FIDUCIA

FIDUCIA
5



Kayla membantu Allera masuk sambil sesekali mengelus tangan yang sudah menghitam dan bengkak dengan darah yang masih segar keluar sedikit demi sedikit. Gadis itu sendiri pun terlihat sangat prihatin dan sakit sendiri jika dia yang merasakan hal itu. Allera pasti syok berat setelah pria tak dikenal menabrak Allera dengan kencang. Jadi setelah mengambil perban, adhesive cloth tape, dan ice pack. Kayla menuju meja barista untuk mengambil minuman botol yang ada di lemari pendingin. Saat sampai Kayla memberikan minuman tersebut.


"Nih, minum dulu biar tenang."


Green datang melihat bagaimana Kayla yang sedang merawat luka Allera dengan telaten. Lantas ia pun menghampiri keduanya. Berniat untuk meminta maaf dan juga akan bertanggung jawab kalau nanti tangan Allera cidera parah. Mereka mengabaikan Green yang justru terlalu fokus melihat luka bengkak di tangan Allera.


"G-gue," ucapnya tergagu.


"Kayla, suruh orang itu perㅡ Aw! Sakit!"


Kayla menyengir, dan mengurangi kecerobohannya. "Maaf, maaf. Gue 'kan lagi pake perban buat tangan lo, yah walaupun gak sempurna kayak dokter-dokter yang biasa ada di film itu sih."


"Gue mau pulang, Kay."


"Biar gue yangㅡ"


"Tapi Alle, lo gak bisa pulang seenaknya. Inget perjanjian yang sudah lo tanda tangani."


Green hanya bisa diam melihat percakapan kedua gadis itu, habis perkataannya selalu terpotong seolah Green tidak diinginkan berada di sekitar mereka. Jujur saja, Green tidak pernah seceroboh ini kalau bukan karena tingkah Karrel yang menyebalkan itu. Ia terlonjak saat gadis bernama Kayla tersebut bangun dari kursinya dan menatap murka pada Green.


"Ini semua gara-gara lo! Tanggung jawab!"


Gadis tersebut berteriak membuat Green memundurkan kakinya sedikit sambil membuka kedua tangan di dada saat Kayla menunjuk-nunjuk tepat di dadanya. Bahkan tanpa diminta pun Green siap untuk bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat. Sebagai lelaki memang harus setia dan bertanggung jawab. Green mengangguk kemudian mengembuskan napas pelan.


"Kalau gue kesini, berarti gue bakal bertanggung jawab. Sekarang, kita ke rumah sakit."


"Gak. Gue gak butuh!" ujar Allera ketus.


"Lo yakin? Tangan lo parah, mungkin kalau sekadar ke rumah sakit sebentar pasti diijinin sama Bos. Kalau urusan pulang gue gak tahu bakal terjadi apa nantinya."


"Kay, tangan gue baik-baik saja. Bisa buat tampil sekarang."


"Seenggaknya tangan lo harus diperiksa dulu," ujar Green dengan nada yang mulai meninggi.


Amarah Allera tersulut, merasa Green seenaknya sendiri lantas dia berbicara tak kalah lantangnya, "Kenapa lo malah ngebentak?"


"Gue gak ngebentak, itu cuma saran dari gue. Sorryㅡ"


"Gak, gue gak butuh. Kay. Bawa dia keluar!"


"Tapi, Alleㅡ"


"KE-LU-AR!"


Dengan sangat terpaksa Green keluar dari Cafe. Mengalah demi kebaikan keduanya. Tapi yang pasti, Green menunggu gadis itu. Karena dia yakin gadis bernama Allera dengan mata sipitnya pasti akan merasakan kesakitan jika dipaksa lebih lama lagi. Bukannya Green berharap seperti itu. Melihat keadaan Allera dengan kondisi tangan yang bengkak pasti sulit untuk digerakkan. Jadi Green tidak keluar saat Allera dan Kayla masih fokus dengan tangan luka itu, melainkan ia berbelok arah menuju toilet yang jauh dari pandangan keduanya.


***


Karena penampilan Allera sebentar lagi. Ia tak ingin menyia-nyiakan hal spele seperti tadi. Jadi Allera berusaha sekuat mungkin untuk memainkan pianonya untuk menghibur. Kayla hanya memperhatikan dari jauh. Terlihat dari raut wajahnya yang khawatir sekaligus berusaha untuk menyemangati Allera. Dengan begitu Allera bisa melanjutkan penampilannya.


Hembusan napas keluar kembali. Cafe terlihat ramai, jadi ia tidak ingin mengecewakan para pelanggan. Sebab kejadian tadi membuat seisi Cafe sedikit ramai dan berbisik mengenai Allera. Salah satu dsri mereka sempat menyayangkan Allera yang terluka parah.


Allera menggelengkan kepala. Berusaha untuk tidak berpikir kemana-mana. Hanya ini satu-satunya jalan dimana Allera bisa mewujudkan impian sedari kecil. Jelas Allera tidak ingin merasa bersalah karena tadi sempat ingin pulang saat pria itu mulai mendekati Allera.


Tangannya bergetar mengingat bagaimana dekatnya Allera dengan pria jangkung tersebut. Sampai kepalanya terasa pening bagaimana cara dia yang memegang tangan Allera. Membuat seluruh tubuh Allera ingin segera pergi dari tempat itu.


"Alle," bisik Kayla dari depan.


Tersadar akan lamunannya yang sangat lama membuat Allera menepuk pipi dengan kedua tangan. "Ssshh," Allera meringis, dan ia lupa kalau tangan kanannya sedang diperban. Allera menatap alat berwarna hitam putih tersebut. Sebelah kiri menekan dua tuts berbeda dan dilanjut pada bagian kanan yang membuat Allera kesulitan untuk menekan posisi yang sedikit agak jauh. Allera berusaha mencapai, tapi yang ada Allera hanya menekan seluruh tuts dengan tangan yang luka membuat Kayla memanggil namanya.


"Alle!"


Kayla menghampiri Allera, kembali memeriksa keadaan tangannya.


"Lo gak bisa tampil Alle, kalau keadaannya kayak begini."


"Kay, lo mau kemana?" teriak Allera saat Kayla pergi menuju toilet.


***


"Gue tahu lo disana, cowok brengsek!"


Green keluar dari toilet, benar dugaannya. Kayla pasti tahu keberadaan Green. "Bagaimana keadaan dia?"


"Ini semua gara-gara lo! Tanggung jawab!"


"Iya gue tahu, lo sudah ngomong hal itu barusan sebelum gue ada disini."


Kayla mengangguk, lantas kembali menatap Green dengan tajam sambil menyelidik.


"Kenapa?"


"Lo? Penyanyi, kan?"


"Darimana lo tahu?"


"Keliatan." Kayla menjeda sedikit. "Good! Semua ini salah lo! Gara-gara lo. Alle gak bisa tampil. Gue mau lo tanggung jawab."


"Daritadi lo bahas itu melulu, gak diminta gue pasti bakal tanggung jawab. Jadi apa yang harus gue lakukan?"


Sangat sulit sebenarnya untuk membuat Green bisa mengganti posisi Allera sebagai pengiringnya. Pasti Allera akan menolak mentah-mentah apa yang akan diperbuat oleh Kayla. Tindakan ini memang sedikit menguras otaknya. Kayla pun tidak ingin gadis tersebut merasakan sakit lebih mendalam lagi lalu ketakutan yang luar biasa nantinya. Dia menggeleng, kalau bukan karena hal itu. Allera tidak akan bisa menerima seseorang sampai kapanpun. Lantas Kayla mengangguk. Pikirannya bimbang. Sampai tidak tahu kalau Green memperhatikan Kayla.


"Lama-lama gue takut lihat lo begitu, kayak orang gila lagi ngedugem."


Kayla menoyor kepala Green. "Ikut gue."


Green dan Kayla kembali menuju panggung yang disana masih ada Allera. Keduanya menghampiri Allera. Perkataan Kayla membuat Allera tidak habis pikir.


"Sekarang! Gue mau lo gantiin posisi Allera sebagai pengiringnya karena ini semua ulah lo juga!"


"Apa!" tanya Allera sedikit berteriak.


Kayla terkejut, padahal sudah jelas Kayla menyebutkan hal tadi. Tapi kenapa reaksi Allera seperti itu? Belum sempat Kayla menjelaskan segalanya. Green sudah memotong.


"Gue yang bakal gantiin lo jadi pengiring musik. Tapi gue gak bisa main piano, jadi gue bakal ngiringin lo pakai gitar itu."


Gadis beperawakan mungil menengok dengan kaku ke arah gitar. Napasnya memang sedikit tersengal mendengar kata-kata Green dengan jelas. Ia tak mampu bereaksi lagi. Buru-buru Allera berdiri.


"Gue mau pulang, Kay."


"Gak Alle, gue sudah bilang berulang kali. Pulang dari sini gak semudah itu. Please, demi kebaikan gue dan lo juga."


Tidak. Allera tidak akan mampu menghadapi Green apalagi terlalu dekat dengannya. Ingin sekali Allera pulang ke rumah, mengambil selimut lalu terpejam untuk selamanya jika harus melakukan hal senekat itu. Jujur saja, ini pilihan terberat dalam hidup Allera selama duapuluh dua tahun. Bahkan Rinaldi kakaknya sendiri pun tidak terlalu dekat dengannya. Bagaimana bisa dia menerima Green begitu saja?


Ia sempat melihat secara bergantian ke Green serta Kayla yang nampak sedang menunggu jawaban dari Allera. Ditambah suasana Cafe yang seperti sedang menghakimi Allera untuk segera tampil. Allera terus melihat kondisi sekitarnya. Walau bagaimanapun Allera tetap tidak bisa menerima ide gila yang disampaikan oleh temannya sendiri. Sedangkan dia sendiri saja sampai saat ini masih bergetar hebat, ditambah tangannya yang berdenyut. Semakin menambah runyam keadaan.


Allera menoleh saat Kayla menyentuh pundaknya.


"Gue yakin lo bisa, Alle," bisik Kayla.


"Tapi, Kay. Lo tahu ... G-gue ... gue gak bisa lakuin hal gila yang lo saranin itu."


"Sssttㅡpercaya sama diri lo sendiri, gue yakin lo pasti bisa menghadapi itu."


"Tapiㅡ"


"Nah, cowok brengsek. Lo bisa ambil gitar itu, dan inget perjanjian awal kita tadi."


Perjanjian? Perjanjian apa yang Kayla buat dengan pria itu? Kenapa Kayla tidak memberi tahu sama sekali? Allera merutuki diri sendiri, berusaha setenang mungkin untuk melewati harinya yang panjang ini. Allera pun sempat berdoa kepada Tuhan untuk jangan mempertemukan dia dengan pria tersebut. Terlalu sulit bagi Allera untuk menjalani hidup ke depannya.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ