FIDUCIA

FIDUCIA
13



"If you cannot do great things, do small things in a great way."


-Napoleon Hill


.


.


.


.


.


Pilihannya tentang menghindari sekelompok laki-laki di persimpangan jalan dan melewati jalanan sempit adalah tindakan bodoh Allera selama hidupnya. Bukannya ketenangan yang ia dapat. Melainkan hal yang mengerikan harus didapati oleh gadis tersebut. Allera sebenarnya tidak pernah melewati jalanan itu, karena perasaannya semakin tidak karuan. Ia lebih memilih jalan pintas untuk menghindarinya.


Di kelilingi tiga orang lelaki dengan tatapan haus akan belaian membuat Allera tidak bisa melakukan apa-apa, yang ia lakukan hanyalah memundurkan langkah sampai menabrak tembok. Ia bergidik ngeri saat sebuah tangan mengelus pipi juga rambutnya. Teriakan pun tidak bisa ia keluarkan, rasanya bibir Allera sangat kelu. Kakinya tidak bisa digerakan seolah ada ribuan paku yang menancapnya. Tatapan Allera lurus ke arah tanah. Berharap agar ketiga orang tersebut segera menghilang dari hadapannya.


Nahas, saat harapan Allera tidak dengar oleh sang kuasa sama sekali. Justru yang Allera dapati matanya hanyalah celana yang dilepas oleh orang di depannya. Sontak Allera terbelalak dan sudah tidak bisa mundur kembali. Kedua orang lainnya semakin liar menyentuh tubuh Allera. Gadis itu menggigit bagian bawah bibirnya hingga berdarah.


T-tolong! batinnya.


"***!" umpat seseorang.


Allera bisa mendengar suara orang lain dan bunyi keras menghantam tembok. Tapi tengkuk Allera tetap tidak bisa ia gerakkan. Ia hanya mampu mendengar suara gaduh yang dihasilkan oleh orang tersebut. Juga Allera tidak merasakan lagi sentuhan ketiga orang itu.


"Lera, lo gak apa-apa?" tanyanya.


Bibirnya masih keluh. Ia justru semakin menjauh dari orang yang menanyakan keadaannya. Allera terus menggeleng dan semakin histeris diiringi air matanya.


"P-pergi!" ucap Allera terdengar sangat parau.


"Tenang, Lera. Ini gue Green! Lo sudah aman!"


Green memegang bahu Allera. Sontak ia langsung menghindar dan mendorong keras pria itu. Lantas melengos tanpa berbalik sedikit pun.


Allera berlari sekuat tenaga bahkan saat tersandung pun ia tidak menghiraukan lukanya yang ada di lutut. Sambil menghapus air mata yang terus mengalur tanpa henti. Perasaan mengerikan itu kembali hadir di memori Allera. Ia menjambak rambut dengan keras guna menghilangkan ingatan yang terus terngiang. Perasaannya kalut sampai tidak menghiraukan pertanyaan Bunda dan langsung melewatinya.


"Allera! Kamu kenaㅡ"


Bunda merasa terkejut melihat penampilan Allera yang berantakan. Menangis sambil menjambak rambutnya membuat Bunda merasa teriris hatinya. Lantas Bunda menuju kamar Allera, berniat untuk membuka pintu kamarnya yang justru sudah Allera kunci terlebih dahulu. Bunda terus memanggil dan mengetuk pintunya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali, Bunda mendekatkan telinga ke pintu. Mendengar Allera menangis sangat kencang di dalam sana.


Merasa sangat khawatir, Bunda langsung menelpon Aldi yang hari ini sedang lembur.


"Bang! Adikmu ... Cepat kesini!"


"Kenapa sama Lera, Bunda?"


"Bunda sudah tanya dia kenapa, dia justru langsung masuk ke dalam kamar sambil nangis sama jambakin rambutnya. Bunda khawatir."


"Bunda tunggu disana, pekerjaan Aldi sebentar lagi beres terus langsung kesana."


"Baiklah. Hati-hati, nak."


Bunda menutup telepon. Menatap lurus pintu Allera yang masih tertutup. Bunda pun tiada henti mengetuk, yang tetap tidak ada sahutan di dalamnya. Bunda semakin cemas dan terus memanggil nama Allera.


***


Allera bisa mendengar dengan jelas bagaimana Bunda khawatir di luar kamar. Tapi bayangan mengerikan itu tampak lebih nyata dan semakin susah untuk Allera hilangkan, membuat suara Bunda hirap ditelan kepingan memorinya. Ia membenamkan lagi kepalanya. Mengeratkan pelukan pada kedua lutut dengan isak yang terus keluar.


"Tenang, Lera. Ini gue Green! Lo sudah aman!"


Benarkah? batin Allera. Ia menengadah melihat ke sekelilingnya sambil mengusap jejak air mata. Benar, dia sudah aman. Tapi kenapa sentuhan itu masih sangat terasa? Allera kembali menangis. Ia mengusap-usap seluruh tubuhnya untuk menghilangkan perasaan nyata bagi Allera. Hampir menjambak rambutnya yang sempat disentuh. Allera merasa sangat kotor.


"Lo sudah aman!"


Teriakan itu kembali hadir seolah benar-benar meyakinkan Allera bahwa dia memang sudah aman. Nama itu pun terdengar kembali di pikiran Allera.


"Green?" gumamnya.


Allera sempat terdiam sejenak. Mengabaikan Bunda yang masih mengetuk pintu. Lalu menghapus lagi air matanya. Saking takutnya, bahkan Allera sama sekali tidak memperhatikan siapa yang menyelamatkan Allera yang justru ia malah mendorong keras Green. Sejenak ia mengakui kesalahan terbesarnya saat melakukan hal tersebut, namun Allera tetap tidak bisa bilang bahwa Allera sudah menerima Green di hidupnya. Bukan berarti Green menyatakan perasaan dia pada Allera. Hanya saja, ia merasa sejak kecelakaan tersebut Green semakin ingin dekat dengan Allera. Membuat dia selalu merasa tidak nyaman setiap harinya.


Mungkin kalau bukan karena Green juga, Allera sudah bisa dipastikan dia akan tinggal nama saja. Perasaan Allera semakin tidak karuan di tambah dengan memori masa lalunya membuat Allera tidak ingin mengakui penyelamatan yang Green lakukan.


***


Green memegangi sudut bibirnya yang terus berdenyut. Belum lagi punggung yang seolah mengeluarkan suara retaknya. Hari ini benar-benar sangat melelahkan dan menyakitkan. Bagaimana tidak, Green dengan susah payah menyelamatkan Allera di jalanan sempit itu. Tapi dia malah mendorong Green sampai sakitnya pun sekarang masih terasa. Green bukannya pamrih menolong Allera. Setidaknya Allera melihat ke arahnya dan dia pun berharap bahwa dengan menyelamatkan Allera merupakan salah satu cara terbaik untuk menjadi dekat dengannya.


Tapi ternyata dugaan dia malah melenceng. Sama sekali tidak ada yang sesuai harapan. Green hanya dapat sorotan ketakutan dari Allera bahkan enggan untuk menemuinya.


Green membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah sangat sepi, kecuali saat Green memasuki ruang keluarga. Terdengar suara televisi dan terdapat orang yang sedang asik menonton ditemani popcorn caramel.


"Kakak, kemana saja? Acaranya sudah mulai nih," ujar Jeje yang masih fokus melihat ke arah depannya.


"Tadi kan Kakak habis ke tempat kursus, Dek." Green meringis saat berbicara, rasanya perih. Ternyata ringisan Green barusan terdengar Jeje dan langsung mendapat respon heboh.


Jeje berlari dan berteriak, "Kakak kenapa?" Jeje memegangi pipi Green. "Ibu! Kak Green terluka!"


Pria itu langsung membekap mulut Jeje. "Ssst! Jangan bilang ke Ibu!"


"Kenapa, sayang?" tanya Ibu. Dia berjalan dan langsung disuguhi oleh penampilan kacau anaknya. "Astaga! Kamu ... kenapa sama wajahmu ini? Siapa ... siapa yang berani nyentuh anakku yang tampan ini, hah? Jawab Ibu, Haysel! Biar Ibu laporin dia ke polisi!"


Green menyengir walau sedikit sakit. "Gak, Bu. Aku gak apa-apa kok. Aku tadi jatuh dari motor terus nabrak tiang sampai bonyok gini deh."


Wajah Ibu menyelidik tidak percaya. Sampai sedetik kemudian Ibu kembali berujar, "Yasudah. Kamu cepat bersihkan badan. Terus balik lagi kesini, nanti Ibu obatin."


"Gak usah, Bu. Aku mau langsung istirahat saja."


"Loh, terus Kakak gak mau nonton bareng aku?" timpal Jeje.


Green memegang pundak Jeje. "Lain kali saja ya. Kakak capek, mau istirahat."


Ruangan yang didominasi warna hijau menyapa. Green membaringkan tubuhnya di atas kasur. Menjadikan kedua tangan sebagai bantal tanpa membersihkan luka yang sudah kering. Sebenarnya kalau boleh jujur, Green masih penasaran sama Allera. Dia selalu memasang wajah juteknya tapi untuk kali ini dia benar-benar sangat ketakutan. Baru kali ini Green melihat Allera sangat syok. Wajar saja sih, perempuan akan sangat ketakutan kalau di kelilingi laki-laki seperti mereka apalagi nyaris di perkosa. Itu bukan lagi hal yang menakutkan, tapi bisa juga menjadi hal yang akan berdampak bagi mentalnya.


Green merasa beruntung melewati jalanan sepi itu. Sampai semuanya sunyi dan gelap. Green menguap, menutup matanya lalu terlelap dengan tubuh yang terlentang.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Semoga kalian syukaaa~


Papai~~