FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
KERIBUTAN & HUJAN



Jam istirahat tiba setelah bel istrahat berbunyi. Semua murid keluar kelas dan pergi kemanapun yang mereka suka.  Alora diam di kelas dan mengambil kotak makannya. Dia menyantap makanannya dengan tenang dan hati-hati.


Saat Alora sudah selesai makan dan sedang minum. Suara ribut-ribut terjadi diluar kelasnya. Alora hanya diam meski penasaran apa yang terjadi.


Tak lama kemudian,derap langkah yang ramai memasuki kelas Alora dengan cepat. Suara ribut itu menjadi jelas. Ada beberapa laki-laki yang berdebat dan saling memaki. Saat Alora berdiri dan ingin menghindari kegaduhan itu, seseorang menabraknya dengan keras hingga Alora tersungkur ke lantai dan tongkatnya terlempar entah kemana.


"Aww. Berhenti!. Jangan ribut di kelas ini!",sentak Alora yang geram karena lututnya terasa perih. Tangan kanannya yang masih dalam masa pemulihan juga ikut nyeri karena tertabrak orang tadi.


"Udahlah orang buta diem aja lo!",teriak seorang laki-laki yang diikuti sorakan yang lain.


Alora mendengus kesal dan mencoba mencari pegangan untuk berdiri,namun Alora tidak menemukannya. Sebuah tangan kokoh memegang lengan kirinya dan membantunya berdiri.


"Siapa kamu?",tanyanya sambil menjaga jarak.


Belum sempat orang itu menjawab,terdengar jelas seseorang sedang memukulnya.


"UDAH !",sentak seorang pria yang berdiri di depan Alora.


Pria itu sedang menarik kerah seorang pria dengan wajah kesal lalu mencekiknya. Tak lama kemudian ada pria lain yang datang dan akan menyerangnya,namun nasibnya sama. Mereka berdua akhirnya tercekik oleh kedua tangan orang yang berdiri di depan Alora. Terdengar suara dan nafas mereka yang tercekat.


Dia adalah Elions Moon,matahari Emperor University yang terkenal sering terlibat dalam berbagai masalah,diluar atau didalam kampus. Karena keluarganya yang kaya dan dihormati,Elions tidak mendapatkan banyak hukuman yang setimpal. Money is everything,right?.


Elions tumbuh di keluarga yang berkecukupan. Fisik dan rupanya yang menawan menjadi kunci utama dia dijadikan The Sun Of Emperor University.


Rambut cokelat lurus yang berkilau nan indah,berpadu apik dengan wajah dan pesonanya yang setara dengan Dewa Ares,suaranya yang serak namun dalam,terdengar seperti gemericik air di hutan fantasi,kulit putihnya yang bersinar membuatnya seolah tanpa cela.


Namun,keelokan rupanya tak sebanding dengan image dan attitude-nya yang terkenal buruk. Elions bahkan pernah dipenjara selama 5 hari karena membuat beberapa anak sekolah lain babak belur dan dirawat di rumah sakit. Dia juga sudah menjadi langganan kantor polisi karena banyak orang yang mengeluhkannya. Para polisi di wilayahnya saja sampai bosan melihat wajah Elions yang sering menghiasi kantor mereka.


Elions adalah ketua club motor,basket,dan sejarah. Kecerdasannya cukup luar biasa dibanding dengan sikapnya yang bar-bar. Tidak ada yang tidak mau menjadi kekasih Elions. Namun sampai sekarang,Elions tidak memiliki kekasih,hanya beberapa gadis yang suka menempel padanya dan akan berganti setiap harinya.


Siang ini,Elions dikeroyok oleh salah satu geng motor yang memiliki masalah dengannya. Karena Elions sedang di kampus,para anggota geng motor itu membuat keributan disana. Elions yang sendirian pun mau tidak mau melawan mereka hingga tanpa sengaja mereka masuk ke kelas Bahasa dan Sastra Inggris yang dirasa kosong namun ternyata Alora masih ada di dalamnya.


Elions yang tidak tega melihat Alora yang tersungkur di lantai,membantunya berdiri. Entah kenapa Elions tidak mau terjadi masalah di dalam kelas itu. Maka dari itu dia mengambil tindakan dengan mencekik 2 orang dengan kedua tangannya.


"Boss..",runtuh salah satu pria yang masih dicekik oleh Elions.


"Lepasin nggak!",titah laki-laki lain dengan suara penuh kemarahan.


"Gue bakal lepasin mereka kalo kalian cabut dari kampus gue!",balas Elions dengan berani.


"Oke. Tapi lepasin mereka",sahut laki-laki yang marah tadi.


Elions melepaskan kedua orang yang dicekiknya barusan. Mereka berlari tunggang langgang ke belakang barusan geng-nya .


"Ayo semua,kita cabut. Oiya dan lo. Urusan kita belum selesai",pungkas laki-laki yang kelihatannya ketua geng tersebut sambil menunjuk pada Elions.


Para anggota geng itu pergi meninggalkan kelas Alora yang sudah berantakan. Hanya ada para penonton,Elions,dan Alora di sana.


Elions melihat ke segala arah dan menemukan tongkat Alora tergeletak di pojok ruangan. Elions mengambilnya dan menaruhnya di tangan Alora.


"Nih. Sorry. Gue nggak bermaksud bikin ribut di kelas lo",ucap Elions .


"Kalo mau ribut jangan di tempat kayak gini. Mending di lapangan atau ring tinju sekalian",sahut Alora dengan ketus.


"Iya iya gue minta maaf",sambung Elions.


Para siswa-siswi yang melihatnya ternganga. Baru pertama kalinya seorang Elions mengucapkan 'maaf'. Beberapa gadis tampak linglung dan ada juga yang hampir pingsan karena mendengarnya.


"He em. Yaudah sana pergi",usir Alora.


"Dih gue dah capek-capek minta maaf langsung diusir. Kejam kayak ibu tiri",sahut Elions.


"Nggak gitu. Tapi ini bukan kelas lo kan?. So,jangan ganggu kelas lain dan balik aja ke kelas lo sendiri. Gitu aja tersinggung",ucap Alora.


"Iye iye. Aelahh,gue mau napas bentar doang kagak dibolehin. Dahlah",Elions berjalan pergi keluar dari kelas Alora. Alora hanya diam meski puluhan mata menatapnya.


"Yaudah si. Gitu aja ngegas",gumam Alora.


_________________________


Kelas Nathan jurusan Agribisnis


"Besok kita ada camping 5 hari di Puncak. Lo mau ikut nggak Yan,Nat?",tanya Andre,teman sekelas Nathan di jurusan Agribisnis.


"Ho,berapa duit btw?. Katanya seangkatan dari semua jurusan ikut semua kan?",tanya Nathan balik.


"10JT. Iya semuanya ikut. EU juga sama. Cuma beda penginapan doang",jawab Dito, teman kelasnya yang lain.


Nathan mengangguk mengerti. Dia ingat Rachel dan Alora juga pasti akan mengikuti kegiatan ini. Mereka kan sama-sama angkatan 2023.


"Ikutlah. Julian nanti juga paling ikut. So,gue sekalian aja. Daripada gabut sendirian di rumah",balas Nathan dengan santai.


______________


Di waktu yang sama,


Taman Phoenix University


"Yaudah maunya kamu gimana?",tanya Julian pada pacarnya,Shila.


Shila masih diam dengan wajah kusut di bangku taman. Julian hanya menatapnya saja dengan malas.


"Kita putus",jawab Shila seraya bangkit dari duduknya.


"Yaudah oke",sahut Julian tanpa ekspresi. Dia hanya duduk di bangku itu sambil meletakkan kedua tangannya di senderan bangku.


"Kamu jahat",ucap Shila yang langsung berjalan cepat meninggalkan Julian.


"Kasian,cantik-cantik nggak punya kaca",gumam Julian saat gadis itu sudah tampak jauh di matanya.


Julian membuka ponselnya dan melihat-lihat menu makanan di salah satu aplikasi. Sebenarnya dia ingin pergi ke kantin karena merasa sedikit lapar tapi mood-nya sedang jelek. Maka dari itu dia memutuskan untuk memesan makanan secara online saja. Namun lagi-lagi dia mengurungkan niatnya membeli makanan karena badmood. Julian memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana panjangnya dan menatap dedaunan pohon yang meneduhi-nya. Diatasnya,langit tampak kelabu,tanda hujan akan segera turun.


Tak lama kemudian rintik gerimis membasahi wajah Julian. Julian berdiri dan berjalan santai menuju kelasnya. Untung saja dia sampai di tempat yang teduh tepat sebelum gerimis tadi menjadi hujan yang sangat lebat.


Julian kembali ke kelasnya di jurusan Matematika,lantai 3 gedungnya. Sesampainya di kelas,beberapa gadis tampak berbisik-bisik sambil meliriknya. Julian hanya cuek dan memilih duduk santai di bangkunya yang berdampingan dengan jendela besar yang biasa digunakannya untuk melihat suasana diluar kelas.


Air hujan yang lebat,membasahi jendelanya. Membuat pemandangan diluar kelasnya tampak buram namun tetap indah. Lampu-lampu dinyalakan karena kondisi mendung membuat semua sisi bangunan menjadi lebih gelap. Hawa dingin karena hujan,menyergap dari segala arah.


Melihat hujan,Julian mengingat beberapa momen dalam hidupnya yang sebenarnya malas dia ingat-ingat. Julian mengusap kedua lengannya yang terasa dingin lalu menutup matanya yang sedikit mengantuk. Masih ada cukup waktu untuknya tidur sebelum jam pelajaran dimulai.


Di kelasnya,Nathan menatap jendela di depannya yang sengaja dia buka. Meski dibuka,air hujan tidak menciprat ke jendela kelasnya,jadi Nathan bisa puas melihat hujan. Derasnya hujan dan dinginnya suhu di sekitarnya,membuat Nathan teringat pada Rachel. Sahabatnya itu sangat menyukai hujan.


"Itu anak pasti seneng liat hujan apalagi diluar rumah",gumamnya sambil memakai jaketnya karena suhu semakin dingin.


Di kelas Rachel,gadis itu sedang duduk di jendela besar yang ada di kelasnya. Sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya,Rachel menikmati hawa dingin dan aroma tanah yang menguar dari segala arah. Angin yang berhembus menyibak rambut coklatnya yang panjang dan indah. Rachel menutup kedua matanya,merasakan dinginnya suhu karena hujan,mendengar suara rintik hujan yang begitu deras diluar jendela,dan suara tetesan-tetesan air hujan yang jatuh dari dedaunan pohon yang tumbuh di depan jendelanya. Rachel begitu menyukai hujan,hujan juga bisa merubah mood-nya menjadi lebih baik.


Di waktu yang sama,Alora sedang mendengarkan rintik hujan diluar jendela yang ada di sampingnya,jendela itu tertutup namun Alora masih bisa mendengar suara hujan diluar sambil meletakkan kepalanya di atas tumpukan 3 buku kamus di depannya. Alora tersenyum lembut,dia teringat Rachel sangat menyukai hujan. Tak lama kemudian,Alora mengantuk,kepalanya sedikit nyeri hingga dia akhirnya memilih tidur. Suara rintik hujan yang menenangkan,membuatnya merasa damai dalam tidurnya.


_____________


Jam 17.25, Emperor University


Nathan dan Julian sudah menunggu Alora dan Rachel karena menurut jadwal,mereka pulang jam 17.30.


"Eh besok kita camping. Itu Alora nggak papa ikut kan?",tanya Julian.


Nathan yang sedang duduk di kursi pengemudi mengangguk.


Tak lama kemudian Julian melihat Alora sedang dipapah Elions. Julian keluar dari mobil dan menghampiri mereka. Nathan melongok lewat jendela untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa Al?. Loh kok lutut lo berdarah njir?. Wah parah. Lo kan yang bikin dia lecet?!",tuduh Julian pada Elions yang rambutnya sedikit berantakan.


"Mana ada jink. Nih lo aja yang bawa. Gue nggak sengaja liat dia udah duduk di bawah tangga. Daripada dia keinjek-injek murid lain,jadi gue bantu. Dia ngotot nggak mau dibantu,tapi kakinya dah lecet kayak gitu,jadi gue paksa nurut",sahut Elions sambil menyerahkan Alora pada Julian.


"Tadi nggak sengaja ada yang nyenggol gue dari belakang pas pada keluar bareng-bareng tadi. Nah,karena kurang seimbang,jadi nyungsep deh",ujar Alora sambil meringis.


"Nggak sengaja. Bukan mau gue juga nyungsep gini",balas Alora sambil mengayunkan tongkatnya untuk memukul kaki Nathan karena kesal,namun tak mengenai Nathan karena gadis itu belum bisa menebak letak Nathan dengan tepat.


"Payah",sambung Elions sambil berjalan pergi.


"Woi bentar",panggil Julian.


"Apaan?",tanya Elions dengan wajah jengah.


"Nggak ada. Makasih aja dah nolongin temen gue. Sorry udah nuduh lo tadi",ucap Julian.


"Iye santai ae. Dah biasa",sahut Elions dengan cuek. Dia berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Rachel nggak ikut?",tanya Nathan saat mereka membantu Alora duduk di kursi penumpang.


Julian menempelkan plester motif bunga-bunga di kedua lutut Alora yang lecet untuk menutup lukanya. Nathan yang mengambil plester-plester lucu itu dari laci dashboard. Setelah selesai dipasang,Alora memasukkan kakinya ke dalam mobil dan meluruskannya agar tidak terlalu perih.


"Nggak. Katanya ada mata kuliah tambahan. Mungkin dia pulang jam 7 malem. Tadi gue ketemu Rachel di lorong arah ke perpustakaan sebelum turun tangga",jawab Alora rinci.


"Oooh yaudah kita balik aja dulu. Ntar dia biar naik taksi atau ojol aja",ujar Julian yang kemudian menutup pintu mobil dan masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi yang ada disamping kursi pengemudi. Nathan sudah duduk manis di kursi pengemudi dan menekan beberapa tombol.


"Oke",jawab Alora.


Nathan mulai menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Mobil melaju perlahan keluar dari area Emperor University yang masih basah karena hujan baru berhenti 20 menit yang lalu.


Jalanan sangat ramai dan padat karena sekarang adalah jam pulang kantor dan kampus. Nathan mengambil jalur alternatif agar tidak terjebak macet. Mereka berhenti di depan sebuah rumah makan Padang.


"Bentar,gue mau beli makanan dulu",ujar Nathan yang menarik rem tangan dan melepaskan seat belt-nya. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah makan Padang itu .


"Beli makanan dimana?",tanya Alora yang tidak tau mereka sedang ada dimana.


"Rumah makan Padang tuh",jawab Julian.


"Loh emang dirumah nggak ada makanan?. Biasanya lo yang masak Yan",tanya Alora.


"Lagi betmut",jawab Julian singkat.


"Hilih. Emangnya ada apaan tadi?,sampe-sampe lo badmood?",tanya Alora.


"Gue habis putus. Bebas deh",jawab Julian.


"What?. Kapan?",tanya Alora lagi.


"Tadi siang di kampus. Yaudah gue iyain aja",jawab Julian.


Sembari menunggu,Julian membuka laci dashboard dan mengambil sebuah permen mint dari sana dan memakannya.


"Kesian",ujar Alora.


"B aja. Gue emang udah capek sih sama kelakuannya",sahut Julian.


"Lo mau permen nggak Al?",tanya Julian.


"Mau. Mana?",tanya Alora.


"Mana tangan lo?",tanya Julian sambil berbalik .


Alora menyodorkan kedua tangannya ke depan,Julian menaruh sebuah permen rasa stroberi yang sudah dia buka bungkusnya di telapak tangan kanan Alora. Alora menghirup wanginya dan tersenyum saat mengetahui bahwa yang dipegangnya adalah permen stroberi,termasuk rasa favoritnya. Alora memakan permen itu dan mengemutnya seperti biasa sambil menunggu Nathan kembali.


Julian mendengarkan musik dari headset yang tersambung dengan ponselnya dengan tenang karena sedang malas mengobrol terlalu lama dengan siapapun. Alora menekan tombol disampingnya agar jendela bisa terbuka. Saat dia berhasil membuka jendela mobil,angin yang dingin menerpa wajah Alora. Aroma masakan Padang juga tercium olehnya.


10 menit kemudian Nathan masuk kembali kedalam mobil dan menaruh keresek bening isi 3 bungkus nasi Padang di dashboard mobil.


"Dah. Berangkat",ujar Nathan sambil memakai seat belt dan menghidupkan mesin mobil. Mobil Rachel kembali melaju di jalanan yang tidak terlalu ramai karena mereka melewati jalan alternatif.


"Apa aja Nat isinya?",tanya Julian.


"Ayam krispi,sambal goreng kentang,sayur kuningnya itu yang biasa,oseng tempe,kikil,sama sambel ijo. Gue juga beli gorengan tadi sekalian buat ngemil",jawab  Nathan sambil tetap fokus mengemudi.


"Enaknyaa. Jadi laper",sahut Alora yang mendengarnya.


"Iya,nanti makan dirumah aja",ujar Nathan.


"Oke",jawab Alora.


Karena mengantuk lagi,Alora meringkuk di kursi penumpang dan tidur.


"Al. Itu lecetnya masih sakit nggak?",tanya Julian sambil menoleh ke belakang.


Melihat temannya sudah tertidur pulas,Julian mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi.


"Hadeh,tidur dia. Bener-bener deh kayak koala",ujar Nathan yang melihat pantulan Alora dari cermin dashboard.


"Biarin aja. Mungkin dia capek",sahut Julian.


Nathan mengangguk dan mempercepat laju mobilnya agar mereka segera sampai di rumah. Sesampainya mereka dirumah,Julian membangunkan Alora dan keluar dari mobil,tak lupa dia menenteng keresek berisi makanan tadi di tangan kanannya.


Nathan membantu Alora turun dari mobil. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah setelah Julian membuka kunci rumah.


Setelah mengantar Alora ke kamar,Nathan pergi ke kamarnya sendiri dan membersihkan diri. Julian menaruh bungkus makanan mereka di dapur dan naik ke lantai atas,ke kamarnya.


Setelah dia selesai mandi,berganti baju,dan lain-lain. Julian turun ke dapur dan memanaskan lauk-pauk yang dibeli Nathan . Nasi dirumah masih cukup banyak,jadi Nathan hanya membeli lauk saja. Alora turun ke bawah dengan hati-hati agar tidak terjatuh. Plester lukanya sudah dia lepas karena kebiasaan Alora yang selalu melepas plester lukanya dan membersihkan lukanya saat mandi.


"Yo. He em. Ntar gue TF. Ribet banget sih lo. Udah,gue mau makan. Laper",ujar Nathan yang menuruni tangga sambil menutup panggilan di ponselnya. Dia melihat Alora yang berjalan perlahan ke dapur lalu melihat luka Alora belum diplester lagi.


"Enak baunya",puji Alora saat dia mencapai dapur.


"Iyalah. Tapi lebih enak masakan gue sih",sahut Julian yang kemudian mematikan kompor dan meletakkan lauk pauk yang sudah dipanaskannya di mangkuk-mangkuk dan piring yang sudah dia siapkan tadi.


Semua ayam dan gorengan juga sudah digoreng lagi,jadi semua masih krispi.


Alora duduk di kursinya dengan tenang . Nathan datang membawa 2 bungkus plester ukuran besar seperti yang dia berikan pada Julian sebelumnya.


"Bentar,gue pasangin plesternya",ujarnya sambil menempelkan plester bermotif bunga-bunga berwarna ungu di lutut kanan Alora,dan motif bunga-bunga berwarna oranye di lutut kiri Alora.


"Nah udah. Duh enaknya nih bau makanan. Ayem laperrr",ujar Nathan yang kemudian berjalan mendekati Julian yang sedang menaruh nasi di 3 piring mereka.


Nathan membuang bungkus plester tadi ke tempat sampah dan mencuci kedua tangannya sebelum dia mencomot sebuah tempe mendoan yang masih agak panas karena belum lama diangkat dari wajan.


"Haish kelakuan lo Nat. Makan kok sambil berdiri. Lo mau makan sambil marathon juga nggak?",sindir Julian.


Nathan meringis dan duduk di kursinya lalu melanjutkan makannya. Alora hanya tertawa kecil mendengar keributan kedua sahabatnya.


"Nah siap. Ni punya lo Nat. Ini punya lo Al. Dan ini punya gue. Selamat makan",ujar Julian setelah menaruh piring yang sudah dia taruh lauk pauk diatasnya di depan Nathan,Alora,dan dirinya sendiri.


Julian duduk dan mengambil segelas air putih untuk dirinya. Nathan mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih setelah Julian mengisi gelasnya. Setelah terisi cukup penuh,Nathan meletakkan gelas Tupperware anti pecah itu di depan Alora agar gadis itu tidak kesulitan untuk minum. Nathan mengambil gelas lain dari kaca dan mengisinya dengan air putih lalu meminumnya.


Alora menyentuh gelasnya dan memegangnya dengan baik sebelum dia meminum isinya. Setelah minum,Alora menaruhnya lagi dengan hati-hati. Mereka bertiga kemudian menyantap makan malam mereka dengan tenang sampai habis.


Bel berbunyi dan pintu terbuka saat jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 19.35. Rachel masuk kedalam rumah setelah melepaskan serta menyimpan sepatunya di rak sepatu yang ada di depan pintu seperti biasanya.


"Spada. I'm home" ,ucap Rachel sambil melambaikan tangannya pada ketiga sahabatnya yang sedang anteng dan menikmati makanan mereka di meja makan.


Julian hanya mengangguk,sedangkan Nathan cuek karena terlalu menikmati makanannya. Alora melambaikan tangannya juga dan berkata,


"Bersih-bersih terus makan Chel",


"Ashiap",jawab Rachel yang langsung berlari menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan lain-lain.


Setelah beres,Rachel turun dan makan malam di dapur. Alora,Julian,dan Nathan masih disana dan sedang memakan gorengan yang dibeli Nathan tadi.


Setelah mereka ber-4 selesai makan dan mencuci alat-alat makan. Julian memanaskan sisa lauk-pauk,sedangkan Rachel memanaskan sisa nasi agar tidak basi. Setelah semuanya selesai. Mereka ber-4 duduk-duduk santai di gazebo yang ada di roof top sambil menikmati angin malam dan mengobrol serta bercanda ringan.