
Ada banyak pembelian bunga hari ini. Tak jarang ia pun sempat mencuri kesempatan untuk istirahat dan Bunda selalu menegur Allera agar tidak santai saat toko sedang ramai. Habisnya gimana ya, Allera tidak begitu berselera untuk melayani. Ia hanya ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil berselancar di layar pipihnya itu. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik atau kabar tentang orang yang selalu Allera tunggu sejak satu bulan lalu. Ia kembali membawa pot dengan bunga yang mekar indah, subur dalam tanah.
Berbicara tentang hubungan. Sebetulnya Allera tidak merasa yakin apakah hubungan mereka disebut sebagai sepasang kekasih atau bukan. Ia lebih melihat kalau Allera dengan pria itu hanyalah teman tapi mesra.
"Lera, tolong buatkan bucket bunga, ya? Tadi Bunda dapat pesanan untuk lusa. Biar Bunda yang melayani, daftar bunga-bunganya sudah Bunda catat di meja."
"Baik, Bun."
Allera berjalan sambil melihat daftar bunga tersebut. Mawar yang lebih banyak dengan warna yang berbeda tentunya. Membuat gadis tersebut lebih gampang untuk membuatnya. Allera sempat menghitung sudah berapa banyak bucket yang ia buat. Saat membuat benda itu jelas menyenangkan baginya. Tak jarang pula ada beberapa dari pembeli yang menanyakan hal sama, mampu membungkam mulut Allera.
"Nak Allera sering buat bunga pernikahan begini, lalu kamu kapan buat untuk diri sendiri? Kamu kapan nikahnya?"
Salah satu pembeli setia yang setiap bulannya membeli bunga di toko, pasti tak pernah absen menanyakan hal yang sama. Apalagi saat kepergok sedang membuat bunga tersebut. Allera menyengir kuda, ia hanya menjawab dengan anggukan.
"Loh kok gak jawab sih?"
Rasanya Allera ingin menanyakan hal yang sama tapi beda maknanya, "Ibu sendiri, sudah nikah, punya anak. Terus kapan matinya?" Tapi tak bisa. Ia hanya mampu tersenyum saat pertanyaan itu selalu muncul. Menjadi makanan sehari-hari untuk gadis yang mencepol rambutnya.
"Aku sudah sering, Bu, bikin untuk diri sendiri."
"Ah masa. Kalau begitu mana pasanganmu?"
Pertanyaannya selalu sama. Bagaimana ia bisa fokus membuat bucket ini kalau telinganya selalu disumpal dengan pertanyaan macam itu? Jodoh bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi ini menyangkut hidup bersama sampai tua. Salah-salah sedikit, pasti ujungnya malah ke meja hijau juga. Perpisahan. Salah satu faktor utama Allera mengapa hari ini masih melajang. Walau sebenarnya bukan sepenuhnya alasan itu Allera tidak menjalin hubungan.
"Pasangan saya sedang dipinjam orang lain. Jadi saya sedang menunggu dia, doakan saja semoga jodoh saya tidak kesasar dan Ibu tunggu saja, nanti aku bakal kirim undangan kok."
"Secepatnya loh."
Semakin lama Ibu ini semakin menyebalkan, ya? Toh, disini yang menjalani hidup Allera bukan dia. Lagian Bunda juga tidak pernah memaksa Allera untuk segera menikah. Bunda selalu berpesan untuk tidak terburu-buru. Pilihlah pasangan yang Allera sukai, terutama yang paling penting adalah;
"Seseorang yang tidak ringan tangan, sayang sama kamu dan keluarga."
Bunda selalu berujar seperti itu, Allera kerap merasa nyeri di dada. Ketika dua kata tersebut terucap dalam pesannya. Bunda memang membebaskan Allera untuk berkencan dengan siapapun. Tapi Allera tidak menggunakan kesempatan emas tersebut, yang justru lebih memilih untuk selalu berada di dekat Bunda.
"Ibu dipanggil Bunda tuh."
Setelah mengucapkan hal itu, Ibu setengah baya tersebut pergi menghampiri Bunda. Padahal sebenarnya Allera hanya berbohong saja untuk mendapatkan ketenangan dalam mengerjakan tugasnya ini.
Ponsel selalu setia berada di sampingnya. Tergeletak bebas. Sesekali melirik ponsel tersebut. Berharap beberapa detik kemudian akan menyala. Sedang tangannya masih asik menyusun. Ia tidak tahu sudah ada berapa pesan yang Allera kirim, tapi yang pasti Allera selalu mengabarkan keadaannya. Bahkan memori ponselnya penuh dengan foto keseharian Allera, tak jarang pula diselipkan foto konyolnya bersama Aldi.
"Apa dia sudah mati?" gumam Allera dan langsung memukul mulutnya sendiri.
Mulutmu harimaumu. Allera sangat bodoh akhir-akhir ini saat berbicara dengan diri sendiri. Mulutnya lebih sering mengucapkan kata tidak pantasㅡselalu doa tak layak yang ia rapalkan. Terkadang Allera sempat kesal pada diri sendiri saat Green tidak menghadiri kelas untuk memyelesaikan tugasnya.
"Lera, dimana partnermu?"
"Gak tahu, Bu. Mungkin dijadiin tumbal buat Nyi Roro Kidul," Allera berujar lemas.
"Ibu nanya serius loh."
"Beneran, Bu. Kayaknya dia lebih tertarik untuk jadi pengawal Nyi Roro Kidul daripada saya."
"Apa kamu bilang?"
"Eh bukan, Bu! Maksud saya, saya gak tahu Green dimana. Kami sudah hilang kontak seminggu yang lalu. Jadi sepertinya aku gak bakal ikut menyelesaikan tugas."
"Kalau kamu gak bersama dengan pasangan, Ibu gak akan bisa beri kamu sertifikat seperti yang lain."
"Gak apa-apa, Bu. Lagian itu cuma kertas kok. Gak terlalu penting juga."
Kejadian di kelas waktu lalu merupakan hal yang tidak terkondisikan. Allera tak habis pikir dengan mulutnya sekarang kalau sudah berbicara, ia lebih sering menggunakan mulut daripada otaknya. Walau itu hanya berlaku jika dia berada dalam situasi pertanyaan yang menyangkut tentang Green.
Ia menghela napas perlahan. Lalu membungkus dengan rapi hasil yang sudah jadi. Mawar terlalu indah, sampai membuat hatinya sakit.
mau ingetin lagi haha, untuk batas disini aku beri kilas balik dengan tanda ⚪⚪⚪ dan hanya di beberapa chapter happy reading
⚪⚪⚪
Ia tidak menyahut, yang justru menyiram bunga dengan telaten.
"Green!"
"Eh apaan?"
"Gue nanya kenapa lo gak balik juga?"
"Soalnya bunga dalam hati gue belom mekar, Lera. Makanya gue males pulang."
"Lebay banget, astaga! Cepetan sana pulang! Gue mau tutup nih toko."
"Gue bantu, biar nanti ke kafenya bareng."
"Hari ini gue gak ke kafe."
"Kenapa?"
"Gak apa-apa."
"Gue heran." Green memasang raut yang sedikit kesal. "Kenapa sih kebanyakan dari cewek kalau ditanya pasti jawabnya 'gak apa-apa' padahal seseorang yang beralibi itu pasti punya alasan masuk akal dan bisa menjelaskan kendalanya apa. Tapiㅡ"
"Karena cewek gak mau ribet!" sela Allera sebelum Green melanjutkan perkataannya.
"Astaga! Katanya gak mau ribet, tapi kenapa selalu bikin ribet cowok sih?"
"Itu mah memang dasar cowoknya saja yang gak mau mengerti, makanya selalu nganggep cewek itu ribet. Cewek gak seribet itu Green."
"Halah, intinya sama saja, kan? Kemarin gue denger Karrel putus sama ceweknya, saat ditanya 'kenapa mutusin karrel' eh dia malah jawab 'gak apa-apa' gue bisa bayangin gimana sakitnya Karrel saat alasan sudah pasti ada penjelasannya tapi gak pernah diberi tahu."
Allera menepuk dahi dengan pasrah, sambil menulikan telinganya. Gini nih kalau penyakit Green sudah kambuh, pasti sudah terpasang rel dalam rongga mulutnya dan ada kereta di atas rel tersebut. Dia menghitung pendapatan yang sudah Allera terima. Bunda sedang tidak enak badan. Awalnya Allera tidak ingin membuka toko kembali, tapi Bunda memerintahkan Allera untuk tetap buka. Hingga ia bertemu pria ini.
"Lera!"
"Apa?"
"Lo dengar gue ngomong kagak sih? Kalau kagak, terlalu lo."
"Berisik tahu gak, bantuin tuh sapuin lantai!"
"Kagak, cakep-cakep begini disuruh nyapu. Mau ditaruh dimana muka gue nanti?"
"Terus lo itu lagi ngapain?"
Green menaikan alisnya. "Ini? Apa lo buta? Lihat lah, gue 'kan lagi nyiram bunga."
"Apa bedanya sama nyapu? Cepat sana!"
"Ogah! Kalau gue dibayar mau saja." Green menyimpan semprotan tersebut dan langsung melipat tangan di dada.
"Mau dibayar berapa, hm?"
"Pergi sama gue ke festival nanti."
"Oke. Cuma itu, kan?"
Green mengangguk, lantas perintah yang diberikan Allera pria tersebut laksanakan. Terlihat juga raut wajah yang sangat cerah, Allera menebak kalau Green memang senang Allera menerima ajakan tersebut. Membuat senyuman tersebut menular, Allera diam-diam memperhatikan Green dan ikut tersenyum. Sesenang itu kah? Padahal hanya hal spele juga menurut Allera.
Pendapatan hari ini memang tidak seperti biasanya. Seolah para pembeli tahu waktu mereka untuk berduaan. Haruskah Allera bersyukur? Jawabannya biasa saja, Allera sudah nyaman seperti ini. Jarak mereka hanya sebatas teman, bukannya terlalu percaya diri atau bagaimana. Melihat reaksi Green, sepertinya pria itu menyukainya. Allera menyadarkan diri sendiri. Jangan sampai ia menjadi baper karena tingkah Green yang seperti itu. Salah sedikit, hati bisa saja jadi sakit.
Jangan terlalu berharap, apalagi pada manusia. Terkadang manusia mudah berubah, dan ujungnya hanya memberi harapan palsu.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ