
Apartemen Rachel
Pukul 07.45 pagi
"Jadi kita pindah sekarang Chel?",tanya Alora saat dia dan Rachel duduk di sofa ruang tamu apartemen yang baru Rachel tempati selama 4 bulan,sebelum Alora kecelakaan.
Beberapa menit yang lalu,mereka berdua sampai di apartemen Rachel dan Rachel menceritakan semuanya pada Alora.
"Nggak Al. Gue mau bayar sisa cicilan apartemen ini dulu terus gue jual dengan harga lebih mahal. Uangnya kan lumayan buat beli rumah lagi",sahut Rachel seraya meneguk cola dari kaleng yang ada di tangan kanannya.
"Oke Chel. Em...",Alora diam dan menundukkan kepalanya.
"Why?",tanya Rachel.
"Maaf cuma nyusahin. Kalo gue nggak buta,pasti gue bantu semaksimal yang gue mampu Chel. Maafin gue ya Chel. Sejak gue buta,gue cuma jadi beban",ucap Alora dengan wajah murung.
Rachel tertegun. Dia lupa jika Alora ada bersamanya. Dia lupa jika Alora pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk daripada kondisinya saat ini.
Sejak kedua orangtuanya meninggal,Alora hidup mandiri di kos-kosan kecil di daerah yang cukup kumuh dan padat. Alora selalu berusaha mencari pekerjaan sambilan meski dia sedang berkuliah. Alora bangun jam 3 dini hari dan mulai bekerja. Dia menerima jasa cuci gosok dan setrika di rumahnya,menerima pesanan kue dan dessert sehat pesan-antar,membuka usaha camilan kecil-kecilan,seller barang-barang bekas,hingga menjadi karyawan resto.
Sebelum masuk kelas,biasanya Alora menitipkan dagangannya di kantin kampus dan menawarkan dagangannya jika ada kelas kosong. Dengan usahanya itu,Alora mampu membeli sebuah sepeda motor dan membayar kebutuhan kampus serta alat-alat tulisnya. Alora juga seorang pro player Mobile Legends Bang-Bang yang membuka jasa joki akun dan jual-beli diamond game.
"Sstt. Nggak gitu kok. Jangan sedih. Lo tuh sodara gue. Tanggung jawab gue juga Al. Nggak papa kok. Doain gue bisa atur semuanya dengan baik yah",ujar Rachel sambil memegang tangan Alora dan menghangatkannya.
"Maaf Chel",ucap Alora lagi,kali ini benar saja dugaan Rachel,Alora menangis. Hidungnya memerah dan bibirnya gemetar.
Rachel tersenyum dan memeluk Alora dengan hangat sambil menepuk-nepuk punggung gadis cengeng itu dengan sabar.
"Cup cup. Nggak papa kok",hibur Rachel.
Alora hanya menangis sejadi-jadinya di pelukan Rachel. Meski tampak pendiam dan ceria,Alora sangat sensitif. Meski sudah mencoba mandiri dan makan asam-garam kehidupan,Alora tetap tumbuh menjadi gadis cengeng. Bahkan Julian,Nathan,dan Rachel selalu siap dengan tisu kering di tas atau saku mereka setiap bersama Alora. Ada saja hal membuat Alora meneteskan air matanya.
...****************...
Rumah Julian
Pukul 11.23
Ilustrasi rumah Julian
"Beb aku laper",ujar Aayra setelah membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Rencananya,dia dan Riri menginap di rumah Julian selama 1 bulan.
"Tuhh Julian lagi masak. Sabar yah sayang. Kamu kesini aja,temenin aku main",sahut Nathan yang sedang duduk bersender di sofa ruang tengah milik Julian dengan ponsel yang menyala di tangannya.
Aayra menggeleng dan duduk di pangkuan Nathan. Nathan melingkarkan tangannya di sekitar Aayra dan kembali menempatkan jari-jarinya untuk bermain game Free Fire.
Di dapur,Julian sedang sibuk memasak bersama Riri.
"Yang. Ambilin bawang goreng yang ada di buffet dong",pinta Julian yang baru saja mencicipi sop iga sapi yang dibuatnya barusan.
"Oke. Bentar",jawab Riri seraya membuka buffet diatas Julian dan mengambil toples berisi bawang merah goreng lalu menutup kembali pintu buffet dan memberikan toples itu pada Julian.
"Minumannya udah siap. Mangkok,sendok,garpu,nasi,lap makan,semuanya udah siap di meja makan. Tinggal nunggu sop-nya jadi. Mi goreng sayur sama ayam gorengnya juga udah kutaroh di meja makan",lapor Riri dengan rinci.
Julian tersenyum dan mengelus pucuk kepala Riri dengan lembut.
"Cewekku emang pinter. Nah,nih udah siap. Kamu panggil 2 beban yang lagi pacaran itu ke ruang makan ya. Aku mau taroh ini ke meja makan. Aku tunggu kalian disana oke",ucap Julian.
"Okesiap",jawab Riri sambil mengacungkan jempol kanan-nya pada Julian dan berjalan meninggalkan dapur untuk memanggil Nathan dan Riri yang sedang asyik bercanda di ruang tengah.
Julian mematikan kompor,memakai sarung tangan oven,dan mengangkat panci panas berisi sop itu ke ruang tamu lalu menaruhnya di tengah meja makan. Setelah melihat semua sudah siap,Julian baru melepaskan celemeknya dan menyampirkannya di punggung kursi yang kemudian dia duduki.
Tak lama kemudian,Nathan,Riri,dan Aayra datang. Nathan menggandeng tangan Aayra. Riri langsung duduk di kursi yang ada disamping kanan Julian. Sedangkan Nathan dan Aayra duduk di seberangnya.
"Al . Eh Ay. Ayo makan",ucap Nathan yang hampir keceplosan menyebut nama Alora.
"Al itu siapa beb?",tanya Aayra yang mendadak menghapus senyuman di bibirnya setelah mendengar nama Al disebut.
"Maksud Nathan itu Ay. Kepleset lidahnya karena terlalu laper kayaknya",sahut Julian
"Nah iya beb",ucap Nathan sambil tersenyum palsu.
"Ohh gitu",sambung Aayra sambil menaikkan kedua bahunya.
"Makan. Aku udah laper yang",ujar Riri seraya mengambil nasi untuk Julian.
"Iya sayang",jawab Julian seraya tersenyum. Sekilas dia melotot pada Nathan. Nathan hanya melihat tatapan Julian sambil minum air putih.
...****************...
Sebuah rooftop+helipad di pinggir pantai Ancol.
Pukul 11.23
"Kamu menemukan lokasinya Bos. Apartemen Diamond,kamar nomor 450,PIK",lapor seorang pria berseragam serba hitam yang berdiri di belakang seorang pria berjas hijau tua yang berdiri di pinggir rooftop.
Pria berjas hijau itu sedang memegang segelas anggur merah yang dia goyangkan dengan tangan kanannya hingga menimbulkan bunyi berdesing.
"Nice. Tetap awasi dia. Jangan sampai dia tahu kalau dia sedang dimata-matai",ujar si Bos dengan senyuman miring di bibirnya.
"Siap Bos",jawab si pengawal.
Pengawal itu kembali ke barisan belasan pengawal berseragam sepertinya yang berdiri di belakang sang Bos.
"Step by step. Jika sudah terjebak begini,kamu bisa apa?",gumam si Bos seraya menyesap anggur merah di gelas kristalnya.
...****************...
Pukul 11.23
"Iya,gue mau jual mobil kesayangan gue. Harganya 3 miliar pas gue beli pertama kali. Tpi karena dah gue pake lama,gue jual 2 M aja. Gimana?',tanya Rachel pada lawan bicaranya yang sedang duduk santai di depannya.
"Gue cicil boleh?. Soalnya nggak ada uang segitu sekarang",tawar pria di depan Rachel.
"Yaish lo mau gue tampol?. Gue butuhnya sekarang,bukan besok-besok",sahut Rachel seraya menaikkan tangan kanannya keatas.
"Parah lo. Orang jualan mana ada yang ngancem gini. Ah gak like",ucap pria berkemeja abu-abu di depan Rachel itu.
"Cih. Gak butuh like,gue butuh duit. Kalo nggak gini aja. Lo tawarin ke temen-temen lo. Lo jual 3 M deh. Yang 2,5 buat gue,sisanya buat lo",sahut Rachel serius.
"Okeh,deal",balas pria itu seraya menjabat tangan kanan Rachel dengan mantap.
"Kalo dikasih duit aja baru maoo. Dasar",cibir Rachel.
"Wah harus dong. Hidup butuh duit",sahut pria itu sambil mengusap hidung mancungnya dan tersenyum bangga.
"Yaudah. Gue pulang dulu,ntar gue kirimin spesifikasi plus foto-foto mobil gue",pamit Rachel seraya berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan meja tersebut.
"Eh eh ini siapa yang bayar woy",teriak pria berkulit sawo matang itu pada Rachel.
"Ya elo lah,Luki Damasta. Byee",jawab Rachel seraya melambaikan tangan kirinya sekilas pada pria yang diajaknya bicara tadi.
"Aishh dah kuduga. Ah elah. Mending gue makan habis daripada mubazir",gerutu Luki seraya duduk kembali ke kursinya dan menghabiskan kentang goreng,ayam katsu,dan kopi yang tersisa di mejanya.
Luki Damasta adalah teman Rachel,di adalah seorang fotografer profesional. Channel-nya yang tersebar di seluruh dunia,membuat Rachel meminta bantuannya untuk menjual mobilnya.
Rachel menelepon seseorang saat dia sedang berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari cafe Magenta dan menempelkan ponselnya ke telinga kanannya sambil terus berjalan menuju mobilnya.
"Gue mau jual sepatu,baju,dan aksesoris gue. Bukan barang jualan,tapi barang-barang yang pernah gue pake sehari-hari. Tolong buka pelelangan lo sore ini khusus buat gue. Nanti gue kasih komisi 10%. Gue kirimin semua foto barang-barang gue sekitar jam 3 sore. Oke thanks Bil. Bye",Rachel menutup panggilannya dan mencari kontak lain di WA-nya.
Yang tadi dia telepon adalah Billy Herdianto. Billy adalah seorang influencer terkenal di semua aplikasi yang seringkali membuka pelelangan untuk barang-barang mahal,bahkan barang-barang para artis yang terkenal.
Rachel menelepon kontak lain dan menempelkan ponselnya ke telinga kanannya kembali.
"Des,tolong batalin acara photo shoot buat promo. Gue sendiri yang bakal foto semua produk bareng sama modelnya. Ada sedikit masalah tapi gue bisa handle. Iya,makasih Desi cantik. Bye beb",Rachel menutup panggilannya dengan Desi Fatmawati,manajer toko olshop-nya,lalu memasukkan ponselnya ke saku celana panjangnya.
"Huft capek",ucap Rachel seraya menyibak rambutnya dan menguncir rambutnya dengan kuncir rambut berwarna hitam yang ada di pergelangan tangan kirinya.
Kecantikannya memancar hingga orang-orang melihatnya saat sedang menguncir rambut panjangnya yang indah. Masa bodoh dengan tatapan orang-orang padanya,Rachel membuka pintu mobilnya dan masuk.
Tak lama kemudian,mobilnya melaju di jalanan,menuju apartemennya. Dari jauh,tampak beberapa orang mengambil fotonya sejak dia datang ke cafe sampai dia keluar dari cafe.
...****************...
Apartemen Rachel
Pukul 12.35
"Assalamual'alaikum",ucap Rachel saat masuk ke apartemennya dan menutup kembali pintunya.
Rachel melepaskan sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu lalu berganti dengan sandal rumah. Dia naik ke lantai atas dan mengecek kamar Alora.
"Al. Bangun,udah sholat Dzuhur belom?",tanya Rachel sambil menepuk pelan bahu Alora.
Alora membuka matanya dan mengerjap beberapa kali.
"Sekarang jam berapa Chel?",tanya Alora dengan suara serak khas bangun tidur.
"Jam 12.36. Gue udah sholat Dzuhur di masjid pas jalan pulang tadi. Kalo lo belom sholat,sholat dulu terus ke ruang makan oke. Gue mau mandi terus siapin makanan oke",ujar Rachel
Alora mengangguk. Rachel membantu Alora berdiri dan mengantarnya masuk ke kamar mandi. Setelah Alora menutup pintu. Rachel keluar dari kamar Alora menuju ke kamarnya sendiri dan mandi. Setelah selesai mandi dan berganti baju dengan piyama santai,Rachel keluar dari kamarnya lalu berjalan cepat menuju dapur.
Sesampainya di dapur. Dia mengambil sebuah panci pegangan diatas kompor dan mengisinya dengan air keran lalu menaruhnya diatas kompor. Rachel menghidupkan kompor dan berjalan mengambil kursi kecil berwarna hijau yang biasa dia gunakan untuk mengambil barang yang disimpan di buffet. Karena buffet itu ada di ketinggian 2,4meter dan Rachel hanya setinggi 1,6 meter.
Rachel mengambil 2 bungkus mi rebus yang ada di dalam buffet. 1 rasa soto,dan 1 lagi rasa kari. Alora dia pilihkan yang rasa kari,sedangkan Rachel memilih soto. Rachel kemudian turun dan menaruh 2 bungkus mi itu diatas meja dapur,dekat dengan kompor. Rachel berjalan ke kulkas yang tak jauh darinya dan membukanya. Rachel mengambil 2 butir telur ayam dari dalam kulkas dan kembali menutupnya.
Setelah mendidih,Rachel memecahkan salah satu telur dan memasukkannya kedalam panci. Yap,Rachel ingin membuat mi rebus dengan telur sebagai pelengkapnya.
Di kamar,Alora sedang sholat Dzuhur dengan khusyuk. Rachel sudah memberi tanda di lantai agar Alora tidak salah kiblat.
Setelah selesai sholat,Alora berdoa hingga air matanya kembali menetes.
10 menit kemudian,Alora turun ke lantai bawah dan menuju dapur. Dia mencium aroma soto dan kari yang bercampur dengan bau telur rebus yang lezat.
"Enaknyaa",ucap Alora seraya berjalan mendekati arah bau.
"Wuh pastinya. Duduk di karpet aja Al,sambil nonton TV",ajak Rachel yang kemudian membawa 1 nampan berisi 2 mangkuk mi telur yang sudah matang,2 sendok+garpu,dan 1 botol air minum.
"Yok",sahut Alora seraya berjalan di belakang Rachel dengan hati-hati
Ilustrasi ruang tengah+ruang tamu Rachel
Rachel menaruh nampan itu di atas karpet tebal berwarna biru dengan hati-hati dan kemudian duduk bersila. Alora duduk di samping Rachel dengan perlahan,agar dia tidak menyenggol mangkuk atau apapun yang dibawa Rachel. Alora juga duduk bersila,sama seperti Rachel.
Rachel meletakkan sendok dan garpu di tangan kanan dan kiri Alora lalu mulai makan mi soto-nya sendiri. Alora juga melakukan hal yang sama setelah sebelumnya minum air putih dari botol yang diberikan Rachel sebelum Rachel memberinya sendok dan garpu. Dia sangat menyukai mi kari telur buatan Rachel.
Mereka berdua makan dengan tenang sambil sesekali tertawa mendengar lawakan yang dilontarkan tokoh-tokoh kartun Disney yang sedang berakting di televisi yang ada di hadapan mereka. Meski tak bisa melihat,namun Alora mengerti perkataan mereka.
Bersambung...