
Bunda :
Malam ini kamu pulang kan, Lera?
Ponsel dengan casing cokelat menyala menampilkan pesan dari Bunda yang dikirim beberapa menit lalu. Allera tidak tahu hari ini dia pulang atau tidak. Melihat kondisi tangannya yang belum membaik. Jelas Allera tidak ingin mengkhawatirkan Bunda lebih jauh lagi. Apalagi sampai tahu bahwa Allera sempat mengalami kecelakaan. Mengakibatkan tangan kanannya yang cidera.
Setelah periksa ke dokter dan diberi obat untuk meredakan rasa sakit serta mengecilkan pembengkakkan pada tangannya. Allera memohon ke Kayla untuk merahasiakan kejadian waktu itu pernah terjadi. Juga memohon pada Kayla untuk menerima Allera menginap semalam di rumahnya.
Allera tahu tindakannya kemarin adalah tindakan yang salah. Walau bagaimanapun Allera menyembunyikan rahasia ke Bundanya. Pasti akan selalu ketahuan, ia juga saat ini tidak punya alasan lain setelah menolak Green untuk tampil dengannya. Allera duduk sendiri di ayunan taman dekat dengan rumahnya. Ia cukup lama memperhatikan anak-anak yang sedang bermain riang kesana-kemari. Allera menatap sepatu pink yang sudah terkena noda lumpur. Yah, sepertinya semalam hujan. Allera berargumen sendiri melihat keadaan sekitarnya.
Ponselnya kembali bergetar. Kini bukan lagi tulisan pesan yang tertera pada layarnya. Melainkan nama kontak yang ia lihat. Allera menggeser ikon berwarna hijau.
"Iya, Bunda."
"Kenapa gak balas pesan dari Bunda?"
"Hm, anu ... itu Bunda, tadi Allera lagi di toilet terus hapenya disimpan deket meja kasir. Ada apa, Bun?"
"Tapi kok banyak suara anak kecil?"
"Di kafe juga boleh bawa anak kecil, Bunda."
"Oh iya. Malam ini pulang, kan?"
"Tapi agak malam sepertinya, Bunda. Ada urusan sebentar sama Kayla."
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Bersenang-senanglah."
"Iya, Bunda. I love you."
Ia langsung menutup telepon, iris cokelatnya menatap pantulan dia yang terlihat menyedihkan setelah berbohong pada Bunda. Perlahan tanpa diperintah sama sekali. Dengan seenaknya mengalir deras tanpa henti, panas serta sesak setiap kali Allera melakukan tindakan tidak pantas seperti itu. Membuatnya semakin tidak ingin semakin mengecewakan Bunda dengan berbohong.
Allera tahu jelas. Dirinya tidak akan pernah bisa membalas budi sampai kapanpun pada Bunda. Kasih dan sayang yang Bunda berikan selalu tulus, bahkan tidak kenal pamrih. Air mata kembali turun seperti hujan yang tidak berkesudahan. Tangan satunya mengeratkan pegangan pada rantai yang mengangkat bobot tubuh Allera. Apa Allera harus pulang? Ya, setelah dipikir kembali. Allera tidak ingin menjadi gadis nakal. Ia ingin selalu jujur ke Bunda. Walau pada kenyataannya Allera masih memendam satu rahasia yang saat ini masih ia sembunyikan.
Sekitar pukul tiga sore. Allera masih berdiam diri di taman, dan keadaan sekitar pun sudah terlihat lebih sepi. Sebenarnya Allera sedikit malu saat ditanya oleh beberapa orang waktu Allera menangis sejadi-jadinya. Dia mengabaikan dan terus menangis membuat anak-anak kecil pun ikut takut melihat Allera yang seperti itu. Makanya taman jadi mendadak sepi sekali. Allera mengambil kaca yang ada di tas kecil pinkynya.
"Gue sudah berapa lama yah nangis? Sampai sembab begini?" gumam Allera.
Karena tidak ada fasilitas air di taman ini. Allera terpaksa mengusap bekas air matanya menggunakan sweater yang ia kenakan. Merasa cukup meratapi rasa bersalah. Akhirnya Allera memantapkan diri untuk pulang. Ia berdiri dan melanjutkan perjalan menuju rumah.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah. Hanya limabelas menit Allera sudah di depan pintu. mengembuskan napasnya sekali lagi dan mengetuk beberapa kali tanpa menunggu pintu dibuka. Allera sudah masuk terlebih dahulu.
"Lera, Bunda khawatir kamu gak akan pulang." Bunda menghambur ke pelukan Allera. Hangat, dan ia bisa merasakan bagaimana tulusnya Bunda lewat pelukannya. Ah! Wangi ini, Allera selalu suka aroma tubuh Bunda. Pelukan itu terlepas. Allera dengan cepat menyembunyikan kedua tangannya dan tersenyum simpul depan Bunda.
"Sekarang kamu mandi dulu, Abangmu juga lagi perjalanan pulang."
Allera tak ingin menunjukkan keanehan lagi di depan Bunda. Sekarang, yang ia lakukan hanyalah memegang erat sweater itu di belakang punggungnya sampai kusut.
***
Sama seperti sebelumnya. Keadaan makan malam memang selalu hening seperti biasa, yang membedakan adalah; Allera kesulitan makan menggunakan tangan kirinya.
"A-anu ... b-bukan gitu." Sial. Sial. Allera selalu saja gagap kalau berbicara.
Aldi hanya mengangguk paham dan melanjutkan makan. Sebenarnya menggunakan tangan manapun juga tetap saja sama menyulitkan. Lantas Allera mengganti tangan kembali, dan berusaha mengabaikan perban yang masih menempel. Rasanya seperti disayat pisau berulang kali. Perih, berdenyut, panas, bahkan terlihat keringat dingin yang muncul di dahi serta tangannya.
"Lera kaㅡ astaga! Lera!"
Gadis tersebut melempar sendok seketika. Matanya terbeliak saat sang kakak berteriak sangat kencang. Bahkan Bunda pun ikut tersedak.
"Nih, Bunda. Maaf ngagetin." Aaldi menyodorkan gelas, lalu secepat kilat ia menggeser kursi dan berlari ke arah Allera. "Kenapa sama tangan kamu, hah?"
Allera menunduk, ia ketakutan setengah mati saat Aldi bertanya dengan kencang sambil berteriak. Bahkan tangannya semakin sakit saat Rinaldi memegangnya. Allera sesegukan.
"L-Lera, maafin Abang ... Abang gak maksud buat ngebentak kamu."
"Lepas, Bang."
"Gak, kamu diam disini. Biar Abang yang suapin kamu." Wajah Aldi khawatir bukan main, ia dengan lembut menyuapi Allera. Sambil sesekali melirik tangannya dan kembali berujar, "Kenapa bisa gini, sih? Coba jelasin ke Abang?"
Gadis tersebut tidak menjawab, yang justru meluruskan pandangan ke bawah. Allera selalu tidak tahan mendengar Aldi yang khawatir dan berbicara keras penuh dengan penekanan. Ia ingin menolak tawarannya, tapi Aldi sudah mendaratkan sendok di depan mulut Allera dan terpaksa menerima suapan tersebut sampai tiga kali. Setelah itu Allera menolak, tidak ingin kakaknya terus mendekat dengan Allera. Fokus keduanya teralihkan saat Bunda mulai berbicara.
"Kenapa bisa gitu, sayang?"
"Itu Bunda. Hm, sebenarnya Lera tadi jatuh dari motor. Tapi Allera baik-baik saja terus sudah diantar sama Kayla kemarin ke rumah sakit." Aller sedikit meringis malu, kemudian berbicara kembali, "Sekarang Allera ke kamar ya, sudah ngantuk banget soalnya."
Belum sempat Bunda berbicara kembali, Allera sudah pergi duluan dan Bunda hanya mampu menatap Rinaldi. Pria itu menggedik tidak tahu. Lantas kembali melihat punggung Allera yang semakin mengecil.
***
Burung berkicau diiringi ayam jago yang berkokok. Para pedagang sayur pun lalu-lalang yang kadang berhenti di depan rumah. Untuk kali ini pun sama. Membuat gadis berdarah sunda menyibak selimut kemudian turun dari kasur dan menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu. Untuk kali ini Allera hanya membasuh muka, jelas menggunakan tangan kirinya. Karena luka tersebut masih belum membaik.
Setelah membersihkan tubuh, tepatnya wajah. Allera bergegas turun untuk segera membuka toko bunga.
"Mau kemana kamu?"
"Ke toko bunga lah, Bun. Terus kemana lagi."
"Gak, gak! Hari ini Bunda gak izinkan kamu ke toko bunga. Di rumah saja, istirahat."
Bahunya mengikuti kepala yang tertunduk lemas diikuti dengusan kecewa. Allera berdiam diri melihat Bunda yang pamit untuk pergi ke toko bunga. Bosan menghinggapi beberapa detik kemudian. Allera memutuskan untuk ke ruang keluarga. Menonton acara di telivisi.
Keadaan di rumah sangat sepi. Terdengar hanya channel yang terus Allera ganti berulang kali sampai dia pun merasa bosan juga. Ia menghela napas. Melempar remote tv ke sembarang arah. Tidak melakukan apa-apa membuatnya seperti orang pengangguran. Seperti tak punya tujuan dalam hidup. Padahal Allera sudah rapi begini, harusnya ia siap untuk bekerja. Tapi, jam kerja Allera di kafe masih lama. Membuatnya semakin bosan. Lantas Allera menuju lemari pendingin. Mengambil susu cokelat dan menuangkannya ke gelas cup yang ia beli sendiri dicampur dengan es batu. Setelah jadi, Allera tidak kembali ke ruang keluarga untuk menonton. Melainkan mematikan tv lantas pergi keluar memgirup udara segar.
Seperti biasa. Taman kali ini nampak ramai dan Allera tidak bisa duduk di ayunan karena sudah ada yang menempati. Jadi dia hanya duduk di bangku taman sambil menyesap susu cokelatnya.
Menikmati suasana disini membuatnya sedikit tenang dan tidak lagi merasa bosan. Melihat tingkah anak kecil saja Allera sudah senang bukan main. Andai Allera masih kecil, mungkin ia tidak akan pernah merasakan hal semengerikan ini. Pastinya yang dia tahu hanya main dan uang jajan. Tanpa memikirkan bagaimana kehidupan di masa depan. Apakah itu disebut mengeluh? Allera anggap iya. Tak pantas dirinya mengeluh dengan apa yang sudah ia terima dan miliki. Dengan mengeluh tidak akan pernah membuat Allera menjadi puas.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ