FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
CAMPING (1) : PEMECAHAN TEKA-TEKI 9-10 (End)



LIKE


KOMEN


VOTE


TAP FAVORIT


THANKS....


Setelah mendapatkan amplop berwarna coklat dari pemilik toko bangunan bernama Agus Toko Bangunan yang dimaksud dalam peta,mereka berhasil membuka bola kristal ke-8 yang berwarna coklat.


Setelah itu,mereka bergegas menuju pos ke-9 untuk melanjutkan misi.


_____________________________


POS KE-9


'Aku bisa menyampaikan pesan yang tak mampu dikatakan oleh bibirmu


Kesucian,ketulusan,keabadian,keunikan,kebahagiaan,kedukaan,kesetiaan,hasrat,kebencian,dan ucapan selamat pun bisa kusampaikan tanpa perlu kalian mengucapkan kata-kata'


Rachel menatap hamparan langit biru yang begitu indah diatasnya.


"Apa?",tanya Reza saat melihat senyuman tersungging di bibir Rachel.


"Toko bunga yang ada di deket sini. Disana mungkin kita bisa dapetin jawabannya",jawab Rachel sambil menatap kedua manik mata Reza yang berwarna hijau terang.


"Kenapa liatin gue gitu amat?. Fokus woy. Dah hampir jam 2 nih. Lebih cepet selesai,lebih baik",ujar Rachel saat Reza menatapnya tanpa berkedip.


Reza menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkedip.


"Kagak,gue tadi cumaa.....em cumaa kurang fokus aja. Yaudah ayok",sahut Reza sedikit gugup.


Setelah memberi tahu ke-3 teman mereka. Tim mereka akhirnya langsung meluncur ke toko bunga yang ada di dekat villa Madeline. Nama tokonya adalah Zian Florist.


Sesampainya mereka disana,mereka ber-5 langsung disambut oleh pemilik toko bunga yang bergaya klasik itu.


Seorang pria tampan setinggi 185 cm,rambut coklat terang lurus,kulit putih bersih,dan wajah bak Verrel Bramasta yang dicampur dengan Aliando sewaktu muda dulu berdiri menyambut mereka dengan sebuket bunga indah di tangan kanannya dan sebuah amplop berwarna pink di tangan kirinya. Sebuah nama tersulam dengan indah di saku baju sebelah kanannya. Disana dituliskan "Zian Rahardja'.


Rachel dibuat melongo melihat ketampanan pria yang memakai celemek berwarna hitam yang membuatnya tampak hangat dan ramah.


Mereka segera turun dari sepeda mereka dan memarkirkannya di depan toko bunga yang sedang sepi pengunjung itu dan menghampiri pria tampan yang sedang menunggu mereka dengan langkah cepat.


"Selamat,kalian berhasil memecahkan teka-teki ke-9. Bisakah aku tahu siapakah diantara kalian yang memecahkan teka-teki ini?",tanya pria bersuara setenang danau itu pada ke-5 remaja di depannya.


Farhan,Reza,dan Elions langsung menunjuk kearah Rachel yang berdiri di ujung.


"Rachel yang memecahkannya",ucap Alora sambil tersenyum.


Zian tersenyum pada Rachel dan memberikan buket bunga yang dibawanya kepada Rachel.


"Ini untuk tim kalian terutama untuk penjawab teka-teki",ucapnya dengan ramah.


"Te-terimakasih hehe",ucap Rachel sambil memegang buket bunga itu dalam dekapannya . Dia menghirup aroma bunga mawar dan aster yang ada di dalam buket sebentar


"Wangi",gumamnya sambil tersenyum.


"Nah ini amplop untuk kalian",ujar pria itu lagi sambil menyodorkan amplop pink ke hadapan ke-5 remaja itu.


Reza yang berdiri di tengah kemudian mengambilnya dan membuka suratnya,Elions langsung sigap men-scan QR code yang ada didalamnya.


QR code kali ini berbentuk mawar dengan garis kode. Indah?,tentu saja. QR code yang berwarna rose gold dengan dasar kertas berwarna soft pink membuat hati wanita manapun meleleh melihatnya.


Mereka berhasil membuka bola kristal ke-9 yang berwarna merah muda. Tersisa 1 bola kristal lagi yang masih terkunci.


________________________


Di area perkemahan Emperor University


Semua siswa dan siswi sudah kembali ke tenda mereka masing-masing karena tidak berhasil mendapatkan jawaban atas teka-teki yang diberikan dan selalu kecewa karena bola kristal yang sudah terbuka. Meski mereka tidak tau tim mana yang sudah membuka ke-9 bola kristal teka-teki itu. Namun setelah semua tim kembali,mereka menyadari hanya tersisa 1 tim yang belum kembali sampai sekarang. Yap,tim Elions dkk.


Di area perkemahan Phoenix University


Julian dan Nathan sedang duduk santai di depan tenda mereka dan menikmati makan siang yang dimasak oleh Julian. Menu hari ini adalah sop ayam dan sambal bawang serta tempe goreng. Menu sederhana namun enak itu mengenyangkan perut kedua sahabat Alora dan Rachel itu.


Setelah selesai makan dan minum,mereka membersihkan bekas piring dan gelas kotor mereka di belakang tenda yang sudah disiapkan untuk mencuci piring dkk. Setelah selesai bersih-bersih. Mereka berdua menuju kamar mandi yang ada di dekat area perkemahan khusus pria dan membersihkan diri mereka disana.


15 menit kemudian...


"Eh ini udah jam 2 kurang 10 menit. Kok si Alora sama Rachel kagak keliatan batang hidungnya yak?. Apa mereka masih sibuk cari teka-teki?",tanya Nathan pada Julian saat mereka berjalan kembali ke tenda sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil berwarna abu-abu.


"Ntah. Kayaknya sih iya. Tapi Alora kelewatan kalo kayak gini caranya. Lo tau kan dia kemaren habis keluar dari ruang kesehatan karena demam. Masa udah pecicilan sampe lupa waktu",sahut Julian yang tampak sedikit kesal.


Para gadis yang lewat dibuat setengah melamun melihat pesona mereka berdua yang baru saja selesai mandi.


"Jangan ngegas dong Yan. Mungkin kan maksud Alora baik",ucap Nathan.


"Dahlah nggak usah belain dia. Lagipula kita udah kasih tau dia biar nggak terlalu kecapekan biar nggak sakit pas kita mau pamit habis dari pos 1 Emperor University kan?. Tapi apa?. Dia nggak dengerin kata-kata kita malah nambah beban diri. Ntah apa yang ada di otaknya tuh padahal kakinya luka tadi. Rachel emang terluka juga betisnya,tapi nggak separah Alora,jadi gue pikir nggak papa",sambung Julian dengan suara dalam. Pandangannya menatap ke depan,ekspresinya datar.


"Iya iya. Dah tau Alora beban yang keras kepala masih aja lu kesel Yan. Udahlah. Mending kita istirahat aja,gue dah capek",sahut Nathan sambil menepuk pundak Julian sekilas dan berjalan mendahului Julian yang sedang menenangkan emosi sesaatnya.


Nathan merebahkan dirinya diatas kasur lipat yang dibawanya dari rumah dan menutup kedua matanya yang sedikit mengantuk,suara bising diluar diredam oleh headset yang terpasang di kedua telinganya.


"Balik Al,daripada Lian ngamuk",batin Nathan sambil menutup matanya lalu jatuh tertidur.


_____________________________


POS KE-10


'Aku adalah awal dan akhir. Kamu akan segera berlari untuk meninggalkanku dan akan melewati batasan apapun demi menggapaiku. Ketika semua kembali ke semula,maka kamu bisa menemukanku menunggumu disana'


"Hah?. Apaan njirr, kayak lagi bersajak aja",omel Farhan yang tampak frustasi.


Alora,Elions,Reza,dan Rachel berdiri dengan wajah serius dan sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Mencoba mencari jawaban yang tepat.


"Kita harus balik ke garis start",ucap Alora setelah terdiam sebentar.


"Wahhh gila ya lo Al?. Kenapa kita harus balik ke garis start? Bukannya disana sekarang udah diubah jadi gar-ehhhh",Farhan mengehentikan ucapannya karena menyadari sesuatu.


Alora hanya tersenyum.


"Udah paham belum?",tanya Alora.


"Gila gila. Bisa-bisanya lo kepikiran kesana njink",sahut Elions sambil menyenggol bahu kiri Alora yang berdiri di sebelahnya.


Rachel memeluk Alora dan memberinya kecupan di pipi kanannya karena sangat bahagia.


Mereka ber-5 langsung menggowes sepeda mereka ke tempat semula. Sesampainya disana. Mereka bergegas masuk gapura,namun Julian sedang berdiri di depan gapura dengan wajah malas. Rachel pun otomatis berhenti karena melihat ke-badmood an di wajah Julian. Nathan sedang bersender di gapura karena masih mengantuk.


"Dah puas mainnya hm?",tanya Julian sambil melihat Alora dan Rachel bergantian. Rachel menggandeng tangan Alora.


"Nggak tau waktu apa nggak inget waktu?",tanyanya lagi dengan nada sinis.


Nathan melek karena suara Julian. Dia mengucek-ngucek kedua matanya agar fokusnya terkumpul.


Alora dan Rachel terdiam. Alora ingat jika Julian dan Nathan sudah memberi tahunya agar tidak terlalu lelah.


"Gue yang salah. Gue nggak nurut. Maaf",ucap Alora dengan wajah tertunduk.


"Yan. Gu-",Nathan memberi kode agar Rachel berhenti bicara dengan jari telunjuknya. Rachel pun diam.


Alora hanya diam karena menyesal sudah membuat Julian kesal padanya.


"Lu nggak salah kok wkwk. Terusin aja udah. Sana sana",ucap Julian seraya berjalan pergi meninggalkan tempat. Nathan hanya menatap Alora dan Rachel dengan senyuman agar mereka tidak terlalu cemas.


"Yan jangan marah. Gue minta maaf",ucap Alora dengan suara bergetar karena menahan tangis.


Tidak mau mendengar,Julian tetap pergi bersama Nathan yang berjalan di belakangnya. Orang-orang menatap mereka dengan heran. Siapapun juga tau berapa dekat persahabatan mereka ber-4. Tapi hari ini,sepertinya kata-kata itu tidak terbukti.


Beberapa orang tampak diam-diam menertawakan mereka di belakang. Rachel mengusap-usap bahu Alora agar tenang. Namun apa daya,Alora tetaplah Alora. Si gadis cengeng yang tidak bisa menahan diri jika sedang bermasalah dengan orang-orang yang dekat dengannya. Alora menangis,saking banyaknya air mata yang keluar,pipinya sampai basah dan kerah bajunya pun basah.


Elions,Reza,dan Farhan pun tak tega melihatnya. Namun mereka hanya diam menyimak karena Rachel ada untuk menenangkan Alora.


"Cup cup jangan nangis Al",hibur Rachel.


"Nggak papa. Kita lanjutin aja ya. Bentar lagi selesai kan",jawab Alora dengan menahan isak tangisnya sambil menggigit bibir.


Dengan berat hati,ke-4 temannya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam gapura.


"Chel. Anter gue ke tenda kita bentar ya. Gue mau ambil sesuatu",ucap Alora pada Rachel dengan air mata yang terus menetes.


"Iya iya. Ayo kesana",jawab Rachel sambil menggandeng tangan Alora ke tendanya. Dia memberi kode agar Elions,Farhan,dan Reza berangkat terlebih dahulu. Mereka ber-3 setuju dan segera berjalan ke dalam hutan.


Rachel mengantar Alora ke tenda.


Alora tiba-tiba mengeratkan pegangan tangannya pada tongkat yang dia bawa ketika mereka berdua hampir sampai ke tenda. Keseimbangannya berkurang drastis secara mendadak hingga dia berlutut di tanah. Rachel yang terkejut sontak langsung berusaha membantu Alora berdiri lagi.


"Nggak papa Chel. Cuma kepleset tadi",dusta Alora yang memegangi tanah di bawahnya dengan kedua tangannya.


"Nggak Al. Lo istirahat ya. Bener kata Julian sama Nathan,lu nggak boleh sampe kecapekan",ujar Rachel seraya membantu Alora berdiri.


"Hehe. Nggak kok. Gue nggak....",belum sempat Alora menyelesaikan ucapannya,darah segar menetes dari hidungnya dan jatuh ke tanah. Alora tidak bisa melihatnya,hanya merasa nyeri di bagian tepi kepala dan hidungnya lalu merasa hidungnya pilek.


Rachel belum sempat melihat noda darah di tanah ketika Alora ambruk dan pingsan. Kedua hidungnya mengeluarkan darah. Rachel melotot dan panik.


"Tolongg!!", teriaknya.


Orang-orang berkumpul namun hanya melihat peristiwa itu dari jauh karena takut jika Alora sakit karena penyakit ganas yang bisa menular. Farhan,Reza,dan Elions sudah jauh memasuki hutan sehingga tidak bisa mendengar suara Rachel. Rachel yang panik otomatis menangis. Dia mengguncang-ngguncangkan tubuh Alora yang masih tidak sadar berkali-kali namun tak bisa membuat gadis buta itu sadar.


Tak lama kemudian,Nathan datang dan langsung mengangkat tubuh Alora dan membopongnya.


"Jangan nangis Chel. Alora nggak kenapa-kenapa. Kita bawa ke UKS aja oke",ucap Nathan agar Rachel sedikit lebih tenang.


Rachel kehabisan kata-kata dan hanya mengangguk. Dia mengekor Nathan yang bergegas pergi ke UKS dengan Alora dalam dekapannya.


Julian melihat mereka dari kejauhan,sebenarnya sikap diam Julian yang membuat Nathan kembali ke area perkemahan Emperor University untuk mengecek keadaan Alora dan Rachel sebentar. Mereka sudah menduga jika peristiwa itu akan terjadi. Meski ingin membantu,Julian masih merasa kesal dengan Alora. Dia hanya ingin menjauh dari Alora untuk sementara waktu. Dia percaya Nathan akan menjaga Alora dan Rachel selama dia butuh waktu sendiri.


Bersambung....