
“There is no such thing as a perfect family. Behind every door there are issues, the difference is accepting and encouraging each family member as they are not as we would like them to be.”
–Catherine Pulsifer
.
.
.
.
.
Sekitar pukul lima Allera selesai membawakan beberapa lagu serta instrumen kecil di Cafe itu. Tangannya cukup lelah. Lantas Allera meregangkan tubuh berniat untuk pulang ke rumah karena Kayla terus-menerus menyuruhnya. Padahal Allera sendiri masih ingin berada di Cafe ini. Sebab, hanya Cafe D'Love membuat Allera nyaman selain banyaknya kaum hawa yang sering datang kesini terutama kaum muda-mudi. Allera senang bisa menghibur mereka.
Karena masih ingin berlama-lama di tempat itu. Allera memutuskan untuk memesan pada waiters yang ada di Cafe.
"Iced americano-nya satu ya, Mbak."
Perhatiannya selalu teralihkan oleh desain yang diberikan Cafe D'Love. Meja kasir menyatu dengan barista-nya, dibatasi kayu setinggi dada. Sedang tempat kasir sekitar paha orang dewasa. Bagian tengah diberi simbol king cokelat dengan garis tipis dan latar belakangnya berwarna putih. Satu buah komputer yang di bawah itu ada ukiran seperti catur dengan warna cokelat dan putih. Allera seperti berada di dunia cokelat.
Lampu-lampu bohlam yang sering Allera lihat saat kecil tergantung di atasnya. Mereka dibiarkan menyala, karena memang di Cafe D'Love itu tempat yang di kelilingi gedung tinggi samping kanan serta kirinya. Jadi wajar saja jika matahari terkadang tertutup tingginya gedung tersebut. Buat Allera sih, justru keadaan seperti inilah yang paling Allera sukai. Karena suasana seperti itu membuat Allera ingin terus dan terus berada di tempat itu.
Allera mengalihkan pandangannya ketika sudah terlalu lama memandang lampu bohlam itu. Melalui jendela kaca transparan. Allera sudah disuguhi sesaknya Jakarta. Ia menghela napas, kemudian merasa terkejut saat pelayan memberikan pesanannya.
"Ini Mbak, iced americano-nya."
Sensasi dingin membasahi tenggorokan yang hampir kering setelah menyesap minumannya. Meja berbentuk segiempat memanjang ikut bergetar tatkala ponsel Allera berbunyi beberapa kali.
"Iya, Bun? Ada apa?"
"Kok tanya kenapa? Ibu sudah capek bikin makanan kesukaan kamu, jadi cepet pulang."
Allera menjauhkan ponsel dari telinga. Suara Bunda memang terdengar sangat nyaring.
"Sebentar ya ... Lera mau abisin kopi ini dulu."
Setelah itu Allera menutup telepon Bunda-nya tanpa mendengar lanjutan percakapan yang hendak Bunda katakan. Allera pikir lebih baik Bunda berbicaranya di rumah saja. Daripada saat Allera di luar yang harus capek mendengar ocehan Bunda.
Jakarta memang benar-benar sesak. Dari mobil kecil sampai besar mengelilingi sekitarnya. Belum ditambah dengan motor yang salip sana-sini. Menyebabkan udara kotor semakin meningkat dan bisa membahayakan manusia. Padahal Allera sedang memakai masker, tapi polusi itu seolah masih bisa menemukan jalan masuk ke hidungnya.
Wajar saja. Allera jarang memakai kendaraan pribadi ataupun taxi. Gadis bertubuh langsing itu selalu menggunakan angkutan umum seperti busway, kalau sedang kepepet pun ia sering menggunakan ojek online.
Perjalanan menyesakkan itu berakhir saat Allera sudah sampai di rumahnya. Rumah sederhana yang didominasi warna putih bagian tembok dan cokelat untuk jendelanya pada bagian luar. Allera tidak merasa risih atau minder dengan apa yang dia tidak miliki, Allera cukup bersyukur karena masih memiliki tempat untuk bernaung bersama dengan keluarganya.
"Aku pulang!" teriak Allera.
"Akhirnya datang juga, cepat mandi dan ganti baju. Abangmu belum pulang, jadi jangan makan terlebih dahulu."
Allera terdiam. Iris cokelatnya menatap Bunda dengan tatapan kosong. Allera menelan saliva perlahan dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia mencoba menahan rasa itu, tapi Bunda sudah lebih tahu dan langsung bertanya padanya.
"Lera? Kenapa?"
Gadis berbaju kemeja itu tidak menjawab. Alih-alih menjawab, Allera justru meninggalkan Bunda dan bergegas berlari menuju kamar untuk membersihkan diri. Pintu sengaja ia tutup dengan sangat kencang, membuat Bunda sedikit terkejut juga.
"Alleㅡ" teriak Bunda yang terputus di akhir kalimat.
***
Denting beradu memecah keheningan. Kaki yang bergetar mencoba untuk ditahan sebisa mungkin, tangannya seolah tak mampu untuk memegang erat sendok serta garpu. Sendok itu semakin terdengar ditambah suara kunyahan yang sengaja agar terdengar oleh orang lain. Allera tak mampu menatap apa yang ada di depannya. Gadis riang mendadak berubah saat di rumah. Berulang kali Allera meminum air di gelasnya, sampai tidak terhitung sudah berapa kali ia tersedak.
"Astaga! Lera, kalau minum itu hati-hati! Jangan buru-buru!"
Bukannya semakin membaik, batuk Allera semakin menjadi. Napasnya seolah ditarik dari bawah hingga ubun-ubun. Gelas yang ia pegang untuk minum pun sempat memumpahkan airnya. Karena Allera yang sedari tadi tidak benar memegang gelas.
"Minum pelan-pelan. Gak bakal Abang abisin kok."
Suara bariton itu selalu sukses membuat Allera menjadi tidak karuan.
"Iya, Bang Aldi gak serakus itu kok, Lera anakku yang cantik," Bunda ikut menimpal dengan makanan yang masih tersisa di mulutnya.
Rinaldiㅡkakak sekaligus orang yang bertanggung jawab penuh atas adik satu-satunya itu mengangguk. Wajah Allera sukar untuk didefinisikan. Aldi selalu menangkap bahwa Allera terlalu cuek dan tidak peduli. Bahkan saat tersedak pun tatapan mata Allera selalu tajam dan jarang tersenyum saat di rumah.
"Bunda, Abang. Lera sudah selesai makan, aku langsung ke kamar ya?"
Allera mendorong kursi ke belakang sampai menimbulkan pekikan tajam dari kaki kursi. Setelah menutup pintu, ia terduduk di lantai sambil memeluk lututnya dengan erat. Bukan karena Allera tidak ingin menghilangkan rasa itu, hanya saja keadaan Allera yang terus mengingat hal-hal yang tidak ia inginkan. Contohnya seperti tadi.
Tidak mau berlarut dalam ketakutan dan kesedihan yang seperti itu. Allera bangkit. Menuntun kakinya menuju piano digital yang ia letakkan samping nakas. Kamarnya tidak begitu luas, tapi sangat nyaman untuk beristirahat.
Allera membersihkan tempat duduk yang mungkin sudah berdebu akibat Allera yang jarang memakai piano tersebut selama satu hari penuh.
Blackbird singing in the dead of night
All your life
You were only waiting for this moment to arise
Suara Allera sangat rendah saat masuk ke nada pertama. Ia melihat kebawah pianonya dan standing-mic yang sengaja Allera pasangkan di samping piano tersebut. Kamera yang menyala pun merekam aksi Allera bernyanyi melatih suaranya.
Blackbird fly, blackbird fly
Into the light of a dark black night
Blackbird fly, blackbird fly
Into the light of a dark black night
Blackbird singing
Napasnya sangat teratur saat mulai ke nada yang paling tinggi, suara piano pun tak luput mengiringi Allera. Ia terus menekan setiap tuts yang ada di lagu tersebut.
Blackbird singing in the dead of night
Take these sunken eyes and learn to see
All your life
You were only waiting for this moment to be free
Blackbird fly, blackbird fly
Into the light of a dark black night
Blackbird fly, blackbird fly
Into the light of a dark black night
Blackbird singing
Kembali dengan nada-nada yang indah, Allera bisa menyelesaikan lagu itu dengan sempurna. Mengambil kamera dan berjalan menuju kasurnya. Memasukan file ke dalam laptop dengan cepat. Fokusnya teralihkan saat Bunda mengetuk pelan dan memanggil nama Allera.
"Lera ... Bunda boleh masuk?"
"Iya, Bunda. Masuk saja."
Pintu terkuak lebar. Bunda membawakan segelas susu putih hangat yang biasa ia lakukan setiap malamnya. Padahal Allera sudah besar dan bukan anak kecil lagi. Tapi Bunda selalu memperlakukan Allera seperti puteri kecilnya dulu. Meski dia heran kenapa Bunda menganggap Allera sudah besar tapi masih rutin melakukan hal itu.
Allera tersenyum ketir saat Bunda mendekat dan menyodorkan gelas tersebut.
"Bunda ... tadi pagi 'kan Bunda bilang ke aku kalau aku sudah besar. Tapi kenapa masih ngasih susu putih malem-malem buat aku? Aku 'kan sudah berumur 22 tahun, Bunda."
"Kamu gak akan besar kalau gak Bunda kasih ini. Karena kamu masih proses pertumbuhan."
"Pertumbuhan apa Bunda, semuanya sudah tumbuh di tubuh Lera. Nih lihat!"
Allera menunjukkan lekuk tubuhnya, Bunda tertawa. Lantas kembali menyodorkan gelasnya.
"Minum, biar tidur kamu makin nyenyak."
"Tapi Allera masih mau cover lagu, Bun."
"Kamu sering cover lagu, tapi kenapa belum ada dari video itu yang kamu upload ke sosmed kamu? Padahal Bunda yakin kamu pasti bakal terkenal."
"Soal itu ... aku ..."
"Yasudah, lanjutin saja. Tapi tetap diminum ya."
"Iya, Bunda."
Entah kenapa Allera tidak mampu mengatakan kenapa Allera tidak menyebarkan video covernya ke khalayak. Padahal Bunda memang sudah mendukung Allera sejak kecil. Allera mempunyai bakat menyanyi, Bunda sendiri yang menyadari dan mulai mendaftarkan Allera ke kursus musik. Bunda sempat untuk membuat Allera mengikuti audisi, tapi Allera selalu tidak yakin dan lagi rasanya ia tidak dapat menatap satu-persatu dari sekian banyaknya peserta.
Jadi Allera hanya bisa menuangkan bakatnya melalui Cafe dan cover lagu yang walaupun tidak pernah ia sebarkan.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Backsound by The Beatles - Blackbird 🎶
Waktu nulis cerita ini, aku cari tentang cover orang yang pakai piano. Terus nemu deh lagu tersebut. Entah kenapa lagunya enak banget buat didenger. Walaupun versi cover tapi aku suka. Jadi deh kusarankan Allera untuk coverin lagu itu.
Hahaha sekian, wassalam.
Papai~