu. Temen saya pasti udah rindu banget sama saya. Permisi suster Venna yang cantik",pamit Nathan yang tak lupa mengeluarkan jurusnya.


"Eh iya iya",jawab Venna sedikit gugup karena jantungnya berdebar-debar.


"Parah",ujar Alora yang masih di dalam ruangan namun tak sengaja mendengar obrolan Nathan dan Venna diluar kamarnya.


Nathan masuk dan melihat Alora sedang disisir oleh seorang suster paruh baya.


"Sus,biar saya saja yang nyisir rambut temen saya",pinta Nathan.


"Ohh iya iya. Ini sisirnya, hati-hati ya",sahut suster dengan nama suster Dewi itu seraya memberikan sisir di tangannya ke tangan Nathan.


"Siap",jawab Nathan sambil mengacungkan sisir di tangan kanannya.


Suster Dewi keluar dari ruangan dan meninggalkan Alora dan Nathan di dalam ruangan. Nathan mulai menyisir rambut Alora yang pajangnya ±1 meter itu dengan hati-hati.


"Habis godain suster mana lagi lu Than?",tanya Alora.


"Tau aja",sahut Nathan sambil cengar-cengir.


"Hilih. Biasalah. Siapa namanya?. Cantik nggak?",tanya Alora lagi.


"Cantik. Namanya Venna. Tapi kayaknya udah umur 28 tahunan gitu. Lebih tua dari gue. Bodi mantap sih",jawab Nathan sambil mengingat-ingat.


Setelah selesai menyisir rambut Alora hingga berjongkok-jongkok,Nathan kemudian mengambil jepit rambut kupu-kupu yang dipakai Alora kemarin dan menjepitkannya di rambut samping Alora.


"Nah beres",ucapnya sambil mengelap peluhnya yang tidak keluar.


"Cantik nggak?. Btw baju yang gue pake ini warnanya apa?. Terus gambarnya apa Than?",tanya Alora kepo.


"Baju lo itu gue yang pilih di olshop kemaren. Warnanya putih, coraknya bunga-bunga kecil warna biru muda sama biru tua. Bentuk bunganya kayak aster gitu di semua bagiannya. Mini dress sampe ke lutut tapi,tenang aja. Terus ada pita di bagian pinggang warnanya biru. Katun Jepang yang gue pilih. Jadi adem deh",jawab Nathan yang memperhatikan baju Alora dari atas sampai bawah dengan lebih teliti.


"Wah kayaknya cantik. Terus sepatunya apa?. Kayak flat shoes rasanya",tanya Alora.


"Ntah apa namanya,yang penting tanpa hak tinggi terus warna dasarnya juga putih. Ada bunga aster biru di ujung-ujung sepatunya. Ukuran kaki lo kan 39. Jadi gue beliin yang 40. Biar awet",ujar Nathan.


"Hehe kayaknya bagus semua deh. Sayangnya gue belum bisa liat",sambung Alora sambil berdiri dan menyentuh bajunya yang cantik.


"Iya nanti lo bisa liat lagi kok. Udah beres kan?. Kita pulang sekarang yok",ajak Nathan seraya menggandeng tangan kiri Alora karena tangan kanan Alora sedang memegang tongkat seperti biasa.


Alora mengangguk dan mengikuti Nathan keluar dari ruangan. Mereka turun ke lantai 1 dengan menggunakan lift dari lantai 4,tempat Alora dirawat.


Sesampainya diluar lobby rumah sakit. Mereka berdua sudah ditunggu oleh sebuah mobil sedan berwarna hitam yang biasa dipakai oleh sahabat mereka,Julian.


"Taksi kita dah nyampe",bisik Nathan sambil menahan senyum.


Julian tampak berdiri santai sambil bersender kap mobil dan bermain ponsel ketika Alora dan Nathan berjalan mendekatinya. Nathan yang meminta Julian menjemput mereka karena alasan sedang malas menaiki taksi.


"Wuih pak sopirnya keren juga yah. Masuk Al",ujar Nathan sambil melirik Julian dan membukakan pintu kursi penumpang untuk Alora.


Setelah membantu Alora duduk di kursi penumpang dengan baik. Nathan menutup pintunya dan masuk kedalam mobil lalu duduk di kursi yang ada di samping Julian yang sedang memasang seat belt. Nathan memasang seat belt-nya setelah menutup pintu mobil dengan rapat.


Julian mulai menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas. Mobil sedan itu perlahan melaju meninggalkan area rumah sakit bernama Husada Care itu.


__________________


15 menit kemudian...


Setelah hanya bungkam dan saling diam. Nathan mulai sibuk dn menyalakan audio mobil yang tersambung dengan bluetooth di ponselnya. Nathan menyalakannya dan memutar musik JKT48 yang penuh suka cita.


"Selera musik lo kok jadi gini Nat?",tanya Julian yang merasa aneh dengan musik yang diputar Nathan.


"Biarin lah. Suka-suka gue. JKT48 kan personelnya juga cakep-cakep. Boleh dong gue suka lagunya",sahut Nathan.


"Yelah yelah suka lo deh",sambung Julian yang tampak malas menanggapinya lebih lanjut.


Alora hanya diam di belakang karena takut Julian akan semakin kesal padanya jika dia berbicara.


"Al. Lo mau kemana dulu sebelum ke kemah?. Gue mau ke supermarket bentar. Yan nanti berhenti di supermarket ya. Gue mau beli sesuatu soalnya",ujar Nathan setelah bertanya pada Alora.


"Emm. Nggak kemana-mana Than",jawab Alora.


"Ohh yaudah nanti tunggu gue beli di supermarket dulu",sahut Nathan sambil memutar lagu lainnya.


"Oke",jawab Alora yang tak sengaja bersamaan dengan Julian.


Julian langsung cemberut sedangkan Nathan hanya mengatupkan bibirnya menahan tawa melihat drama yang terjadi. Alora juga hanya diam.


Beberapa menit kemudian Julian menghentikan laju mobilnya di depan sebuah supermarket di pinggir jalan dan memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang ada di depan supermarket.


Tak lama kemudian,hujan turun dengan deras. Nathan mengambil payung yang ada di laci dashboard mobil Julian dan memakainya saat keluar dari mobil dan meninggalkan Alora bersama Julian.


Hujan diluar begitu lebat hingga membuat kaca mobil Julian berembun. Hawa dingin semakin bertambah karena Julian tadi menyalakan AC di dalam mobil. Alora hanya diam dan bersender di senderan kursinya yang empuk sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya agar hangat.


Julian melihat Alora kedinginan dari cermin dashboard dan mematikan AC-nya.


Nathan sedang asyik mengobrol dengan sales cantik yang menjual pembalut di dalam supermarket dengan kantong kain yang didalamnya berisi minuman bersoda,yogurt,dan susu kotak.


Alora masih merasa kedinginan meski Julian sudah mematikan AC. Dia terus menggosok-gosok kedua telapak tangannya hingga memerah.


"Nih pake",Julian menaruh jaket putih yang dipakainya ke pangkuan Alora.


"Makasih Yan",ucap Alora sambil mencoba memakai jaket itu namun tentu saja tidak bisa karena dia buta,jadi Alora hanya memakainya untuk menyelimuti kedua tangannya.


Heran dengan beban satu itu,Julian akhirnya menurunkan senderan kursinya untuk berbalik ke belakang dan membantu Alora memakai jaketnya yang over size.


"Hadehh beban sangat sih lo Al",gerutu Julian sambil memasukkan tangan kecil Alora ke lengan jaket ber-hoodie-nya yang tentu saja kebesaran untuk ukuran Alora.


Alora hanya diam dan menurut. Setelah selesai memakaikannya. Julian menarik resleting jaketnya hingga ke kerah jaketnya yang otomatis ikut menutupi sebagian wajah Alora. Dengan sengaja Julian menutupi kepala Alora dengan hoodie-nya juga. Hoodie itu membuat Alora seperti dibungkus.


Julian kembali duduk di kursinya dan menaikkan kembali posisi senderan kursinya seperti semula. Dia melihat Alora yang diam seperti patung dengan jaket kebesaran yang dipakainya.


Sahabatnya tampak tenggelam dalam jaketnya dan hanya tampak hidung,mata,dan pucuk kepala dan rambut panjang yang terurai. Alora menepuk-nepuk kedua tangannya yang mulai hangat karena seluruhnya tertutup jaket Julian. Karena kedua kakinya terasa dingin,akhirnya Alora menaikkan kedua kakinya keatas kursi yang didudukinya dan ikut meringkuk dengan memasukkan semua kakinya kedalam jaket Julian sebagai selimutnya.


"Pfft",Julian mati-matian menahan tawanya karena melihat kelakuan Alora yang seperti anak kecil yang sedang sibuk mencari kehangatan di kantung besar.


Melihat Alora yang seperti bola mochi berwarna putih,membuat Julian harus menahan dirinya untuk tertawa.


"Apa?",tanya Alora dengan suara teredam jaket.


"Ekhem. Kagak. Kenapa?",tanya Julian sok cool.


"Nggak. Tadi gue pikir lo lagi ngetawain gue",sahut Alora yang sedang meringkuk di jok belakang Julian.


"Dih PD amat",ujar Julian dengan nada ketus padahal masih menahan tawanya dan berusaha untuk tidak lagi melihat ke arah cermin.


Alora hanya berdecak pelan dan kembali meringkuk seperti anak kecil sedangkan Julian menatap kaca jendelanya yang basah dan berembun karena hujan. Di dalam supermarket,Nathan masih mengobrol ria dengan gadis cantik sales pembalut itu.


Bersambung....