FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
STORY OF BAKMI LESEHAN



Apartemen Rachel


Pukul 23.45


"Heh lo ngapain jongkok disana?!",tanya Rachel pada Hans yang sedang jongkok di bawah tangga darurat yang ditapaki Rachel.


"Heh buset Chel . Loh lo kok disini?",tanya Hans dengan wajah syok+heran.


Rachel menyibak rambutnya dan menuruni tangga dengan cepat.


"Yaiyalah gue disini. Lo yang ngapain disitu jam segini?. Nggak liat ini jam berapa?. Malah jongkok disini",ucap Rachel.


"Lo sendiri ngapain disini jam segini?. Kalo gue kan cowok,jadi sah-sah aja. Lo cewek ngapain disini malem-malem coba?. Dah,sana balik ke unit lo aja. Ntar dipikir lo cewek nggak-nggak",ucap Hans seraya berdiri dan merapikan bajunya.


"Tsk. Gue mau jalan-jalan dulu",sahut Rachel bomat.


"Ett bentar-bentar. Gue ikut kalo lo ngeyel nggak mau balik ke apartemen lo",sambung Hans seraya berjalan lebih dulu.


"Makasih tapi gue mau jalan sendiri. Lo mending tidur sono",tolak Rachel.


"Nggak mau",Hans memasang wajah cemberut dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Dih ngambekan. Yaudah iya. Tapi mulut lo itu harus diem selama gue jalan. Nggak usah banyak omong",ucap Rachel sambil memutar kedua matanya dan berjalan mendahului Hans.


Hans tersenyum seperti anak kecil yang akan diajak jalan-jalan keliling kompleks. Hans berjalan di sisi Rachel hingga mereka berdua keluar gedung apartemen bertingkat itu. Beberapa orang masih lewat.


"L-....",Hans tak jadi bertanya karena ingat persyaratan Rachel.


Rachel terus berjalan hingga mereka sampai di sebuah lesehan sederhana yang masih buka. Kondisi disana cukup sepi. Hanya ada Rachel dan Hans yang datang. Hans si anak orkay pun terheran-heran melihat pemandangan sederhana di hadapannya.


Rachel menghampiri seorang pria tua,usianya sekitar 60 tahunan. Dia baru saja selesai mencuci piring,gelas,dan mangkok di sebuah ember yang berukuran agak besar.


"Pak Beli",ucap Rachel sambil tersenyum ramah.


"Eh iya neng. Mau beli apa?",tanya si pak tua.


"Bakmi jawa spesial 2 mangkok sama es teh 2 gelas",jawab Rachel.


"Siap-siap. Tunggu ya neng,mas",ucap Pak Tua sambil tersenyum dan mengangguk pada Rachel dan Hans.


"Iya Pak",jawab Rachel.


Rachel duduk bersila di tikar sederhana yang digelar di belakang grobak lesehan bakmi jawa itu,Hans agak kikuk,namun akhirnya dia ikut duduk di samping Rachel.


"Lo makan di tempat kayak gini Chel?",tanya Hans sambil melihat sekeliling. Hanya ada jalan raya di depan mereka.


"Emang kenapa?. Nggak suka?",tanya Rachel disertai lirikan tajamnya.


"Eng-enggak gitu Chel. Gue pikir lo kan orkay. Gue pikir lo nggak pernah ke tempat makan kayak gini",sahut Hans sedikit gagap.


"Yelah tu. Disini murah dan rasanya juga enak. Malah lebih enak daripada di resto-resto biasa. Daripada buang-buang uang buat jajan di resto. Mending jajan disini. Gue bisa sih kalo masak bakmi jawa,cuma gue lagi males masak. Makanya gue beli",ucap Rachel.


Aroma bawang putih dan kaldu ayam yang dicampur dengan garam dan penguat rasa mulai menguar kemana-mana hingga membuat hidung Hans dan Rachel terasa dimanja.


"Wah wanginya",puji Hans.


"Apa gue bilang. Lo cobain aja nanti",sahut Rachel.


"Cobain?. Maksudnya gue makan itu?. Tapi gue kan belom pesen",ucap Hans bingung.


"Tadi gue dah pesenin. Sans. Gue traktir",ucap Rachel santai.


"Really?. Makassihh Rachell. Elepyu",sahut Hans sambil melemparkan senyumannya yang lebih manis daripada madu.


"Iye iye",jawab Rachel cuek.


10 menit kemudian...


"Nah ini neng,mas. Selamat menikmati. Saya kesana dulu ya. Permisi",ucap si penjual bakmi jawa seraya meletakkan nampan berisi 2 mangkok bakmi jawa+2 gelas berisi es teh.


"Selamat makan",ucap Rachel setelah mengambil semangkok bakmi jawa yang masih berasap itu untuk dirinya sendiri.


"Selamat makan juga",ucap Hans setelah mengambil semangkok bakmi jawa bagiannya.


Mereka berdoa sebelum makan dan menikmati makanan mereka dengan tenang. Sesekali,mereka minum es teh yang ada agar tidak tersedak.


15 menit kemudian...


Rachel selesai mencuci bekas makannya dan Hans. Tadinya keinginannya ditolak oleh si pak tua penjual bakmi jawa,namun karena bersikeras,akhirnya Rachel diperbolehkan mencucinya sendiri.


"Berapa Pak semuanya?",tanya Rachel.


"55 ribu neng",jawab si penjual.


Rachel mengeluarkan selembar uang 50 ribuan dan selembar uang 5 ribuan dari dalam kantong celana panjangnya dan segera memberikannya pada si penjual bakmi tersebut.


"Makasih Pak",ucap Rachel sambil menunduk sebentar dan tersenyum pada si penjual.


"Sami-sami neng",jawab si penjual dengan senyuman pula di bibirnya.


Ponsel Hans bergetar saat dia sedang asyik memandangi Rachel. Hans melihat nama yang tertera di ponselnya lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa?",tanya Hans tanpa basa-basi.


Beberapa saat kemudian,kedua alisnya terangkat dan wajahnya tak tampak bahagia sama sekali seperti saat memandang Rachel.


Rachel yang melihat perubahan ekspresi Hans hanya bisa diam karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Hans dengan si penelepon.


"Ok. Hem",ucap Hans yang langsung menutup panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana jeans-nya.


"Gue mau pulang",ucap Rachel yang kemudian melengos pergi.


"Tungguin lah",pinta Hans yang berjalan cepat menyusul Rachel.


"Kenape muka lo ditekuk begitu tadi?. Habis dapet telepon dari pacar lo yang ngomel?",tanya Rachel sambil tetap berjalan santai.


"Bukan we. Itu tadi telepon dari bawahan Papa gue yang lagi kerja di LA. Katanya Papa gue dirawat inap",jelas Hans dengan wajah murung.


"Oohh jadi karena itu muka lo ditekuk",sahut Rachel.


"Bukan karena itu juga",sambung Hans dengan wajah jengah.


"Terus?",tanya Rachel.


"Gue disuruh jenguk kesana",jawab Hans dengan kepala tertunduk.


"Ya bagus dong. Lo kan bis-",


"Bagus-bagus palakau bagus. Gue nggak mau kesana,makanya muka gue kusut jadinya",sela Hans dengan cepat,ada sedikit kesal di nada suaranya.


"Kok ngamok",sahut Rachel.


"Kagak ngamuk. Gue cuma kesel ama mereka. Seenak jidat nyuruh gue ke sana. Padahal kan lo tau lah sekarang ni gue banyak tugas kuliah,bikin makalah,skripsi,dan lain-lain. Kalo gue ke LA,otomatis tugas gue bakal terbengkalai dong",omel Hans.


"Kan bisa lewat daring",sahut Rachel.


"Iya,emang bisa. Tapi nilainya nggak akan sama kayak pas luring. Gue ngejar gelar cumlaude mati-matian juga karena mereka. Malah disuruh ke LA di waktu yang super mepet kayak gini",keluh Hans.


"Yaudah nggak usah kesana kalo lo nggak mau. Tapi setidaknya lo telpon atau VC sama Papa lo tuh. Tanyain keaadaannya",usul Rachel.


"Masalahnya. Hubungan gue sama Papa gue nggak seindah film Keluarga Cemara. Gue dah 4 tahun nggak ketemu sama Papa gue. Gue juga nggak telpon atau komunikasi sama dia sama sekali",ucap Hans.


"Masalah apa sampe kayak gitu?. Eh sorry gue nggak akan tanya lagi. Ini udah bukan urusan gue. Gue nggak mau ganggu atau ikut campur. Em,gue duluan",ucap Rachel saat mereka sampai di dalam gedung apartemen.


Hans mengangguk dan tersenyum dengan kaku saat melihat Rachel memasuki lift menuju apartemennya sendiri.


Hans berdiri di depan lift beberapa menit. Hans menghirup dan menghembuskan nafasnya sambil menatap ke atas. Kedua matanya tampak berkilau karena genangan air mata yang tertahan disana ketika sinar bulan menembus jendela raksasa di sekitarnya dan menyinarinya.


Bersambung....