FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
RAPAT KECIL (MWEHEHE)



Julian,Nathan,Rachel,dan Alora duduk melingkari sebuah meja bundar yang ada ditengah paviliun apung yang ada di danau. Kerlip lampu yang berwarna kuning kalem membuat suasananya menjadi tenang. Namun tidak dengan pikiran mereka ber-4.


Kejadian di gapura yang diceritakan oleh Nathan dan Alora,membuat Julian mau tidak mau ikut membahasnya?sedangkan Rachel tampak kesal namun ragu.


"Kalian kan tau kalo Elions itu orang baik kan sebelumnya. Gue nggak nyangka dan agak merasa aneh sama sikapnya tadi. Gue percaya sama Nathan sama Alora,tapi soal Elions. Seketus-ketusnya dia ke orang,gue pikir dia nggak akan ngelukai orang kayak tadi",ujar Rachel membuka pembicaraan.


Nathan duduk di depannya sambil mengunyah keripik ketela ekstra pedas yang dibelinya sebelum berangkat camping. Julian duduk disampingnya sambil bermain ponsel. Sedangkan Alora duduk disamping Rachel sambil bersender di tiang paviliun. Dia memilih diam karena mengira Julian masih kesal dengannya.


"Iya paham Chel. Gue juga pernah liat si bocah ****** itu tolongin Alora dari kena ngap harimau. Gue juga heran tadi kenapa dia kayak orang kesurupan. Matanya tuh kayak kosong,dingin,ekspresi datar. 11-12 sama orang kerasukan",sahut Nathan setelah menelan keripiknya.


Julian hanya diam sambil membalas chat dari Riri. Diam-diam dia melirik tangan kanan Alora yang diperban dan kembali menekuni ponselnya.


"Udahlah,mungkin dia lagi capek atau jail",ucap Julian tanpa mengalihkan matanya dari ponsel.


"Tadinya dia ngobrol baik-baik sama gue. Entah kenapa tiba-tiba tangan gue diteken",sahut Aliran sambil memegangi tangannya yang masih terasa kaku dan perih.


Julian tampak menatap ponselnya lebih serius dengan ekspresi sedikit kesal.


"Hauah mending lo diem Al. Gue lagi emosi",ujar Julian.


Nathan menatap Julian dengan heran lalu melihat ponselnya. Alora diam dan membuat Nathan teringat kejadian di gapura. Sedikit rasa kesal menyelimutinya.


"Iya gue juga lagi emosi,mending lo diem Al",ujar Nathan.


"Gue daritadi nggak ngomong aneh-aneh loh. Kalo gue nggak buta. Gue racunin kalian pake cairan karbol",sahut Alora dengan wajah kesal.


"Kalian tuh kenapa si we. Alora nggak bilang aneh-aneh daritadi kenapa kena omel. Mending kalian urus masalah kalian tu dulu deh",ucap Rachel mencoba melerai.


"Lo juga diem Chel",sahut Julian.


"Okelah",sahut Rachel sambil meletakkan tangannya keatas dan memilih duduk dengan kaki didalam air. Dia hanya duduk diam tanpa berkata apa-apa.


Alora hanya meringkuk sambil menutupi wajahnya. Hawa dingin mulai menyergap mereka. Namun tidak mendinginkan otak Julian yang ternyata sedang bermasalah dengan pacarnya di chat dan belum juga selesai. Sebenarnya Julian tidak menyuruh Alora dan Rachel diam karena masalahnya. Dia hanya tidak mau jika sahabatnya terkena omelan yang seharusnya tidak mereka terima.


"Ah capek ah males ah",ujar Nathan yang kemudian merebahkan tubuhnya di lantai paviliun yang bersih dan terbuat dari kayu jati yang dipelitur.


Julian yang malas pun hanya merebahkan dirinya sambil tetap bermain ponsel. Alora duduk dengan memeluk kedua lututnya,sedangkan Rachel masih menatap air danau dan langit mendung tanpa bintang ataupun bulan diatasnya,bergantian.


"Geser dikit dong. Mepet gue mulu. Pasti lo suka ya sama gue",canda Nathan saat Julian rebahan disampingnya.


"Iya umuach baby. Geli anjink diem dulu deh . Riri ngamuk niee",sahur Julian sambil tetap rebahan disamping Nathan.


"Huuu jijik",olok Nathan.


"Sabar ya Yan",sahut Alora yang masih memeluk kedua lututnya.


"Sukurin",ucap Rachel yang masih menatap air.


"Bangsat ya lo Chel",balas Julian.


"Ga suka gelay",sambung Rachel.


"Beban",celetuk Nathan.


"Iya beban",sahut Julian.


"Lu juga beban we",sambung Nathan.


Julian hanya memukul perut Nathan sekilas sambil mencibir.


Alora tersenyum kecil dan semakin erat memeluk kedua lututnya yang mulai kedinginan. Nathan melempar jaketnya ke wajah Alora agar gadis itu memakainya untuk menutupi lututnya.


"Jangan sampe kotor yah. Gue males dibebani",ujar Nathan sambil membuka game kesukaannya di ponsel.


"Hoo",jawab Alora sambil menaruh jaket Nathan untuk menutupi lutut dan kakinya.


"Wangi Than",ucap Alora.


"Yaiyalah,gue kan emang wangi,ganteng,manis,dan baik hati. Nggak kayak lo,beban",sahut Nathan sambil memencet skin favoritnya.


"Heleh. Lu juga beban",cibir Alora.


"Hesssutt. Sesama beban jangan bertengkar",sela Julian


"Eleh ngambek konon. Ngambek gih. Kita nggak akan peduli siii",sahut Julian dengan ******-nya.


"Setuju nah . Setuju. Aim no peduli sama you yah",sambung Nathan sambil memencet-mencet ponselnya,mulai bermain.


"Wuuu bangsat",protes Rachel.


"Hihihi",Alora tertawa dengan tawanya yang sedikit membuat orang merinding namun tetap imut.


"Duh jangan ketawa Al. Tawa lo kayak memedi soalnya. Telingaku ternoda mendengarnya",sahut Nathan.


"Awokawok",Julian hanya tertawa kecil sambil tetap mengetik.


Meski masalahnya dengan Riri semakin bertambah,dia tidak mau hal itu merusak kebahagiaannya. Di sampingnya,Nathan bermain game yang meski dimainkan bertahun-tahun tidak juga membuatnya pro. Sedangkan Rachel hanya tertawa sambil tengkurap disamping Alora. Alora pun ikut tertawa karenanya.


"Lo tau nggak Yan. Gue tuh sebenernya temenan sama lo kayak nggak normal Yan. Biar gue keliatan normal,gue temenan sama Alora sama Rachel",ujar Nathan yang masih menekuni game-nya


"Aa masa sich. Manis deh. Makanya gue suka temenan sama you. Gue kan fans Nath garis kerass", sahut Julian.


"Iya gue tau gue spek malaikat. Sampe ada yang ngelamar gue tiap hari tapi nggak gue ladenin. Ada yang ngaku-ngaku hamil karena gue. Sampe ada yang masuk rumah sakit saking tergila-gilanya sama pesona gue yang nggak bisa ditolak ini",ujar Nathan yang kumat ke-PD an anti badainya.


"Iya gue percaya semua ada dalam diri lo,makanya gue sayang sama lo,dan nggak mau kehilangan lo. Gue juga tergila-gila sama lo. Setiap gue ada masalah,lo selalu hadir,entah nambah masalah gue karena lo bawa sial atau buat menghibur. Love you Nat.",sahut Julian tak kalah kumatnya meladeni sahabatnya.


"Udah Yan gue tau gue tuh emang spek malaikat. Jangan sampe lu terlalu tergila-gila sama gue terus nyantet gue dan nyuruh ortu lo ngelamar gue",sambung Nathan


"Btw itu namanya p-e-l-e-t yah sobat. Kalo santet itu kasih mati. Gue nggak mau kehilangan lo,kan gue sayang sama lo", sahut Julian.


"Iya itu,jangan sampe lo santet gue karena dendam yah",balas Nathan sambil memencet-mencet ponselnya dan sesekali melirik Julian.


"Gue nggak mau kehilangan lo,gue kan sayang sama lo,makanya nggak gue santet",ujar Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Iyah,sayang aja sama gue yang spek malaikat ini. Air yang gue sentuh aja suci,apalagi tanah yang gue injek. Dewa Krishna pun kalah sama gue",ucap Nathan dengan PD nya.


"Iya,lewat semua para Dewa tuh",sahut Julian sambil membuat gerakan di udara.


"Iya gue tau Yan. Udah jangan terlalu muji-muji gue. Jangan terlalu terobsesi sama gue",sambung Nathan sambil mengibaskan tangannya.


"Gue sayang sama lo Nat",sahut Julian sambil tersenyum pada Nathan.


"Udah-udah Yan. Gue tau. Ntar gue kasih kolor gue. Jangan senyum-senyum gitu Yan",ujar Nathan.


"Iya yang warna pink yah. Gue baper sama lo",sahut Julian sambil mengangguk.


"Anjink ngakak bwahahaha",Rachel yang sedari tadi mendengar obrolan menggelikan dari kedua sahabatnya itu hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal,Alora juga begitu. Dia hanya tertawa sambil menutupi wajahnya.


"Love you Nat. Nyawa gue pun rela gue kasih demi lo",ujar Julian.


"Lihat ya Allah. Julian lebih memilih nyawanya dikorbankan untuk hamba dibandingkan demi orangtuanya. Jangan kasih ampun dosanya ya Allah",sahut Nathan sambil menengadah ke langit-langit.


"Nggak papa Nat. Apa sih yang enggak buat kamu. Muach",sambung Julian dengan ekspresi yang menggelikan.


Rachel hanya tertawa hingga kedua katanya berair.


"Baca Al-Fatihah Chel,Al,biar dikabulkan",ujar Nathan pada Alora dan Rachel yang tertawa.


"Umi umu love you",sahut Julian sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nathan.


"Cukup sobat. Aku jijik sama kamu Mas",ucap Nathan sambil menaikkan kedua bahunya,bergidik.


"I love you Nath umuach",canda Julian sambil menyenggol bahu Nathan.


Nathan berguling untuk menjauhi Julian. Julian hanya tertawa melihatnya.


"Menggelikan awokawok",sahut Rachel yang masih tertawa terpingkal-pingkal.


Malam semakin dingin,namun suasana di paviliun yang hangat itu tak menyurutkan tawa mereka ber-4. Masalah Elioks sedikit tersingkirkan malam itu,namun tak berarti mereka melupakannya. Mereka akan menyelidiki dan berhati-hati dengan Elions di waktu yang akan datang.


Api unggun besar yang selalu dinyalakan setiap malam tampak bersinar terang di kedua area perkemahan. Ke-4 sahabat itu lebih memilih di paviliun dibandingkan duduk-duduk dan bercanda dengan orang-orang lain di sana.


"Nggak mau ah,males liat muka-muka not ganteng dan manis kayak gue",ujar Nathan yang sempat ditanyai Alora kenapa tidak ikut di api unggun.