FIDUCIA

FIDUCIA
27



Jujur saja, Allera sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Sudah dari kebanyakan teman Green yang ia tanyai dan tidak ada yang mengetahuinya. Mereka hanya bilang bahwa Green memang sedang keluar kota. Sayangnya, hal tersebut mungkin tidak benar. Sebab Allera tidak bisa mengkontak Green sama sekali, bahkan saat di telepon pun nomornya tidak aktif. Allera selalu memandang gelang pemberian pria itu.


"Lera! Lera!"


Bunda memanggil, dan sepertinya ada sesuatu yang sangat penting. Jadi dia beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Bunda.


"Lihat itu!"


Desakan Bunda membuat Allera mendadak setengah berlari nenuju tempat duduk Bunda. Hanya untuk menampilkan acara televisi dengan iklan yang mengumumkan tentang audisi menyanyi. Ia langsung melihat dimana saja tempat untuk audisi tertutup yang sangat khas dan sering dilakukan setiap tahunnya. Allera saja tidak yakin kalau dia bakalan lolos babak itu, karena ia pun tidak merasa bagus dengan suaranya. Ia duduk di samping Bunda lantas tangan Bunda menyikut pinggang Allera.


"Ayolah! Ikut."


Menghela napas. "Gak mau, Bunda."


"Sekali-kali buat Bunda masa gak mau sih? Yah? Mau, ya?"


"Bunda aku gak mau, lagian ada banyak kerjaan yang harus aku lakuin."


"Tenang, bakal Bunda tanganin masalah itu. Pokoknya kamu ikut, ya?"


Bunda terus memohon, Allera bergeming dan hanya memindahkan saluran televisi. Agar Bunda berhenti meminta hal yang tidak bisa Allera lakukan. Ia bersandar di pundak Bunda. Sangat nyaman, sama seperti Allera waktu dia sering jatuh karena belajar main sepeda. Sejak Ayah pergi, Bundalah yang sering berada di samping Allera, dia yang selalu mengajarkan Allera semua tentang bersikap, bercerita tentang puteri-puteri cantik dari negeri imajinasi, dan suka membuatkan kue di setiap ulang tahun Allera.


Allera paling senang saat ulang tahun. Dimana Bunda bisa membuatkan kue apa pun dan selalu sesuai dengan keinginan Allera. Tahun terakhir Allera minta kue red velvet dan itu rasanya sangat enak.


"Kalau aku daftar jadi peserta, Bunda mau buatkan Allera kue setiap hari?"


Bunda menoleh. "Kue?"


"Iya."


"Yakin? Nanti kalau makan setiap hari kamu bakalan gendut loh." Bunda mencolek hidung Allera.


"Ya sudah gini saja, kalau Allera lolos di babak satu. Bunda mau 'kan bikinin Allera kue?"


Bunda terkekeh kecil. "Apa pun bakal Bunda buatkan, apa sih yang enggak buat anak Bunda."


"Wah, kuenya mana?"


Tiba-tiba Aldi masuk dan ikutan duduk di kursi sebelah. Melepas kemeja kerjanya lantas menyalami Bunda, ia kembali duduk. Meregangkan sedikit dasi yang mencekik.


"Abang gak boleh minta!"


Aldi terkesiap. "Pelit!"


"Biarin, pokoknya Abang gak boleh minta. Kue itu khusus untuk Lera!"


Aldi justru tertawa, membuat Allera memanyunkam bibirnya. Semenjak Allera bercerita secara jujur. Gadis tersebut lebih ceria dibandingkan dengan Allera yang dulu. Bahkan ia tak jarang sering menjahili Aldi. Padahal seharusnya tugas tersebut harus sang kakak yang meledeknya, justru sebaliknya. Allera kerap bertingkah lucu dan sering jail terhadapnya.


Pernah sekali Aldi sendirian menonton telivisi dan kebetulan Allera sedang lewat untuk keluar. Tapi langsung ia cegah kemudian menyuruh Allera untuk mengambil makanan.


"Lera, ambilkan Abang makanan dong. Buah kek, apa kek. Lapar nih," titah Aldi.


"Kenapa harus Lera? Ambil saja sendiri noh, lagian gak sampai satu kilometer juga."


"Gak nurut sama Abang kandung hukumnya dosa loh."


"Iya, iya aku ambil deh." Allera memutar bola matanya.


Pria itu tersenyum puas saat Allera memberinya segelas jus jeruk. Namun dia tak menyadari ada sesuatu yang janggal di minumannya.


Aldi memuntahkan minumam tersebut. "Kamu kasih apa ke minuman Abang?"


"Gula." Gadis itu memasangkan wajah kikuknya.


"Mana ada gula rasanya asin begini?"


"Mungkin gulanya sudah bermetamorfosis menjadi garam, Bang. Atau bisa jadi gulanya kebanyakan gaya, jadi keringat dan asin deh. Hehe."


"Dek, coba kamu minum."


"Gak mau, aku lagi diet jus jeruk."


Allera langsung kabur. Sedang Aldi menganga sampai Allera menutup pintu. Kejadiam itu semakin membuat Aldi menatap tajam ke Allera. Sedang Allera sendiri asik menonton telivisi. Ia berpikir, Allera harus bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat. Bukannya menghilangkan haus, Aldi justru merasakan dehidrasi saat meminumnya seteguk. Kalau bukan adiknya mungkin Aldi sudah mencoret nama dia di kartu keluarga.


***


"Kenapa Abang lihat-lihat?"


Mungkin ada pancaran hyper melewati batin Allera hingga dia bisa merasakan aura mematikan yang berasal dari Aldi. Tapi walau begitu ia tidak mengalihkan pandangan yang justru terus lurus menatap Allera membuat gadis tersebut mengadu pada Bunda.


"Bunda! Tuh lihat Abang! Natap aku begitu terus," seru Allera sambil menggelayut di lengan Bunda.


"Ada apa sih?"


"Lera, tanggung jawab soal jus jeruk itu. Terus kamu juga belum bayar janji sama Abang buat nonton bareng."


"Kapan Lera janjiin begitu? Mana ada!"


"Jangan banyak alasan."


"Ih, aku gak banyak alasan tuh."


Saat perdebatan Allera dan Aldi mulai sengit. Bunda melepas relungan dari Allera. Ia memghampiri Aldi dan berbisik padanya. Allera sendiri merasa tersisihkan, mereka hanya berbagi berdua tanpa mau memberitahu hal tersebut. Allera melihat Aldi tampak mengangguk sambil bilang bahwa dia setuju dengan ide yang Bunda usulkan.


"Kalian ngomongin apa sih? Aku ke kamar saja deh." Allera ngambek, tapi hal itu tak berlangsung lama sebelum Aldi mencegahnya pergi.


"Begini saja, sebagai gantinya. Lera ikut audisi itu ya?"


"Ha? Audisi apa?"


Allera berpikir sejenak, membiarkan beberapa potongan memorinya terkumpul kembali selama sekian detik. Sampai ia menemukan satu hal yang membuatnya ingat kembali selang satu menit kemudian.


"Jangan bilang ...."


"Yap! Mau, kan?"


"Bunda, aku 'kan sudah bilang gak mau."


"Apa? Bunda? Bunda gak lakuin apa-apa kok," Bunda membela diri sendiri.


Bagaimana Allera tidak tahu kalau itu saran dari Bunda. Sedangkan sebelum Aldi datang Bunda sudah membicarakan audisi tersebut. Lolos di audisi salah satu hal yang sangat mustahil. Tidak terhitung ada berapa manusia yang mengikuti ajang tersebut. Mungkin ratusan, bahkan ribuan. Setahu Allera pun, yang berbakat dan punya peruntungan yang bagus adalah hal paling penting.


"Kali ini saja ya, Lera." Bunda memohon kembali, ah! Jujur saja, jika Bunda sudah berekspresi seperti itu membuatnya tidak tahan melihatnya. Andai permintaan Bunda bukan hal tersebut, ia pasti akan mewujudkannya.


"Baiklah, aku akan ikut."


Bunda bersorak kegirangan dan memeluk Aldi. Membiarkan telivisi menjadi saksi mereka sebab Allera sudah menuruti keinginan Bunda. Baiklah, jika sudah begini Allera harus lebih rajin dan giat lagi dalam berlatih. Ia pun tidak ingin mengecewakan Bunda.


***


Panas menguliti Allera. Rasanya pakai sunblock pun tidak cukup. Ditambah ramainya para peserta. Audisi diadakan secara urut, sebelum tampil di depan juri pun Allera sudah merasa sangat lelah. Untuk yang belum mengetahui, audisi seperti ini tidak langsung menuju ke atas panggung. Melainkan harus disaring kembali yang tadinya ribuan menjadi ratusan, dan harus disaring lagi di atas panggung menjadi puluhan yang akan dibagi beberapa grup. Salah satunya akan diberi pelatih khusus dan pastinya penyanyi terkenal, ada pula dari mereka yang menggunakan artis yang sudah go international.


Dingin merajalela. Allera sudah menyelesaikan babak yang bisa Allera sebut sebagai audisi tersembunyi. Ia menghangatkan tubuh saat masuk ke dalam rumah.


"Gimana hasilnya?"


"Biasa saja, Bun. Ribet, masa nanti harus audisi lagi di atas panggung sama kayak barusan sih?"


"Itu artinya kamu lulus?"


"Untungnya Lera lolos, Bun."


Meskipun dia sedikit terlalu malas membahas hal tersebut. Namun Allera merasa bangga bisa tembus dari ribuan orang, dan ia pun harus memikirkan cara untuk bisa lolos di babak selanjutnya. Dimana para juri harus berputar untuk memilihnya. Ia membuka ponsel, menjelajahi dunia browser mencari informasi tentang siapa saja yang akan menjadi juri nantinya.


Bangga saja tidak cukup, perlu diketahui manusia memang selalu merasa belum puas dengan apa yang sudah mereka miliki. Perjuangan salah satu cara Allera untuk memuaskan rasa bangganya. Karena Bunda pun pasti akan selalu membanggakan anaknya. Lihat saja malam ini, padahal Allera baru akan memulai blind audition. Tapi Bunda memboyong seluruh ibu-ibu tukang gosip yang sering mengobrol dengan Bunda untuk hadir di acara yang Bunda adakan. Apa tidak terlalu berlebihan?


"Bunda, apa ini gak terlalu berlebihan?"


Kursi beserta meja yang ada di ruang tamu Aldi keluarkan, tentu saja dibantu Allera juga Bunda.


"Apa yang berlebihan?"


Allera meringis. "Kenapa Bunda harus undang semua orang? Apalagi sama saudara juga. Bunda aku tuh baru lolos ke babak blind audition, bukannya jadi juara di audisi itu."


"Jadi orang harus optimis! Jangan pesimis, Bunda yakin kamu pasti bakal jadi juara." Bunda melihat salah satu ibu-ibu yang memakai daster. "Ya 'kan, jeng?"


"Hm ... iya, jeng. Duh bangga banget yah jadi kamu punya anak yang bisa maju di audisi semegah itu."


Bunda terkekeh geli sambil menutup mulutnya. "Jeng, bisa saja sih. Ayo ayo dimakan! Maaf ya cuma disuguhi segini."


Allera memutar bola mata, ternyata Bunda lebih ramai dibanding dengan ibu-ibu itu. Memang sih, kalau soal gosip menggosip merupakan hal paling menyenangkan. Tidak hanya kaum ibu muda atau tua, melainkan laki-laki maupun perempuan rasanya sudah hal yang lazim sekali.


"Bunda lebih ribet ternyata," gumam Allera.


"Iya, Bunda memang seribet itu."


"Eh, Abang. Kupikir sudah pergi kerja."


"Loh, Dek. Masa kamu lupa jadwal kerja Abang sih? Abang tuh kerja dari pagi sampai sore saja, mana ada kerja malam."


Allera mengepalkan tangan, memukul tangan satunya yang terbuka. "Ah! Iya. Maaf aku lupa."


Aldi mengacak rambut Allera. "Bunda memang berbeda, semenjak Ayah pergi dan pindah kesini. Bunda menjadi wanita setegar karang. Padahal sudah diserbu badai tapi beliau tetap kuat dan menjadi Bunda yang sering menggosip."


"Bang, jujur aku gak suka bagian terakhirnya." Allera melipat tangan di dada. "Lagian siapa sih yang ngajak Bunda sampe jadi tukang gosip begitu?"


"Duh, sudahlah ... jangan jelek-jelekin Bunda begitu, yang penting sekarang ..." Aldi melingkarkan tangannya di tengkuk Allera. "Kamu lihat 'kan sekarang Bunda lebih bahagia dari beberapa tahun yang lalu. Intinya kamu harus jadi juara, tapi jangan muluk deh. Cukup masuk ke tiga juara itu sudah membanggakan banget."


Cih, padahal Abang yang mulai duluan. Allera mengangguk dengan terpaksa.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ