
"When I cannot sing my heart, I can only speak my mind."
- John Lennon
.
.
.
.
.
Perayaan hari ini sangat meriah. Langit pun tampak mendukung jalannya acara. Setelah mendengar sambutan dari beberapa orang tertinggi di seluruh kampus. Sorak-sorai begitu memekakan telinga ketika lima orang yang digadang akan melakukan perilisan album tersebut naik ke atas panggung. Terdiri empat pria tampan dan satu perempuan dengan poni lucu terbingkai di dahi, menjutai hingga bahu. Mereka melakukan dengan sangat fantastis sampai pemudi yang berada di depan pingsan sebab sang gitaris yang mengerling genit.
Berbeda dengan grup satu ini, dengan jumlah personil yang samaㅡhanya satu yang membedakan, terdiri dari vokalis priaㅡtidak membuat eksistensinya pun terbilang sama.
"Oke guys, sebelum kita tampil. Lebih baik kita berdoa dulu."
"Santai Green gak usah tegang begitu, kayak acara apa aja. Ini 'kan cuma acara kampus doang. Apa lo takut kalau nanti makin terkenal?"
Green, pria dengan tinggi seratus delapanpuluh sentimeter itu memukul kepala kawannya, yang dibalas ringisan kecil. Mereka sudah latihan lima kali dalam seminggu. Wajar saja sih, band yang beranggotakan lima orang itu baru dibuat seminggu yang lalu dan Green baru menemukan posisi keyboard dalam bandnya. Akan sangat aneh jika pria tersebut memainkan instrumen yang berbeda dalam satu waktu.
Green menelan saliva saat teriakan terdengar melalui tenda yang berada di belakang panggung. Dia menggigit jari dengan tingkah seperti setrika. Pasalnya, dia memang belum pernah tampil dengan bentuk yang seperti iniㅡmembentuk band dan tampil di khalayak publikㅡapalagi terkesan sangat terburu-buru. Pasti penampilannya akan sangat kacau.
"Pasti kalian udah gak sabar, kan? Siapa yang tampil kali ini," teriak sang MC.
Para penonton saling bersautan menjawab pertanyaan perempuan yang membawa acara itu. Ia terlonjak saat sang basis menepuk bahu seperti mengatakan 'lo akan baik-baik aja' padanya melalui telepati yang terpancar di matanya.
Green merapikan kembali penampilannya, berusaha untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin. Karrel menyebut nama dia dengan lantang membuat dia mengalami sedikit demam panggung.
"Buat kalian nih ya para cewek, terutama yang masih jomblo. Kalian boleh panggil gue buat nanya-nanya apapun tentang—Green apaan sih!" bentak Karrel pada Green.
"Berisik! Lo gak denger noh si Claudia udah manggil-manggil kita buat tampil? Jangan nyantai gitu."
"Kita hidup di dunia itu harus santai, Bung! Kayak lagu yang lagi viral itu loh ... apa ya lagunya."
"Gini, Rel. Karena ku selow, sungguh selow, sangat selow, tetap selow, santai ... santai jodoh gak akan kemana." Pria satunya yang sedang memegang stik drum ikut menimpal dan dibenarkan langsung oleh Karrel.
Green mengabaikan Karrel, melengos naik ke arah panggung untuk penampilan perdana dia. Saran dari Karrel memang tidak ada salahnya, memainkan laguㅡArmada dengan judul Harusnya Aku memang sangat populerㅡyang sedang viral memang memicu para penonton untuk menyanyi bersama. Buktinya saat Green menyodorkan micnya ke arah penonton, mereka melanjutkan lirik berikutnya dan bernyanyi bersama.
Memang betul. Cinta tak berbalas sungguh menyakitkan, apalagi untuk seseorang yang sudah lama dekat dengan yang dicintainyaㅡGreen belum mengalami hal ituㅡternyata masih terikat hubungan dengan orang lain. Kalau Green merasakan hal itu mungkin dia akan jatuh dan tidak bisa kembali lagi.
***
Rasanya kaki Allera seperti mau copot dari pesendian. Kayla bilang akan datang sebentar lagi, tapi saat dia melihat arloji berwarna gold di pergelangan tangannya. Gadis itu tidak kunjung datang, dan lagi. Perasaannya semakin tidak tenang ketika kelompok pria atau saat pria tersebut sedang sendiri melewati Allera. Membuat pikirannya menjadi tak karuan ditambah kaki yang pegal dan lemas, ingin Allera berlari sejauh mungkin.
Sempat melupakan apa yang dipegang, Allera mengangkat gelas berembun berwarna cokelat yang sekarang sudah tinggal air saja tanpa es lagi di dalamnya. Mungkin Allera sudah terlalu lama berdiam diri sambil menunduk melihat kakinya yang terus ia adukan ke tanah.
Baru saja Allera hendak minum cokelat dingin itu, sebelum suara teriakan mengalihkan aktivitasnya. Mata sipit Allera terbelalak begitu saja ketika melihat seorang pria tinggi berlari kencang. Allera ingin menghindar, tapi kedua kaki dia seakan tidak mau mendengar perintah darinya. Sampai jantungnya pun berdegup sangat kencang ketika si pria itu berlari tanpa melihat ke depan dan terus berlari.
Allera memejamkan mata, mengeratkan pegangan pada gelas yang sudah tidak terasa lagi. Ia tak tahu dimana gelas itu, yang Allera tahu tangan dia seperti ditekan tusuk konde sangat dalam. Rasanya perih dan panas. Allera menjerit kesakitan merasakan sensasi tulang yang mungkin sudah terpisah. Ia sendiri tidak tahu kenapa sampai Kayla orang yang ditunggu Allera datang menghampiri.
"Allera! Astaga! Lo!" Kayla berujar dengan panik tanpa menolong. "Kenapa sama lo?"
Tapi enggan karena Allera sudah lebih dulu berteriak ketika tanpa aba-aba, orang tersebut menarik kakinya dan langsung kabur. Teriakan itu terdengar kembali, darah pun rembes kemana-mana dan terlihat cukup dalam lukanya.
Green berujar kembali, "Lo gak apa-apa? Sini gue bantu berdiri dan gue yang bakal bayar pengobatan tangan lo."
Dengan cepat Allera menolak. "Gak! Gue gak butuh bantuan lo! Pergi," ucapnya sedikit lemah dan penuh penekanan.
Tuh cewek gimana sih? Padahal Green sudah bela-belain baju kotor buat bantu dia.
Iya tahu tuh.
Kalau gue yang kayak gitu sih gue bakal bilang iya.
Dasar cewek gak tahu diri, sok jual mahal!
Allera dan Kayla jelas mendengar ucapan-ucapan cewek kegatelan itu. Kayla saja ingin sekali menjahit mulut mereka satu-persatu. Tapi, Allera sang superstar lebih penting daripada mulut netizen yang selalu berkata seenak jidat mereka.
"Alle, gue bantu lo masuk ke dalam. Kayaknya lo lemes banget."
Gadis dengan jepitan merah muda di rambutnya hanya mengangguk lemah, lantas Allera dibopong sekuat tenaga oleh Kayla dan masuk ke dalam kafe.
Tak banyak bicara, Green hanya mematung melihat kedua punggung tersebut menjauh melewati pintu yang bertuliskan open. Lantas ia melirik tajam, membekukan seluruh mulut fansnya dengan ekspresi yang sangat terkejut.
Green menyusul Kayla dan Allera. "G-gue," Green berusaha berkata sebaik mungkin tapi tetap saja malah gugup.
"Kayla, suruh orang itu perㅡ Aw! Sakit!"
"Maaf, maaf. Gue 'kan lagi pake perban buat tangan lo, yah walaupun gak sempurna kayak dokter-dokter yang biasa ada di film itu sih." Kayla mengedik, lantas mengambil adhesive cloth tape untuk menutup bagian yang sudah di perban dan jelas sebelum di perban Kayla menggunakan ice pack terlebih dahulu untuk mengecilkan bengkak pada tangannya.
"Gue mau pulang, Kay!"
"Tapi, Alle. Lo tahu sendiri, kan? Lo gak bisa pergi gitu aja kalau lo udah ada disini. Itu perjanjian awal, dan lagi sekarang ada tamu VIP juga. Apa lo bisa tampil?"
"Menurut lo?"
Kayla mengangguk. Raut wajahnya pun berubah menjadi sangar saat kembali menatap Green.
"Ini semua gara-gara lo! Tanggung jawab!"
"Kalau gue kesini, itu artinya gue mau tanggung jawab atas apa yang mereka lakuin."
"Good! Lo penyanyi, kan?"
"Darimana lo bisa tahu?"
"Keliatan, sekarang! Gue mau lo gantiin posisi Allera sebagai pengiringnya karena ini semua ulah lo juga!"
"Kay, jangan gila! Gue mau pulang aja!" seloroh Allera yang beranjak, namun ditahan oleh Kayla.
"Kalau lo pergi, lo gak bakal bisa tampil lagi disini." Terdengar seperti ancaman bagi Allera. Tapi ada benarnya juga, mendapat kerja paruh waktu di sini memang sangat susah. Ditambah dengan perjanjian yang membuat Allera harus mengatur waktunya dengan tepat. Tapi ini terbayar dengan apa yang dia dapatkan, Allera bisa dengan tenang tampil tanpa harus merasa khawatir terganggu.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ