
Allera sempat mengingat beberapa informasi yang Green pernah sampaikan padanya. Itu pun saat sedang mengobrol santai di teras rumah. Allera ingat sekali Green yang sering membawa gitar, termasuk susu kotak cokelatnya yang entah mengapa selalu Green bawa. Serta Green pernah bercerita tentang kuliahnya. Ternyata Green mempunyai bakat sedari kecil, ia selalu bersekolah dengan fasilitas yang tidak jauh dari seni. Bahkan saat ini pun Green kuliah di salah satu Universitas Seni pertama yang ada di Jakarta. Walau sangat disayangkan, ia kuliah di tempat itu tapi tidak bisa memainkan piano sama sekali.
Untuk sejenak Allera dapat melupakan keadaan kafe yang masih memperhatikan penampilannya. Kedua tangan yang terus menekan tuts, mengalun dengan indah. Ada beberapa dari pembeli yang mengabaikan, dan tidak sedikit pula yang menikmati nyanyian merdu. Allera tidak mempermasalahkan hal itu. Selama ada orang yang masih mendengar permainannya, ia akan sangat senang.
Setelah menyelesaikan aksi di kafe tersebut. Allera melangkahkan kakinya, menuju tempat yang mungkin dapat memberikan Allera informasi lebih banyak lagi. Tak jarang, Green sering mengajak kawannya untuk menikmati apa yang mereka tunjukan. Terkadang salah satu dari mereka pun mendukung hubungannya dengan Green. Padahal Allera sendiri tidak begitu berharap besar untuk menjalin hal yang tidak bisa ia lakukan sama sekali.
Allera jelas tidak begitu paham dengan istilah pacaran. Ia hanya tahu bagaimana caranya untuk menjadi lebih baik dan berpikir cara untuk membahagiakan Bunda.
Rerumputan kecil yang dihias menjadi bentuk lambang kampus Universitas Seni Jakarta terlihat sangat asri. Pandangan Allera terpaku pada sorot lampu yang terpasang di sudut kanan dan kiri. Allera menjelajahi keadaan sekitar, ternyata banyak juga yang minat dengan seni. Belum lagi orang-orang yang membawa alat musik. Keadaan memang sedikit sepi, dan mungkin hanya untuk mahasiswa yang berada di kelas karyawan.
"Apa gue boleh masuk?"
Allera melihat kesana-kemari, wajahnya pun sukar untuk dijelaskan. Ia kembali meremas ujung bajunya. Masalahnya Allera tidak tahu, Green berada di jurusan mana. Dia tidak pernah memberitahu. Allera menggaruk tengkuknya. Bodoh sekali. Ia baru menyadari sesuatu yang tidak Allera ketahui tentang Green, ia tidak pernah mengurusi masalah privasi Green apalagi menanyakan alamat rumahnya. Bisa-bisa pria itu akan jungkir balik saking senangnya.
"Permisi."
Allera memegang dadanya karena terkejut saat seorang lelaki menyentuh pundaknya. Wajah itu sangat familiar, ia sering melihat orang ini.
"Lo, Lera 'kan?"
"Ya ... s-siapa?"
Pria itu bertepuk tangan. "Gue gak nyangka lo bakalan kesini, kenalin ..." ia mengulurkan tangan. "Gue Karrel, lo tahu lah. Gue temannya Green."
Allera dengan ragu membalas uluran tangannya. "O-oh salam kenal."
"Lo ada apa datang kemari? Nyari Green?"
"Itu ... sebenarnya." Allera terlihat ragu untuk menjawab tapi tetap ia lanjutkan, "y-ya gue cari dia, gue mau balikin gitarnya."
"Sayang banget, gue sudah lama gak ketemu Green. Gue gak tahu apa yang terjadi sama anak itu, karena gue juga lagi sibuk sama project gue. Oh iya, lo duduk disini."
Mereka berjalan sambil mengobrol, memperlihatkan seisi kampus yang membuat Allera sedikit iri dengan mereka yang berkesenpatan mendalami ilmu seni musik. Bakat yang tidak mungkin ia remehkan, seandainya Allera mempunyai kesempatan dan waktu yang lebih dulu. Mungkin Allera pun bisa melanjutkan pendidikan di tempat ini. Allera tersenyum saat Karrel mempersilahkannya duduk di antara bangku taman yang disediakan oleh kampus.
"Apa lo tahu alamat rumah dia? Ah! Maksud gue, apa lo gak pernah ke rumah dia?"
Karrel melirik tidak percaya, ternyata usaha yang dilakukan Green memang tidak sia-sia. Jelas karena itu juga hasil bantuan dari Karrel yang selalu mendengar cara untuk Green bisa lebih dekat dengan Allera.
"Hm ... sebenarnya gue sudah pernah datang, waktu ditanya ke Ibunya. Dia cuma jawab, Green pergi keluar kota. Tapi gak pernah ngasih tahu kemana dia pergi. Gue juga gak lihat adiknya waktu kesana."
Ternyata lebih sulit dari yang Allera bayangkan. Menurutnya Karrel merupakan satu-satunya orang yang memiliki koneksi lebih dengan Green. Ternyata dia tidak tahu keberadaan pria itu.
"Apa lo mau gue antar kesana?"
***
Dibandingkan dia harus bersama dengan Allera, lebih baik ia meminta alamat dan mencarinya seorang diri. Awalnya begitu, ternyata lebih sulit jika mencari alamat dimulai dari kampus. Ia tahu komplek citra. Tapi belum pernah Allera melewati jalan tersebut. Sebab, yang dia hafal hanyalah tempat kafe, kursus termasuk rumahnya. Selain itu, dia jarang keluar. Bahkan saat Kayla mengajaknya untuk main bersama Allera tidak begitu memperhatikan jalan, yang ia tahu hanyalah cepat sampai.
Menggunakan kendaraan umum akan semakin sulit, karena Allera harus berjalan kaki dari halte bus yang berada di depan sekolah salah satu desa yang ia pijaki saat ini. Ia berjalan sepuluh kilometer sebelum ia menemukan minimarket, dan bergegas menuju tempat tersebut.
Setelah membayar beberapa makanan yang ia pesan. Allera duduk di dengan kursi yang mengitari meja. Perutnya keroncongan, ditambah langit sudah mulai gelap. Ah, seharusnya Allera berangkat siang hari bukan sore hari seperti ini. Jalanan disini terasa sangat asing. Mungkin inilah akibatnya jika dia terlalu sering berada di dalam rumah.
"Gimana sih! Budayakan antri, jangan main nyerobot gitu. Issshhhh! Jadi telat 'kan gue!"
Allera mendengar seorang gadis dengan pakaian kodoknya mengeluarkan kekesalannya sambil menendang kaleng yang berada di depan. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan ke mie instan yang sudah ia buat sejak tadi, saat mata mereka saling beradu.
"Oh! Kak Lera! Iya benar Kak Lera!" ia berujar sambil berlari dan sedikit berteriak ketika sampai di tempat Allera berdiam diri.
"Ha-hai, Jeje."
"Wah beneran Kak Lera! Perlu diabadikan nih," seru Jeje dengan tangan yang mengambil ponsel yang berada di tasnya. "Ayo sini, Kak! Foto bareng, astaga! Ini benar-benar langka banget!"
Allera kehilangan kata-kata. Lantas ia menurut membuat gaya senatural mungkin dengan membentuk dua jari yang terangkat sambil tersenyum ramah. Ia sempat kewalahan saat Jeje terus meminta Allera untuk berfoto bersama dengannya.
Jeje mengambil kursi kemudian duduk. "Ini benaran super amazing luar biasa loh aku ketemu Kakak disini. Oh iya, kenapa Kakak kesini? Sudah mau malam loh."
"Kamu sendiri gimana? Kenapa keluar sendirian?"
"Ah itu ... aku 'kan tinggal disini, lagian dekat rumah juga."
Jeje merasakan sesuatu yang membuatnya menyipitkan mata. "Mau ketemu Kak Green, ya?" pekik Jeje dengan menuduh Allera.
"E-enggak kok."
"Jangan bohong! Bilang saja gak apa-apa. Tenang, rahasia Kakak aman di tanganku."
"Hm ... kalau gitu, apa kabar Kakakmu. Jeje?"
Jeje mengangguk. "Oh, Kakak. Dia baik kok."
"Terus sekarang dia ada dimana?"
Pertanyaannya berembus bagai angin hingga Jeje pun seolah tidak mendengar apa yang Allera tanyakan. Wajahnya mendadak beku tanpa ekspresi, iris matanya masih menatap Allera dengan kosong. Sampai ia pun melambaikan tangan di depan wajah Jeje.
***
"Jeje, dengar tidak kata Ibu?"
Jeje menundukan kepala, bergeming dan hanya memilin jemarinya. Tahu begini, Jeje lebih memilih untuk pergi menonton bersama temannya daripada harus menuruti perintah Ibu. Terkadang Ibu juga terlalu tegas dengan apa yang dia inginkan dan harus dilaksanakan, Jeje sempat tidak setuju dengan permintaannya. Memang apa salahnya jika semua orang tahu tentang hal itu? Lagipula tidak akan ada yang peduli, walaupun ada. Tapi tidak berlangsung lama.
"Kenapa sih gak boleh dikasih tahu? Kemarin Jeje juga sempat ditanyain sama Kak Karrel tentang Kakak. Kenapa harus dilarang?"
"Pokoknya turuti apa kata Ibu, jangan kasih tahu siapapun tentang Kakakmu. Bilang saja dia keluar kota." Ibu beranjak sebelum dia pergi ia berujar, "terutama untuk gadis yang dekat dengan Kakakmu."
"Ah! Ibu nyebelin!"
***
Permen yang Jeje beli menggantung di mulutnya, melumat sedikit sampai habis tak bersisa. Allera melihat Jeje melamun, sepertinya suasana hati Jeje sedang buruk.
"Jeje?"
"Iya, Kak?"
"Jadi kamu tahu Kakak kamu ada dimana?"
Gimana nih? Apa gue kasih tahu saja, ya?
Jeje bermonolog dalam hatinya, beradu pendapat mana yang lebih baik untuk Allera. Gadis itu tahu kalau Allera pasti sedang mengkhawatirkan Green, meskipun masih terlihat sangat malu-malu.
"Jeje?"
"Anu, Kak."
"Gimana?"
"Sebenarnya ... Kak Green pergi ke luaㅡ"
Ibu datang dan memanggil Jeje, "Jeje, sedang apa kamu disini?"
"A-ah Ibu, aku lagi ngobrolㅡoh iya, ini temannya Kak Green." Jeje menunjuk ke arah Allera, sontak membuat Allera pun berdiri sambil membungkuk.
"Perkenalkan saya Allera, Bu." Allera mengulurkan tangan, yang hanya dibalas cuek oleh sang Ibu.
"Jeje, ayo pulang bareng Ibu."
Jeje mengangguk lantas mengikuti Ibu. "Kak Lera, aku pamit ya."
Ia hanya melihat punggung mereka yang semakin mengecil, Jeje tadi mengatakan tentang Green. Namun perkataannya sangat tidak jelas. Allera menimang kemungkinan besar Green berada dimana melalui ucapan Jeje yang sempat terpotong tadi.
"Lu ... luar?" gumam Allera.
Tapi luar apa? Luar negeri atau luar kota? Karrel bilang katanya Green ke luar kota, jadi ada kemungkinannya kalau Green memang sedang disana. Lantas kalau hanya luar kota kenapa ia tidak bisa menghubungi Green sama sekali? Seharusnya ia masih bisa berkomunikasi dengan Green walau dengan ponsel dan internet. Allera kembali memakan mie instannya, merasakan panas dalam lidah dan tenggorokan. Ia tidak tahu tempat mana yang disinggahi Green. Berharap semoga Allera mendapatkan petunjuk lebih.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ