FIDUCIA

FIDUCIA
9



"Dari banyaknya rasa takut, kehilangan kamu adalah hal mengerikan yang pernah ada."


ㅡAllera Navulia


.


.


.


.


.


Selama satu jam lebih tidak bergerak sama sekali. Tidak membuat gadis berusia duapuluh dua tahun tersebut mengikuti perintah tulang ekor yang terus meminta untuk berhenti duduk di taman. Ia nampak asik dengan benda pipih di tangan. Lebih tepatnya memandang sendu apa yang ada di dalamnya. Berulang kali napasnya berembus dan semakin membuat sisi hatinya semakin menjerit untuk tidak mengingat masa lalu yang membuatnya seperti ini. Allera tahu tentang orang-orang yang berbicara dengan bijak namun tak pernah ada yang mampu membuktikan bagaimana cara untuk menghilangkan hal itu.


Mereka selalu bilang. Masa depan tidak akan pernah ada kalau bukan karena masa lalu. Bagaimana hal itu bisa Allera terima kalau masa lalu itu sendirilah yang membuat Allera menjadi orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Justru hanya ketakutan yang terus menghantui pikirannya. Seolah masa depan Allera tidak akan pernah bisa berubah, seperti dia terus berjalan di tempat. Lalu bagaimana dengan melupakan?


Kata orang melupakan masa lalu adalah cara terbaik untuk bisa memulai hal lebih baik lagi di masa depan. Tapi pada kenyataannya, mereka saling terhubung. Pada akhirnya Allera yang ingin melupakan pun tetap tidak bisa, apalagi menerima dan kembali menjalani kehidupan normal seperti biasa. Selupa apapun seseorang, pasti ada massa dimana mereka pun akan mengingat terutama untuk hal yang paling ditakuti. Sama halnya seperti Allera. Bukan Allera tidak ingin untuk menghilangkan rasa takutnya. Justru memorinya lah yang terus berputar setiap kali. Seperti alarm yang memang sudah di setting sejak awal.


Allera mengeratkan pegangan pada ponsel. Giginya bergemeratuk menimbulkan bunyi yang terdengar keras di telinga. Semarah apapun Allera. Pada akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah diam lalu sedetik kemudian buliran itu terjun kembali membasahi layar. Allera mengedit foto tersebut. Memotong bagian orang yang paling dia benci, dan setidaknya dia berharap dengan begitu mungkin perasaan Allera akan lebih baik lagi.


"Lera, kan?"


Bahunya naik. Dengan cepat Allera menghapus jejak air mata yang baru saja turun. Lantas dia menengadah dan melihat siapa yang mengenali Allera yang setahunya Allera tidak begitu akrab dengan lingkungan ini.


"Lo?"


"Hai, kita ketemu lagi. Bagus deh dengan gitu gue bisa mengucapkan permintaan maaf resmi gue ke lo."


Pria tersebut membungkukan badan sembilanpuluh derajat sampai ia meletakkan tangan kanan di dada. Benar-benar seperti seorang pelayan yang sedang mengabdi ke tuannya. Sesekali memukul pelan dada membuat orang dengan kacamata tebalnya terlihat sangat konyol dan mempermalukan Allera di sekitarnya. Allera melihat ke sekeliling, dan semakin menundukkan kepala seraya wajah yang berusaha ia tutupi agar tidak terlalu malu nantinya.


"Sebagai pria sejati yang harus menghargai wanita dan menjadikannya sebagai ratu. Saya Green penyuka warna hijau ini dengan sangat menyesal meminta maaf karena sudah melukai tangan indah milik Tuan Puteri Allera. Saya benar-benar menyesal."


Semua orang berbisik sambil tertawa melihat Green yang mematung setelah mengucapkan perkataannya. Seperti sedang menunggu Allera untuk menjawab pemintaan maaf Green. Berpindah ke sisi kursi taman dengan wajah yang masih ia tutupi membuatnya semakin malu di depan orang.


"Apakah Tuan Puteri mempersilahkan saya untuk duduk? Kalau begitu baiklah."


Eh?


Allera melotot. "M-mau apa lo?"


Dengan wajah tanpa dosanya, Green menunjuk pada diri sendiri. Berbicara formal seperti tadi, "Saya? Duduklah, sambil menikmati dan melihat anak-anak sedang bermain."


"Gak ada istilahnya, pergi."


"Apa pengabdian saya kepada Tuan Puteri masih kurang? Coba sebutkan supaya saya bisa mengabulkannya."


Rasanya Allera ingin terjun ke jurang daripada harus dekat-dekat dengan pria ini. Ia mengalihkan pandangan, berusaha untuk tidak menatap mata Green yang sedang memberikan pertanyaan hebat yang bisa memaksa Allera untuk menjawabnya. Allera mengatupkan jari-jari ke besi kursi menghitung sampai berapa lama Green akan pergi kalau Allera mengabaikan pria itu.


Satu....


Dua....


Tiga....


"Lera? Lera?"


Mata yang terpejam mengikuti dahi yang mengkerut, menandakan Allera merasa terganggu akan kehadiran Green. Tapi entah kenapa kali ini Allera tidak bisa kabur seperti biasanya. Walau keringat sudah membasahi kening serta tangannya yang mulai dingin.


Mungkin selama satu jam Green terus berbicara tanpa henti. Jelas telinga Allera terasa panas. benar-benar sangat panas, ia belum pernah tahu bagaimana seorang pria bersikap ke perempuan. Jelas di pikiran Allera semua pria tidak ada bagusnya. Atau memang semua pria itu secerewet Green? Lihat cara dia berbicara. Seperti ikan yang keluar dari air dan mati. Dosa tidak kalau Allera menyumpal mulut pria ini dengan bola anak-anak itu?


Aller memilin jari-jemarinya. Masih ditemani dengan ocehan Green yang tiada henti sampai ia menguap lebar dan menutup dengan kedua tangannya.


"Nih buat lo."


Allera sedikit terheran saat melihat Green memberi sekotak susu padanya. Apa ia bermaksud untuk menyogoknya agar bisa mengobrol bebas dengan Green?


"Maksud lo apa?"


"Gak ada maksud apa-apa, tenang saja. Tuh minuman gak gue kasih racun. Mana mungkin gue racunin cewek yang sudah jelas pernah gue celakai. Itu artinya gue benar-benar orang gila. Lagian nih ya ...."


Ah, mulai lagi. Green berbicara panjang lebar sejak tadi. Allera tidak menerima susu kotak itu.


"Lo serius gak mau ini? Nih ya, dengar. Di luar sana. Ada banyak cewek yang mau sama gue. Lo 'kan lihat sendiri gimana gue pas di kejar-kejar cewek." Green menjeda kembali membuat Allera sedikit membaca gimik muka yang Green tunjukkan padanya. Seperti ekspresi kesal dan ingin memakan sesuatu di hadapannya.


"Mereka ngantri foto bareng sama gue, terus mau jadi cewek gue. Lo yakin gak mau susu kotak dari cowok terkenal sejagad maya ini? Rugi loh. Gue bisa saja dapet endorse sana-sini."


Merasa cukup mendengar ocehan Green sedari tadi. Akhirnya Allera menyambar minuman itu, daripada Green terus-menerus menganggu ketenangan Allera yang sudah ia susun sedemikian rupa.


"Nah, gitu dong."


Allera memutar bola matanya malas. Benar-benar sangat menganggu. Lantas Allera berdiri sambil membersihkan bokongnya, merasakan sedikit sakit juga karena sudah terlalu lama duduk.


"Eh? Mau kemana?"


"Menurut lo?"


"Mau gue anter?"


"Gak usah!"


Dia baru melangkah sekali sebelum tangan kanannya ditarik oleh Green. Seketika itu juga Allera langsung menjerit kesakitan sambil memaki Green.


"Aiishhh, lo bego atau gimana sih?" bentak Allera.


Rasa sakit yang semula sudah tidak terlalu Allera rasakan kembali menggerayangi tangannya. Ia merasa lebih panas saat Green juga menekan sambil menarik untuk menghentikan aksi Allera yang ingin pergi dari taman.


"S-sori Lera, gue gak sengaja. Gue tadi niatnya mau narik baju lo tapi malah kena tangan kanan lo, Sori. Gue benar-benar minta maaf, Lera. Gue gak sengaja."


Masa bodoh dengan omong kosong Green yang daritadi ia lontarkan. Allera benar-benar tidak peduli. Lantas Allera melengos pergi sebelum matanya yang terlebih dahulu menyorot murka ke Green. Memberikan ancaman agar Green tidak lagi dekat-dekat dengan Allera melalui matanya. Ia berharap semoga ancaman itu langsung mengenai relung hatinya dan mengurungkan niat yang selalu ingin dekat dengan Allera. Toh, perempuan di luar sana yang cantik seperti Allera banyak, bukan? Untuk apa Green terus mendekati Allera hanya karena ingin menebus kesalahannya tempo hari.


Tanpa melihat ke belakang lagi. Allera pergi dengan cepat. Mengelus tangan yang masih berdenyut tidak karuan sambil menghela napas berulang kali.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Waaaaa, aksi pedekate Green gagal.


Salah sendiri sih pake acara megang tangan si Allera. Jadi deh kena amukan dia.


Whahaha mampus Green mampus 🤣🤣🤣 astaga! Jahat banget ya jadi aku? Yah, pokoknya semoga kalian suka part ini. Jangan lupa comment+vote nya


Papai~~