FIDUCIA

FIDUCIA
28



Atmosfer yang berada di studio salah satu stasiun televisi mendadak kaku dan dingin. Senyap, ia merasakan ketegangan melebihi dari tegangan listrik. Berbeda saat pertama audisi, untuk kali ini para peserta memang terlihat sangat gugup. Allera mencoba mencairkan suasana dengan memikirkan hal-hal menyenangkan. Misalnya seperti kemarin Allera baru saja menumpahkan sikat gigi Aldi ke dalam kloset. Atau hal seperti Allera yang tidak sengaja merobek celana Aldi saat mereka sedang bercanda. Mengingat hal-hal begitu membuat Allera semakin senang mengerjai kakaknya sendiri. Ia memang memiliki bakat menjahili orang, tapi tak pernah ia tunjukkan ke orang lain. Hanya Bunda dan Aldi yang tahu.


Sebut saja Allera memang tidak bisa mencairkan suasana. Buktinya, bukannya hati Allera tenang. Dia malah semakin khawatir saat urutan Allera sudah mendekati giliran. Orang berpakaian kemeja hitam dengan sneakers warna navy membuat Allera teringat akan sesuatu. Pria tersebut memegang mic yang diberikan oleh panitia. Ia tampil ditemani oleh gitar yang melingkar di bahunya. Terlihat sangat gugup sampai perasaan tersebut menular ke Allera.


Mengingat tentang audisi. Sebelumnya Allera sudah memberikan lagu apa yang harus Allera nyanyikan kepada panitia dan diberikan pada pemain orchestra. Bunda setuju dengan apa yang akan dibawakan oleh Allera nanti. Sekitar dua hari Allera latihan ditambah hari itu adalah weekend jadi Allera dapat meminta saran ke Bu Lidya tentang lagunya. Ia semakin mantap dengan persiapannya untuk memasuki babak selanjutnya.


Bunda dan Aldi menunggu di berbeda tempat, yang nantinya saat Allera menunjukkan suara pada seluruh juri. Mereka akan tersorot di layar kaca, seolah memberikan energi positif untuk Allera. Angka mulai bertambah, sebentar lagi giliran Allera. Ia terus berdoa pada Tuhan, walau saat pertama Allera sangat malas dengan sistem audisinya. Namun Allera masih berharap agar masih diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat yang ia punya.


Ada beberapa dari mereka yang berkenalan. Mungkin untuk mengurangi perasaan tidak nyaman juga mereka saling berbaur, termasuk orang yang bersebelahan dengan Allera. Dia cantik, dengan penampilan ala lelaki. Perempuan tersebut terlihat sangat tangguh dan percaya diri. Tidak seperti Allera.


"Lo tahu," dia memulai pembicaraan bikin Allera menoleh ke arahnya. "Cowok yang barusan masuk itu salah satu selebgram. Gue sering dengar suara dia kalau lagi cover lagu. Gue yakin, tuh anak pasti bakalan lolos."


Meskipun tidak paham arah pembicaraan yang perempuan itu ucapkan. Allera mencoba mendengar sampai kalimat terakhirnya selesai.


"Karakter suara dia berbeda dari yang lain, makanya gue suka dapat feelnya setiap dia nyanyi." Matanya berbinar menatap lurus orang lain yang bergilir masuk ke dalam. "Oh iya, kenalin gue Sezha."


Allera menerima jabatan tangan orang yang bernama Sezha tersebut. "Allera."


"Lo darimana?"


"Ah, gue dari Tebet."


"Dekat juga, ya. Gue dari bogor."


Sezha menyahut kembali, "Gue sengaja kesini supaya bakat yang gue punya gak sia-sia, dan cari pengalaman juga."


Padahal Allera baru saja hendak bertanya, tapi sudah dia jawab duluan. Jadi dia hanya bisa diam dan tersenyum ramah padanya.


"Ah! Kayaknya giliran gue bentar lagi. Gue duluan, ya!"


"A-ah iya. Semangat! Semoga lolos."


Sezha menoleh. "Lo juga!"


Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Intinya Allera mencoba untuk meminimalisir jantungnya yang terus terpompa dengan kecepatan tidak terkontrol. Caranya cukup menarik napas dalam-dalam kemudian lepaskan.


***


Sang drummer yang Allera ketahui cukup terkenal tersebut memulai aba-aba untuk Allera. Gadis tersebut tak tanggung-tanggung untuk mencari semua informasi termasuk para pemain orchestranya. Dengan tangan terangkat, pria itu mengadukan stik drum hingga berbunyi dan musik mulai mengalun.


Mungkin butuh kursus merangkai kata


Terdengar riuh penonton bertepuk tangan, ada pula yang menjerit. Allera memegang stand-mic tersenyum dan merentangkan tangan mengajak para penonton untuk mengikuti lirik selanjutnya.


Untuk bicara, dan aku benci harus jujur padamu


Belum Allera menyelesaikan tiga baris selanjutnya. Terdengar bunyi tombol yang ditekan dengan lantang bersuara melebihi suara instrumen itu sendiri, sepersekian detik kursi berputar. Menampilkan dua sosok pria yang langsung tersenyum sambil bertepuk tangan menikmati nyanyian Allera.


Tentang semua ini


Jam dinding pun tertawa karena ku hanya diam dan membisu


Ingin kumaki diriku sendiri yang tak berkutik di depanmu


Ada yang lain


Satu hal lagi yang membuat Allera tidak bisa meluapkan rasa senangnya, padahal perasaan tersebut masih belum selesai saat Kido dan Vino salah satu penyanyi terkenal memencet tombol. Disusul oleh Mami Vivi yang ikut berputar dengan gerakan sangat terkejut dan mulai mengikuti lirik lagu. Terdapat tatapan sengit dari kedua juri saat Mami Vivi menekan tombol tersebut. Bersorak kesal, jika hanya Kido dan Vino yang memilih. Bisa dipastikan Allera akan berada di tim mereka.


Di senyummu yang membuat lidahku


Gugup tak bergerak


Ada pelangi di bola matamu


Seakan memaksa dan terus memaksa


Ada pelangi di bola matamu


Yang memaksa diri tuk bilang


Aku sayang padamu ... Yeah ... Aku sayang padamu ... Oh oh oh ... aku sayang padamu


Sorak-sorai para juri mengatakan hal yang sama, "Wuu ... haha, aku sayang padamu!" Kedua juri yang menekan tombol berdiri mengapresiasi penampilan Allera. Dia sendiri sangat malu dan tidak percaya, salah satu juri berkata dan menanyakan namanya.


"Namanya siapa, namanya?" tanya salah satu juri yang tidak memilih Allera bernama Monica.


"Allera," ia berujar dengan nada sedikit malu.


Kido dan Vino kembali bertepuk tangan. Disusul oleh Mami Vivi yang bertanya, "Umurnya berapa, sayang?"


"Coba tebak."


"Delapanbelas? Sembilanbelas? Lah kayaknya."


"Duapuluh?"


"Duapuluh satu? Dua-dua?"


Allera terkekeh dan membenarkan jawaban terakhir dari juri Monica, "Duapuluh dua."


"Aw! Duapuluh dua."


Keadaan sangat riuh kembali saat keempat juri mulai tertawa mendengar penuturan Allera yang terkesan seperti malu-malu. Padahal Allera sendiri tidak begitu percaya diri hingga ia bersikap seperti ini. Vokalis band Pasta mulai mengikuti candaan kedua juri lainnya yang sedang berebut Allera dengan bersuit.


"Disini ada dua anak muda dan satu emak, kamu bisa pilih salah satu dari mereka." Eslan yang menjadi vokalis band tersebut mengeluarkan suaranya dan sedikit menambah bumbu candaan dalam perkataannya.


Keadaan semakin ramai.


"Oke! Allera, sayangku. Kamu manis kenyes-kenyes gimana gitu."


"Ah! Makasih."


"Sangat lucu waktu nyanyi dan pas saya muter. Gesture kamu, mood kamu, memang bawaanya begitu. Dan saya berharap kamu memilih tim saya. Karena kamu akan memberi warna dalam tim saya."


Allera bungkam seketika saat pujian bertubi-tubi dilontarkan ke arahnya tanpa henti. Bahkan senyumnya tak bisa ia hilangkan begitu saja. Sangat menyenangkan.


"Oke, Allera!" panggil Kido. "Sebelum aku balikin kursi ini. Aku ngerasa gak cuma nyanyi saja yang aku tangkep, tapi kamu juga seorang story teller gitu. Ada sisi musikal dalam diri kamu dan aku gak tahu apakah kamu sering dengar musikal-musikal atau engga. Dari jenis suara kamu yang unik dan gesturenya juga bikin suara kamu jadi simple, dan gak semua penyanyi bisa menyampaikan sebuah lagu. Kayak teknik, teknik, teknik dan teknik. Kayak kasih ornamen itu, kamu gak perlu itu dan masuk ke dalam hati aku dan Vino juga."


"Apalagi ditambah suara kamu unik dan kamu tahu suara kamu itu unik jadi kamu bisa memainkan suara unik kamu dengan benar dan bisa mengantarkan suara kamu ke hati kita berdua. Aku penasaran, biasanya orang yang begitu pasti sering main alat musik. Kamu main musik juga gak?" imbuh Kido


"Main piano sama gitar juga."


"Oh iya," jawab mereka kompak.


"Oke Allera, Kido-Vino dan Mami Vivi sudah mengutarakan semuanya. Jadi kamu bisa pilih hati-hati sesuai isi hati kamu," ucap Monica.


Ada satu yang menjadi panutan Allera selama dia mencari seluk-beluk sang juri. Tentu saja itu pun sudah ia pikirkan matang-matang sekali. Eslan menyarankan untuk mencopot mic pada pegangannya dan berjalann membawa benda tersebut untuk memilih siapa yang akan menjadi coach Allera nanti. Ia berjalan perlahan, tangannya sedikit berkeringat sebab gugup yang terus ia alami. Belum lagi teriakan penonton yang seakan menginginkan Allera untuk bernyanyi kembali. Mereka semua terlihat gembira saat Allera kebingungan memilih para juri.


Allera dipeluk oleh perempuan setengah baya. "Kamu gak akan menyesal sudah milih saya."


***


Semenjak hari itu. Allera merasakan bagaimana pengalaman pertamanya dalam bernyanyi. Tak pernah menyangka pula sempat menjadi rebutan para juri. Walau tidak semuanya tapi Allera cukup senang dan akan terus berlatih menjadi penyanyi yang lebih bagus lagi.


Bunda dan Aldi jelas menunggu Allera di pintu keluar panggung, dengan host yang mendampingi mereka. Keduanya langsung berhambur, merekatkan tubuh mereka untuk merengkuh Allera. Bahkan Bunda menangis haru setelah melihat anaknya lolos di babak pertama tersebut.


"Lera, hari ini kamu mau dibuatkan kue apa, nak?" tanya Bunda pagi-pagi sekali. Kejadian kemarin seperti mimpi. Allera pun merasa sangat tidak percaya.


"Blackberry cake, Bunda," teriak Allera agar terdengar sampai dapur.


Setelah menunggu cukup lama, Bunda datang membawakan kue berbentuk bulat sedang dengan krim yang menyelimuti atasnya. Tak lupa buah cherry sebagai penambah hiasan kue tersebut.


"Bunda, apa gak terlalu pagi untuk makan kue?"


"Sarapan yang manis apalagi sambil lihat Bunda salah satu hal yang paling sehat, Lera."


"Ih, sejak kapan Bundaku narsis begini?"


"Sejak kemarin. Ah! Bunda masih gak percaya kamu bisa lolos."


"Masih belum, Bun. Hari ini Allera ada latihan bareng Mimi Vivi jam sepuluh nanti. Kalau makan kue gak bakal bikin suara Allera serak, kan?".


Bunda memukul pundak Allera. "Huss ... kamu kok kalau ngomong sembarangan begitu? Pokoknya gak apa-apa. Ini sebagai pesat buat kamu karena sudah lolos dan mau menuruti keinginan Bunda.


"Buat Aldi gak ada?"


Kisah Ibu dan anak terganggu oleh kehadiran Aldi yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang sangat rapi juga. Ia menggantungkan kemeja di lengan kanan, di barengi tangan satunya yang menjinjing tas hitam. Aroma sabun mandi menguar di indera penciuman Allera saat Aldi duduk di kursi kecil.


"Abang gak usah!"


"Tuh 'kan kamu mah suka gitu kalau sama Abang. Pelit dasar!"


"Biarin, aku kasih Abang segini saja." Allera menggunakan jari telunjuk dan jempol yang hampir menyatu. Menampilkan seberapa banyak jatah kue untuk Aldi.


"Abang doain perut kamu sakit kalau gak bagi Abang."


Allera memanyunkan bibirnya. "Ishh ... Bunda, masa Abang doanya jelek banget sih?" Allera mengadu untuk mendapat pembelaan yang justru tidak sesuai harapannya.


"Sudahlah kasih saja buat Abangmu, atau sisain buat Abang." Bunda menoleh ke arah Aldi. "Kamu cepat sana berangkat, nanti kesiangan."


Aldi menurut, ia bergegas mengikat sepatu dan memasangkan jas yang selaras dengan tas dan sepatunya. Saat berdiri, Aldi menjulurkan lidahnya sambil menarik satu matanya ke arah bawah dengan telunjuk secara bersamaan.


"Ih! Abang!"


Suasana pagi dipenuhi tingkah mereka dengan sangat sengit. Bunda menggeleng, dan akhir-akhir ini. Hal yang seperti tadi sudah bisa Bunda sebutkan sebagai makanan sehari-hari. Jadi tak heran kalau kedua bersaudara tersebut sering berdebat atau saling memperebutkan sesuatu. Bunda hanya berharap, biarpun sikap mereka satu sama lain begitu. Semoga Allera dan Aldi bisa terus berdamai, dan menjadi orang yang lebih sukses lagi.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ