
Sudah sekitar dua jam lebih Green berkutat dengan dokumen-dokumen untuk membuat pasportnya, dan baru selesai sekarang. Sesuai yang diucapkan Jeje kemarin, ia ikut dengan duduk di samping Green sambil bersenandung riang. Sepertinya Jeje terlihat sangat senang bersama dengannya. Tampilan klasik terlihat saat Green memacu mobilnya. Sebuah kafe bernuansakan cokelat yang sangat minimalis sudah berada di depan. Green memutar balik menuju parkiran yang ada di belakang kafe. Gadis yang berada di sampingnya terus berdecak kagum ketika kafe yang dituju sudah terlihat. Wajar saja, Jeje meyukai warna cokelat.
mereka turun dari mobil, Jeje menggandeng tangan Green. Terlihat seperti sepasang kekasih yang terlihat sangat mesra. Keduanya berjalan beriringan. Tak jarang Green pun mendapat tatapan takjub dari beberapa perempuan yang sedang nongkrong disana, pun tidak absen memandang penuh memuja. Berharap mereka mendapat perhatian dari Green. Walau Green sendiri tidak terlalu peduli. Ia melepas gandengan Jeje.
"Kalau di tempat umum jangan gandeng tangan Kakak, ya?" pinta Green.
Jeje justru mengembungkan pipinya. "Kenapa?"
"Malu lah dilihatin orang, terus kamu gak mau 'kan dapat tatapan mematikan begitu dari para cewek?"
"Biarin saja," Jeje berujar sambil memalingkan wajah kesalnya. "Biar para jones kurang belaian itu makin panas lihat aku sama Kakak."
"Dasar adik Kakak memang susah banget kalau dikasih tahu."
Green pasrah dan membiarkan Jeje kembali menggandeng tangannya. Lonceng berbunyi ketika mereka memasuki kafe. Suara khas para pegawai hampir menyatu dengan ramainya kafe, belum lagi terdengar piano yang mengalun ke seluruh ruangan. Dari ujung pintu Green bisa melihat Allera yang masih tampil. Mungkin melihat penampilan gadis itu memang lebih baik. Green dan Jeje memilih duduk di meja bar yang kosong. Dengan tingkat waspada agar Allera tidak melihat dirinya. Tapi tidak mungkin Allera akan melihat ke sekelilingnya saat wajah Allera sudah menampilkan tingkat keseriusan yang sudah akut.
Green sedikit termenung sambil menopang dagunya. Kalau Allera sudah bisa bermain piano. Itu artinya Allera bisa mengajarkan dia tentang piano, kan? Green tersenyum penuh arti. Rasanya ia tidak sabar untuk belajar bersama lagi lebih lama. Green pun berani jamin, sepertinya dia sudah bisa menguasai gitar. Walau Green hanya membantu sedikit, karena Allera merupakan gadis yang mewarisi darah seni dalam tubuhnya.
"Oi, cowok brengsek!" Green menoleh hanya untuk mendapati wajah menyebalkan Kayla yang selalu meledeknya, seketika berubah ekspresi saat bersitatap dengan Jeje. "Hooh, siapa nih ..." Kayla menggunakan nada di setiap perkataannya.
"Dia a—"
"Pacarnya kah? Wah, gue gak nyangka Green punya selera sama anak-anak."
"Mohon maaf, Tante. Saya sudah kelas dua SMA jadi bukan anak-anak lagi," sela Jeje membuat Kayla sedikit mengernyit.
"A-apa lo bilang? Tante?"
Jeje menyombong dengan mengibaskan rambut panjangnya. "Gini yah, Tante. Tante tuh harusnya sudah menikah bukannya layan kesana-kemari."
Tunggu sebentar! Kenapa bocah ini terus memanggil Kayla dengan sebutan tersebut? Dan lagi ia merasa sangat tertohok ketika dia menyebutkan kata menikah. Bukannya dia tidak ingin menikah, hanya saja belum ada yang mau dengannya, lagian ia tidak ingin terburu-buru. Sebab di umur duapuluh tiganya masih terbilang sangat muda, bukan? Sama seperti yang dilakukan Jeje, ia mengikuti gerakan sombong bocah itu.
"Dengar ya, bocah! Gak usah suruh-suruh gue buat nikah kalau nilai lo saja masih di bawah rata-rata, mending belajar deh sana," titah Kayla lantas ia menoleh ke arah Green. "Green gue gak nyangka tenryata lo tergolong manusia pedofil, gue jadi takut kalau muka gue yang imut seperti bayi ini bakal jadi mangsa lo."
Green menganga. "Lo ngomong apa sih? Mana ada gue pedofil, yang lo lihat di depan itu adek gue, Tante."
Dengan wajah kesalnya ia berkacak pinggang, sepersekian detik ia mencubit pinggang Green dengan gemas. "Berhenti panggil gue sebutan itu, dasar cowok brengsek!" Kayla memmbuang muka. Green hanya bisa tertawa kecil sampai matanya teralihkan dengan piano yang kosong, tanpa ada yang memainkan benda tersebut.
"Lera dimana yah?" gumam Green yang langsung dijawab Kayla dengan cepat
"Alle? Tuh ..." gadis tersebut menunjuk ke arah depan, menampilkan Allera yang sedang menunggu kendaraan umum.
Itu berarti Allera hendak pulang. Green menggebrak meja, membuat Kayla dan Jeje pun terkejut dengan tingkah Green yang aneh . belum sempat Kayla berbicara Green sudah berlari dengan tergesa.
***
Sudah tidak ada yang dilakukan lagi, jadi Allera akan pulang lebih cepat dari biasanya. Lagipula, pasti Kayla selalu mengusir Allera kalau dia ingin lebih lama berada di kafe. Allera berdecak, padahal setelah tampil ia menjadi pelanggan dan memesan minuman. Apa salahnya dengan hal itu? Ditambah suasana hati Allera pun sedang tidak bagus. Sudah sekitar dua jam tampil, ia merasa risih dengan para pria yang terus menatapnya sambil berbisik dengan aneh. Awalnya Allera mencoba mengabaikan hal tersebut, tapi lama-kelamaan mereka semakin asik memandang mesum pada Allera yang sedang tampil.
Sebenarnya sudah seminggu ini Allera ingin sekali menghilangkan rasa takutnya. Tapi menghilangkan rasa takut tidaklah mudah. Tidak seperti kebanyakan orang yang dengan gampangnya mengucapkan bahwa rasa takut perlahan akan menghilang jika kita meyakini dan berusaha untuk menghilangkan rasa itu. Tidak mudah, Allera mengakui semenjak dirinya semakin dekat dengan Green. Gadis tersebut ingin mencoba untuk mengurangi rasa takutnya. Green membuka jalannya untuk berhenti berada dalam bayanng-bayang masa lalu.
Waktu itu Green selalu membawa sesuatu saat pergi ke rumahnya. Salah satunya adalah dreamcatcher yang memang sangat dibutuhkan oleh Allera yang akhir-akhir ini sering mengalami mimpi buruk. Tapi entah mengapa Allera masih belum bisa untuk berterus terang tentang keadaannya saat ini.
***
Pagi itu cuaca sangat cerah, tapi tidak secerah hatinya. Awan mendung menghiasi pikiran Allera. Semalam Allera bermimpi buruk lagi. Selalu menampilkan hal yang membuat dia semakin tidak ingin tidur lagi.
"Oi!"
Allera membuka mata, menampilkan Green yang sedang menatap Allera sangat dekat. "Astaga!"
"Haha. Kenapa lo malah kaget?"
Allera membuang muka. "Masih satu jam lagi dari janji yang lo bilang, kenapa datang cepat?"
"Gue cuma mau ketemu lo. Kenapa wajah lo suram begitu? Padahal di luar lagi cerah loh, dan kayaknya bakal seru kalau jemur pakaian di bawah sinar matahari." Green terkikik.
"Apa lo habis mimpi buruk?" tebak Green.
"Sepertinya iya."
Tingkah Green tampak aneh. Setelah Allera bekata seperti itu. Ia langsung berlari ke arah toko yang ada di seberang. Dengan secepat kilat juga Green datang lagi. Entah terbuat dari apa kaki Green itu.
"Nih buat lo!"
"Mau nyogok gue lagi?"
"Enggak lah! Mana ada!" Green mendengus. "Benda ini tuh ajib banget! Bisa nangkep mimpi buruk dan lo pasti gak bakalan dapet mimpi itu."
Allera sedikit tidak percaya. "Lo hidup di jaman apa sih? Batu arca? Percaya banget sama yang begituan."
"Ya sudah kalau gak mau, sini balikin!"
"Eh! Eh! Jangan lah, kan lo sudah ngasih ke gue."
"Yah, gue memang gak percaya."
"Terus kenapa lo nerima?"
"Gak apa-apa."
Allera memang tidak percaya akan hal seperti itu. Tapi ia malah tetap menyimpannya sampai sekarang.
***
Saat berada di halte bus, iris cokelatnya menangkap bus yang datang dan berhenti di depannya. Allera hendak naik melalui anak tangga. Sebelum tangannya dihentikan oleh seseorang. Allera menoleh.
"Apa lo gak lupa akan sesuatu?"
"G-green?" Allera tidak jadi naik bus tersebut. "K-kenapa?"
"Lo beneran lupa sesuatu?"
"Gue gak ngerti."
"Lera, kita 'kan sudah punya janji di kafe."
"Bukannya janji kita nanti malam, yah? Makanya sekarang gue pulang."
"Ah ... itu ... ternyata lebih cepat dari perkiraan gue, urusan gue sudah selesai. Makanya gue datang lebih cepat."
Allera mengangguk. "Kenapa lo gak hubungin gue?"
"Sorry, hape gue baterainya habis haha."
"Terus sekarang lo mau apa?"
Green menarik tangan Allera tanpa ragu, membuat Allera kaget dan hanya mampu melirik bingung pria yang ada di depannya sambil berlari kecil menuju kafe.
"Ah! Kenapa Kakak lama banget sih?" tanya Jeje, "aku bosen tahu kalau ditemenin Tante terus—Aw! Sakit tahu!"Kayla yang tidak sengaja melintas dan mendengar perkataan Jeje langsung menjitak kepalanya dan pergi begitu saja tanpa menoleh, lantas kembali melayani pesanan. Jeje mendengus berniat untuk memukul balik Kayla yang hanya terkena angin karena Kayla semakin menjauh.
Suasana hatinya langsung berubah tatkala Jeje melihat sosok perempuan berambut panjang dengan bibir tipisnya. Ia langsung tersenyum dan menyalami perempuan tersebut, sedang Allera hanya ragu dan membalasnya.
"Wah, jadi ini 'kan pacar Kakak?" tanya Jeje diselingi cengirannya yang lebar. "Kenalin, aku Jeje adiknya Kak Green, hehe."
"Pacar?"
Green mencubit tangan Jeje dan sedikit memajukan badannya. "Jeje, diam!" bisiknya. "Dia bukan pacar Kakak, diam saja jangan banyak bicara."
"Apa sih, Kak? Tapi emang bener, kan?"
Allera menggeleng walau dalam hati sedikit tertawa melihat tingkah Green bersama dengan adiknya. "Aku Allera, salam kenal ya."
Perkenalan tersebut tak berselang lama, lantas mereka mulai membahas apa yang akan dibawa oleh Green. Yaitu salah satu ciptaan Green yang menurutnya sedikit sedih dan entah itu salah satu pengalaman Green atau bukan. Di setiap lirik tersebut terlalu mengundang banyak kata-kata sedih yang membuat Allera pun tidak ingin melanjutkan bacaannya.
"Ini beneran lo yang nulis?"
Green terlonjak dan hanya mengangguk.
"Apa ini gak terlalu menyedihkan, ya?"
"Hm ... memang kenapa?"
"Bukan apa-apa sih, tapi kalau lo tetep kekeuh pingin bawain lagu ini. Gue ngikut saja."
Green mengangguk dan selanjutnya mereka mulai membahas bagaimana latihan selanjutnya karena mereka sudah menemukan lagu dan Allera pun bisa sedikit demi sedikit menguasai gitar. Walau belum semahir Green. Sebenarnya Allera kerap meminta Aldi untuk mengajarkannya walau dengan perasaan yang masih sedikit canggung. Tapi Allera patut bersyukur, akhir-akhir ini kedekatannya dengan Aldi mulai membaik, walau tidak sesering dulu sejak mereka masih anak-anak.
Perasaan yang tak terbendung ini terbawa oleh hari-hariku
Karena aku bimbang, bentuknya berubah lagi
Kurasa sekarang sudah terlambat
Tidak ada respon maupun jawaban
Semuanya dari awal dan akhirnya masing-masing
Aku menjulurkan tanganku lebih tinggi dan tinggi
Untuk menggapai cintamu yang semakin menjauh dan terbang
Lirik tersebut yang membuat Allera terngiang dalam otaknya. Allera menghela napas, setelah bertemu dengan Green. Pikiran serta tubuhnya benar-benar sangat lelah. Sehingga mereka meminta untuk segera rehat.
---