FIDUCIA

FIDUCIA
22



Keanehan muncul saat Allera sedang menunggu seorang laki-laki. Ini pertama kali saat ia harus menunggu seseorang untuk memberikan sesuatu. Maksudnya, mengembalikan barang dia yang tertinggal. Allera terpaksa harus mengirimkan pesan singkat pada Green karena sudah sekitar sepuluh kali ia tidak kunjung mengangkat teleponnya, dan lagi ia tidak tahu alamat Green.


"Kamu nunggu siapa sih, Nak?"


Bunda memanggil saat memergoki Allera sedang melamun di depan teras. Ia melihat Allera menopang dagu sambil di sandarkan ke kedua pahanya. Sambil memperhatikan layar ponsel yang kelihatannya sedang menanti balasan seseorang. Lantas Bunda duduk di sebelah Allera.


"Gak biasanya kamu kayak gitu ... sudah malam lho. Ayo masuk!"


Tapi Allera tidak menghiraukan Bunda, justru ia semakin sibuk bermain dengan ponselnya.  Mungkin sebentar lagi Green akan datang ke rumah, untuk mengambil gitarnya. Biasanya pria itu sering cepat membalas pesan Allera. Sepertinya dia sudah tidur.


"Lera, ayo masuk!" ajak Bunda sekali lagi.


Allera pun menurut dan bergegas masuk ke dalam. Yah, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Lain kali saja dia balikin gitar Green. Toh, pasti mereka bakal ketemu lagi. Sang kakak tersenyum lantas mendekat ke arah Allera sambil merangkul.


"Dek, besok bolos tampil. Ya?"


"Gak bisa, Bang!"


"Ayolah! Sekali saja."


Allera menyingkirkan tangan Aldi dari bahunya. "Abang mau nanti aku gak bakal tampil lagi disana?"


"Sesekali, ya?"


"Nanti saja deh ...."


"Plis," mata Aldi berbinar seperti mata anak anjing.


"Nanti saja atuh, Bang. Weekend deh."


"Bener, ya? Weekend?"


"Iya."


Terkadang Allera pun heran. Sebenarnya siapa yang adik disini? Aldi atau Allera? Tapi lebih sering Aldi yang bermanja ria ke Allera, dan ternyata Allera baru menyadari hal itu. Gadis tersebut terlalu sibuk dengan pikiran seramnya, hingga ia sempat mengabaikan Aldi yang selalu ada di samping Allera. Ia berjalan menuju ruang keluarga. Suasana rumah kali ini lebih hangat dari biasanya, dan sekarang mereka sedang menikmati film bersama. Bunda menyiapkan cokelat dingin serta cemilan.


Ia melirik ponsel yang tergeletak di meja. Tanpa memedulikan acara yang sedang ditonton. Sepertinya tidak ada balasan, Allera mengambil ponsel tersebut. Mengecek kembali pesan yang sudah dikirim beberapa jam lalu. Ia tak habis pikir, kenapa pesannya tidak dibalas sama sekali?


"Cih," Allera berdecak.


"Kenapa?"


Ia menoleh lantas tersenyum kikuk. "Ah ... gak apa-apa, Abang mau makan ini?"


Allera mengalihkan perhatian Aldi dengan menawarkan kripik singkong kesukaannya. Syukurlah ia tidak banyak berbicara. Allera kembali melihat ponselnya yang masih belum ada balasan.


⚪⚪⚪


Ada banyak pernak-pernik yang bisa dipakai dalam kamarnya, Allera cukup terpukau melihat lampu tumblr disana serta ada hiasan untuk dinding di kamarnya. Allera tidak tahu apa maksud dari Green mengajaknya ke Mall hanya untuk berkunjung ke aksesoris yang berada dekat dengan restoran jepang.


"Adek gue ... Jeje. Besok dia ulang tahun, lo bisa kasih saran gak kira-kira gue harus kasih apa ke dia?"


Sepertinya Green mampu membaca pikiran Allera. Lantas ia memilah sebagian dari yang toko tersebut suguhkan, sisi wanita dalam diri Allera keluar. Ia terlalu gemas dengan barang-barang yang ada disini, dan lagi banyak dari barang tersebut berwarna merah muda. Sampai ia terhenti saat matanya melihat sesuatu yang menarik.


"Kayaknya ini cocok deh."


Gadis tersebut menawarkan boneka kucing yang tersenyum dengan kuping dalam berwarna cokelat serta tubuhnya yang berwarna cream. Mengangkat tangannya seolah memberi isyarat untuk mengangkatnya. Allera mengambil boneka tersebut dan menyodorkan pada Green.


"Gimana?"


"Apa adik gue sering cerita ke lo kalau dia suka warna cokelat?"


Allera menggeleng.


"Hm ... menarik," Green mengusap dagu. "Oke, gue beli yang itu. Oh iya ..."


Green berjalan menuju jajaran etalase yang memajang topi telinga kelinci dengan tali yang menjuntai hingga bahu. Pria itu mengambil memasangkan langsung ke kepala Allera dan mulai menekan tali tersebut sampai salah satu dari telinga berdiri tegak, selaras dengan Green yang menekannya.


"Ini cocok buat lo."


"Jangan ngeledek. Plis Green, gue 'kan bukan bocah."


"Tapi ini lucu loh," Green tertawa. "Benda-benda kayak gini lagi viral banget dan banyak yang pakai. Lo tahu Sehun? Dia sering pakai itu kalau acara fansign."


"Sayangnya, gue bukan salah satu dari mereka. Isshhh! Alay tahu gak."


Topi tersebut ia ambil dan langsung melemparkannya ke arah dada Green, membuat pria tersebut refleks menangkap dengan rintihan yang sengaja ia buat-buat. Lantas mengembalikannya ke tempat semula.


Untung saja toko sedang sepi. Allera sudah jarang ke Mall seperti ini. Maklum saja, ia terlalu sibuk untuk mencari sesuap nasi dan mengumpulkan uang untuk di masa depan, hitung-hitung untuk berjaga-jaga saja jika Allera mendapat masalah yang sangat mendensak. Apalagi kalau urusan yang menyangkut dengan uang.


Allera berkeliling melihat deretan barang lucu dan boneka yang berbarengan di tiap sisinya. Sampai ia menemukan sesuatu yang menarik, yaitu salah satu boneka kecil dengan per yang ada di bagian tengah badannya. Berbagai bentuk emoji. Allera sering melihat benda tersebut saat ia sedang di perjalanan. Banyak sekali yang memakai, sampai Allera pun terkadang merasa bosan.


Atau mungkin ia sedikit tertari dengan benda tersebut. Allera mengambilnya, dan memainkan per-nya dengan gemas.


"Oh ... ini 'kan boneka goyang."


"Boneka goyang?"


"Iya, yang badannya gak mau diem kalau diajak jalan-jalan."


"Gue baru tahu nama yang begituan."


"Lo mau?"


"Apa?"


"Gue."


"Hah?"


Hampir saja Allera tertawa. Ia gemas melihat wajah memerah Green yang langsung mengubah pandangannya ke sembarang arah. Sepertinya pria itu menyembunyikan rasa malunya. Allera kembali melihat tingkah Green yang tidak karuan, sampai mengajak bicara boneka kecil tersebut.


"Hei! Jangan kompor gitu dong, gue 'kan gak bilang apa-apa!"


Green memelototi benda tersebut sambil menggoyangkan.


"Mulutmu yang bicara begitu."


Suara Green terdengar seperti memekik dan sedikit mencemprengkan lagi, seolah boneka tersebut berbicara. Allera menutup mulutnya.


"Gara-gara lo jadi keceplosan, kan!"


"Salahkan mulutmu."


"Apa?"


"Duh, Green ... sudah deh," Allera berujar sambil menepuk pundaknya sambil menahan tawa.


Mereka beriringan. Allera menilik gelang dengan beruang kecil yang menjadi hiasannya. Sangat lucu, dipenuhi warna laut ditambah karakter kesukaan Allera. We bare bear, dia menyukai tokoh bernama grizzly. Salah satu beruang yang tanpa malu mengeluarkan segala keluh kesahnya, dan mampu bergaul dengan siapapun. Terkadang Allera pun ingin seperti dia, yang tidak selalu mengingat hal mengerikan atau perasaan tidak nyamannya. Ditambah dua saudara sesama berbulu, mereka selalu kompak. Allera menyukai mereka.


"Lo ambil saja."


"Hah?"


Green mengambil gelang tersebut. Tanpa diduga Green memasangkan benda yang masih ada label harganya. "Hadiah, dan rasa terimakasih gue ke lo. Jadi pakai ini."


Senyumnya mengembang. Untuk sesaat ia merasakan rasa panas yang tidak biasa dalam dadanya. Seperti didorong dari perutnya yang dikoyak habis lalu ingin mengeluarkan semuanya. Perut Allera terasa aneh, terutama dadanya.


⚪⚪⚪


"Abang tuh ya ... suka sebal sama cewek-cewek yang suka ngelilingin Abang. Maksudnya, memang gak ada gitu cowok lain?"


"Ya, Abang akui sendiri sih kalau Abang itu tingkat kegantengannya di atas rata-rata. Bahkan ada dari mereka yang Abang lihat sampai mimisan." Aldi memasukan kripik dengan jumlah yang banyak, membuat mulutnya terbuka sangat lebar. "Apa Abang seganteng itu ya?"


Allera tidak mendengar.


"Lera?"


Gadis itu tetap tidak mendengar, yang justru sibuk melihat gelang barunya. Senyumnya kembali muncul, ah! Ia tidak tahu seberapa merah pipinya waktu itu. Rasanya jika mengingat hal itu kembali, dada Allera justru semakin terpacu. Sepertinya ada yang sedang balapan di dalam tubuhnya, sel-sel darah Allera sedang meluap-luap.


"Lera!"


Badannya menegang, dan hampir mengucapkan sumpah serapah. Allera menoleh sambil membuka lebar matanya.


"Apa, Bang?"


Aldi menepuk dahinya. "Lera, daritadi Abang ngomong gak didengar? Sakit loh hati Abang."


"Abang ngomong apa?"


Aldi menghela napas. "Ah, sudahlah! Abang pergi saja nyusul Bunda ke dunia mimpi daripada dikacangin gitu."


Tingkah Aldi membuat Allera justru tertawa kecil. "Abang, jangan marah dong. Kalau marah nanti gak aku beliin balon loh."


Aldi membuang muka. "Hm! Memangnya Abang bocah apa, yang dikasih balon langsung diam dan nurut."


"Ya sudah gini saja, gimana kalau besok ... kita nonton?"


"Setuju!"


Pria tersebut kembali mendaratkan bokongnya. Membahas hal ringan dan menceritakan segalanya tentang rekan kerha Aldi yang semakin hari sepertinya mereka tiada henti untuk mendekati Aldi. Diseling canda tawa yang berakhir mengabaikan televisi. Karena lebih asik bersama keluarga. Hangat akan terasa dalam dada jika kita saling dekat satu sama lain, dan berbagi bersama. Allera baru menyadari hal itu.


Allera merunduk, membuat Aldi sedikit bingung. "Kenapa?"


"Maaf."


"Loh kok minta maaf? Kamu gak habis nyontek, kan? Soalnya gak mungkin, kamu 'kan sudah lulus."


"Bukan, maaf buat segalanya."


"Segalanya yang mana?"


"Abang, jangan bikin aku ambil lagi permintaan maaf ini nih."


"Dia ngambek." Aldi cengengesan. "Ya sudah, ini pertanyaan terakhir. Maaf buat apa?"


"Iya, karena aku ... aku gak seperti Allera yang dulu. Yang suka nempel sama Abang dan selalu cerita apa pun tentang aku." Allera memilin jari-jemarinya. "Aku yang sekarang malah jauhin Abang terus tanpa alasan yang jelas. Aku malu jadi adikmu yang kayak gini. Aku minta maaf."


"Hei, hei. Siapa bilang kamu bukan adik Abang yang dulu? Dari dulu, sejak kamu lahir sampai sekarang. Kamu tetap adik kandung Abang, dan selamanya. Abang berusaha mengerti dan selalu memberikan kamu akses untuk kembali terbuka seperti sekarang."


"Maaf."


Aldi membawa tubuh Allera dalam dekapannya. "Semua yang kamu takutkan, akan menghilang kalau kamu cerita sama Abang. Karena Abang gak mau kamu seperti ini terus."


Air matanya melebur menyusuri pipi Allera. Ia tidak dapat menahan perasaan yang terus mengurungnya, bayangan yang selalu terngiang. Semua akan Allera hilangkan dan berusaha untuk sebisa mungkin mengembalikan hubungan Allera dengan apa yang selalu ia hilangkan.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Jadi dari part ini sampai terakhir, aku bakal kasih kilas balik tentang kedekatan Allera dan Green. Mohon untuk lebih jeli lagi ya, supaya gak bingung. Aku kasih tanda untuk yang kilas balik dengan emot ini.


"⚪⚪⚪"


Semoga gak bingung yaaa.


Dan semoga syuka~~~


Papai~~