FIDUCIA

FIDUCIA
14



"Lera, semalam ada apa denganmu?"


Allera tersedak. Mengambil minumnya. "Gak kenapa-kenapa kok, Bun. Maaf bikin Bunda khawatir."


"Seenggaknya cerita sama Bunda atau sama Abangmu, jangan dipendam sendiri. Bunda tahu kamu gak akan kuat kalau menghadapi sesuatu sendirian." Bunda mengambil roti yang sudah diolesi selai lalu diberikan pada Allera.


"Bagaiman tanganmu? Apa sudah lebih baik? Coba Bunda lihat."


Gadis itu menurut. "Sudah tidak apa-apa kok, Bun. Maaf bikin Bunda khawatir terus." Allera menundukan kepalanya, memegang erat ujung meja.


"Hari ini Abang yang anterin kamu ke kafe, ya?" pinta Aldi. Membuat Allera langsung terkaget.


"Kenapa? Gak mau Abang anter?"


"Abang anter Lera saja, nanti siang awas loh ya jangan kabur." Bunda ikut menimpal.


"Emangnya Abang gak kerja?"


"Hari ini Abang ambil cuti biar bisa ada terus di samping kamu. Pokoknya hari ini Abang jadi asisten kamu sekarang, sepanjang hari!"


Allera hanya bisa mengembuskan napasnya dan mengangguk lemas. Lantas melanjutkan sarapan kembali. Pasrah saat Bunda memaksa Allera untuk diantar Aldi.


"Bunda mau ke toko bunga, kan? Lera ikut, ya?"


"Hari ini Bunda tutup dulu, mau introgasi kamu supaya cerita sama Bunda."


"Tapi Bundaㅡ"


Bunda menggerakan telunjuk tangan ke kanan dan kiri. "Tidak ada penolakan."


Saat kecil Allera pernah berbohong ke Bunda soal dia yang sering memakan permen di malam hari secara sembunyi-sembunyi. Karena keseringan. Malamnya Allera bilang ke Bunda kalau giginya sakit. Berkumur dengan air garam, memijat bagian pipi serta telapak tangan tetap tidak ada yang berfungsi sama sekali. Allera menangis, sampai Bunda dengan sigap menggendong Allera sampai tertidur.


Keesokan harinya, Bunda tidak buka toko bunga. Justru lebih mementingkan Allera mengantarnya ke dokter gigi. Perlu beberapa menit untuk menunggu gilirannya tiba. Sampai gigi susun milik Allera yang sakit menghilang. Saat di rumah, Bunda benar-benar mengintrogasi, kenapa Allera bisa sakit gigi. Bunda tidak marah, jarang sekali Allera melihat Bunda marah. Bunda langsung mengelus puncak kepala Allera. Tersenyum ramah sambil menawarkan minuman cokelat dingin. Padahal Allera baru saja cabut gigi.


Kata Bunda, "Jangan ulangi lagi, Lera memang sedang tumbuh tapi ini terakhir kali ya Bunda lihat kamu makan permen." Bunda memberikan minuman tersebut. Kemudian langsung Allera minum. "Dan itu minuman ajaib, kalau Lera berbohong lagi sama Bunda. Nanti minuman itu bisa bikin perut Lera sakit."


Allera tertawa mendengar percakapan Bunda dulu dengannya, sampai berumur sepuluh tahun. Allera masih mempercayai apa yang Bunda ucapkan. Bahkan setiap Allera sakit perut, pasti Allera selalu ingat tentang minuman ajaib itu dan selalu beranggapan bahwa Allera sedang berbohong.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, sayang?"


Ia tersadar dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Saat ini Bunda dan Allera sedang ada di kamar. "Enggak, Bun. Lera cuma lucu aja tentang Bunda dan minuman ajaib itu."


Bunda mengangguk. "Ah, itu. Padahal cuma minuman biasa. Tapi setiap pulang sekolah kamu selalu nangis tiap sakit perut dan bilang 'Lera gak bohong sama Bunda, kenapa perut Lera sakit?' Hahaha. Rasanya Bunda ingin sekali mencubit pipimu dengan gemas."


Pipinya bersemu padam, malu mengingat tingkah kecilnya dulu. "Ih, Bunda. Aku 'kan malu kalau diingetin begitu. Karena Bunda bilangnya penuh keyakinan, makanya aku percaya dan selalu jujur sama Bunda."


"Bagus kalau gitu. Jadi, kamu bisa jujur sama Bunda seperti dulu?"


Allera menelan saliva. Memilin jari-jemarinya dan melirik kesana kemari tidak tahu hendak menjawab apa. Sejurus kemudian kamar menjadi sepi. Bahkan suara di luar pun nampaknya terlihat lebih menarik daripada di dalam kamar.


"Oh iya, Bunda. Abang kemana?" Allera mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Abang? Dia lagi beresin bekas sarapan tadi. Dia yang minta, padahal sudah Bundaㅡ" Bunda mendelik memberikan serangan melalui tatapannya. "Lera," panggilnya.


"I-iya, Bunda?"


"Bunda tahu kamu lagi alihkan pembicaraan." Allera menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dilanjut cengiran lebarnya.


"Cerita sama Bunda tentang kemarin," titah Bunda yang kali ini penuh dengan penekanan.


Bunda hanya mampu mendengarkan apa yang Allera ceritakan sambil menguatkan emosi batinnya melalui sentuhan yang ia berikan. Lambat laun Allera mulai tersendat oleh napas yang memburu, air berkejaran membasahi pipinya. Semakin jauh Allera bercerita justru membuat mereka jatuh layaknya air terjun keras menghantam batu. Hati Bunda seperti disayat sebilah pisau, sama halnya dengan Allera. Wanita setengah baya itu sangat terpukul atas apa yang terjadi dengan Allera, alih-alih Bunda menangis. Yang ia lakukan hanyalah memeluk erat Allera sampai air matanya yang mengalir sedikit mereda.


Salah satu yang paling Bunda syukuri adalah; dimana puteri satu-satunya masih dilindungi sang Maha Kuasa. Bunda benar-benar sangat berterimakasih pada pria yang sudah menyelamatkan Allera. Gadis itu semakin terisak dengan napas yang sesegukan. Bunda mengelus punggung Allera, andai Bunda ada di posisi Allera. Mungkin ia pun akan sama terpukulnya seperti sekarang. Matanya semakin memerah, entah sudah berapa lama Allera menangis di pelukan Bunda. Sampai pada akhirnya ia pun melepaskan pelukan.


"Maafkan, Bunda. Bunda gak bisa lindungin kamu, Bunda merasa sangat tidak berguna karena kamu harus menyimpan hal mengerikan seperti itu sendirian." Bunda tertunduk dan ikut menangis.


Lantas Bunda ikut mengangguk. Tersenyum lebar, dan ikut menghapus jejak air mata yang masih menempel di pipi Allera.


Maafkan, Lera. Bunda. batin Allera


Tapi ada satu hal lagi yang belum Allera ceritakan sampai sekarang. Membuat air mata itu kembali mengecupi pipinya. Allera tidak akan menceritakan satu hal, karena ia tidak ingin mencemaskan Bunda lagi.


"Ah, aku nangis lagi. Haha," Ujar Allera. "Dan bikin Bunda khawatir lagi. Makasih karena Bunda mau dengerin cerita Allera." Dengan napas yang sedikit tersendat Allera tersenyum.


Bunda menyelipkan anak rambut yang menempel di pipi Allera. "Habis ini jangan menangis lagi, ya?" pinta Bunda. "Apapun keadaannya Bunda akan selalu ada bersamamu, jadi ceritakan semua yang terjadi, jangan biarkan kamu mengatasinya sendirian."


"Bunda sangat berterimakasih sama pemuda yang sudah menyelamatkan kamu, lain kali undang dia."


Walau sempat ragu, Allera mengangguk dan menjawab, "Baiklah."


***


Tangannya mengepal sambil merapalkan sumpah serapah berulang kali. Aldi mendengar pembicaraan Bunda dengan Allera. Itu pun tanpa sengaja, selama duapuluh lima tahun Aldi hidup sebagai kakak Allera. Ia merasa sangat tidak berguna, karena tidak bisa melindungi adik satu-satunya. Tapi Aldi tidak ingin menyalahkan pekerjaan yang selalu menyita waktu untuk sekadar bersama dengan Allera. Kalau bukan karena pekerjaan dan Aldi berpindah profesi sebagai pengangguran. Lantas siapa yang akan menafkahi kedua orang dalam keluarganya? dan menjadi tanggung jawab sebagai satu-satunya pria yang ada di rumah?


Aldi pun enggan merepotkan Bunda yang sudah merawat Allera dan Aldi dengan sangat sabar. Ditambah dengan usaha toko bunganya. Aldi tidak ingin menambah beban untuk Bunda. Jelas keduanya menjadi prioritas Aldi sejak awal. Mau menghajar ketiga orang yang sempat melecehkan Allera pun rasanya tidak akan berguna. Mungkin dengan memberi ucapan terimakasih pada orang yang menyelamatkan Allera adalah jalan satu-satunya.


Setidaknya Aldi masih bisa berguna untuk adik perempuannya. Saat Allera menceritakan semua hal tentang kejadian kemarin. Mungkin Aldi akan antar-jemput Allera mulai hari ini, dan menyeimbangkan jadwalnya dengan jadwal kerja Allera. Termasuk kursus tiap pekan.


"Bagaimana kalau kita beli es krim?"


Aldi terlonjak saat Bunda dan Allera keluar secara tiba-tiba. Membuat Aldi mundur satu langkah dengan cepat membuat Allera serta Bunda mengernyit keheranan.


"Kamu ngapain disitu, Bang?"


Aldi berdeham. "Gak ngapa-ngapain kok, mau beli es krim? Apa Abang yang antar nona-nona ini kesana?"


"Mobilmu sudah datang lagi?"


"Sudah, Bun. Tadi temenku baru saja balikin."


Bunda mengembuskan napas. "Lain kali kalau ada yang mau minjem mobil kamu bilang dulu sama Bunda. Bukannya apa-apa, mobil yang kamu beli itu belum lunas loh. Kalau ada apa-apa sama mobilmu bagaimana?"


Aldi menggaruk belakang telinganya. "Gak apa-apa 'kan, Bun? Lagian sesama manusia harus saling menolong, walaupun mobilnya masih cicilan. Hehe."


Canda tawa memecah hening dalam mobil. Allera terlihat kembali ceria setelah dia menangis di pelukan Bunda. Tapi Aldi masih merasa canggung karena Allera belum bisa terbuka dengannya. Seperti menjaga jarak aman seolah Aldi itu berbahaya kalau di dekatnya. Ia hanya melihat dari spion dalam mobil. Terlihat bagaimana senyum manis Allera terpatri di wajahnya. Rasanya sudah lama sekali Aldi tidak melihat pemandangan tersebut.


Setelah melakukan kegiatan perempuan yang sering Bunda dan Allera lakukan. Allera memutuskan untuk pergi sendiri ke kafe. Namun tetap Aldi menolak karena ia bersikeras mengantarnya dengan selamat tanpa ada luka sama sekali. Aldi tak ingin membiarkan adiknya berjalan sendirian lagi. Cukup kemarin saja Allera mengalami hal yang membuat batinnya bergejolak. Dengan pasrah lagi, Allera hanya menurut dan membiarkan Aldi yang antar. Allera duduk di belakang kursi membuat Aldi pun semakin terheran. Aldi cukup terkenal di tempat kerjanya, jadi tak jarang ada banyak perempuan yang mau untuk duduk bersebelahan dengan Aldi.


Lain halnya dengan Allera. Ia justru duduk dengan tenang di belakang seolah Aldi memang benar-benar supir pribadinya. Tidak habis pikir. Aldi berdecak kecewa sambil menyeringai tanda tidak begitu menyukai hal tersebut.


"Lera, kenapa gak duduk samping Abang saja sih?"


Allera tertegun. "Hm ... itu ... bukan apa-apa, Bang."


"Padahal Abang ingin dekat lagi sama Allera seperti dulu." Aldi masih fokus menyetir.


"Sekarang sudah tidak kayak dulu lagi, Bang," gumam Allera.


"Apa, Lera?"


"Hah? Enggak kok." Allera tersenyum membalas tatapan Aldi melalui spion tersebut lantas mengalihkan pandangan ke sisi jalan.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Semoga syukaaaaa~


Papai~~