FIDUCIA

FIDUCIA
8



“It's so hard to forget pain, but it's even harder to remember sweetness. We have no scar to show for happiness. We learn so little from peace.”


― Chuck Palahniuk, Diary


.


.


.


.


.


Mendapat penolakan ternyata sesakit ini. Green baru tahu rasanya ketika Allera menolak mentah-mentah untuk menjadi pengiring musiknya. Padahal dilihat secara penampilan pun, tidak ada yang kurang sama sekali. Walaupun ada satu sih. Green masih belum sempat minta maaf secara resmi ke Allera. Gimana mau lakuin hal itu, kalau Allera-nya saja seolah enggan untuk berada di dekat Green. Bahkan berbicara basa-basi pun rasanya tidak pernah. Seharusnya seperti yang sering dibicarakan Karrel. Pertemuan kedua merupakan momen paling tepat untuk mendekatkan diri, terutama gadis cantik seperti Allera.


Green secara tidak sadar menggeleng keras, mencoba untuk menetralisir keadaannya saat ini.


Sadar Green, sadar! Lo 'kan cuma bantu cewek itu sampai sembuh, kenapa lo malah terpesona gini? batin Green menyadarkan diri.


Baiklah. Green akui kalau dia memang sedikit terpesona akan kecantikan Allera. Siapa coba yang tidak terpesona, apalagi mata sipit dengan iris berwarna cokelat selalu menjadi perhatian Green. Belum lagi suara Allera saat bernyanyi yang terus-menerus terngiang dalam telinganya. Lelaki manapun juga pasti akan terpesona.


Pintu terketuk mengalihkan Green yang sedang memandang atap kamarnya sambil memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Dengan gontai Green berjalan menuju pintu yang langsung menampilkan sosok perempuan mungil dengan rambut tipis menutupi keningnya.


Ia tersenyum, kemudian berkata, "Kak, anterin Jeje ke toko buku yuk."


Toko buku jaraknya tidak terlalu jauh dari taman dan itu artinya.


"Astaga!"


Jeje ikut panik juga. "Apa, Kak? Kenapa? Kenapa?" Tangannya memegang baju Green sambil ditarik sekencang mungkin.


"Apa Kakak lupa sikat gigi lagi?"


Pria itu memukul kepala Jeje. "Aw! Sakit tahu, Kak!" ia berujar sambil mengelus menghilangkan rasa sakit.


"Itu mulut minta Kakak lakban." Green menjeda sejenak, lantas pergi menuju kursi dan mengambil gitarnya. Jeje terlihat kebingungan. Sebelum Green melanjutkan perkataannya lagi, "Kakak juga mau kesana, biar sekalian."


Jeje membulatkan bibirnya. Tanpa basa-basi Jeje menarik tangan Green untuk segera pergi ke toko buku. Green tidak memakai mobil untuk pergi. Tapi dia biasanya menggunakan motor kesayangan yang Green beri nama Black. Sesuai dengan warnanya yang mendominasi tubuh Black. Saat naik, Jeje mengeratkan pegangan di pinggang Green.


"Dek, kamu bisa bunuh Kakak loh kalau meluknya sekenceng itu."


"Makanya jangan kencang-kencang kalau gak mau aku bunuh nantinya."


Dengan cepat Green mendengus. Adiknya selalu menjawab kalau Green berbicara padanya. Bukan berarti Green tidak senang Jeje bersikap seperti itu. Hanya saja, mungkin Green terlalu memanjakan Jeje hingga ia tumbuh menjadi gadis yang lebih berani dan menuntut segalanya agar selalu terwujud bahkan hanya sekadar mengantar ke toko buku pun harus segera terlaksana. Atau mungkin sifatnya menurun dari Ibu yang terkadang manja dan harus mengabulkan segala kemauannya. Ya, memang. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


Terparkir dengan mulus setelah melewati beberapa kemacetan yang membuat Green mendadak pening. Memang tak salah Green selalu menyukai motor untuk dibawa kemana-mana. Selain bisa menyalip kendaraan roda empat, perjalanan Green juga terbilang sangat cepat. Walau harus menghirup udara kotor.


Jeje bilang hari ini sekolahnya diliburkan. Karena persiapan kelas tiga yang harus mengikuti ujian nasional. Akhirnya Jeje mengajak Green untuk pergi ke toko buku.


"Kakak ikut aku ke dalam ya?"


Green mengacak puncak kepala Jeje. "Gak bisa, Dek. Kamu gak lihat Kakak bawa apa?"


"Yah, padahal aku mau nge-date bareng Kakak. Tapi yasudah deh."


Mendengar ucapan Jeje membuat Green tertawa lantas mencubit pipinya dengan gemas. "Lain kali saja, nanti kamu bisa nge-date bareng Kakak sepuasnya. Apapun yang kamu mau Kakak beliin."


"Janji?"


"Janji sang pelaut." Green mengikuti gaya Tuan Krab di kartun kesukaan adiknya.


***


Saat di taman. Green tidak menemukan satu orang pun yang ia kenal. Justru kebanyakan dari mereka ibu-ibu yang sedang bergosip riang serta banyaknya anak kecil yang bermain, belum lagi orang-orang yang berolahraga pagi. Membuat Green semakin pusing mencari orang yang sedang ia cari-cari. Akhirnya menyerah, ia merogoh dalam sakunya yang menonjolkan bentuk persegi kemudian ia ambil benda tersebut. Jemarinya menari di atas menampilkan daftar kontak yang ia simpan.


Green menggeram kesal. Mengumpat dalam hati pada orang yang sedang ia telepon. Sempat heran juga, setiap Green menghubungi kontaknya selalu saja tidak ada jawaban. Seolah sengaja tidak membuka ponselnya saat Green membutuhkan. Pada akhirnya Green menyerah. Ia berjalan mengelilingi taman sampai dia menemukan sekelompok orang sedang terduduk sambil makan pringles berempat dengan cola di masing-masing tangannya.


"Oi, Green! Dari mana saja lo baru datang? Kita sudah selesai, tinggal bagian lo doang."


Green memutar bola mata malas. Saat sudah dekat ia menoyor orang di depannya. "Buka hape lo, kampret! Sudah gue telepon berulang kali kagak diangkat juga, giliran minjem duit aja lo gercep nelpon gue."


Dia meringis sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya. Kemudian membuka ponsel dengan cepat. "Waw! Sepuluh panggilan tidak terjawab. Ya Tuhan, akhirnya ada yang nelpon ke bangkai hape ini saking sepinya tak ada yang mau menelpon."


"Muka lo kurang ganteng, Bisma! Coba kegantengan lo setara sama gue. Pasti bakal laku. Dasar jones." Teman-teman yang lain ikut menimpal sehingga Bisma menjadi bahan tertawa.


"Ngaca sono dikubangan lumpur. Gue kalau jadi cewek, ogah liat muka lu yang dekil dan item keyak malika."


Pembicaraan semakin berlanjut dengan saling mengejek satu sama lain. Membuat Green terpaksa harus menengahi aksi mereka.


"Kalian tuh sama jeleknya gak usah sok ngerasa ganteng. Karena gue yang paling ganteng disini."


Tanpa peduli reaksi mereka seperti apa, Green mengambil kamera. Mengambil gambar yang tepat untuk film dokumenternya nanti. Green memang hanya mendapat bagian untuk nyanyi dan mengenalkan soal menyanyi juga di tugas kali ini dan yang lain sudah selesai dengan bagiannya masing-masing.


Saat kamera aktif, Green mulai menjabarkan segalanya tentang musik. Menjelaskan tentang teknik bernyanyi, cara-cara untuk bisa mendapatkan power saat ingin mencapai nada tinggi. Termasuk tips untuk mengurangi fals.


"Terimakasih, Cikgu!" Bisma berujar dengan ciri khas kartun malaysia.


Green menghela napas. "Gue cabut ya."


"Heh, ngapain balik? Disini dulu lah. Jangan jadi anak rumahan begitu."


Mereka bersorak kegirangan dan membuat Green menjadi terpojok adalah tujuan awalnya. Tapi Green sendiri nampak acuh yang justru melengos meninggalkan mereka.


***


Green menyerahkan sisa edit film dokumenter tersebut pada Bisma. Jadi ia bisa pulang lebih cepat walau pada akhirnya justru Green duduk di kursi taman ditemani seseorang.


"Jadi, tangan lo sudah gak apa-apa?"


"Mendingan."


Syukurlah. batin Green. "Hm, jadi pas kemarin lo kabur gitu saja. Gue yang gantiin lo buat nyanyi disana."


Tak ada tanggapan. Green berdehem kembali. "Nyanyi disana ternyata lumayan juga, respon di Cafe itu gak sesuai ekspetasi gue loh. Maksudnya, gue pikir mereka bakalan biasa saja gitu. Gak nanya ini-itu ke gue. Tapi ternyata malah kebalikannya. Sebenarnya gue sudah biasa berhadapan sama cewek kayak mereka. Tapi, baru kali ini gue dibuat bingung sama anak-anak yang demen sama gue." Green sedikit menjeda memancing dia untuk tertarik apa yang Green bicarakan.


"Terus ada anak kecil datang ke gue." Green kembali menjeda. "Katanya gue ganteng, yah. Gue akui itu, tapi yang paling gak enaknya tuh. Tuh bocah malah bandingin gue sama Abangnya yang kata dia lebih ganteng dari gue. Padahal tampang gue gak buruk-buruk amat."


"Terus gue ngerasa benar-benar kayak artis sebenarnya. Ada juga yang minta tanda tangan gue dan ngira kalau gue itu artis." Green tertawa. Sepersekian detik tawanya memudar.


Tahu tidak rasanya ngobrol sama tembok? Jika tahu, Ya. Sejak pertama bertemu, Green selalu membuka obrolan. Tapi dia hanya merespon pertanyaan Green yang awal. Green mengusap wajah dengan gusar. Lantas Green mengambil sesuatu dari tas kecil yang ia bawa.


"Nih buat lo."


Satu kotak susu dingin punya Jeje yang Green sendiri tidak tahu kapan benda itu ada di tasnya. Karena terlalu panas waktu rekaman, Green ingin mengambil topi. Ia sedikit terkejut ada minuman itu di tasnya dan ada catatan kecil tulisan khasnya Jeje.


'Semangat! Jeje sayang Kak Hijau hehe~ ♥'


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ