FIDUCIA

FIDUCIA
26



Mengalahkan ribuan orang itu merupakan hal yang paling sulit. Menyelaraskan jadwal audisi dengan belajar agar bisa memasuki blind audition membuat dia tidak sempat beristirahat. Hal paling beruntung jika lolos di audisi tersebut, belum lagi bertemu dengan musisi terkenal internasional semakin menambah rasa gugupnya. Awalnya Green tidak merencanakan untuk mengikuti audisi, hanya dorongan dari beberapa temannya terutama perempuan yang sedang dekat dengan Green. Mereka selalu bersama saat belajar terutama latihan. Perempuan itulah yang sering membuat Green semakin mantap untuk melangkah lebih lagi. Namun pastinya ada beberapa teman juga yang ikut mendukung.


Bagian paling menegangkan, dimana dia harus melewati paling akhir. Semua peserta sangatlah sulit. Ditambah pernyataan yang bikin Green semakin tidak tenang, sampai sempat gagal di perempat final. Itu merupakan hal yang paling  Green sesali, jadi ia tidak ingin terus-menerus memikirkan hal di luar latihannya dalam audisi.


ㅡManhattan


Jarak dari asrama ke Manhattan tidaklah dekat. Kalau bukan Kyle dan teman yang lain mengajaknya kesana mungkin Green akan berpikir dua kali untuk kesana. Niatnya memang hanya berfoto ria, tapi lama kelamaan mereka terlalu asik dengan suasana Manhattan yang sering muncul di film-film hollywood. Gedung pencakar langit, berjubal manusia yang berlalu-lalang. Belum lagi kendaraan yang tingkat kemacetannya hampir sama dengan Jakarta. Tapi setidaknya, tempat ini lebih baik daripada Jakarta. Bukannya Green tidak suka dengan tempat tersebut, hanya saja Jakarta kotor dengan sampah di sisi jalan. Manhattan bersih, walau kendaraan yang belum bisa ditolerir.


Dengan ditemani gemerlap lampu kota, Green menikmati siluet senja. Membidik bagian gedung tinggi tersebut melewati ekor matanya yang menyipit melalui teropong kecil berbahan besi. Sambil memutar dari kanan sampai ke kiri.


"Bagaimana dengan latihanmu?" perempuan berambut pendek dengan penampilan sangat girly berdiri di samping Green, logat inggrisnya yang tidak lepas saat berbicara.


"Begitulah."


"Kudengar, tahun ini ada audisi menyanyi. Apa kau tidak berminat untuk mengikutinya?"


Green melepaskan alat tersebut. "Entahlah."


"Hei! Haysel ayolah, suaramu sangat bagus. Sayang sekali jika kau tidak ikut!" seru seorang pria dengan sangat antusias.


Green merasakan angin yang menyapa di punggungnya. "Kita lihat saja nanti, aku harus mengatur jadwalku agar tidak bentrok."


"Nah. Begitu baru temanku!"


Perempuan bernama Kyle tersebut tersenyum. Menular ke Green hingga ia pun ikut memasangkan wajah ramahnya. Mereka terlalu lama berada di Top of the rock atau bisa disebut juga dengan Rockefeller Building. Ia dapat menikmati pemandangan New York dengan ketinggian yang bisa menjangkau seluruh tempat tersebut.


Setelah Green memutuskan untuk segera pulang. Kyle meminta waktu untuk berdua. Sangat jarang sekali perempuan itu mengajaknya mengobrol serius. Biasanya selalu ditemani oleh yang lainnya. Kyle terlihat bingung.


"Ada apa, Kyle?" akhirnya Green bersuara setelah keheningan menyelimuti mereka.


"Aku ingin mengatakan sesuatu ...."


"Ya?"


"Aku ... sebenarnya, sejak pertama kamu masuk ke Universitas ini. Aku sudah,"


"Sudah?"


"Menyukaimu."


"Oh menyukaiku ..." Green menjeda. "Apa?"


"Ya, aku menyukaimu." Ia menyakiti dirinya sendiri sambil memukul kepalanya. "Tidak perlu terburu-buru, anggap saja angin lalu. Tolong lupakan apa yang sudah ku katakan."


"He-hei, jangan sakiti dirimu." Green mengambil tangan Kyle, membuat pipinya semerah kepiting rebus.


"Tenanglah, kita pulang saja dulu. Sepertinya kau mabuk."


Ya, mereka menghabiskan sisa malam di bar dan kedua teman Green meninggalkan dia bersama dengan Kyle. Gadis itu banyak minum sehingga pipinya saat ini lebih merah, dan mungkin karena dia juga menyatakan perasaannya. Green sendiri tidak bisa minum, ia hanya berani menemani temannya yang sudah mabuk. Walau sebenarnya dia sempat dipaksa habis-habisan.


Green membopong tubuh mungil gadis tersebut sampai ke apartemennya, dan karena terlalu sering berkunjung. Ia pun tahu passwordnya. Cukup berat juga, selanjutnya Green menyelimuti tubuh Kyle lantas bergegas pulang.


***


Memiliki coach yang super baik dan salah satu orang yang paling terkenal seluruh dunia membuat Green bangga akan dirinya sendiri. Green berada di tempat latihan dengan teman barunya, atau bisa disebut lawan dalam memenangkan ajang menyanyi. Mereka sama-sama dilatih untuk mengikuti pertarungan sengit di babak terakhir. Green bersama dengan Ella dan Ethan. Salah satu peserta kembar, pada pukul sembilan pagi Green sudah pergi ke tempat latihan. Menunggu di stasiun bawah tanah sambil menikmati penampilan para penyanyi jalanan yang sering berada disana. Ia mengeluarkan selembaran uang lalu melempar ke arah case. Tempat untuk menyimpan gitar yang sudah dipenuhi oleh lembaran uang serta koin-koin juga.


"Hai, Haysel."


Green memutar tubuhnya dan melihat Ella dan Ethan berjalan menghampiri. "Oh hai!"


"Apa kau sudah lama menunggu kami?"


"Tidak, tidak. Justru aku baru datang. Mau pergi sekarang?"


Mereka mengangguk dan berjalan beriringan menuju tempat latihan. Letaknya tak jauh dari stasiun, hanya berjalan sedikit dan sampai di studio. Setelah Green melewati pemberhentian lebih dari sepuluh kali. Ella, Ethan, dan Green keluar dari stasiun di College St at Patton Ave. Berjalan sekita lima menit dibarengi dengan obrolan ringan tentang segala hal yang berbau dengan musik. Hari ini pun terasa sangat sesak karena manusia yang sibuk dengan aktivitasnya. Begitu juga dengan Green.


Bangunan yang minimalis menggunakan batu bata sebagai material ruangan tersebut, menciptakan karya arsitektur tropis yang mengandung kearifan lokal untuk menciptakan kenyamanan dan keindahan yang bersahaja.


Green melewati pintu yang sangat tinggi dan lebar. Ada banyak orang yang membawa berbagai alat instrumen dan tak jarang pula ia mendengar suara nyanyian yang sangat bagus. Green merasa sangat kecil, ia tidak begitu ahli dalam bernyanyi lagipula suaranya tidak begitu bagus. Pria itu tidak ingin terlalu membanggakan diri, sebab apa yang sudah dia miliki tentu masih belum cukup. Pengalaman pun minim sekali.


Terdapat dua orang, satu perempuan yang sedang duduk di kursi tinggi bersama dengan seorang laki-laki tersenyum sambil terduduk di depan piano.


"Hai! Haysel, Ella, Ethan."


Perempuan berambut pirang bahu memeluk satu-persatu dimulai dari Ethan dan seterusnya. Dia bernama Kelly, memberikan selembaran kertas yang berisi masing-masing bagian dalam bernyanyi termasuk suara dua dan ketiga. Mereka mengobrol ringan sedikit sebelum akhirnya memulai pada bait pertama.


"Coba lakukan seperti ini," Kelly berujar mencontohkan nada yang terlihat lebih power full dan kembali melemparkan pada Ella yang jenis suaranya hampir sama dengan Kelly.


"Terimakasih."


Setelah latihan, mereka tak pulang melainkan pergi ke salah satu tempat tinggal Ella dan Ethan. Si kembar itu memang tinggal di dekat studio. Seharusnya mereka langsung beristirahat. Tetapi Ella menyarankan untuk berlatih kembali.


"Kita latihan lagi, supaya harmonisasi dalam lagunya bisa serasi."


Keseharian Green memang dipenuh dengan latihan. Jadwal belajarnya memang sedang senggang, dan lagi Ibu selalu mendukung apa yang dia lakukan terutama kalau menyangkut tentang musik. Sampai hari itu tiba, battle round dimana ketiganya bernyanyi secara bersamaan sampai waktunya tiba.


Suasana riuh dan ketegangan dalam dada Green kembali muncul. Menyanyikan lagu say something, lagu terkenal.


***


Green merasakan pertemanan yang sangat solid walaupun dalam kenyataannya mereka bertarung sengit untuk bertahan di arena sesungguhnya. Pria tersebut sudah mengambil hati para penonton, setelah melewati beberapa ronde. Akhirnya ia berada di babak final. Memang terdengar sangat tidak terasa bahwa Green mencapai tahap terakhir dengan orang-orang yang sangat berbakat bersamanya.


"Haysel. Selamat! Wah aku tidak menyangka kau bisa sampai di babak ini," Ella berujar, dia salah satu kembaran Ethan yang terkena knockout. Green sangat menyayangkan hal itu sebab mereka si kembar yang sangat memiliki talenta luar biasa. Ella memeluk erat pria tersebut.


"Terima kasih, semoga kita bisa berduet seperti waktu itu."


"Fokuslah terlebih dahulu pada pertarunganmu! Baru memikirkan ke depannya bersama kami. Senang bisa mengenalmu."


"Hei hei, Ethan. Mengapa kau mengatakan hal itu seperti ingin meninggalkan dunia? Kita akan bertemu lagi, tenang saja!"


"Sukses, Haysel. Di babak final kali ini kau harus menang! Ingat! Harus!"


"Baiklah, doakan aku."


***


Kyle meminta maaf lewat telepon, namun masih meninta jawaban tentang penyataan cintanya. Jelas Green tidak bisa menjawab apa yang disampaikan Kyle. Gadis itu memang baik dan selalu membantu Green jika sedang kesulitan. Bahkan dia yang paling berjasa dalam audisi menyanyi itu. Dia yang selalu berdiri di belakang Green, sampai dia mampu mengalahkan ribuan manusia ke babak final. Ia pun masih disibukkan oleh babak terakhir. Tidak berharap lebih, karena Green hanya ingin menambah pengalaman dalam bernyanyi.


Ibu jelas sangat bangga apa yang sudah dia capai. Padahal Ibu hanya ingin anaknya belajar sejauh mungkin tidak pernah meminta untuk mengikuti ajang tersebut. Setiap malam Ibu selalu membuat panggilan video, serta Jeje yang semakin bangga dengannya.


"Kakak! Selamat, aku gak nyangka Kakak aku yang ganteng ini bakalan terkenal."


Perbedaan waktu membuat Green menguap. "Haha makasih ya, Dek."


"Kamu sudah ngantuk? Yasudah, Ibu akhiri panggilannya. Istirahat yang cukup dan jangan banyak pikiran."


Nyatanya tidak bisa. Setelah menutup telepon, Green justru melamun. Bayangan seorang wanita yang sudah dekat dengannya tak pernah hilang dari pikiran Green. Dia selalu merindukan tawa perempuan itu, apalagi tentang janji yang pernah mereka buat.


Pagi-pagi sekali, Green sudah berniat untuk pergi ke toko bunga. Seperti yang diketahui, itu hanyalah modusnya untuk aemakun dekat dengan Allera. Sakin tidak sabarnya, Green pernah tak sengaja menjatuhkan pot bunga mawar Allera, dan untungnya ada Bunda di antara mereka. Jadi ia tidak mendapat amukan dari gadis tersebut, yang bisa Green lakukan hanyalah tertawa seperti tidak memiliki dosa pada Allera.


"Sudahlah, Lera. Gak apa-apa, bisa diganti dengan yang lain."


Sorot marah Allera tak lepas dari Green. "Ikut gue!"


Allera menuntun Green, ia membawanya ke depan toko yang sedikit agak jauh.


"Lo tahu gak sih harga pot sama bunga mawar itu? Bunda bisa rugi kalau lo tiap hari pecahin pot terus."


"Maaf deh, gue 'kan gak sengaja."


"Entah kenapa gue jadi malas ketemu sama lo lagi."


"Jangan gitu dong, gue janji deh gak bakalan mecahin pot lagi. Sebagai imbalannya, setiap gue pecahin pot. Nanti gue bakal nyanyiin satu lagu buat lo. Selama seharian penuh."


"Gak butuh!"


"Ada banyak cewek di kota ini yang suka sama gue dan minta buat nyanyiin mereka sampai mau buat suara gue jadi pengantar tidur mereka. Dan pasti lo bakal nyesal kalau gak tertarik soal gue."


"Tiga hal yang perlu lo tahu. Pertama, gue gak peduli dengan semua yang lo omongin tentang fans lo. Kedua, gue cuma mau lo ganti pot itu. Dan yang terakhir, berhenti banggain diri lo sendiri karena itu bikin gue muak."


"Aw! Untuk yang terakhir sangat menusuk." Green memegang dadanya. "Oke, gimana kalau gini saja. Sebagai gantinya gue bakal ajak lo duet bareng gue di band. Gimana?"


"Green."


"Oke setuju."


Rasanya ia seperti melayang tinggi hingga membentur atap saking senangnya. Ia tidak tahu kenapa sering sekali memutuskan segalanya sepihak. Tapi itu cukup berguna juga karena Allera hanya diam dan setuju. Bila Green bisa menjadi juara di ajang kali ini, ia akan memastikan untuk benar-benar mewujudkan janji tersebut.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Kira-kira gitu deh jadinya, semoga syuka part ini yaaaaa~


Papai~~