FIDUCIA

FIDUCIA
12



“It is better to hope than despair.”


― Lailah Gifty Akita, Pearls of Wisdom: Great mind


.


.


.


.


.


Sungguh malang nasib Allera tahun ini, oh bukan! Lebih tepatnya bulan ini. Allera sering mengalami kesialan berulang kali. Semua itu berawal dari kafe. Kalau Allera tidak menunggu Kayla untuk masuk bersama. Mungkin sampai saat ini, gadis tersebut akan hidup tenang sejahtera. Tanpa ada gangguan sama sekali. Tapi kesialan terjadi dan membuat tangan kanan Allera menjadi korbannya. Tidak akan satu kelompok dengan orang yang ada di sebelahnya. Allera yakin, kesialan itu masih berlanjut sampai sekarang.


Jelas ini bukanlah takdir, Allera tidak ingin menyebut pertemuannya dengan Green adalah takdir. Melainkan kesialan yang tiada berakhir. Semenjak kejadian kafe itu Allera sering bertemu dengan pria yang katanya terkenal sejagad maya. Allera mendengus. Dasar pria narsis, pikirnya. Allera masih bertopang dagu saat Green menyapa Allera kembali dan bertanya apa dia mendapatkan angka dua. Ia kembali membuka kartu yang sudah Allera buka barusan. Hembusan kesal keluar kembali melihat angka sialan itu. Rasanya Allera ingin menukar kembali kartu yang sudah ia ambil.


Allera masih mengabaikan Green. Sampai pada akhirnya semua teralihkan oleh instruksi yang diarahkan oleh Bu Lidya.


"Jadi kelompok ini untuk seterusnya, dan saya akan memberikan kalian tugas untuk membuat lagu dengan alat instrumen yang sudah kalian kuasai." Bu Lidya menjeda. "Satu lagi, ajarkan pasangan kalian untuk bisa memainkan alat tersebut. Bila ada yang ingin ditanyakan, kalian bisa tanya lewat group chat yang sudah saya buatkan. Mungkin itu saja dari saya. Terimakasih."


Semua nampak antusias dan merencanakan kapan akan memulai tugas tersebut. Kecuali Allera yang sedang membereskan peralatannya, dengan sangat hati-hati. Allera tidak ingin membahas itu dengan pria yang kini ada di sebelahnya.


"Sore ini, bisa ke taman gak?"


"Gak bisa."


"Kita 'kan harus latihan, Lera. Kamu bisa 'kan ke taman?"


"Gak bisa, bye!"


Green menahan Allera yang kali ini hanya dapat memegang tali tas Allera. "Kenapa?"


"G-gue mau ke toko buku."


Bukannya Green tidak percaya, tapi Green bisa melihat ekspresi Allera yang sedang berbohong. Jadi ia hanya bisa melepaskan Allera dan membiarkan gadis tersebut pergi. Kini hanya sembilan orang termasuk Green yang bertahan di tempat kursus. Seperti biasa. Green kembali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan.


"Green kenapa lo pakai kacamata? Padahal lo bakalan keliatan ganteng banget kalau dilepas. Hm ... coba deh lo lepas kacamatanya, sebentar saja," pinta salah seorang gadis berambut ikal.


Green tersenyum. "Mata gue minus, kalau dilepas nanti gak bisa lihat kalian."


Semua bersorak kege-eran dan beranggapan bahwa Green sedang menggoda mereka. Perempuan berambut ikal itu pun menutup wajahnya yang merah merona. Padahal kenyataannya memang benar adanya, kalau melepas kacamat tebal yang sudah ia pakai pasti Green tidak akan bisa melihat. Sudah pernah Green lakukan di rumah, sampai Ibu pun marah padanya karena menabrak benda mudah pecah dan akan sangat marah bila Green nekat melepas kacamata tersebut di luar rumah. Akan sangat berbahaya nanti.


"Habis ini lo ada acara gak? Kita mau makan-makan nih di rumah si Angel, sekalian perayaan buat lo yang baru masuk ke kursus ini."


Green menimang. "Kayaknya gue gak bisa. Sorry ya guys, gue pamit duluan. Bye!"


***


Sepertinya Green kehilangan jejak. Cepat juga jalannya. Pria itu berlari sambil mencari-cari perempuan yang mungkin tidak jauh dari sini. Sampai ia pun salah mengenali orang. Ada banyak perempuan yang penampilannya seperti Allera. Green sempat frustasi karena pakaian Allera yang pasaran. Heran juga, kenapa hari ini semua orang terlihat sama? Atau mungkin itu hanyalah imajinasi Green semata.


Kembali menyusuri jalanan, sampai pandangan Green teralihkan oleh sekelompok pria yang berkerumun. Firasat Green tidak enak. Ada sesuatu yang aneh disana, mereka seperti sedang mengganggu seseorang. Tertutupi oleh tinggi badan yang rata-rata hampir sama. Membuat Green menghampiri mereka secara perlahan.


Walau tidak mendekati secara instens. Green hanya mampu melihat dari jarak satu meter dengan tempat sampah yang sebagai pelindung Green. Napasnya tercekat saat salah satu pria hendak membuka celananya dengan cepat. Memperlihatkan boxer yang berwarna hitam, kemudian melanjutkan aksinya lagi.


Kenapa pakai acara buka celana sih? batin Green.


Kerutan di dahinya semakin terlihat jelas. Menampilkan sosok yang selama ini Green cari. Tangannya mengepal sambil merapalkan sumpah serapah pada mereka. Green juga heran, dari banyaknya jalan yang ada. Kenapa dia harus melewati gang kecil dan sempit seperti ini? Bahaya akan semakin terasa kalau dia melewati jalanan yang sepi apalagi gelap. Melihat bagaimanapun juga, dia itu perempuan sangat rentan mengalami tindak pelecehan seksual.


Walau Green sama takutnya dengan perempuan tersebut, Green harus menyelamatkannya. Green berjalan dengan tenang, menghampiri kedua orang yang sedang asik membelai wajah cantiknya. Sepertinya mereka preman, terlihat jelas dari penampilannya.


"***!" umpatnya.


Tubuh Green hampir melayang saat melemparkan satu tendangan pada pria jangkung nan kurus. Membuatnya tersungkur hingga menabrak tembok dengan keras. Sedang orang yang saat ini tinggal menyisakan boxernya hanya menatap murka kawannya yang sudah terkujur kaku. Ia menoleh. Memerintahkan satunya lagi untuk menghajar Green.


Karena tubuhnya gempal. Green mudah menghindari gerakannya yang terbilang lambat itu. Green mengambil tangan besar lawannya kemudian memuntir paksa hingga si empunya meringis kesakitan sambil membungkukan tubuh. Dia mengambil leher, mencekiknya sampai orang tersebut tidak memiliki banyak oksigen yang terhirup.


Aksi tersebut berhenti saat punggung Green merasakan sakit yang luar biasa. Untungnya, Green jatuh bersamaan dengan tubuh gempal yang menghalaginya untuk tersungkur bebas di tanah. Pria itu dapat merasakan keringat yang ada di bawah Green. Menjijikan!


Selang beberapa detik kemudian, tubuhnya di bawa oleh pria yang sempat Green tendang. Dengan membabi buta, ia dapat merasakan beberapa kali pukulan mengarah ke perutnya yang datar. Ada bagian fatal yang terkena menyebabkan Green memuntahkan darah. Dia kalah telak, dan kalah jumlah. Kepalanya menoleh tajam saat hantaman keras melalui kepalan tangan mendarat di pipinya yang halus.


"Siapa lo hah?"


Green meludahkan sepatu pria itu. Menyeringai sedikit sebelum mereka melancarkan tinjuannya kembali. Green menoleh memeriksa keadaan perempuan itu yang sedari tadi terduduk dengan wajah yang sangat ketakutan. Green jelas mengerti bahwa perempuan yang ia selamatkan saat ini tidak bisa apa-apa yang mampu Green lakukan hanyalah tersenyum. Sejurus kemudian Green menatap dua pria yang sedang memeganginya. Green menunduk lantas dengan cepat membenturkan kepalanya langsung dengan keras. Bahkan dia mengabaikan rasa sakit yang ngilu di belakang kepala. Setelah terlepas, Green berbalik dengan tendangan memutar mengenai telinga orang itu.


Dua sudah Green taklukan. Tinggal satu orang dengan boxernya yang masih setia menempel di tubuhnya. Tidak ada ketakutan di balik ekspresinya, yang ada ia justru menyeringai seraya menghampiri perempuan tadi.


Telat bagi Green untuk berlari dan menghajarnya kembali. Pria tersebut sudah membawa perempuan tadi, dengan tangan yang melingkar di lehernya sambil menghirup aroma yang mungkin terlihat sangat lezat.


Bulu halus meremang saat napas pria itu mengenai tengkuk Allera. Merasa jijik ketika mulutnya dengan kotor mencumbu sesekali, membuat sudut matanya merembes seperti hujan. Terus berkejaran membuat pipi Allera menjadi basah. Jantung yang terus berpacu ketika ia merasakan sesuatu yang aneh di belakang Allera, jelas bukan ini yang Allera inginkan. Gadis tersebut terus meronta, membuat cengkraman di lehernya semakin kuat dan tidak banyak pasokan udara yang masuk ke paru-parunya. Semua sia-sia, Allera tidak bisa berbuat apa pun saat tenaganya lebih besar dari pria yang mengunci Allera dengan tangannya.


"Berani lo maju, nih cewek bakal gue bunuh!" ancam orang tersebut yang langsung mengeluarkan sebilah pisau.


Green tidak mendengar, yang malah terus melangkah. "Lo butuh berapa duit? Gue bisa bayar lo!"


"Hah? Gue gak butuh duit! Yang gue butuh cewek ini!"


Green semakin mendekat. Membuat pria itu semakin panik lantas menempelkan pisau ke leher yang ada di depannya.


Dingin menyertai leher dan seluruh tubuh Allera. Ia merasakan tajamnya pisau, yang dengan mudahnya menyayat Allera kalau bergerak sedikit lagi lebih maju. Tapi yang pria itu lakukan justru semakin memperdalam pisau, membuat sedikit luka pada leher Allera. Saat pisau sudah berada di dekat leher, siapapun pasti tidak bisa berkutik sama sekali. Begitupun dengan Allera, walau kedua tangan Allera bisa digunakan untuk menghindari pria yang ada di depannya. Tapi tetap tidak bisa Allera lakukan, yang ia lakukan hanyalah menangis dalam diam.


"Gue sudah bilang, kalau lo maju. Nih cewek baㅡ"


Green berlari mengambil semprotan minyak wangi dalam tasnya, dan tanpa ragu menyemprotkannya ke wajah si pria. Teriakan terdengar ditambah umpatan yang terus-menerus dilontarkan Green abaikan, ia membawa tubuh perempuan itu menjauh dari tiga orang tersebut.


"Lo gak apa-apa?" tanya Green cemas.


Tubuhnya masih bergetar hebat, tidak ada sahutan. Matanya terlihat sangat kosong, terutama rambutnya yang sudah tidak karuan. Green memegang bahunya. Tapi bukan jawaban yang ia terima, melainkan tubuhnya didorong sangat keras sampai bokongnya menyentuh tanah. Ia tak sempat mencegah, sebelum perempuan tersebut melengos pergi diikuti air matanya yang tak kunjung mereda. Tanpa menoleh, Allera berlari menuju jalan pintas tanpa melewati ketiga preman tadi. Sampai punggungnya menghilang di tikungan jalan.


Untuk sejenak Green merasa terheran, padahal keadaan sudah aman tapi Green menyimpulkan kalau perempuan tersebut tidak merasa aman saat Green masih berada di dekatnya.


Siapapun pasti akan merasa syok jika dilecehkan seperti tadi, setidaknya kalau ada yang sudah menyelamatkannya. Dia seharusnya sudah merasa aman, bukan? Tapi yang Green dapat justru kebalikannya. Bukan rasa terimakasih yang ia dapat. Melainkan rasa takut saat Green ada di sampingnya. Green menyeka darah yang mengalir di sudut bibir. Berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya kembali untuk pulang ke rumah.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Waaaaahhh, kenapa ini kenapa?


Wqwq~ semoga kalian suka part ini yaaaa...


Papai~~