
Terbaring lemah dengan kompresan yang berada di dahinya, ia mencoba menutup hidung karena aroma bawang merah yang menguar di seluruh ruangan pinky serta banyaknya boneka barbie yang terpajang di lemari sangat rapi. Malam ini cuaca harusnya sangat panas karena sedang musim kemarau, tapi tubuhnya yang kecil merasa sangat kedinginan serta perutnya yang terus-menerus merasakan mual. Ia terus memanggil Bunda, namun tak ada sahutan dari balik sana.
Kakinya menapak lantai yang dingin, walau rasa pusing yang semakin menguasai kepalanya. Ia tetap berjalan dengan sempoyonan. Ada beberapa anak tangga yang harus bocah kecil itu lewati untuk segera sampai ke tempat suara yang sangat nyaring seperti pecahan beling yang terdengar oleh telinganya. Kedua tangan yang memegang tembok agar tidak jatuh. Sudah sejak sejam yang lalu Allera terus memanggil karena tenggorakannya sangat kering, ia ingin minum. Belum lagi badannya yang semakin meminggil. Ia tersenyum saat tangga terakhir ia lewati, kemudian ia kembali berjalan melewati ruang keluarga menuju ruang tamu. Suara tersebut semakin terdengar. Awalnya Allera hendak memanggil Bunda ketika siluetnya sudah terlihat, namun ia enggan melakukan hal itu sebelum tubuh Bunda terjatuh dengan keras, dan tangan yang diinjak beberapa kali oleh kaki dari pemilik yang selalu Allera banggakan.
Salah satu pahlawan yang pernah ada, lebih kuat dari siapapun bahkan superman yang kuat sekalipun kalah dengan sosok gagah tersebut. Dengan rambutnya yang sangat rapi. Allera tidak mampu menahan bobot tubuhnya. Ia berjongkok dengan kepala yang menyumbul sedikit. Menampilkan kedua orang yang sedang beradu mulut.
"Mas! Hentikan! Kau mabuk, kenapa kamu sekarang berubah?" teriak Bunda diiringi isak yang terus lolos. Wajah Bunda sangat buruk hingga Allera tidak ingin melihatnya.
Allera melihat dengan sangat jelas wajah pria itu merah padam dengan arah pandang yang tidak karuan dan juga menjambak Bunda sampai tangan Bunda ikut memegang rambutnya.
"A-ayah!" gumam Allera, ia terus memperhatikan percakapan Bunda yang tidak ia mengerti sama sekali, justru ia semakin takut melihat Ayahnya yang tidak seperti biasanya. Kepala Allera masih pusing dan tenggorokan Allera seperti padang pasir yang tandus.
"Mas, lepas!"
"Lepas lo bilang? Lo selingkuh di belakang gue, kan? Selama gue nyari nafkah lo malah buang-buang uang gue dengan jalan bareng selingkuhan lo?"
"Selingkuh? Aku gak pernah selingkuh, Mas. Aku disini selalu nunggu kamu sampai pulang dan kamu selalu dalam keadaan mabuk, sudah dua bulan sikapmu berubah. Sebenarnya ada apa dengan-Ah! Mas, lepas ... sakit!"
"Lo berani ngebantah, hah?" Ayah semakin menarik rambut Bunda. Membuatnya terus mengadu kesakitan, namun tak pernah Ayah dengar yang justru mencekik Bunda hingga lelaki tersebut memaksa Bunda untuk berdiri.
"Padahal muka lo gak cantik-cantik amat, tapi kenapa lo berani selingkuh, huh?" Ayah mendorong Bunda sangat kencang membuat Allera sedikit terkejut, tangannya sangat bergetar. Ayah yang ia cintai terus menyiksa Bunda tanpa ampun. Orang yang menjadi cinta pertamanya menjadi sangat memngerikan.
Lantas lelaki itu meludah ke sembarang tempat, sambil mengeluarkan sumpah serapah membuat Allera terus menutup telinganya. Mengapa Ayah sangat berbeda? Tak biasanya Ayah selalu bersikap begitu. Allera melihat jam yang ada di ruang tamu tersebut, menunjukan pukul duabelas malam. Apa itu artinya Ayah dan Bunda selalu bertengkar di tengah malam?
"Ternyata gue salah memilih lo sebagai istri. Seharusnya gue nerima sudah melamar Angel bulan lalu."
"Apa? Lalu bagaimana denganku dan anakmu, Mas?"
"Itu bukan urusan gue, dan kita akan bercerai!"
"Kumohon, Mas! Aku janji gak akan berbuat begitu, tapi sumpah demi Tuhan. Aku gak pernah mengkhianati kamu, Mas. Jadi Tolong-"
Pria itu melempar salah satu vas bunga yang berada di atas meja ruang tamu. "Bagus, kalau lo ngaku. Dengan gitu gue jadi gampang buat ceraikan lo secepat mungkin."
Air mata Bunda terus mengalir tanpa henti. "Mas, bukan gitu maksudku. Aku benar-benar tidak berselingkuh. Kumohon jangan lakukan itu."
Jerit kencang keluar dari mulut Bunda, pria itu mengambil serpihan pecahan tersebut dan menyayat wajah Bunda sangat dalam. Darah rembes menyusuri pipi Bunda. Menyatu sempurna menjadi cairan kental berwarna merah. Perih, karena luka tersebut terkena air mata yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Dengan begini lo gak bakal bisa tebar pesona ke cowok di luar sana."
Pendengaran Allera terhalangi oleh tangan kecil yang menutupi telinga, sepersekian detik kemudian tubuhnya dibawa ke dalam dekapan yang sangat hangat. Ia menengadah.
"Kita ke kamar yuk."
Allera enggan, dan melihat ke belakang. Ia ingin menyelamatkan Bunda dari Ayahnya sendiri, tapi Allera tidak bisa melakukannya seorang diri. Badan Allera terlalu lemas, dan tangannya terus bergetar hebat. Ia menunjuk ke arah Bunda. "Tapi Bunda harus ikut, Bang."
Belum sempat Allera meminta keinginannya, sang Ayah sudah kembali menendang perut Bunda hingga ia tidak sadarkan diri. Lantas Ayah pergi begitu saja tanpa menoleh sama sekali. Allera menjerit, terus memanggil nama Bunda berulang kali.
***
"BUNDA!"
Allera terjaga, dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Napasnya sangat sesak, lantas ia mengusap wajah untuk menghilangkan keringat yang bercampur dengan air mata. Pintu langsung terkuak, menampilkan Aldi yang panik mendengar Allera berteriak pagi buta, saat Aldi hendak mengambil air wudhu untuk salat malam. Ia berlari dan langsung memegang pundak Allera, menenangkannya.
"Ada apa, Lera."
Mata menghambur ke sekitar dengan tatapan waspada. Saat bersitatap dengan Aldi. Ia menjauh sambil menangis dengan lirihan untuk Aldi segera pergi dari kamarnya. Tapi Aldi tetap berada di kamar yang justru langsung memeluk Allera dengan erat.
"Gak apa-apa, itu hanya mimpi buruk. Tenang, kamu aman, karena Abang akan selalu melindungi kamu," bisik Aldi dengan mengelus punggung Allera.
Allera melirik ke arah dreamcatcher yang ia gantungkan dekat jendela. Katanya benda tersebut bisa menangkap mimpi buruk, lalu kenapa Allera masih memimpikan Ayahnya yang sering menyiksa Bunda? Allera yakin, pasti benda tersebut rusak. Atau mungkin memang tidak ada pengaruhnya sama sekali. Orang yang mempercayai benda itu pasti sudah gila, dan Allera pun salah satunya.
Mimpi dimana Ayahnya terlihat sangat mengerikan lebih dari iblis sekalipun. Di mimpinya, Ayah selalu menampilkan tanduk merah menyala nan panjang dengan taring yang sangat panjang. Ia meremas baju Aldi, dan Allera baru sadar. Ini pertama kalinya lagi Allera memeluk kakaknya termasuk saat kemarin ia pun menenangkannya. Sangat hangat.
"Sudah dua hari ini kamu sering mimpi buruk, apa yang kamu takutkan?" tanya Aldi yang suaranya sangat lembut dari biasanya yang masih mengelus Allera. Ia melepas pelukannya. " Boleh 'kan Abang tahu?"
Mungkin sudah saatnya Allera keluar dari rasa takut yang terus menghantuinya. "Ini soal Ayah, Bang."
"Aku gak sengaja keluar kamar tengah malam dan lihat Ayah sma Bunda berantem. Dan di mimpiku, Ayah sangat menyeramkan. Selalu muncul di mimpi aku. Terkadang aku bisa merasakan rasa sakit Bunda yang dipukul sama Ayah. Aku takut, Bang. Aku ... aku mau berubah, Bang! Aku gak mau berada dalam bayang-bayang Ayah terus-menerus. Terkadang aku juga pingin seperti teman yang lain yang bisa bahagia sama pasangannya, tapi aku gak bisa! Aku selalu takut, Ayah selalu bilang dalam mimpi Allera kalau dia pasti bakalan datang lagi."
"Gimana bisa aku dekat sama cowok? Sedangkan Ayah selalu ngancam aku lewat mimpi, mimpi itu terlalu nyata buat aku, Bang! Aku gak bisa kayak gini terus, kenapa Ayah jahat sama kita? Kenapa Ayah gak seperti Ayah yang lainnya? Bang, jawab aku!."
Aldi kembali memeluknya. "Semua itu cuma mimpi, Lera. Abang yakin Ayah gak akan pernah datang ke rumah, bahkan untuk menginjak tanah ini lagi pun gak akan Abang biarkan! Maaf, Abang gak bisa berbuat banyak saat kamu melihat hal yang menakutkan itu."
"Justru aku yang minta maaf karena selama ini selalu menghindar dari Abang," Allera mengeratkan pelukannya. "Aku akan berusaha menghilangkan rasa takut ini."
"Pelan-pelan saja, Abang yakin kamu pasti kembali seperti Lera yang Abang kenal." Aldi menatap manik cokelatnya. "Sekarang kamu ambil wudhu, dan salat bareng Abang. Supaya hati kamu juga ikut tenang."
Allera mengangguk, dan bergegas mengambil air wudhu. Mungkin kalau bukan karena pria itu, Allera tidak akan pernah bisa membayangkan hal untuk menghilangkan rasa takutnya. Pada intinya, semua ketakutan hanyalah bayangan dalam imajinasi. Akan semakin nyata jika Allera terus membayangkan hal tersebut. Rasa takut akan hilang jika Allera mempunyai keberanian dan tekad yang sangat kuat.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ