FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
DEMAM ALORA



14.30,Villa Medelin


Sesampainya mereka di Villa Medelin,Nathan dan Julian langsung keluar dari bus. Barang-barang mereka sudah otomatis ditangani pihak villa,sehingga mereka tidak perlu repot membawanya ke kamar. Setelah mendapat kartu akses,Julian dan Nathan pergi ke kamar mereka di lantai 4,nomor 130. Selain mendapatkan view 180°,mereka juga bisa melihat Villa Cherry yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari Villa Medelin. Villa Medelin dan Villa Cherry memiliki gaya arsitektur yang berbeda. Jika Villa Cherry bergaya klasik Eropa,maka Villa Medelin bergaya Mediterania dengan pelataran luas berisi air mancur raksasa yang indah dan taman kecil di tengah villa.


Setelah membuka jendela,Nathan dan Julian bergantian membersihkan diri. Setelah keduanya selesai membersihkan diri dan berganti baju,Julian meminta pada panitia acara bagian katering,agar menu makan siang mereka dikirim ke kamar mereka saja. Panitia menyetujuinya dan menu makan siang berupa nasi kebuli tanpa daging,es teh,tortilla,dan sate lilit pun tiba di kamar mereka beberapa menit kemudian. Makanan-makanan itu diantarkan pihak villa.


Selesai makan siang,Julian dan Nathan langsung tertidur karena kelelahan. Perjalanan bus 3. ,5 jam itu benar-benar membuat mereka cukup bosan dan lelah.


Acara camping dimulai besok pagi,sedangkan hari ini,semua anak-anak Phoenix University dipersilahkan istirahat terlebih dahulu. Hal itu juga terjadi di Emperor University,bus rombongan EU tiba bersamaan dengan bus rombongan PU. Acara mereka pun tak jauh berbeda.


______________


Pukul 20.00,Cherry's Cafe & Resto


"Al,lo tunggu disini bentar. Soalnya antriannya di prasmanan rame banget",pinta Alora.


"He em. Ati-ati ya Chel",sahut Alora.


"Pasti",jawab Rachel.


Rachel segera pergi ke barisan menu makan malam mereka yang di desain seperti prasmanan. Mulai dari makanan pembuka,inti,penutup,dan jus serta soda,tak lupa ada buah-buahan sebagai menu wajib.


10 menit kemudian Rachel kembali ke meja tempat Alora menunggunya. Dia meletakkan 1 nampan di depannya,1 nampan di depan Alora yang sedang menempelkan kepalanya di meja. Wajahnya tidak terlihat oleh Rachel.


"Nih Al. Makan yok",ajak Rachel.


Alora berusaha mengangkat kepalanya yang terasa sangat berat. Kedua mata Rachel membulat ketika melihat wajah Alora yang pucat. Rachel menempelkan telapak tangan kanannya di dahi Alora. Dingin.


Rachel segera berdiri.


"Al. Lo demam. Pusing banget nggak?",tanya Rachel sambil mengusap kepala Alora.


Alora menggeleng lemah. Alora belum pernah pingsan sebelumnya,dan dia tidak mau pingsan.


"Gue cuma nggak enak badan sedikit Chel. Mungkin besok sembuh kayak biasanya hehe",ujar Alora dengan senyum yang dipaksakan.


"Ayo. Gue anter ke kamar",ajak Rachel seraya membantu Alora berdiri.


Dengan langkah gontai,Alora menggantung tali di tongkatnya ke pergelangan tangannya agar tidak menyenggol orang lain. Semua mata menatap mereka berdua selama perjalanan menuju lift. Sesampainya di depan pintu lift. Ternyata lift-nya sedang digunakan.


Tidak bisa menunggu,Rachel memapah Alora menuju tangga darurat yang berjarak beberapa meter dari lift. Saat mereka berdua baru sampai di tangga ke-5. Alora limbung hingga Rachel pegangan Rachel hampir saja terlepas darinya. Untunglah seseorang menahan tubuh Alora yang limbung dari anak tangga dibawah mereka.


"Dingin banget anjir. Ni anak demam??",tanya Elions saat menyentuh lengan Alora saat pegangan Rachel hampir lepas.


"Iya",jawab Rachel dengan wajah cemas.


Elions melihat wajah Alora yang sudah pucat pasi dan hanya menutup kedua matanya. Tanpa ba-bi-bu,dia membopong Alora.


"Ayo ikut gue. Dia harus dibawa ke ruang kesehatan villa",ucapnya.


"Oke. Ayo cepet",pinta Rachel.


Mereka berjalan cepat menuju lantai 2,ruang kesehatan ada disana. Semua lift penuh. Mereka harus terus menuruni tangga yang tak terhitung jumlahnya itu.


Sesampainya di ruang kesehatan,Rachel membuka pintu,Elions masuk dan langsung membaringkan Alora di ranjang pasien.


"MANA DOKTERNYA !",sentak Elions.


Beberapa saat kemudian seorang wanita dengan baju putih dengan 2 wanita berbaju suster di belakangnya masuk.


"Ada apa ini?",tanya wanita berbaju dokter itu sambil memeriksa detak jantung Alora dengan stetoskop di lehernya.


"Temen saya demam Dok. Badannya dingin banget",jawab Rachel dengan cepat.


"Baik. Kalian bisa tunggu diluar dulu. Biarkan kami memeriksanya",pinta perempuan itu.


"Kalian harus sembuhin dia. Kalo ada apa-apa sama dia. Kalian gue penjarain",ancam Elions.


"Ssst. Jangan ngancem gitu. Kita tunggu diluar dulu. Biar mereka periksa",ajak Rachel seraya menarik lengan Elions agar ikut dengannya menunggu diluar ruangan.


Elions dan Rachel duduk di kursi tunggu didepan ruang kesehatan.


"Itu temen Lo ngapain aja sih sampe bisa pucet kayak mayat kayak tadi?",tanya Elions.


"Nggak tau. Mungkin dia kecapekan. Tadi kita baru mau makan malam terus gue liat dia pucat. Karen panik,gue langsung bawa dia ke lift. Pas di lift,ternyata penuh. Jadi gue bawa lewat tangga",jelas Rachel dengan wajah mendung.


"Ck,ngerepotin",decak Elions.


"Heh. Jaga mulut lo. Alora sahabat gue. Dia nggak berniat ngerepotin gue!",sahut Rachel dengan kesal.


"Ohh namanya Alora. Nama lo siapa?. Sorry ye gue cuma ngomong faktanya",sambung Elions.


"Lo nggak perlu tau nama gue",balas Rachel ketus


"Cuma tanya. Bukan mau ngebobol ATM lu", cibir Elions.


Rachel memalingkan wajahnya dengan kesal dan memilih diam. Ponsel yang ara di saku jaket Rachel bergetar. Rachel mengeluarkannya dari saku dan melihat nama yang tertera disana. Rachel segera mengangkatnya.


"Huft pas lu telpon Yan",ujar Rachel.


"Nathan yang minta tadi. Katanya mendadak kepikiran Alora. Pas kenapa emangnya?",tanya Julian.


"Alora masuk ruang kesehatan. Dia tadi demam,badannya dingin",jawab Rachel.


Nathan dan Julian saling berpandangan karena mereka mengeraskan volume telepon mereka. Nathan melongo sambil tetap menyendok nasi goreng spesial yang disajikan pihak villa untuk makan malam.


"Kok bisa?. Dia telat makan apa gimana?",tanya Nathan.


"Nggak Than. Pagi sama siang gue sama dia makan kok. Tapi pas gue baru selesai ambil makan malam tadi,dia lemes di meja. Pas gue pegang dahinya,dingin banget kayak es. Lift disini semuanya full,jadi gue terpaksa pake tangga darurat. Tadi hampir aja Alora jatoh karena limbung,tapi untungnya ada orang yang tolong. Dia bantu bopong Alora ke ruang kesehatan villa",jelas Rachel.


Elions hanya mendengarkan sambil bersender di tembok dan menghadap pintu ruang kesehatan yang masih tertutup.


"Lagi diperiksa dokter",jawab Rachel.


"Yang bantu bopong dia itu cowok?",tanya Nathan sambil mengunyah potongan buah mangga di depannya. Julian menatap Nathan sekilas sambil menyeruput air putih di gelasnya.


"Kok tau?",tanya Rachel balik sambil melirik Elions.


"Yaiyalah bego. Mana ada orang bisa bopong Alora kalo dia bukan cowok. Tebakan gue senang bener. Gue kan smart",sahut Nathan dengan PD.


Rachel menatap layar HP-nya sambil mencibir lalu menempelkannya lagi di telinga.


"Ho. Kalian juga lagi makan malam?",tanya Rachel.


"Ho o. Baru mau selesai makan",jawab Julian yang baru saja selesai menghabiskan sisa makanan dan jus mangga-nya.


Nathan mencomot pangsit yang disediakan di meja.


"Lu udah makan belom?",tanya Nathan sambil mengunyah 1 gigitan pangsitnya.


"Belom. Soalnya pas tadi baru ambil makananannya,Alora sakit. Nggak jadi makan deh",jawab Rachel santai.


"Yaudah kalo dia dah selesai diperiksa,lu ambil makan malam aja",ujar Julian yang baru selesai meneguk air putih.


"Iya iya. Ntar sekalian gue bawa makanan buat Alora,dia juga belom makan",sahut Rachel.


Saat Rachel melihat ke sekelilingnya,Elions sudah tak terlihat disana lagi. Beberapa detik kemudian dokter yang memeriksa Alora keluar ruangan. Rachel tidak menutup panggilannya dan langsung berdiri lalu bertanya pada dokter itu.


"Dok,gimana keadaan temen saya?. Apa demamnya bisa turun?",tanya Rachel


Nathan dan Julian mendengarkan dengan seksama.


"Keadaannya sudah cukup membaik,kami sudah memberinya infus. Tapi lain kali jangan sampai dia demam lagi. Ini bisa berdampak fatal dengan kerusakan yang terjadi di kedua matanya. Demam panas atau dingin,bisa merusak syaraf-syaraf yang ada di sekitar mata dan otaknya. Ini resep dan obatnya",ujar Dokter itu seraya memberikan sekeresek obat pada Rachel.


"Memangnya ada apa sama syaraf-syarafnya Dok?",tanya Rachel setelah menerima keresek berisi obat-obatan itu.


"Syaraf-syarafnya lemah dan mudah rusak dik. Hati-hati ya. Jika ingin pemeriksaan lebih lengkap,segeralah ke rumah sakit oke. Saya permisi dulu",pamit dokter perempuan itu.


"Alora udah selesai diperiksa. Gue tutup dulu ya",pamit Rachel pada Julian dan Nathan.


"Iya sans. Salam dari gue sama Lian",sahut Nathan.


"Pasti",jawab Rachel seraya menutup panggilan.


Setelah dokter itu pergi,Rachel masuk kedalam ruangan. 2 suster sedang mengecek infus dan kantong infus yang terhubung ke pergelangan tangan Alora. Alora tersenyum saat mencium wangi parfum Rachel mendekatinya.


"Rachel",panggilnya.


Rachel mendekat dan duduk di kursi pembesuk yang ada di sebelah ranjang rawat Alora. Rachel memegang tangan kiri Alora yang tidak dipasang infus.


"Masih sakit nggak?. Pusing?. Mual?",tanya Rachel.


"Nggak sakit. Tadi dikasih suntik sama infus sama dokternya. Rasanya lebih baik",jawab Alora.


"Tadi Nathan sama Julian titip salam buat lo Al",ucap Rachel.


"Salam juga buat mereka nanti. Gue baik-baik aja sekarang",sahut Alora.


Tak lama kemudian,Elions masuk membawa 2 nampan makanan berisi makan malam lengkap sampai jus-nya pun ada. Rachel melongo melihatnya.


"Siapa itu?",tanya Alora


"Elions. Orang yang pernah nolong lo pas nyungsep di tangga",jawab Elions. Dia memberikan 1 nampan pada Rachel,Rachel hanya menurut dan memangku nampan itu dengan hati-hati.


""Ohh itu. Ada apa kesini?",tanya Alora lagi.


"Bawain makanan. Gue kerja sambilan jadi pengantar makanan",jawab Elions.


"Hihihi masa sih. Mana makanan buat gue?. Gue juga laper",tanya Alora.


"Lu bisa duduk nggak?. Kalo nggak bisa,gue bawa aja",tanya Elions.


"Bisa kok",jawab Alora seraya mencoba bangun lalu bersender di senderan ranjang rawat.


Elions meletakkan nampan berisi makanan itu di pangkuan Alora. Dia membantu tangan kiri Alora untuk memegangi pinggiran nampan dan meletakkan sendok di tangan kanan Alora dan memasukkan ujung sendoknya di mangkuk berisi bubur dengan taburan bawang goreng dan seledri diatasnya.


"Ini bubur original,bukan bubur ayam. Di sebelah kanan bagian depan,ada segelas air putih,di sebelah kiri bagian depan,ada buah. Di depan lu pas ditengah,ada mangkuk isi bubur ini",terang Elions dengan wajah datar namun alami. Seolah Elions tidak gugup saat menjelaskan hal itu pada orang yang buta.


"Mau makan buahnya dulu atau langsung makan?",tanya Elions.


"Buah",jawab Alora.


"Gue aja yang-..",baru saja Rachel hendak berdiri,Elions mengangkat tangan kanannya.


"Nggak perlu. Biar dia belajar makan sendiri. Ini buahnya dan lu pake garpu plastik sekali pakai,jadi nggak perlu khawatir garpunya berat",ujar Elions sambil meletakkan sendok tadi di mangkuk bubur dan menaruh garpu plastik yang baru saja dia buka dari plastiknya di tangan kanan Alora lalu menusukkannya di salah satu potongan buah apel yang ada di mangkuk.


Rachel sedikit risih melihatnya,namun apa yang dikatakan Elions benar. Dia harus membiarkan Alora lebih mandiri.


"Paham kan?",tanya Elions seraya melepaskan pegangan tangannya dari tangan Alora.


"Paham. Makasih El",ucap Alora.


"Hm ya sama-sama. Gue pergi dulu. Lo sama temen Lo buruan makan gih",sahut Elions.


"Makasih",ucap Rachel pada Elions sebelum pemuda itu berjalan ke pintu keluar.


Elions mengangguk dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu. Alora sudah mulai makan dengan hati-hati. Setelah memastikan temannya makan,Rachel baru mulai makan.


Setelah selesai makan,Rachel berpamitan pada Alora untuk mengembalikan kedua nampan,piring,mangkuk,dan gelas bekas makan mereka di dapur villa untuk dibersihkan. Alora mengiyakan dan beristirahat selepas dia tidak lagi mendengar langkah Rachel.