
Kayla hari ini datang sebagai penonton, duduk di dekat para coaches khususnya Kido dan Vino. Ia tidak peduli berada di kubu mana, yang jelas Kayla bisa melihat pemandangan langka. Tapi tetap, saat Allera tampil. Gadis tersebut malah menyebut nama Allera dengan lantang membuat semua orang yang bukan pendukung Allera pun mendelik sedikit murka. Abaikanlah netizen, yang penting Kayla masih bisa melihat sosok malaikat yang ada di depannya. Sedikit rasa kesal pula waktu Allera tidak mengatakan apa pun tentang audisi pertamanya. Kalau tahu begitu, Kayla pasti akan datang. Melihat Kido dan Vino menghadap para penonton sambil menerka suara-suara yang dia dengar.
Jadi lupakan saja tentang kekesalan Kayla kali ini. Sebab, walaupun Kido dan Vino membelakanginya. Setidaknya Kayla masih bisa melihat punggung mereka.
Astaga! Apa semua cowok punya punggung selebar itu? Bahunya, bikin gue gak tahan pengen sandaran di bahu dia. Kayla menepuk pipinya yang mulai memanas, kalau dia menjadi tokoh komik. Mungkin hidung dia akan dialiri cairan merah yang kental.
Selain Allera. Semua suara yang dia dengar jelek, terkecuali untuk orang ganteng yang barusan Kayla lihat. Ia membuka ponsel diam-diam. Mengirimkan pesan ke Allera.
Allera :
Pokoknya setelah lo tampil, kenalin gue sama cowok yang rambutnya kayak bule! Inget!
***
Matanya terpaku pada pesan Kayla. Di saat butuh saja dia baru mengirimkan chat padanya, jarang sekali Kayla berchatting walau hanya untuk sekadar basa-basi pun tidak ada. Tapi lain lagi jika dia sedang membutuhkan sesuatu, misalnya saja tadi. Ada salah satu pria yang memikat hati Kayla, mungkin sampai ia tidak bisa mengalihkan pandangannya ke yang lain. Allera mengembuskan napas. Minggu ini semakin berat, tenaga Allera pun sudah ia keluarkan seluruhnya. Untung saja ia masih memiliki tenaga simpanan.
"Semifinal sekarang lebih ketat dari biasanya, ya?" tanya seseorang membuat Allera menoleh, ohㅡpria yang disukai Kayla muncul di depannya.
"Penampilan lo tadi keren banget," Allera berujar sambil mengangkat jempolnya. "Oh iya, teman gue titip salam buat lo."
"Masa? Cantik gak? Kalau dia cantik, kenalin ke gue. Siapa tahu jodoh."
"Lain kali, gue sudah dipanggil dan harus tampil."
"Oke, semangat!"
Satu kata walaupun sangat sederhana memang membantu sekali. Terkadang orang-orang tidak menyadari, bahwa kalimat seperti itu walau mudah diucapkan tapi selalu tepat sasaran mengenai dadanya. Seolah ada energi lain yang memasuki jiwa serta raga membuat Allera seperti terisi kembali saat daya tahan tubuhnya mulai tidak stabil.
"Dan! Inilah yang akan lanjut ke babak grandfinal!"
Berdebar jantung Allera. Sangat cepat dibanding dengan pembalap motoGP. Ada lima nama dengan presentase voting di layar besar sengaja ditutup. Semua tampak menunggu-nunggu hasil yang akan muncul. Hingga namanya kembali terpanggil.
"Selamat kepada Allera, Billy, Hana, dan Viona!"
Allera tidak tahu lagi harus berkata apa. Perasaan tadi sangatlah tidak terkendali. Allera bisa saja salto di atas panggung. Saking senangnya mendapat voting tertinggi lagi untuk kesekian kalinya. Membuat gadis tersebut naik ke level yang lebih tinggi lagi. Tentu saja ia harus berpisah dengan mereka yang masih kurang beruntung seperti Allera.
Berbagai rasa terima kasih ia panjatkan pada Tuhan terutama Bunda dan Aldi. Ia benar-benar senang sekali.
***
"Bunda gak bohong 'kan soal ini? Gimana bisa Green juara Let's Sing disana? Kenapa aku gak tahu sama sekali soal dia? Brarti apa yang dikatakan oleh teman Lera itu beneran ada dia?"
Bunda bingung harus menjawab apa. "Bunda juga tahu dari Abang, sayang. Coba kamu lihat sendiri dia mirip banget Lera. Benar 'kan ini cowok yang sering main ke rumah?"
Sebenarnya ia pun tidak terlalu yakin dengan yang dia lihat saat ini, wajahnya memang mirip. Tapi penampilan serta cara bicaranya pun berbeda dari yang sering Allera lihat. Apalagi dengan nama yang sangat asing sekali di telinganya. Sungguh memgenaskan sekali, ia bahkan tidak tahu sama sekali nama asli dia. Hanya tahu nama panggilannya saja.
Selama sekitar dua jam Allera berkutat dengan ponselnya, mencari tahu berbagai informasi tentang Green yang akan sampai di Indonesia. Bahkan ia rela menjadi salah satu fans Green, dengan bertanya pukul berapa dia sampai. Ia juga tidak ingin meninggalkan kesempatan. Untung saja jarak antara bandara tidak terlalu jauh, jadi Allera masih bisa mengorek informasi dari manapun.
Aldi jelas mengantarkan Allera kesana menggunakan mobilnya. Melalui instagram yang di upload oleh Green terlihat masih hangat, sekitar jam sepuluh malam Green sampai di bandara sana yang artinya dia akan sampai saat pagi atau tengah hari. Saat sampai Allera langsung mencari kerumunan para penggemar fans Green.
"Arah jam duabelas, Lera!"
Allera menoleh sesuai perintah yang disampaikan oleh Aldi. Langsung mendapati kerumunan yang sedari tadi menunggu Green. Ramai sekali, ia tidak menyangka akan jadi seperti ini. Allera sengaja membelah mereka menggunakan tangannya agar dia bisa berada di depan. Ia tidak peduli dengan cacian mereka yang terus dilontarkan. Dia harus bertemu dengan Green.
Sepertinya semenjak Green memenangi audisi tersebut. Dia semakin terkenal. Apakah dia masih bisa bertemu Green kembali?
"Aaaarrrgghhh! Haysel, Haysel!"
"Kak Haysel lihat kesini!"
"Ya ampun ganteng banget, sudah gitu kulitnya eksotis banget."
"Kak Haysel, saranghae!"
Allera tidak bisa menopang tubuh karena terus didorong. Ia semakin tidak karuan, telinganya bahkan berdenging saat mereka saling berlomba meninggikan suara. Belum lagi bodyguard yang senantiasa menjaga pria itu dari kelakuan histeris netizen. Allera mencoba memanggil nama yang sering Allera panggil, tapi suaranya tenggelam. Tak sempat ia teriakan karena Green sudah lebih dahulu berjalan cepat menuju mobil.
Tak ingin kehilangan kesempatan. Allera berteriak, "GREEN!"
Yes! Berhasil!
Green berhenti melangkah, namun sebelum ia menoleh. Tubuh Allera sudah terhuyung dan menghantam lantai, kejadian yang lalu kembali terulang. Allera tidak dapat menahan amukan mereka yang kembali liar. Mereka berlari hingga wajahnya kembali terbentur ke lantai, membuat hidung dia yang mancung nyeri berdenyut.
"Lera!" Aldi berteriak saat fans Green meninggalkan Allera. Ia membantu Allera berdiri.
"Hidung kamu berdarah! Ayo ke rumah sakit."
"Lera gak apa-apa, Bang. Gak usah ke rumah sakit. Aku harus ketemu sama dia!"
"Gak bisa! Abang gak akan izinkan kamu kalau tahu begini akhirnya," jawab Aldi. "Lagian, kenapa gak pas di studio saja sih? Dari pada disini malah kamu yang terluka! Gimana nanti buat grandfinalnya kalau penampilan kamu seperti ini? Hm?"
Allera tertunduk. "Tapi, Bang. Lera harus ketemu dia sekarang! Lera sudah lama gak ketemu dia, dan lagi Lera mau mastiin kalau itu memang Green yang Lera kenal! Buktinya tadi dia menoleh 'kan waktu aku manggil dia?"
"Cowok yang kamu harapkan itu sudah gak ada, Lera! Dia hanya cowok brengsek yang ninggalin kamu gitu saja! Abang gak mau kamu sakit lagi, ingat kata Abang! Abang yakin dia bukan cowok itu, kalau memang benar dia. Harusnya dia berhenti dan menghampiri kamu, sekarang buktinya mana?"
Allera tidak tahu harus menjawab apa, perkataan Aldi memanglah betul. Pria itu pasti bukan Green, dua pria yang sangat berbeda tidak mungkin juga kalau itu dia. Hampir semua orang memang memiliki wajah yang sama. Tapi tidak menutup kemungkinan juga kalau dia memang Green.
"Sekarang ayo pulang! Bersihkan lukamu. Kenapa kamu harus seperti ini sih? Abang khawatir, tinggal satu langkah lagi kamu bisa wujudkan mimpi kamu. Jadi Abang mohon jangan lakukan hal seperti ini."
"Iya, Bang."
***
"Astaga, Alle! Kenapa sama wajah kamu?"
Saat sampai Allera langsung diberi jutaan pertanyaan dari semua orang. Ia lupa harusnya membersihkan luka di jidatnya, mungkin karena terlalu memikirkan pria itu dia menjadi tidak fokus.
"Gak apa-apa kok, sis," Allera berucap pada salah satu makeup artist yang hiasannya benar-benar luar biasa.
"Untung saja tidak terlalu parah, jadi masih bisa ditutup sama foundation. Kamu harusnya hati-hati karena babak terakhir memang selalu istimewa. Jadi kamu jangan hilangkan kesempatan itu."
"Maaf, sis."
Allera mengaku menyesali perbuatannya. Kalau bukan karena fans Green. Ia tidak mungkin mengalami hal seperti. Fans itu memang benar-benar sangat liar. Tidak peduli orang sekitar yang penting bisa menyentuh sang idola. Sangat berlebihan.
Memang sangat beda kalau untuk bagian terakhir. Pakaian Allera pun sangat istimewa. Dress putih panjang yang ditaburi glitter. Rambut yang sedemikian rupa ditata dengan sangat rapi membuat Allera semakin percaya diri. Ia merasa seperti tuan puteri di kerajaan.
Sebelum memulai, Allera kembali mendapat info dari para peserta.
"Guys! Haysel, dia ada di ruangan sebelah! Ayo cepat kesana!"
Tidak mau ketinggalan, Allera pun bergegas mengangkat dressnya hingga ia bisa berlari dengan cepat kesana. Setelah sampai dengan napas yang terengah, benar apa yang diucapkan mereka. Green sedang duduk santai sambil menunggu para pedandan tersebut selesai. Salah satu dari mereka ada yang nekat menghampiri Green. Patut Allera acungkan jempol. Jujur saja ia tidak bisa melakukan hal itu.
"A-anu, apa kita bisa foto bareng?"
"Oh, tentu bisa!"
Senyumnya membuat jantung Allera mencair dan mengalir di dalam tubuhnya. Dari banyaknya senyuman yang sering Allera lihat, hanya Greenlah yang paling memabukan. Allera dengan yang lainnya ikut menghampiri. Namun Green belum melihat ke arahnya. Hingga foto ke empat barulah Allera memberanikan diri.
"Green!"
Pria tersebut menoleh, matanya terbeliak melihat bidadari yang berdiri di hadapannya.
"Alle! sebentar lagi giliran kamu. Cepat ke belakang panggung!" panggil salah satu crew yang berhasil menggagalkam rencana Allera. Lantas ia bergegas pergi.
Allera membawakan dua lagu, keduanya ada nyawa Allera. Dimana dia harus lebih berbeda dari biasanya, Mami Vivi pernah bilang bahwa perkembangan Allera melesat seperti mobil sport. Dia dapat menyerap ilmu yang Mami Vivi sampaikan tanpa mengulang. Allera merupakan bintang emas yang terkubur dalam perut bumi selama ribuan tahun dan baru ditemukan. Lagu pertama ia berduet dengan Mami Vivi dengan judul Bahasa Kalbu, salah satu lagu termanis dan tersedih yang pernah Allera dengar. Semua bait yang Allera nyanyikan sangatlah indah. Tak jarang pula Allera melakukan komunikasi saat bernyanyi yaitu dengan menatap Mami Vivi guna memperkuat duetnya.
***
Semenjak obrolan singkatnya bersama Green. Ia jadi sulit untuk bertemu dengannya. Bolak-balik ke atas panggung memang sangat melelahkan. Demi mencapai impiannya, Alleea sekarang rela melakukan hal tersebut. Sampai dipenghujung acara, mereka berhasil memompa jantung Allera lebih kuat lagi.
Green sudah tampil dua kali dengan single barunya yang terkenal serta tantangan juga yang diberikan oleh penggemarnya. Setelah itu Allera tidak lagi melihat batang hidung Green. Sampai pengumuman tentang pemenang tiba. Allera beserta yang lain naik kembali ke atas panggung.
Keempat finalis berjejer rapi dengan jarak satu meter. Allera yakin, bukan hanya dirinyalah yang berdebar. Pasti yang lain pun merasakan hal yang sama, dia juga berharap. Mungkin kalau Allera memenangkan audisi kali ini, Allera pasti dengan mudah bertemu dengan Green.
"Harap para coach berdiri di samping para finalis," ucap seorang wanita dengan suara serak yang khasnya. Sesuai perintah, Mami Vivi berdiri di sebelah Allera. Dia merangkul dengan erat seperti sedang menyalurkan energi untuknya.
"Disini," ia berujar sambil menunjukkan sebuah amplop besar. "Adalah nama pemenang dengan hasil pemenang."
"Dimana tidak ada yang tahu nama siapa yang tertera di amplop tersebut," imbuh Giselle.
"Dan siapakah yang akan memenangkan Let's Sing Indonesia 2019!"
Ramai para penonton melantunkan masing-masing dari nama finalis termasuk Allera. Ditambah bunyi alunan yang semakin memacu Allera mengeluarkan keringat di sela-sela jarinya.
Anesh membuka amplop dan melihat sedikit isinya. Menginstruksi pada Giselle untuk menyuarakan nama secara serentak.
"Dan! Pemenang Let's Sing Indonesia 2019."
"Adalah," imbuh Giselle.
Mereka seolah mempermainkan jantung Allera membuat ia tidak bisa bernapas denganㅡ
"Allera!"
Apa?
"Selamat kepada Allera!" tambah Anash membuat kakinya lemas seperti jeli, ia langsung terjatuh sambil bersujud mengucap syukur. Mami Vivi pun tak henti berbicara.
"Aku beneran juara?"
Mami Vivi bersuara hampir tidak terdengar oleh raungan para penonton. "Iya, sayang!"
"Selamat kepada Allera! Pemenang Let's Sing Indonesia 2019. Dimana akan mendapatkam kontrak dari Kalem Enterinment, juga uang tunai sebesar duaratus limapuluh juta rupiah. Dipotong pajak!"
Allera tidak mampu mendengar apa pun lagi. Ia hanya berlinang, tubuhnya dibopong oleh Mami Vivi untuk segera berdiri dan kembali memeluknya. Allera masih tidak percaya dengan semua yang ia dengar
ㅇDua bulan kemudian ....
Allera pikir dengan menangnya dia bisa membawa Allera pada Green. Ternyata dugaannya salah besar, ia justru disibukkan oleh kegiatan yang semakin menumpuk. Ia hanya bisa melihat instastory, apa yang pria itu sedang lakukan. Sepertinya dia senang bisa pulang kampung lagi. Allera harus mengisi sebuah acara sebagai bintang tamu.
Dengan suksesnya karir Allera ia semakin dikenal banyak orang. Namun Allera ingin sekali bertemu dengan Green, namun kesempatan tidak pernah kunjung datang. Akhirnya ia memberanikan diri untuk mengirimkan dirrect message padanya.
Allera menaruh ponsel dan beranjak kembali untuk memasuki studio. Allera tidak menyangka. Saking sering muncul di layar kaca membuat dia sering juga memasang muka duanya. Dalam acara ia terlihat sangat ceria dan fresh, berbeda saat tidak muncul si televisi. Dia menjadi gadis yang sering murung. Mungkin Allera harus datangi rumah pria itu.
***
Green menyaksikan sendiri bagaimana Allera bisa seperti sekarang, perempuan tangguh yang bisa menghilangkan segala ketakutannya. Ia jadi menyesal karena tidak pernah berada di samping Allera. Dia tahu semua tentang Allera, setelah lumayan dekat gadis tersebut mau menceritakan segalanya. Sebenarnya dia ingin sekali bertemu dengan Allera. Tapi waktu tetap tidak mengizinkan. Belum lagi Ibu yang terus-menerus berada di dekat Green membuatnya tidak bisa apa-apa. Lagipula Green tahu Allera pasti sedang sibuk mampir di satu televisi ke televisi lainnya. Sudah waktunya juga Green harus kembali ke New York, karena kontraknya dengan agensi masih terbilang cukup lama.
Berat rasanya meninggalkan kampung halaman. Ia dan Jeje masih merapikan beberapa koper yang akan dibawa.
"Kakak, kenapa sih harus balik lagi kesana? Disini saja!"
Green melipat bajunya. "Gak bisa, Je. Kakak masih ada kontrak dengan agensi, kalau Kakak batalkan bisa kena denda. Lagian Kakak 'kan masih harus lanjut belajar."
"Hm ... iya juga sih."
"Oh iya, Kak. Selama Kakak disana. Kak Lera datang terus ke rumah, nanyain Kakak ada dimana. Tapi Jeje gak pernah bisa jawab, soalnya Ibu selalu gak izinin. Terus timingnya pun selalu gak tepat."
"Kenapa kamu gak bilang dari awal!" Green melempar semua yang dia pegang, berjalan menuju Jeje dan memegang pundaknya. "Sekarang dia dimana?"
"Duh, habis Kakak gak nanya sih! Gimana aku mau bilangnya." Ia melepaskan cengkraman yang sangat kuat pada pundaknya, Jeje meringis. "Cek sajalah di instagram dia! Atau cek DM Kakak siapa tahu dia kirim pesan buat Kakak!"
Sesuai perintah Jeje, pria itu bergegas menuju nakas dan melihat notifikasinya yang selalu bunyi. Sudah hal yang lazim sekali direct message selalu penuh. Ia terus menscroll dari atas sampai ke bawah, rasanya pusing sekali melihat deretan nama yang bentuknya tidak karuan. Hingga ia akhirnya bisa menemukan pesab tersebut.
@Leranuvila
Hai, Green! Bagaimana kabarmu? Setelah pertemuan kita dua bulan yang lalu, aku jadi tidak bisa bertemu denganmu lagi. Semoga kamu baik-baik saja. Seandainya ku sudah baca pesan ini, tolong balas dan temui aku.
@Hayselgun
Aku akan datang ke rumah kamu sekarang!
Tanpa menunggu balasan Green langsung pergi, menghiraukan Jeje yang memanggil namanya berulang kali. Seperti orang kesetanan, Green memacu mobilnya sangat cepat sampai melanggar rambu lalu lintas. Ia tidak peduli, yang penting Green bisa bertemu dengan Allera sekali lagi.
***
Allera bingung apakah dia harus pergi ke rumah Green atau tidak. Penampilannya masih sama seperti saat di televisi, hanya yang membedakan makeupnya saja sudah ia hapus. Untung saja bajunya tidak terlalu ribet, jadi Allera bisa dengan mudah untuk bergegas pulang. Keingat kejadian sebelum Allera memenangkan audisi. Allera kembali memastikan dimana Green, tapi yang ia dapat hanyalah ucapan dari Ibunya yang sedikit membuat Allera merasa kecewa.
"Haysel pergi keluar kota, kamu 'kan sudah tahu. Kenapa datang lagi?"
Rasanya sakit walau ucapan Ibu Green masih terbilang lembut, namun tetap saja dia merasa tidak puas dan masih ingin tahu keberadaan Green. Untuk itu sepertinya Allera harus pergi menemui Green. Ponselnya bergetar. Menampilkan pesan yang membuat matanya semakin membulat seratus persen, dan langsung pulang.
"Green!"
Ia melihat pria tersebut berdiri sesaat sebelum Green mengetuk pintu. Apa yang terpatri di wajah Green membuat Allera semakim rindu. Senyum dia memang sangat memabukkan. Dia berlari hampir terjatuh karena kakinya sendiri yang tidak bisa tahan untuk segera berdekatan dengan Green. Pelukannya sangat hangat, aroma yang selalu Allera rindukan sangat khas di tubuhnya.
"Aw! Kenapa kamu cubit sih?" pekik Green.
"Salah sendiri pergi tanpa pamit!"
Green menghela napas. "Maafkan aku, karena waktu yang tidak bisa dihindarkan. Aku gak bisa apa-apa, jadi aku pergi tanpa pamit."
"Tolong jangan pergi lagi, berkat kamu aku bisa melawan rasa takut aku."
"Kalau kamu bicara begitu, apa ini artinya kita sudah pacaran?"
"Ha? B-bukan!" Allera melepaskan pelukannya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, ayo masuk! Aku akan berdiskusi dengan Bunda untuk menanggalkan pernikahan kita."
"Apa? Tapi, bagaimana dengan ibu kamu?"
"Itu urusan gampang, tenang saja semua akan aku urus nanti."
"Walaupun telat, aku mencintaimu. Haysel!"
"Aku juga, selalu!"
----TAMAT-----
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai tamat, saranghaeyooooo~~