FROM THE DARK TO THE LIGHT

FROM THE DARK TO THE LIGHT
CAMPING (4) : AWALI PAGI DENGAN MASALAH



PINGGIRAN DANAU ZOZA


05.10 PAGI


"1 hari lagi selesai nih acara. Lumayan seneng tapi sedih juga sih",ujar Alora yang sedang jalan-jalan santai bersama Rachel di sekitar danau.


"Wait,kenapa sedih??",tanya Rachel.


"Iya soalnya nanti nggak bisa serame disini. Kan kemaren Julian sama Nathan sempet out GC bar2 kita ber-4 terus chat kalo Aayra sama Riri mau nginap di rumah Julian kan. Otomatis Nathan kesana. Berarti kita cuma tinggal berdua. Nggak bisa dirumah Nathan juga,soalnya bisa aja mereka pindah haluan sewaktu-waktu",jelas Alora dengan wajah sedikit murung.


Rachel menggamit lengan Alora dan berkata,


"Cuma pisah sementara kan. Gue udah ada apartemen di daerah PIK. Lumayan jauh dari rumah Nathan sama Julian. Disana banyakk banget tempat buat spot foto,makan,dan lain-lain. Jadi jangan ngerasa kesepian tanpa Julian sama Nathan okkee",hibur Rachel.


"Hem iya Chel. Lagipula udah biasa kan. Cuma kali ini pasti sepi. Aayra sama Riri bisa marah kalo tau Nathan sama Lian ada sahabat cewek yang deket sama mereka selain Aayra sama Riri",sahut Alora.


Rachel sebenarnya juga sedih,namun dia tidak mungkin mengatakannya pada Alora. Rachel tidak mau membuat Alora semakin sedih,karena Alora cengeng.


"Ssstt jangan bahas mereka lagi oke. Mending kita santuy menikmati udara sejuk disini. Al,lo suka disini nggak?",tanya Rachel mencoba mengalihkan pembicaraan.


Alora mengangguk.


"Kalo gitu,gimana kalo kita tinggal disini aja?. Nanti gue cari kontrakan deket dari sini buat kita berdua",tawar Rachel.


"Mauu. Eh tapi jangan ding. Nanti sekolahnya jadi jauhh",sahut Alora.


"Eh iya kah?. Hmm iya juga sih. Yaudah nanti ke apartemen gue aja yang di PIK. Masih gue cicil,tapi tenang aja,udah dapet setengahnya kok. Semoga lancar terus deh angsurannya,biar nggak sia-sia gue kredit apartemennya",ucap Rachel.


"Lo kredit apartemen di PIK?. Ta-tapi setau gue,kawasan PIK kan super duper mahal harga per-meternya",ujar Alora yang sedikit terkejut mendengar Rachel kredit apartemen di daerah PIK (Pantai Indah Kapuk).


"Tenang aja. Gue bisa bayar kok. Bisnis kue,baju,sama aksesoris via online gue lagi rame-ramenya. Ni aja sampe butuh model buat promosiin produk busana gue. Lo mau join nggak?,jadi model gue",tanya Rachel sambil menyenggol bahu Alora.


"Pfftt model?. Gue?. Gue jadi model?. Wahahahah mau jadi apa acara promo lo nanti Chel. Gue tu kan buta,mana bisa tau gimana ekspresi gue,gerakan gue,apa posisi wajah gue biar hadap ke kamera. Apalagi kalo acara launching terus lo bawa gue ke temen-temen lo,bisa-bisa pamor lo disepelekan sama mereka. Gue nggak suka kalo ada yang ngeremehin lo",jawab Alora dengan tegas.


"Iya bener lo buta. Buta bukan berarti nggak bisa apa-apa Al. Pokoknya 5 hari lagi,lo sama gue dateng ke studio buat sesi photo shoot promo make up,gaun,dan aksesoris yang terbaru",titah Rachel tak mau kalah.


"Tapi gue nggak tau caranya berekspresi. Kameranya aja gue nggak bisa liat letaknya dimana",sahut Alora dengan cepat.


"Maka dari itu gue milih loo Allll astaga ya Allah",ucap Rachel yang gemas dengan Alora.


"Hah gimana maksudnya?",tanya Alora tak mengerti.


"Huffttt haahh. Oke gue jelasin ya. Tema kali ini adalah flawless. Lo paham kan arti flawless? Selain kecantikan yang alami,kita butuh ekspresi yang nggak kalah alaminya. Wajah dan tatapan lo yang nggak menghadap kamera itu bakal memenuhi keinginan penonton buat tema flawless. Lo tu cantikkk Al,imut,manis,dan meski nggak senyum sekalipun,lo tetep cantik. Disini kan berfokus ke make up,aksesoris,dan busana. Jadi,semua elemen itu bisa lo bawain dengan sempurna. Paham??",tanya Rachel setelah menjelaskan panjang lebar.


"Ooooohhh gituu... Hemmm gimana yak. Gue coba deh. Tapi kalo jelek atau kurang menarik,langsung aja bilang ke gue. Biar gue nanti pergi",ujar Alora.


"Dih lo kan belom bisa liat foto-foto yang gue ambil tanpa sepengetahuan lo Al. Pas lo di pinggir danau,nyanyi,di hutan,tidur,dan lain-lain. Seeemuanya bagus ja. Salah satunya gue kasih ke tim gue buat penilaian kemaren. Mereka langsung setuju,padahal gue nggak kasih tau nama lo siapa dan gue juga nggak kasih tau ke mereka kalo lo itu sahabat gue. Gue udah kasih keterangan kalo lo buta. Jadi mereka menilainya secara adil yah. So,lo nggak perlu sungkan atau ragu lagi",ujar Rachel dengan serius.


"Hah?. Foto apaan njir kalo gue lagi tidur??. Jelek pasti. Sesat punya temen",gerutu Alora.


"Wakakak. Beneran??",tanya Alora sambil tertawa kecil.


"Benerrr suer demi kegantengan Nathan dan Julian",sahut Rachel.


"Pffft wahahahahah oke-oke gue percaya. Tapi tolong dibimbing ya pas photo shoot,soalnya gue baru pertama kali jadi model",pinta Alora.


"Ututu. Pasti dong Alora tayang. Uncchhh gemesshh sama pipimu",ujar Rachel sambil mencubit pipi tembam Alora karena gemas.


"Jangan keras-keras. Sakit",pinta Alora seraya memegangi kedua pipinya.


"Nggak keras-keras. Cuma gemesh aja",jawab Rachel sambil mencubit pelan pipi Alora yang halus seperti mochi.


____________________________________________


TENDA NATHAN-JULIAN


07.35 PAGI


"Eh menurut jadwal. Besok kita ada acara dansa. Gue nggak paham gimana caranya dansa",ucap Nathan yang sedang rebahan santuy di atas tikar yang ada di dalam tenda dengan menatap ponsel di tangan kirinya.


"Gue tau kalo lu nggak pernah dansa. Lo liat video di yutub aja,nanti juga paham",sahut Julian yang baru selesai memasak sarapan untuk mereka berdua.


"Oiya ya. Oke deh",sambung Nathan yang segera membuka yutub dan melihat tata cara berdansa dengan berbagai jenis lagu.


"Hufftt",Julian menghela nafas berat dan menatap ponselnya yang memantulkan bayangannya.


Kemarin malam,Riri memang datang,memberinya selamat,pelukan,hingga ucapan selamat malam sebelum dia tidur. Namun di jam 3 pagi,Riri mendapat mimpi buruk lalu mengirim pesan pada Julian yang kebetulan ponselnya dimatikan karena sedang di cas.


Semalam,ponsel Julian lowbat hingga ponselnya mati,itu juga karena Julian stay menghidupkan ponselnya 24 jam demi Riri. Itu semua dilakukannya karena,gadis kesayangannya itu akan berfikir yang tidak-tidak jika Julian tidak menghidupkan data/ponselnya dan tidak membalas chatnya. Masalah telat 1 detik balas chat saja bisa menjadi bom atom bagi Julian setiap harinya.


Karena tidak kunjung dibalas,Riri mengomel pada Julian di chat hingga saat Julian membuka ponselnya di jam 5.30 pagi,ponselnya sempat nge-lag parah karena diberondong 100 chat dan 50 panggilan di WA-nya. Tentu saja itu semua kelakuan Riri,gadis favoritnya. Julian seketika kenyang membaca chat Riri bahkan sebelum makan apa-apa.


"Lelah hati ini oohh",ucapnya sambil bersenandung.


Nathan masa bodoh dengan nasib miris sahabatnya dan tetap melanjutkan acara mwnonton yutub-nya yang kemudian berganti ke channel game dan memasak. Yah begitulah kelakuannya.


"Hah males bujuk dia",gumam Julian sambil menuangkan air minuk ke gelasnya lalu meminumnya hingga tak bersisa.


"Tidur salah,nggak tidur salah,mati HP semalem doang udah kayak ditinggal nikah sama cewek lain. Napas aja keknya gue tetep salah di mata dia. Mau gue putusin,tapi masih cinta banget. Ah bego lah",gumamnya lagi sambil mengibaskan tangannya.


Nathan masih cuek bebek dengan kondisi sahabatnya yang sibuk meratapi nasib. Nathan tetap setia melihat acara memasak karena dia bosan melihat video berdansa yang baru saja diputarnya selama 5 menit.


Setelah lelah dan puas menonton yutub,Nathan pun tertidur pulas,sedangkan Julian sudah pergi ke Villa Medeline untuk sarapan romantis di rooftop villa sebagai salah satu usahanya membujuk Riri. Meski sudah sarapan romantis dan mewah,Riri belum tampak bahagia.


Julian memberikannya sebuket bunga mawar pink yang segar dan indah,namun hanya diterima dengan senyuman sekilas milik Riri. Meski dalam hati rasanya ingin menceburkan Riri ke tengah danau yang terhampar indah tak jauh dari villa,Julian masih setia membujuk Riri hingga kekasihnya itu memaafkannya.


"Kalo bukan karena cinta. Dah gue racunin ni anak bangxat!",batin Julian sambil tersenyum manis pada Riri.