
Green sedang santai menikmati popcorn caramel yang dibuat oleh Jeje. Mereka berdua saling berdempet terutama adiknya yang memeluk tangan Green, dan terkadang menyembunyikan kepalanya.
"Kak, ganti film aja yuk."
"Loh kenapa? Lagi seru-serunya lho. Kamu takut, ya?"
Jeje menegakkan tubuh, dengan muka yang dikembungkan. "Apa sih! Jeje gak takut tuh." Jeje membuang muka.
"Masa? Terus tadi kenapa sembunyi-sembunyi di ketiak Kakak?"
"Oh itu ... bukannya Jeje takut, ketiak Kakak 'kan wangi terus Jeje suka wangi Kakak yang khas itu, hehe."
Green mengendus tubuhnya. "Kakak belum mandi seharian ini, masa sih wangi?"
"Ih? Kakak kok jorok banget sih?"
"Tadi bilangnya masih wangi." Green tergelak melihat tingkah Jeje.
"Tapi ya Kak. Kenapa sih setan itu kebanyakannya mata mereka kaya panda gitu? Apa mereka sering begadang?"
"Tuntutan kerja, Je. Penderitaan mereka masih berlanjut dengan kerja rodi di dimensi lain."
"Hah? Masa sih? Apa Jeje harus berbuat baik biar gak kayak mereka?"
Green menahan tawa, terkadang Jeje memang sepolos itu. "Haha, makanya kamu jangan ngelawan sama Kakak dan Ibu. Hidup yang benar."
"Kayaknya Kakak bohong deh." Jeje menyelidik raut wajah Green.
"Memangnya kamu mau gitu, nanti di dunia menderita terus habis mati menderita juga?"
"Ya, enggak lah!"
"Makanya, sekarang ambilin Kakak minuman tuh!"
Jeje mendelik. "Tuh 'kan Kakak bohong!"
Walau begitu Jeje tetap mengambilkan Green minuman tersebut, dan di akhiri gelak Green yang sangat kencang.
"Issshhh! Kakak, berisik tahu! Aku lagi fokus nih."
Mereka kembali menonton film, yang menampilkan sosok bertudung hitam dengan lingkar hitam yang menghiasi matanya dengan sorot benci dan warna nyalang berwarna kuning membuatnya semakin terlihat menyeramkan. Sosok tersebut beradu dengan tokoh lelaki sedang membaca salah satu kitab suci yang dipercaya bisa mengusir hantu tersebut.
"Kak, aku heran deh. Kenapa gak ditonjok saja gitu itu setannya? Kenapa harus baca-bacaan gitu?"
"Kamu mau tahu?" Jeje mengangguk.
"Soalnya gak bakal seru kalau langsung cabut gitu saja, nanti filmnya langsung tamat deh."
"Aku serius loh, Kak!"
"Kakak juga serius," Green berujar dan langsung memenuhi mulutnya dengan popcorn.
Ruangan sengaja di gelapkan, biar makin terasa horrornya. Green sendiri yang menyarankan. Bagian paling menegangkan dimulai saat sang tokoh melawan kematian dengan berusaha memegang bagian ujung horden, pria itu terlihat panik saat satu-persatu penyangga tersebut mulai terputus. Keadaan semakin menegang saat hujan, pria tersebut melihat sisa pohon yang tersambar petir menyisakan bentuk runcing. Jika dia jatuh, berarti hidup dia akan tamat.
Jeje ikutan menyomot makanan yang dipegang Green. "Kenapa gak nyerah saja sih?" sewot Jeje.
"Hidup itu gak boleh menyerah Jeje, bahkan diganggu sama hantu juga bukan masalah yang besar."
"Maksud aku, masalah pasti bakal beres kalau dia jatuhin diri sendiri."
Green tidak menoleh. Lalu berujar, "Sekarang gini deh, daripada menyerah dan meninggalkan masalah saat jalan keluar. Kenapa harus menyerah? Tuh coba lihat." Green menunjuk ke arah televisi.
"Cewek itu jadi salah satu jalan keluarnya, makanya dia gak mau gitu aja jatuhin diri ke pohon lancip itu."
"Hm ... iya juga sih." Jeje kembali khusyu melihat film tersebut. "Terus kalau Kakak sendiri gimana?"
"Kenapa sama Kakak?"
"Kakak 'kan mau ke luar negeri, otomatis hubungan Kakak sama cewek bernama Allera itu jadi hilang. Apa Kakak gak nyari jalan keluar supaya Kakak bisa terus deket sama cewek itu?"
Green merenung, rasanya tidak ada jalan keluar buat Green untuk bisa tinggal disini. "Kalau ada pun, pasti bakalan susah. Kamu tahu 'kan sifat Ibu kayak gimana. Pasti Ibu bakal lakuin apa saja biar Kakak ikutun kemauan dia, walau Kakak menolak."
"Harusnya ada jalan keluar, Kak." Jeje menatap wajah Green yang masih fokus melihat ke depan layar. "Lihat sekarang Kakak. Kakak lebih berbeda dari yang pernah aku kenal selama ini, biasanya Kakak selalu diam terus. Sekarang aku bisa lihat Kakak lebih ceria."
"Andai semudah itu." Walau Green sedikit tertegun, namun ia tetap tidak bisa mengindahkan perkataan Jeje.
***
Di tengah pantulan kaca, Allera melihat matanya yang sembab. Ah! Sepertinya Allera terlalu banyak menangis. Ia menggunakan kompresan es batu yang ia balut dengan kain tebal untuk menghilangkan sembab tersebut. Untung saja toko hari ini tidak terlalu ramai, jadi ia tak malu untuk menunjukan wajahnya yang buruk ini.
Setelah cukup ia kembali ke meja dan membuka catatan yang selalu ia tulis. Ada banyak goresan tinta tentang perasaannya. Semakin teringat saat kejadian semalam serta mimpi tentang Ayahnya, dan jujur saja. Ini kali pertama Allera bercerita tentang keadaan dia selama ini. Bayangan tentang kekejaman Ayah selalu terbayang dalam pikiran Allera, yang menyebabkan ia tidak bisa terus dekat-dekat dengan lelaki. Semua laki-laki memiliki wajah yang sama, selalu menampilkan wajah Ayah yang menyeramkan. Ia tak bisa menatap mereka, Allera tidak bisa apa-apa.
"Nanti kesurupan loh."
Allera merasakan dingin yang merambat sampai ke dahinya. Ia meluruskan kepala dan langsung menampilkan wajah Green yang berseri.
Allera mengerjap beberapa kali. "Nah, kayak gini nih contohnya, bengong sampai mangap begitu. Awas iler lo entar jatuh ke kertas tuh."
Dengan cepat ia merapatkan mulut, seraya menepis tangan pria tersebut dari dahinya.
"Nih,"
"Kenapa lo selalu nyogok gue?"
"Siapa yang nyogok elah, gue 'kan cuma ngasih. Lagian gue gak terlalu suka cokelat. Jeje ... dia selalu masukin minuman itu ke tas gue, dan gue gak tahu apa maksud dia begitu."
Allera ber-oh ria, lantas beralih tempat ke etalase bunga yang berada di samping meja. Tapi Green menahan langkahnya.
"Apa?"
"Lo habis nangis ya?"
"Nangis? Ngapain gue nangis." Allera melengos, mengambil pot bunga camelia. Memindahkannya dekat jendela.
"Gak usah bohong, gue tahu lo habis nangis. Habis diputusin cowok?"
"Mana ada."
"Syukurlah."
"Apa maksud lo?"
Green menggeleng, memetik bunga anggrek. "Lera sini deh."
"Mau apa?"
"Sudah sini saja. Berdiri depan gue."
Tanpa tahu apa maksud Green menyuruhnya, Allera menurut dan berdiri tepat di depan Green. Pria itu tersenyum, lantas tangan kanannya bergerak menyelipkan rambut Allera ke belakang telinga. Tapi langsung Allera tepis.
"Ngapain lo?"
Tapi Green terus melakukan hal itu sampai tangan kiri yang sedang memegang sesuatu ia alihkan dan menaruh benda tersebut sampai terselip di antara telinga Allera, hingga ia terlihat cantik.
"Cantik."
"Apa?"
Green berdeham. "Oke, sekarang kita latihan. Ah! Gue lupa lagi bawa gitarnya, sebentar. Gue ambil gitar dulu ke mobil."
Tak lama ia mengambil gitar akhirnya Green kembali, dengan wajah penuh peluh. Wajar saja, ia berlari. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Green memberikan gitar tersebut. Lantas menyeret kursi untuk Allera.
"Lo gak duduk?"
"Enggak, gue yang bakal nyanyi. Lo yang pasang gitar itu."
Akhirnya mereka asik menyanyikan lagu ciptaan Green yang tentu saja bernyanyi sambil berdiri. Tak jarang pula Allera memggunakan suara kedua, agar harmoni yang dia ciptakan terdengar lebih bagus nantinya.
"Wah, suara lo memang patut gue acungin jempol, Lera."
Allera memalingkan wajah tak peduli. Green terus menggodanya membuat dia sedikit malu dengan apa yang sudah di lakukan. Menggoda dalam artian meledek, wajahnya seolah ingin Allera panaskan dengan minyak panas. Ia melirik sekilas, dan senyuman itu kembali terukir di wajahnya. Semakin membuat Allera tersadar, akhir-akhir ini ia melihat wajah asli Green. Karena selama beberapa hari ke belakang, setiap Allera melihat wajah Green seperti Ayahnya, dan sama persis dengan wajah menyeramkan itu.
Ternyata dari sudut manapun Green terlihat tampan. Allera akui itu, karena ia baru sadar. Selama Allera mengesampingkan kekejaman Ayahnya, semua terlihat normal. Andai Allera sejak dulu melakukan hal tersebut. Mungkin ia tidak akan seperti ini terus-menerus.
"Lo bilang ..." Allera menjeda. Membuat Green menaikan salah satu alisnya. "Benda yang lo berikan itu bisa nangkap semua mimpi buruk. Kenapa semalam gue masih dapat mimpi kayak gitu? Sepertinya rusak."
Green mengusap dagu yang kini sudah dihiasi bulu-bulu halusnya. "Gue pikir, rusak atau enggaknya. Tergantung lo nya juga, Lera. Alat itu gak akan berfungsi kalau lo sendiri gak percaya akan fungsi benda tersebut."
Ya, mungkin. Allera memang tidak terlalu percaya tentang mitos benda tersebut. Ia hanya meyakini kalau mimpi buruk tidak akan pernah bisa menghilang. Allera akan terus dihantui oleh mimpi itu. Walau saat ini sudah tidak terlalu sering seperti dulu.
"Tapi Green, gueㅡ"
"Sebentar, Lera."
Green beranjak, mengambil ponsel dari sakunya dan menerima telepon dari seseorang. Sama seperti dugaannya. Green pasti akan pergi.
"Sorry, kayaknya gue harus balik. Nyokap nyuruh gue buat balik. Bye, Lera!"
Pria itu tidak mengambil gitar, dan langsung melengos saja. Padahal Allera sudah memanggil Green berulang kali. Tapi telinganya sudah tidak berfungsi dan terus berlari. Allera kemudian menarik napas dan mengembuskannya kembali. Berdiri di ambang pintu sambil mengelus gitar milik Green. Ia kembali masuk ke dalam toko dan menyimpan gitar tersebut samping kursinya. Namun, sebelum ia pergi lagi, pandangannya terkunci oleh sesuatu yang membuat Allera tertarik.
"Love L?"
Allera melihat simbol hati berwarna merah yang diiringi inisial L. Selama menyanyi, ia tidak sadar tulisan tersebut karena berada di ujung gitar yang tertutup oleh tangan kanan Allera saat ia memainkan gitar. Ia tidak ingin menyimpulkan kalau inisial itu dirinya. Tapi tetap saja itu membuat hati Allera berdesir, membuat sisi jantungnya terasa tidak seperti biasanya. Ah! Mungkinkah ini ...
Enggak! Enggak! Perasaan biasa kok, tenang Lera. Besok lo balikin gitar dia.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ