
PUKUL 10.35,PINGGIR DANAU ZOZA
"Al!",panggil Elions saat melihat Alora berjalan sendirian.
Alora mendengarnya,namun dia berjalan cepat untuk menghindari Elions. Elions mengejarnya dan menangkap lengan kirinya. Alora langsung menghentakkan tangannya,namun Elions tidak melepaskannya.
"Lepasin gue!",bentak Alora.
"Nggak Al. Gue nggak akan lepasin lo sebelum lo jelasin apa yang terjadi kemarin lusa. Kenapa Nathan marah dan kenapa lo berdarah?!",tanya Elions dengan penekanan di setiap katanya.
"Jangan pura-pura nggak inget. Lo yang neken luka gue sampe darahnya makin banyak. Nathan marah karena dia pikir lo sengaja lakuin itu karena nggak ada yang jagain gue waktu itu!",ucap Alora dengan suara tak kalah kerasnya dari Elions.
Elions melepaskan tangab Alora dengan wajah bingung dan syok.
"Apa?. Gue lakuin itu ke lo?",tanya Elions tak percaya.
"Iya!",sentak Alora yang kesal dengan sikap lugu Elions.
"Ta-tapi gue bahkan nggak inget dan nggak ngerasa lakuin itu ke lo Al. Gue cuma inget gue pegang tangan lo itu buat chek luka lo. Niatnya gue mau kasih plester luka,tapi mendadak Nathan dateng terus marah-marah ke gue. Pas gue liat tangan lo,darahnya makin banyak. Gue aja nggak tau kenapa itu terjadi. Gue bener-bener nggak sadar Al. Gue berani sumpah demi apapun",ujar Elions.
"Nggak mungkin lo nggak sadar. Lo gila yah?!. Mana ada orang yang nggak sadar sama apa yang dia lakuin kecuali karena sakit mental !",ucap Alora dengan wajah marah.
"Tapi gue jujur Al. Sumpah demi apapun!",sahut Elions dengan sungguh-sungguh.
"Ck, andai gue bisa liat sorot kedua mata lo. Andai gue nggak buta. Mungkin gue bisa tau lo nipu gue atau nggak",decak Alora sambil tersenyum sinis.
"Oke kalo lo nggak percaya. Kita ketemu sama temen-temen lo. Biar mereka yang menilai apa gue jujur atau bohong",ujar Elions yang menggandeng tangan kanan Alora dan membawanya ke tenda Rachel.
Orang-orang berbisik dan menggosip saat mereka berdua lewat. Bahkan ada yang menvideokan dan mengunggahnya di laman gosip kampus se-Jakarta.
"Chel!",teriak Elions saat mereka sampai di depan tenda Rachel.
Rachel keluar dengan terburu-buru setelah menyisir rambutnya dan belum sempat mengikatnya dengan ikat rambut.
"Apa-apaan ini?!. El?. Al?. Kalian kenapa?. Lo kenapa teriak-teriak disini hah?!",tanya Rachel dengan ketus dan melemparkan tatapan membunuh pada Elions.
"Gue bersumpah gue nggak sadar atas apa yang terjadi di depan gapura waktu itu. Gue jujur Chel. Kalo gue sadar,gue nggak mungkin dateng kesini buat repot-repot bilang sama lo biar lo bisa liat kejujuran di wajah dan mata gue. Alora nggak mau percaya sama gue",jelas Elions dengan wajah sedikit memerah karena menahan emosi.
Rachel memicingkan kedua matanya dan mulai membaca ekspresi di wajah Elions dan sorot tajam dan tegas di kedua matanya.
Rachel hanya bisa mendapat 1 jawaban disana. Elions tidak berbohong,dia mengatakan yang sejujurnya. Kedua matanya menatap lurus ke mata Rachel tanpa ragu sedikitpun. Wajahnya benar-benar serius.
"Oke gue percaya. Al,gue liat dia jujur Al. Lo bisa kan maafin dia?",tanya Rachel pada Alora yang berdiri disamping Elions karena tangannya masih ada dalam genggaman Elions.
"Lo yakin dia nggak bohong??",tanya Alora memastikan.
"Iya. Yakin",jawab Rachel tanpa ragu.
"Yaudah iya gue maafin. Tapi lo perlu diperiksa ke dokter psikolog segera. Mungkin ada masalah di kesehatan mental lo. Bukan gue nuduh lo gila. Tapi nggak ada salahnya periksa diri",ujar Alora sambil menunjuk ke arah sampingnya.
Elions tersenyum tipis dan melepaskan tangan Alora. Alora segera mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa kebas karena digenggam terlalu erat oleh Elions sedaritadi.
"Yaudah. Thanks Chel,Al. Gue kesini cuma mau bilang itu. Gue pergi dulu",pamit Elions.
"Yodah sana",usir Alora ketus.
"Iye",jawab Elions seraya melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.
Rachel membawa Alora masuk kedalam tenda dan memberinya air putih agar tenang.
Omong-omong,hari ini tidak ada kegiatan,jadi semua murid bebas pergi kemanapun dan melakukan apapun asalkan kembali ke tenda sesuai jam yang diatur. Yaitu jam 00.00.
____________________________________
"Ini fotonya Bos",ucap seorang pria berkacamata dan berjaket hitam pada seorang pria berkulit eksotis di ujung meja dari kayu jati asli yang dipoles dengan indah.
"Hmm. Aku tidak menyangka jika pria tidak berguna sepertinya memiliki adik seperti ini",ucap pria berkulit eksotis yang duduk santai sambil menatap foto seorang gadis di tangan kirinya.
Pria berdada bidang dan bahu lebar itu tersenyum miring lalu melepaskan kacamata hitam yang membingkai kedua matanya. Tampaklah sepasang mata emas yang mempesona dan mampu membius siapapun yang menatapnya.
"Apa sebaiknya kita menangkapnya sekarang Bos?",tanya seorang pria berkulit hitam yang berdiri di belakangnya.
Pria yang dipanggil 'Bos' itu mengangkat tangan kanannya.
"Tidak perlu. Dia ada dibawah pengawasanku sekarang",ucap si Bos dengan smirk di bibir merah mudanya yang tampak menggoda.
Kedua pria yang mengajaknya bicara tadi hanya saling bertapapan.
"Bos tidak perlu repot-repot mengurus masalah kecil ini",ujar si kulit hitam.
"Sudah kubilang dia ada dalam pengawasanku kan?. Apa kalian sudah bosan menjadi pendengar dan ingin tuli?",tanya si Bos dengan kata-kata yang tajam dan tatapan yang dingin.
"Eng-enggak Bos. Ampun. Kami tidak akan ikut campur jika tidak diminta",sahut pria pertama yang mengajaknya bicara.
______________________________________
PINGGIR DANAU ZOZA
PUKUL 16.45
Rachel duduk sendirian dibawah salah satu pohon ek besar yang ada di sekitar danau Zoza. Alora sudah tidur sebelum Rachel pergi dari tenda. Hawa dingin di sore itu menyeruak dan menyelimuti tubuh mungil Rachel yang duduk sendirian diatas rerumputan sambil memeluk kedua lututnya.
Hari ini,tepatnya saat siang hari. Rachel menerima kabar jika kakaknya mendapat masalah karena kalah judi. Kedua orangtua Rachel memintanya untuk membantu membayar hutang kakak laki-laki Rachel sesegera mungkin.
Namun karena uang yang dimiliki Rachel sudah dia pakai untuk membayar karyawan dan apartemen,Rachel hanya bisa mengirim uang sebanyak 500 juta yang tersisa di tabungannya. Itu pun hasil kerjanya selama 1 tahun. Rachel sudah berencana akan bersekolah sampai mendapat gelar profesor di California,namun sepertinya dia harus memupus harapannya. Semua uangnya sudah dia pakai untuk membayar sebagian utang kakaknya yang berjumlah 5 miliar.
Rachel meminta kakaknya untuk tidak sembarangan bergaul,namun apa yang dikatakannya sia-sia. 3 bulan kakaknya merantau bekerja di Bangkok,dia berakhir di deportasi karena memiliki begitu banyak hutang di salah satu bar paling terkenal di Pattaya.
Rachel yang memiliki memori buruk tentang Thailand sudah mencoba melarang kakaknya pergi sendirian kesana,mengingat kakak laki-lakinya adalah seseorang yang gegabah dan mudah tergoda dan terpengaruh lingkungan.
Syok mendengar berita itu,Rachel melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya dari kejaran mafia yang menggentayangi kakaknya setibanya di Indonesia. Rachel meminta bantuan pada semua pria yang memiliki hubungan teman dengannya. Mereka memiliki harta dan kekuasaan yang cukup mampu untuk membantu Rachel melindungi keluarganya.
Beberapa pria yang dimintainya bantuan justru melontarkan kata-kata yang melecehkan Rachel. Meski begitu,Rachel tidak ingin menambah masalah dan memilih meminta bantuan kepada orang lain. Rachel berhasil mengumpulkan uang dari teman-teman pria-nya sebesar 800 juta tanpa harus dikembalikan. Itu karena mereka merasa Rachel sangat baik pada mereka.
1,3 miliar sudah Rachel kirim ke nomer rekening dari orang yang menang judi saat melawan kakaknya bulan lalu. Sebelumnya,kakaknya sudah membayar bunganya sebesar 500 juta. Tersisa 3,7 miliar lagi yang belum dibayarkan. Tenggat waktu yang diberikan orang itu hanyalah 1 bulan lagi.
Rachel sudah lelah meminta bantuan kesana kemari. Dia tidak mau mengganggu Nathan atau Julian dengan masalahnya,karena mereka sedang bersama ke-2 pacar mereka sekarang. Rachel tidak menyerah,dia hanya sedang lelah. Rachel hanya bisa menangis sendirian dibawah pohon itu sambil menutupi wajahnya dengan kedua lengannya yang terlipat diatas lututnya.
Air matanya tak henti mengalir meski sudah 30 menit lamanya Rachel menangis. Rachel takut dan khawatir pada keselamatan kedua orangtua dan kakak laki-lakinya yang sekarang berada di Medan. Rachel paham dengan siapa kakaknya berurusan. Rachel susah payah keluar dari dunia mafia yang pernah menjeratnya beberapa tahun yang lalu dan lagi-lagi masuk ke dunia hitam yang terkutuk ini lagi.
Memori penuh luka itu membuat Rachel semakin terpuruk. Suara ibunya yang menangis di telepon,jadwal operasinya,cicilan apartemennya,dan nasib para karyawannya sekarang seperti tumpukan kertas yang sudah berantakan. Otak Rachel terasa begitu penuh,dadanya terasa sesak. Hanya air mata yang keluar karena Rachel tak mampu lagi mengeluarkan suaranya.
"*Ya Allah hanya kepada Engkaulah hamba berserah diri. Hamba mohon beri hamba kekuatan dan kesabaran untuk menyelesaikan semua ujian yang engkau berikan pada hamba. Sungguh hamba tidak mau menyerah,namun jujur Ya Allah. Hamba lelah. Lelah lahir batin. Boleh kan hamba mengeluh seperti ini pada-Mu. Jangan marah ya Ya Allah. Hamba hanya ingin curhat. Hamba cengeng yak?. Hehe maaf ya. Habisnya ujian kali ini kayak Matematika,sulit.
Btw Ya Allah. Kau kan Maha Kaya lagi Maha Pemberi Rezeki dan Keselamatan. Boleh hamba memohon bantuan kan?. Hamba mohonn sekali Ya Allah. Berikan hamba rezeki yang cukup untuk membayar semua hutang kakak hamba,membayar semua karyawan hamba,membayar biaya operasional bisnis hamba,membayar angsuran apartemen hamba,membayar kuliah hamba dan kebutuhan keluarga hamba,membayar biaya operasi dan lain-lain.
Engkau lebih tau jika hamba bingung harus minta siapa. Hamba mohon sekali Ya Allah,bantu hamba. Mohon lindungi kedua orangtua dan kakak hamba serta teman-teman hamba yang hamba sayangi dari segala macam marabahaya. Hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa,Maha Pemberi Perlindungan,Maha Perkasa,lagi Maha Bijaksana dan hendaknya,hanya kepada Engkaulah setiap manusia berserah diri.
Hamba malu meminta begitu banyak hal dari-Mu namun masih melakukan begitu banyak dosa. Hamba tidak pernah melupakan-Mu Ya Allah,namun hamba merasa malu untuk meminta banyak hal dari-Mu*",batin Rachel hingga hatinya merasa sedikit tenang.
Lelah menangis,kepala Rachel terasa berdenyut. Belum sempat Rachel berdiri,dia jatuh pingsan. Tak lama kemudian,hujan turun dengan sangat deras. Namun daun-daun,tubuh,ranting,dan batang pohon diatas Rachel melindungi gadis itu dari tetesan hujan yang bisa saja membasahi baju dan tubuh Rachel. Alam tidak pernah membiarkan Rachel benar-benar terluka. Entah doa apa yang Rachel minta,hingga pendosa sepertinya masih dilindungi Yang Maha Kuasa. Karena itu juga,Rachel seringkali malu meminta hal pribadi pada Tuhannya.
Bersambung...